Grieving
Sebenarnya jauh sebelum itu saya pernah melalui masa-masa grieving, tetapi titik balik dari pengalaman grieving tersebut adalah musibah yang menimpa kami, setelah beberapa kali kami melewati ujian dalam pernikahan.
Ketika merasa “baik-baik saja” dari luar, masih bisa beraktivitas dengan baik, tersenyum, dan berbicara seperti biasa, bukan berarti semuanya benar-benar baik. Selama lebih dari sebulan, setiap malam saya mengalami gangguan kecemasan, tidak bisa tidur karena gelisah, dan merasakan gatal di tangan. Belakangan saya menyadari bahwa itu merupakan gejala psikosomatis pasca musibah yang menimpa kami.
Rasanya, kondisi itu membuat lelah bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. Saya ingin melupakan semuanya agar bisa kembali hidup normal, menjalani peran sebagai istri dan ibu dengan baik.
Di masa itu, saya juga sempat bertanya-tanya, apakah saya kurang iman? Tidak. Bahkan dalam kondisi seperti itu, saya terus meminta pertolongan kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Jujur, saya merasa sangat tertekan karena tidak bisa tidur. Saat itulah saya menyadari bahwa nikmat bisa tidur dengan tenang benar-benar merupakan karunia yang sering tidak kita sadari.
Saya berusaha mengobati kehilangan itu dengan membaca dan mentadaburi Al-Qur’an. Pada saat yang sama, saya juga berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri saya. Awalnya saya mengira mungkin ini hanya pengaruh hormon akibat kehilangan. Namun, belakangan saya memahami bahwa yang saya alami jauh lebih dalam dari itu. Inilah sisi kehilangan yang sering kali tidak diceritakan orang.
Alhamdulillah, suami saya sangat memahami kondisi ini. Bahkan, dialah yang pertama kali menyadarkan bahwa saya sedang tidak baik-baik saja secara mental, ketika saya sendiri masih berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja.
Di situlah saya mulai menyadari dan menerima semua perasaan yang ada. Bahwa kehilangan lalu bersedih itu boleh, menangis itu boleh, dan menjadi lemah dalam kondisi seperti ini juga boleh. Setiap kehilangan memiliki rasa yang berat dan membutuhkan proses penerimaan yang tidak sebentar. Seiring berjalannya waktu, ketika saya mulai menerima apa yang terjadi dan berdamai dengan perasaan-perasaan tersebut, perlahan saya kembali menjalani hidup dengan lebih normal. Gejala-gejala psikosomatis yang saya alami pun berangsur menghilang.
Saya mulai merasa lebih tenang dan nyaman menjalani hari-hari seperti biasa. Namun, setelah melewati semua itu, muncul perasaan lain, yaitu rasa takut. Takut jika hal yang sama terjadi kembali. Bayang-bayang akan kemungkinan itu sesekali muncul dan memenuhi pikiran saya.
Sungguh rumit menghadapi perasaan seperti ini. Logikanya, bukankah itu seharusnya dipikirkan nanti jika memang benar-benar terjadi? Namun, pengalaman hidup dalam mode survival membuat saya selalu berusaha bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, lengkap dengan berbagai skenario “what if” di kepala.
Menjadi orang dewasa ternyata lebih rumit daripada yang saya bayangkan. Kita tidak hanya bergulat dengan keadaan, tetapi juga dengan diri sendiri dan segala perasaan yang ada di dalamnya.
Di sisi lain, saya menjadi lebih fokus memperhatikan diri sendiri. Saya mulai mengenali perasaan-perasaan yang selama ini saya abaikan, belajar menerima apa yang saya rasakan, dan memahami bahwa tidak semua hal harus segera saya selesaikan saat itu juga.












