Aku siap nemenin kamu dalam keadaan apapun; bahkan dalam titik terendahmu. Asalkan kamu bersedia disampingku sampai tua nanti; duduk bersebelahan sambil menghitung lalu lalang manusia.
Show & Tell
🪼
Cosmic Funnies
Mike Driver
KIROKAZE
d e v o n
art blog(derogatory)

titsay

tannertan36
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
The Bright Sessions
cherry valley forever
Phantogram Three

No title available
todays bird
tumblr dot com
𓃗
hello vonnie

Kiana Khansmith

PR's Tumblrdome

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Japan

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Thailand

seen from Bangladesh

seen from United States
seen from China
seen from Malaysia

seen from Argentina

seen from Australia
seen from Lithuania

seen from United States

seen from Canada

seen from United States

seen from United States
seen from Mexico

seen from Malaysia
@memaknai-blog
Aku siap nemenin kamu dalam keadaan apapun; bahkan dalam titik terendahmu. Asalkan kamu bersedia disampingku sampai tua nanti; duduk bersebelahan sambil menghitung lalu lalang manusia.
Pesan untuk Ru (5)
Malam itu aku sangat ingin mendengar suaramu, mengetahui kabarmu, dan masih banyak lagi. Aku bisa apa; selain mengganggumu tengah malam via telepon. Kamu sedang sakit ternyata. Aku sedikit mengkhawatirkanmu, lantas aku bisa apa? Kamu pantas mendapatkannya, agar kamu tahu seberapa berharganya kesehatanmu. Aku sering kesal padamu, sebab kamu sibuk dengan segala hal. Selamat tidur, Ru. Semoga lekas sembuh. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk kamu; selain berpura-pura tidak mengkhawatirkanmu. Semoga doaku sampai ke hatimu. Semoga hidung mampetnya tidak berkepanjangan. Jangan keras kepala, cepat minum obat.
Bersama atau tanpa kamu, aku baik-baik saja.
Kalau boleh curcol sedikit; atau banyak, beberapa waktu yang lalu saya sedang dalam masa patah hati. Pa-tah Ha-ti. Bukan untuk pertama kalinya memang, tapi rasa-rasanya patah hati kali ini benar-benar serius. Kesalahan saya, saya menjatuhkan hati kepada seseorang yang hanya berniat untuk singgah saja; tidak untuk menetap. Kesalahan saya lagi, saya menjatuhkan hati saya terlalu dalam. Dan kesalahan saya yang paling parah adalah saya terlalu membiarkan patah hati merusak keseharian saya; jam tidur berantakan, malas-malasan, pola makan kacau, dan memandangi layar handphone berjam-jam.
Benar memang, terkadang manusia harus mendapat tamparan terlebih dahulu sebelum dapat benar-benar bangun. Tamparan itu saya dapatkan hari Minggu kemarin, ketika saya berkunjung ke rumah salah satu mantan karyawan kampus yang memang sudah sangat dekat; bahkan beliau sudah saya anggap sebagai ibu saya di perantauan. Ketika itu, saya bercerita ngalor ngidul tentang kondisi kampus sepeninggalnya, sambil diajari membuat kerajinan tangan dari manik-manik. Setelah saya lelah bercerita, kami terdiam beberapa saat dan menekuni prakarya yang tidak mudah saya pahami polanya. Hingga beliau buka suara, menceritakan tentang kerinduannya kepada almarhum ibunya dan manik-manik ini.
Beliau; yang usianya jauh diatas saya, belum menikah dan tinggal sendirian sepeninggal kedua orangtuanya. Beliau menceritakan kisah yang membuat tenggorokanku seketika tercekik dan tak dapat berkata-kata; ia pernah hampir menikah. Saat itu beliau sedang girang-girangnya menunggu hari pernikahan sambil membuat sendiri kerajinan dari manik-manik untuk buah tangan pernikahannya. Menjelang hari pernikahan, ibu beliau jatuh sakit. Beliau memutuskan untuk memberikan sepenuh waktunya mengurus ibunya. Beliau memilih untuk membatalkan pernikahan. Sebab, baginya perempuan yang sudah menikah harus patuh dan mengikuti suaminya; dan ibunya sedang sangat membutuhkan beliau.
Hingga saat ini beliau masih sendiri, dan beliau tidak mau menyebut dirinya patah hati. Ya, aku mendapat tamparan sangat keras hari itu. Saya, yang begitu larut dalam patah hati hingga banyak waktu terbuang hanya sekedar untuk memandangi layar handphone; menunggu kabar dari pria entah macam apa. Saya, yang merasa begitu menyedihkan hanya karena ditinggalkan oleh pria yang sedang kebingungan dengan hatinya. Saya, yang merasa benar-benar patah hingga menutup hati dan enggan memulai lagi. Sedangkan, begitu banyak kisah-kisah lain yang benar-benar mematahkan hati; hanya dengan mendengarkan kisahnya saja. Sebegitu kekanakannya saya, terlalu lunak dengan patah hati. Hari itu, saya benar-benar bangun. Saya; bersama atau tanpa kamu, akan melanjutkan hidup dengan baik-baik saja.
Jika kamu adalah gunung, maka aku akan selalu mencemburui langit; sebab ia tak pernah berjarak denganmu.
Dibikinin @oktavianne celengan buat bekal nikah. Suka ngomel kalo aku lupa nabung. Ngga dirumah, ngga di semarang banyak yg ngomelin. Ya gitu lah emak-emak. Ngomongin soal nikah, sebenernya ngga mahal kok. Gengsinya yg mahal. Aku mah asal nikahnya sama kamu, ngga usah pake acara mahal2. Buat apaan pake acara resepsi mahal, kalo abis itu suami cm dikasi makan mie instan. Berhubung partner nikahnya belom ada, yaudah nabung aja dulu. Calon mah nanti juga ada, kalo aku udah pantes dinikahin haha. Selow ae lah ya, nunggu recehan penuh dulu. Bukannya sok-sokan mau ngomong bener nih ya, tapi pikirin baik2 deh sblm nikah. Jangan menikah karena kamu terus merasa bertambah tua, tapi menikahlah ketika kamu mampu berpikir dan bersikap dewasa. Dan kayaknya aku belom. Receh juga belom nyampe seperempat ini. #nikahmurah #gengsimahal #nunggurecehpenuh #nunggusikampretpeka
Pesan untuk Ru (4)
Selamat bulan Oktober, Ru. Tetiba saja sangat ingin menulis pesan untukmu. Pesan yang selalu urung aku kirimkan. Selepas maghrib tadi, ketika aku dan teman-temanku ber-haha-hihi di angkringan depan kampus pleburan, aku masih sempat merindukanmu. Suasana saat itu mendukung sekali. Di bawah sinar lampu temaram, hujan, dan perut kenyang. Berlebihan atau tidak, aku memikirkanmu. Sudahkah kamu makan? Sudahkah kamu pulang kerja? Apakah langit disana hujan? Jika iya, semoga kamu tidak kehujanan. Belakangan cuaca sedang tidak menentu, semoga kamu tetap sehat. Ru, masih di tempat yang sama, hujan, dan aku menyadari satu hal. Tidak, mungkin beberapa hal. Aku menyadari sebatas apa aku dimatamu. Aku menyadari segigih apa aku memilih mencintai kamu. Aku menyadari sesakit apa yang kamu tinggalkan. Aku menyadari seberharga ini pelajaran yang kamu berikan. Aku menyadari alasan kamu memilih menjauhiku. Dan aku menyadari bahwa aku harus segera berhenti. Berhenti mengurusi segala hal tentangmu. Berhenti merindukan sendirian. Berhenti mencemaskanmu. Berhenti menunggu kabar darimu. Sekali lagi. Selamat bulan Oktober, Ru. Apakah di hatimu sebegitu penuhnya hingga hadirku pun tidak kamu selipkan didalamnya?
Jarak bukan diukur dari berapa digit angka dalam satuan kilometer. Kita masih memandangi matahari yang sama, di bawah langit yang sama, dan menghirup udara yang sama. Ketika aku dan kamu masih saling mendoakan, bukankah tidak ada jarak diantara kita?
Pesan untuk Ru (3)
Halo, ru. Kamu sudah tidur? Kamu ingat kapan terakhir kita berbalas pesan? Ah, sudah lama ya. Ru, percayalah. Jarak bukan diukur dari berapa digit angka dalam satuan kilometer. Ketika aku dan kamu saling mendoakan, bukankah tidak ada jarak diantara kita? Ru, percayalah. Ketika kamu sudah jauh meninggalkan aku, tidak ada sedikit pun upayaku untuk melupakan kamu. Bukankah orang yang teramat dicinta susah dilupa? Bagaimana jika aku tidak perlu melupakanmu? Cukup mengikhlaskan kamu, dengan atau tanpa aku. Ru, maaf jika aku terlalu banyak merindukan kamu. Sampai detik ini, tidak berkurang.
Aku ingin tidur selepas isya, memimpikan kamu yang rindunya tak ada ujung. Aku ingin bangun ketika dingin subuh menembus selimutku, menceritakan kamu kepada Tuhan.
