Pasar bisa dikonserkan
Ada beberapa poin menarik menurut saya dari hajatan #konserbisadipasarkan pada Jumat malam kemarin. Kejadian yang sebenernya tidak perlu datang dari band cukup sering mengadakan show baik skala kecil maupun besar dan kejadian yang tidak perlu datang dari kota yang digadang memiliki aura positif untuk proses kreatif. Disclaimer. Sudah lama sekali sejak saya menonton konser musik ataupun show, menantikan pertujukan menarik merupakan tujuan utama saya setelah sebelumnya dipusingkan dengan jadwal kantor serta bujukan teman yang menggunakan kata kata magic #kapanlagi. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendatangi acara yang bertajuk #konserbisadipasarkan. Dengan harapan lebih. Pertama, saya bersyukur karena tempat yang digunakan untuk perhelatan ini tidak begitu jauh dari kantor, malah bisa dibilang dekat, sangat dekat sehingga saya percaya bahwa tidak ada yang kebetulan saya bisa datang ke acara ini. Kedua, setibanya di venue. Saya melihat kerumunan orang yang tumpah ruah di sana sini. Seperti yang kita ketahui #efekrumahkaca adalah band dengan massa yang cukup banyak untuk takaran band #indie, lagu lagunya yang menarik meskipun mempunyai pesan yang mendalam mampu menarik berbagai kalangan. Dari dewasa hingga remaja. Mungkin satu satunya pengecualian untuk para wakil rakyat. Ketiga, antrian yang padat dengan laju yang cukup lamban, disertai dengan pembagian antrian yang tidak jelas. Saya rasa semestinya ada budget cukup untuk menyewa red rope atau pagar barikade, serta printingan bertuliskan : #tiketkuning #onlineticketing #invitation #pers #talent #performer atau mungkin #temennyapanitia. Ya, panitia yang terdiri dari #dedegemes dan #kakaterbaik itu kesulitan mengatur antrian yang tidak kunjung tertib sambil beberapa kali mencoba menolong temannya maju ke barisan terdepan meskipun temannya sendiri baru dateng dan malah menghadang perfomer untuk masuk (belakangan saya tau kalau pelantun lagu konservatif kesulitan masuk.) Keempat (mari kita skip kejadian kurang melegakan lainnya), waktunya acara dimulai. Sesi pertama dari penampilan #erk kurang menarik bagi saya. Lighting yang biasa saja, sound yang dirasa kurang dan gimmick yang hambar. Saya hampir merasa menyesal membayar tiket untuk menonton band idola yang #kapanlagi bikin hajat besar di kota ini. Sesi pertama ini saya tidak terlalu menikmatinya. Masuk ke sesi dua, kali ini dengan menggunakan piyama. Oke, gimmick yang umum saya rasa untuk band band dari Jakarta untuk perform menggunakan baju tidur (hehehe). Di sesi kedua ini saya masih belum menemukan menariknya acara, sampai beberapa kolega dari mereka datang satu persatu untuk berkolaborasi bersama. Favorit saya cinta melulu + konservatif + stand up comedy. Kehadiran Adrian pun menambah #wowfactor sesi kedua ini, walaupun ujung ujungnya sound tidak kunjung membaik. Masuk ke sesi ketiga, kehadiran badut sulap dan penambahan strings section di bagian ini membuat saya melupakan betapa tidak pentingnya happening #art yang terjadi di atas panggung. Lagu #balerina favorit kita semua, #menjadiindonesia dengan sangat syahdu, dan #sebelahmata yang ditemani kembali oleh Adrian membuat malam itu lebur dalam euphoria #pengalamanburukbisadilupakan. (Hanya saja, kemunculan confetti yang suaranya kayak #mencret itu membuat anti klimaks di bagian akhir lagu #sebelahmata. Seharusnya mereka bisa lebih bersabar hingga lagu beres.) Kelima, penonton yang luar biasa, alunan choir dari penonton yang tidak berhenti (kecuali di lagu baru mereka) pastilah membuat para personil dan kawan kawannya puas. Untuk masalah ini, jangan pernah diragukan. Mungkin bisa dibilang salah satu hal positif dari acara ini. Penonton bayar, penonton bernyanyi, penonton bahagia. Walaupun tidak semuanya. Sangat disayangkan memang setelah sekian lama penonton yang jadi kambing hitam dari tidak suksesnya acara, kini justru sebaliknya. Untung saja tidak sampai terjadi #panitiabisadigebukan. Keenam, yah namanya juga pasar.












