Lagu dan musik, dua hal yang selama ini selalu sukses membawaku pergi jauh ke masa lampau. Mereka bagaikan mesin waktu yang tak kenal ampun membawa pikiran dan raga ini tersedot ke dalamnya kapanpun nadanya kembali diperdengarkan, entah disengaja maupun tidak. Aku harus berterima kasih kepada seorang sahabat bernama Faisal Reza yang menjadi pintu gerbang permulaan dari banyak hal, baik perkara itu penting maupun tidak penting, berguna ataupun tidak berguna bahkan sampai ke sesuatu nan absurd sekalipun.
The S.I.G.I.T (The Super Insurgent Group of Intemperence Talent), sebuah grup musik asal Bandung ini pertama kali diperkenalkan melalui playlist mp3 miliknya kala itu saat kami duduk di bangku kelas XI SMA. Sebagai anak muda yang sedang panas-panasnya darah, band dengan aliran rock merupakan opsi yang terlalu sulit untuk dilewatkan. Terlebih aku memang pengagum band-band rock barat seperti Led Zeppelin, Queen dan My Chemical Romance. Maka, lagu-lagu The S.I.G.I.T secara cepat terngiang di hati dan memori. Tak pelak, aku langsung jatuh hati pada nomor-nomor cadas seperti Black Amplifier, Let It Go dan Satan State. Seluruh lagu yang muncul bersama ketiga judul tadi memang sangat enak untuk senantiasa didengarkan lagi dan lagi. Maka dari itu, Album The Visible Idea of Perfection ini aku nobatkan sebagai salah satu magnum opus terbaik sepanjang masa yang pernah diciptakan oleh musisi Indonesia.
Namun, dari dua belas lagu pada album tersebut, ada satu lagu yang akhirnya menjadi nomor favoritku selamanya. Lagu itu berjudul All The Time. Berbeda dari dominasi gebukan drum dan lentingan gitar yang keras seperti lagu-lagu lainnya, All The Time dibawakan dengan lebih lembut. Aku menyebutnya sebagai syahdu rock. Lagu ini begitu kuat terpatri dalam diri karena musik dan liriknya tidak hanya berisi not serta nada, tetapi juga kenangan.
Masa SMA-ku hampir tujuh puluh persen dihabiskan dengan kegiatan Paskibraka, baik sebagai pasukan maupun pelatih. Ada satu waktu dimana hidupku hanya dihabiskan berkumpul dengan empat teman-teman seangkatan Paskibra, yaitu Faisal, Edwin, Erwin, dan Drajat. Terkadang Yoga dan Ipul bergabung, tetapi mereka berdua tidak sesering kami berlima hadir. Momen ini terjadi saat latihan intensif junior kami sebelum menghadapi kejuaraan lomba baris-berbaris digelar. Kala itu kami duduk di kelas XI dan bertindak sebagai pelatih. Liburan semester gasal dari minggu ketiga bulan Desember hingga minggu kedua bulan Januari datang, tetapi kami tidak punya waktu untuk berlibur karena harus mempersiapkan diri tampil di perlombaan. Sebenarnya angkatan kami terdiri dari dua puluh lima orang, tapi karena sebagian besar adalah perantau, maka mereka memutuskan untuk pulang kampung selama liburan ini.
Jadilah lima sekawan ini yang harus berkorban setiap hari datang untuk memberi latihan kepada pasukan lomba. Fyi, dalam sehari kami mengadakan dua sesi latihan, yaitu pagi hari dari pukul 06.00-10.00 WIB dan siang hari pukul 14.00-17.00 WIB. Tujuh jam sehari dalam waktu dua minggu dari hari Senin sampai Sabtu, bisa dibayangkan betapa seringnya kami berlima bersua. Bahkan karena waktu jeda istirahat yang relatif pendek, kami memutuskan untuk tidak pulang ke rumah masing-masing dan memilih rehat di salah satu rumah di antara lima orang ini yang berada tidak jauh dari sekolah. Rumah Faisal menjadi persinggahan kesukaan kami karena selain paling dekat, ibu dan neneknya selalu baik hati menerima kedatangan empat anak slengekan ini untuk menumpang istirahat, bermain playstation bahkan makan siang. Seingat saya hampir setiap hari kami mampir ke rumah ini jika tidak ada tanggal merah maupun libur latihan.
Di tempat inilah, All The Time kerap diperdengarkan dari handphone Faisal, kemudian dilantunkan dengan suara dan skill bergitar kami yang seadanya. Berbekal kemampuan berbahasa inggris pas-pasan, kami terus menyanyikannya dalam tongkrongan. Waktu itu, tidak terbesit sekalipun dalam diriku untuk mendalami liriknya. