Berbicaralah sesuai kapasitas diri, jika tidak mampu atau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka diamlah. Ini tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, namun juga menyelamatkan orang lain dari kekeliruan.
Di satu sisi, saya sangat bersyukur melihat banyaknya akun-akun yang isinya tidak lepas dari dakwah. Semoga niat ikhlasnya menjadi amal jariyyah.. aamiin Allahumma aamiin.
Namun kadang ngeri membaca sebagiannya yang jika membahas satu masalah hukum yang seharusnya dijelaskan secara terperinci, jadi sangat berpotensi disalahpahami oleh yang membaca, tersebab yang menulis menyimpulkan sendiri dengan tulisan singkat dan seadanya.
Untuk memberanikan diri mengoreksi pun menjadi dilema tersendiri.
Kenapa dilema? Karena mempertimbangkan maslahat dan mafsadatnya, tepat atau tidak-kah waktunya, bagaimana bahasa ataupun diksi yang digunakan. Dan mempertimbangkan cara menyampaikan pun tidaklah mudah. Sehingga, tidak jarang saya memilih diam, saat salah satu pertimbangannya tidak terpenuhi.
Itu sebab, saya sering berpikir berkali² jika menulis tentang sesuatu yang sekiranya tidak bisa dibahas secara singkat.
Alasan pertama, karena budaya literasi kebanyakan kita begitu minim. Malas membaca tulisan panjang. Sehingga mudah menyimpulkan begitu saja sebelum dibaca secara menyeluruh.
Alasan kedua, khawatir ada yang terluput dalam menyampaikan, tersebab bisa jadi saya sebetulnya tidak memiliki pengetahuan tentangnya, hanya sekadar tahu sedikit saja, sehingga kesimpulan dari pembaca pun bisa berpotensi keliru tersebab keterluputan itu.
Apalagi semisal dalam masalah fiqh, banyak istilah² yang mungkin sulit dipahami, sehingga satu istilah saja perlu penjelasan yang panjang.
Bahkan ada saja akun dakwah yang entah siapa admin dibaliknya menukil tulisan, mengatasnamakan fatwa Ulama A, atau B, atau C. Padahal maksud Ulama tersebut tidak sesuai dengan konteks yang ia simpulkan, atau bahkan Ulama tersebut sama sekali tidak berfatwa demikian. Sebab tidak jarang, seseorang menukilkan fatwa Ulama, namun ketika ditelusuri pada kitab yang dimaksud, tidak ditemukan pernyataan yang dimaksud, sehingga tentu menimbulkan kesalahpahaman, dan ini merusak tatanan ilmu. Entah yang menukil ini mencopas dari akun lain tanpa mericek kebenarannya terlebih dulu, atau dialah yang menyebarkan tanpa ilmu, sehingga menimbulkan kegaduhan ataupun adu domba, Allahul musta'an.
Begitu pula yang bermudah-mudahan menisbatkan kepada Allah Ta'ala, semisal: "Menurut Islam....." padahal apa yang ia sampaikan adalah perkara ijtihad, bukan yang benar-benar Allah Ta'ala menghukumi sesuatu itu halal atau haram, bid'ah atau sunnah, dst. Sedangkan Allah Ta'ala sedemikian kerasnya memperingatkan tentang bahayanya berdusta atas nama Allah Ta'ala. Cukup sampaikan, siapa yang berkata atau yang berpendapat demikian, sebab jika sudah menisbatkan kepada Islam, maka telah menisbatkan kepada Allah Ta'ala sebagai Pemilik syariat.
Allah Ta'ala Berfirman;
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
“Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. an-Nahl: 116)
Disinilah perlunya berhati-hati di sosial media ini. Jangan mudah menerima berita ataupun menyebarkannya begitu saja tanpa benar² tahu kebenarannya. Walaupun yang menyebarkannya memiliki followers puluhan ribu atau jutaan sekalipun.
Bahkan kehati²an itu seharusnya kita terapkan juga ketika membubuhkan tanda "like" pada postingan siapapun, karena itu tanda kita menyukai isinya, ataupun memberikan dukungan dan membenarkan isinya. Tentu ini tidak akan lepas dari pertanggungjawaban kita nantinya. Karena di sosial media ini, sebagian banyak dari kita, beragama bukan berdasarkan tuntunan, tetapi berdasarkan apa mayoritas kata orang atau melihat berapa banyak "likers"nya, seakan dilegitimasi.. jika banyak yang ngelike, maka sesuatu itu dianggap kebenaran tanpa melalui filtrasi sebelumnya. Wal'iyadzu billah.
Apalagi jika isinya adalah postingan² yang menunjukkan aurat, postingan-postingan yang mengundang godaan lawan jenis, ataupun yang jelas-jelas keburukan jika sampai tersebar, maka jelas ini patut dihindari, bahkan kalau mampu untuk ingatkan secara personal dan dengan adab yang baik, maka lakukanlah. Karena wujud mencintai yang benar adalah ketika kita sangat khawatir murka Allah Ta'ala tertuju kepada orang yang kita cintai jika kita membiarkan, bahkan kita bisa ikut berdosa jika kitapun malah memberikan dukungan ketika mereka keliru.
Satu lagi, tanggung jawab kita di media sosial ini tidak terbatas hanya berhati-hati terhadap apa yang kita sebarkan, tetapi juga tidak membiarkan kemungkaran terjadi di kolom komentar postingan kita sendiri. Maka tugas kita selanjutnya adalah meluruskan apa yang keliru dipahami jika ada yang keliru dalam memahami, dan seterusnya.
Tinggalkanlah jejak yang baik, yang dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla kelak. Sungguh hisab Allah itu tidaklah ringan, karena melingkupi dari hal terkecil hingga yang besar 💦
Sayapun memohon agar ketika menemukan kesalahan yang ada pada saya, jangan sungkan untuk ingatkan.
Nas'alullah as salamah wal 'afiah.










