Aku mulai lelah dengan kamu yang begitu
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
macklin celebrini has autism

shark vs the universe
Sweet Seals For You, Always

pixel skylines

@theartofmadeline
Phantogram Three
Color Me Curious
sheepfilms
Mike Driver
EXPECTATIONS
Interview Vampire Daily
almost home
The Bowery Presents

No title available

izzy's playlists!

blake kathryn
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

roma★
Cosimo Galluzzi

seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Ireland

seen from United States
seen from Guyana
seen from Türkiye
seen from Singapore

seen from United States

seen from Singapore
@menaruh-senja
Aku mulai lelah dengan kamu yang begitu
Nyerinya nyata sekali, sayangnya obat belum mampu menyembuhkannya yang tengah terluka itu.
Ajaib!
Hari ini aku sampai pada di satu titik untuk lebih fokus pada diri sendiri. Yang mana pacuannya bukan lagi orang lain, tetapi track sendiri.
Sudah lebih legawa dengan segala ritme yang lambat. Proses yang teruuuuus saja masih berproses belum menuai hasil. Atau...orang lain yang lebih dulu (seakan-akan) sampai pada diri yang kamu idam-idamkan.
Aku benar-benar merasa menerima diriku sendiri saat ini dengan segala kekurangannya. Setelah membenci diriku setengah mati dan itu melelahkan. Setelah berusaha bersaing atau merasa tersaingi oleh yang lain dan itu juga tak kalah melelahkan.
Aku sampai pada satu titik...perubahan yang baik bukan mengacu pada orang lain. Orang lain boleh menjadi sosok penyemangat, tapi tidak yang menentukan jadi apa kita esok.
Aku sampai pada satu titik bahwa kebermanfaatan dan peran setiap orang itu berbeda. Tinggal bagaimana kita berusaha maksimal menjalaninya.
Yang sejatinya harus diajak berkompetisi adalah diri ini. Agar hari esok jadi sosok yang lebih baik dari hari kemarin. BUKAN DARI ORANG LAIN.
Lebih baik terus berpacu dalam niat beribadah, bermanfaat, dan menunaikan peran sesuai yang Allah isyaratkan serta amanahkan pada kita.
Tiap dari kita adalah ajaib! Maka temukanlah mantramu sendiri :D
Lelah ya?
Sibuk sekali kah?
Masih susah adaptasi ya?
Dibalik pertanyaan tersebut ada aku yang menyalahi diri sendiri
Bukan tidak bisa, bukan beralasan
Kala aku terbuka tuk bercerita berbagi beban dianggap berkeluh kesah
Kala aku tak bicara apapun masih dianggap demikian
Lalu aku harus bagaimana? Memenuhi ekspetasimu?
Jangan Disamaratakan
Hidup setiap orang itu berbeda jalannya. Tidak bisa kita pukul rata bahwa untuk mencapai sesuatu, maka jalan yang harus dilaluinya adalah jalan yang harus sama dengan apa yang pernah kita jalani. Kesadaran untuk bisa membuat orang bisa lebih mengenal dirinya sendiri, lebih berani, punya kendali atas pikirannya, lebih mudah menemukan kebahagiaan, lebih berwarna hidupnya, empatinya tumbuh dengan baik, komitmennya yang semakin kuat, dan hal-hal yang jauh lebih penting untuk dimiliki. Kita tetap bisa bahagia dan memiliki hidup penuh warna tanpa harus bisa memiliki rumah di usia 25 seperti teman kita yang lain. Kita bisa hidup tenang tanpa harus memikirkan dengan penuh kerumitan untuk tampil bisa diterima semua orang. Kita tak harus bekerja dengan gaji puluhan juta per bulan untuk bisa tetap jadi manusia yang mudah berbagi dan memiliki empati yang lapang. Membantu orang lain agar dia bisa membuat keputusan, lebih berani dengan risiko, lebih sadar apa masalah dan jalan keluarnya. Hal-hal yang mungkin tidak mudah untuk “dijual”, bahkan untuk bisa membuat seseorang memiliki mindset dan cara pandang hidup yang baru, itu butuh kesabaran yang panjang. Tidak semua orang memang bersedia untuk berpikir sedalam itu, selain memelahkan dan butuh waktu yang panjang. Banyak yang merasa diburu waktu, seolah-olah harus bisa mendapatkan ini dan itu dalam waktu yang singkat. Dan karena seolah diburu waktu, agar menjadi sesingkat mungkin. Banyak yang terjebak dan tertipu dengan hal-hal yang tak masuk akal. Bahkan orang yang pintar pun, tak lagi pintar jika lupa membawa pikiran dan hatinya untuk tetap tenang dan fokus untuk mendengarkan dirinya sendiri. Menyadari bahwa dirinya dan orang lain, memang berbeda jalan dan cara hidupnya. ©kurniawangunadi
Trauma, masih berkesan didada :')
Bolehkah aku egois kali ini saja?
Cape. Saking capenya sampai ga bisa nangis
Tangis itu pecah tatkala ketika jiwa raga tak mampu mendeskripsikan emosi yang telah lama tertampung
Ratusan purnama tlah berlalu, hidup seperti roller-coaster atau mood ku yang seperti roller-coaster? Sebentar bentar aku terharu teringat sebuah kebaikan hati. Esok lusa terusik pada sebuah luka yang basah membuat ku tak karuan.
Hai hati dan kepala kalian maunya apa? Tolong bekerjasama sebentar saja yaa. Aku lelah
Iri?
Kadang kekayaan seseorang, keberuntungan yang tampak, kehidupan mereka di sosial media membuat kita silau--bahkan kadang nggak sekali-dua kali tanpa sengaja berujar dalam hati, "duh pengen deh..." Atau "gimana caranya ya biar bisa kaya gitu" Hahaha. Alhamdulillah aku terverifikasi manusia biasa, bukan bidadari. Pernah "ngerumput tetangga" juga jadi orang. Wadidaw alasan! Hahaha
Tapi tiap kali rasa iri tipis-tipis itu muncul, sebelum dia jadi julid atau dengki, atau mengakar berkepanjangan sampai aku hilang syukur dan self-love, aku selalu bilang sama diriku,
"Kamu iri sama dia, iri juga nggak sama hisabnya nanti? Siap nerima itu semua nggak?"
Karena belum tentu kalau kita jadi mereka, lalu kita bisa melewati pertanggungjawaban itu dengan baik.
Iri sama yang punya privilej: yakin siap? Yakin kalau di posisi dia kamu bisa melakukan hal-hal yang berdampak baik dengan privilej tersebut? Yakin nggak keblinger/gelap mata?
Iri sama yang punya duit banyak : yakin siap? Dimana-mana orang kaya hisabnya lebih banyak. Dari asal duitnya, cara megang duitnya, sampai digunakan untuk apa duitnya. Kadang lihat anak pejabat tuh ngiler juga sering jalan-jalan ke luar negeri, bisa kesini kesitu, punya channel ini itu. Tapi aku pikir lagi, ngeri juga kalau duitnya dari deal dealan proyek gelap, atau dari hasil nipu rakyat dikit-dikit. Hiiiii. Enak sih emang, tapi yakin nanti aku siap?
Iri sama yang punya keluarga (kelihatannya) asyik, samawa selalu: tanpa konflik berarti. Yakin? Yakin mereka nggak memendam sesuatu? Atau yakin nggak kita kalau iri dan diizinkan di posisi mereka bisa seberbakti itu sama orangtua? Bisa sesupport itu sama saudara?
Iri sama yang punya gaji banyak, karir mentereng luar biasa: Yakin? Iri juga nggak sama perjuangannya? Bisa jadi dia lebih jungkir balik. Lebih sengsara di awal menitinya. Belajar sampai berdarah-darah. Mengasah skill sampai nggak tidur. Jangan-jangan kita iri aja waktu dia di puncak, nggak iri sama prosesnya.
Iri sama yang selovable itu di sosmed atau aktif sekali di sosmed : Yakin iri? Yakin bisa menggunakan waktu di sosmed sebaik dia? Yakin bisa bikin konten kreatif kaya dia? Yakin bisa berdampak baik secara maya seperti dia? Yakin nanti malah nggak sombong? Yakin nggak tambah riya'?
Pokoknya sudah jadi prinsip, kalau lagi iri terima dulu kalau iri, lalu bunuh! Hahahahaha. Ashedap sadis juga~
Ga baik iri itu gaessss, iri yang baik sama orang kaya yang sedekahnya banyak sama iri kepada orang yang punya ilmu yang diamalkan dan bermanfaat. Udah itu aja. Embel-embel sisanya, hempas~
Jadi pas liat horang kayah, iri aja pas dia lagi sedekah. Hindari iri pas dia lagi pake barang branded sambil IG story staycation di hotel bintang tujuh, plus selfie muka glowingnya yang katanya bareface atau lagi bangun tidur HAHAHAHAHA.
Pas lihat orang pinter bangeeettt, iri aja sama ilmunya yang dipakai, diamalkan, diajarkan, dan bermanfaat. Gausah iri sama printilan yang lain kaya bisa jalan-jalan ke negara orang--keliling dunia dan fully funded. Dapet royalti atas karyanya yang sambil merem aja duitnya datang. Atau iri sama pasangannya yang support banget. Nooooo sama rasul nggak pernah diajarkan hal itu hehehehehehehe.
Ya sekian tips agar iri-mu tidak sampai ke sel-sel tubuh. Wkwkwkw
Mbak makasih aku nangis baca ini :')
Rumput Tetangga
Belum lama ini aku baru saja menyaksikan sebuah film Indonesia berjudul “Rumput Tetangga” yang dibintangi oleh artis-artis terkenal Indonesia. Film ini adalah film keluarga, terlepas dari siapa saja pemainnya atau ada bagian yang memang tidak sesuai dengan keyakinan yang ku anut ternyata aku mendapat pelajaran berharga dari film ini.
Film ini mengisahkan tentang ibu ranah domestik (full time sebagai ibu dan istri) dan ibu ranah publik (bekerja di luar rumah). Kisah ini sangat erat kaitannya dengan fenomena saat ini. Masih banyak para perempuan yang sering kali membandingkan perannya antara domestik dan publik.
“Aku lebih baik dari mereka yang bekerja di luar rumah, sepanjang waktu aku di rumah dan dengan mudah bertemu dengan anak-anak dan suami.”
“Kasihan sekali ibu itu, sepanjang waktu hanya di rumah. Tidak berkembang, tidak berdaya, pasti dia minder ketemu temen-temennya.”
Kurang lebih seperti itu isi pikiran antara ibu ranah domestik dan publik. Sampai akhirnya dunia menunjukan bahwa kebahagiaan tak selalu tegak berdiri di satu tempat, semua berubah berganti dengan kesedihan ataupun penyesalan.
Ibu ranah domestik muncul pemikiran “Enak sekali jadi dia ya, bisa keliling Eropa, punya perusahaan besar, uang banyak dan dihormati orang lain. Sedangkan aku punya apa, tak ada yang bisa dibanggakan.”
Namun ternyata ibu ranah publik juga muncul pemikiran yang lain “Ingin sekali aku hidup seperti dia, memiliki anak yang lucu, mengantar anak sekolah dan memiliki suami yang menyayanginya. Sedangkan aku bergelut dengan kesibukan, dibenci karyawan karena watak keras di kantor.”
Sampai akhirnya di film ini, ibu ranah domestik bertukar peran dengan ibu ranah publik. Semua yang dulu diimpikan ibu ranah domestik terwujud. Ia memiliki banyak kekayaan, perusahaan keren dengan pegawai yang banyak dan tentu saja dipandang banyak orang. Namun sayang sekali, ia ternyata tak memiliki keterampilan mengatur perusahaan dengan baik, semua kacau dan membuatnya depresi.
Begitu juga ibu ranah publik, ia bertukar peran menjadi ibu rumah tangga sejati. Hidupnya lebih bahagia dengan anak-anak lucu dan suami yang menyayanginya. Ia berusaha maksimal menjalani peran barunya. Namun ternyata itu semua tidak berlangsung lama, ia bukan ibu dan istri yang sebenarnya bagi keluarga itu. Dia kebingungan menentukan apa yang terbaik untuk anak-anak di keluarga tersebut.
Akhirnya penyesalan menghadirkan penyesalan lainnya,
Mereka menyadari bahwa peran terbaik bagi mereka adalah d ranah masing-masing. Semua tidak bisa saling menjatuhkan, menyepelekan atau iri dengan pencapaian. Tidak mudah menjadi ibu rumah tangga penuh waktu dan tidak mudah pula menjadi wanita karir. Segala peran yang dipilih adalah sebuah prioritas hidup yang menuntut pertanggungjawaban. Tanggung jawab itu menuntut ilmu dan kesungguhan hati dalam menjalaninya.
Rumput tetangga mungkin lebih terlihat hijau, namun semua tak hanya bicara soal rumput. Kita masih memiliki ruang tamu yang bersih, dapur dan kamar tidur yang nyaman. Tidak adil bila kita melihat hidup hanya dari apa-apa yang tampak di “halaman” atau luar rumah. Lebih baik fokus dengan rumah sendiri, rawat rumput di halaman, kebersihan di dalam rumah dan bahagiakan orang-orang seisi rumah. Hal ini dilakukan bukan untuk membandingkan atau menunjukan bahwa rumah kita lebih baik dari yang lain.
Selamat menikmati dan menghargai peran masing-masing.
2 Januari 2020 Tulisan ke-1 di bulan Januari
#kelasliterasiibuprofesional #KLIP2020 #mulaidarilangkahkecil
Aku ingin sekali menulis seperti dulu, tapi aku benci bila ia terlihat sangat menyedihkan untuk dibaca kataku.
Aku ini memang payah, bahkan untuk menyampaikan sebuah cerita yang bahkan tidak nyata pun tetap dianggap nyata.
Apa aku terlalu serius menulisnya ?Entahlah.
Apa aku yang menyedihkan atau pembaca yang terlalu baperan?
Tentang Lombok
Aku membenci lombok kataku padanya. Mataku lurus menatap air laut yang tenang, berharap gelombangnya bisa membawa luka ini saja. Sayangnya tak akan pernah bisa, tak akan pernah.
Tapi aku sudah memilih jalanku katanya.
Dy bila kau sudah memilih, tolong hatiku ini bukan sebuah pasir yang tengah kau injak, yang dimana bekas yang tertinggal akan hilang dihapus oleh angin ataupun deburan ombak. Apakah kau mengerti dy?
Melihat kau dengannya membuatku membenci Lombok, keindahannya membuatku bersedih.
Semua orang berhak bahagia itulah yang sering aku katakan kepada orang yang tengah patah hati.
Sayangnya kalimat itu tidak menjadikan sebuah obat untuk ku sendiri. Sebab aku tak sedang patah hati.
Tapi aku terluka oleh kemarahan dan kekecewaan.
Apa bedanya? Dasar bodoh kau ini
Aku menertawakan diriku sendiri.
Tuhan, maafkan aku yang begitu egois
Apakah aku diizinkan bahagia?
Mengapa luka itu masih terasa perih
Maaf..
Maafkan aku yang belum bisa (memaafkan) luka itu.