memaknai
Semenjak dipatahkan olehmu, aku belajar tentang memaafkan
melupakan yang lalu, kemudian tanpa sadar membiarkan kamu masuk dan meruntuhkan pondasi. Berlanjut, begitu seterusnya. Kamu masih dimaafkan.
Pesan untuk Ru (2)
Selamat hari Minggu. Semoga hari ini kamu benar-benar menikmati liburanmu, tidak sesibuk biasanya. Aku benci itu. Oiya, sudah salat dzuhur? Boleh bercerita sedikit? Beberapa hari yang lalu, handphoneku basah terkena air hujan ketika aku sedang naik motor pulang ke rumah. Kamu tahu apa yang sangat aku cemaskan ketika handphoneku sama sekali tidak bisa menyala? Bukan, aku tak mencemaskan contact yang hilang atau cemas tak bisa bermain sosial media lagi. Aku hanya mencemaskan foto perjalananmu menuju Semeru dan Rinjani yang pernah kamu kirimkan kepadaku hilang. Dan benar, semua foto tanpa terkecuali hilang. Aku terjaga sepanjang malam itu. Be positive, mungkin ini lah cara Allah menegurku untuk mengikhlaskan kamu. Pelan-pelan, dengan cara memusnahkan ingatan tentang kamu.
Pesan untuk Ru
Selamat pukul 01.03, aku masih teringat saat kamu mengirim pesan padaku dan mengingatkanku untuk sholat dan puasa sunah. Saat itu, aku menangis membaca pesanmu. Betapa tidak, kamu adalah lelaki pertama yang mengingatkanku pada almarhum ayahku. Kamu adalah sosok lelaki yang tidak melulu mengirim pesan manja dan penuh basa basi. Kamu selalu mengingatkanku untuk rajin beribadah, bukan menanyai "kamu udah makan belum", melainkan "kamu hari ini puasa sunah ngga". Aku jatuh cinta padamu, sampai hari ini.
Sebut aku pembohong. Sebab mulutku berkata sudah melupa, namun hatiku masih mendekapmu diam-diam.
Semeru, Rinjani, Bekasi, Bandara, Stasiun, Verbena, Novo Amor
Selain nama kamu, ada beberapa ingatan yang sangat ingin aku lenyapkan. Tempat yang pernah kamu pijaki, lagu-lagu yang mengingatkan tentangmu, atau hal lain yang pernah kita perdebatkan, misalnya.
Main petak umpet yuk! Aku yang jaga, kamu yang ngumpet. Tapi ngumpetnya jangan jauh-jauh ya, karena aku pengennya penantianku berujung pada kamu.
.....kaya ketiban ndaru
Orang Jawa bilang, seseorang yang mendapat keberuntungan diibaratkan seperti ketiban nDaru. Berbicara tentang "ketiban ndaru", mungkin aku salah satu orang yang mendapat keberuntungan itu. Iya, diperkenalkan denganmu oleh semesta adalah salah satu wujud "ketiban ndaru". Bagiku. Semesta memperkenalkan kita begitu saja, benar-benar seperti ketiban ndaru. Setelahnya, aku begitu banyak berubah. Setidaknya, perilaku dan pola pikirku. Setelah semesta menjatuhkan ndaru tepat diatas kepala dan hatiku, aku jadi tidak malas lagi bangun di tengah malam, sholat sunnah, dan mengucapkan banyak terimakasih atas ndaru yang semesta percayakan padaku. Bahkan nama kamu tak pernah absen di deretan doaku, setelah deretan nama keluarga dan sahabat-sahabatku tentunya. Setelahnya, aku banyak belajar bersabar. Bahwa aku tak pernah tidak merindukanmu sedetik saja. Betapa menguras tenaga, beberapa hari tanpa kabarmu membuat aku benar-benar kelimpungan. Aku belajar cara mengikhlaskan. Betapa mencintaimu tidak harus memiliki raga dan perhatianmu. Bahwa mencintaimu, aku mampu mendoakan siapapun jodohmu kelak semoga menjadikanmu lelaki yang mencium bau surga. Aku belajar mencintai karena Allah. Betapapun aku mencintaimu, aku tidak lebih sebagai seorang pendosa yang belum layak untuk mendampingimu. Bahwa mencintaimu, aku harus lebih mencintai Tuhanku. Atau hanya aku kah yang memaknai perkenalan singkat ini sebagai ndaru yang dijatuhkan kepada manusia? Atau sebut saja ini sebagai pernyataan cintaku yang sudah lama kamu acuhkan. Bagaimana pun jadinya, aku tetap memaknai kamu sebagai ndaru yang dijatuhkan semesta.
Darimu aku belajar bagaimana caranya mencintai sesuatu yang fana. Namun kamu lupa mengajariku temu dan rindu yang benar.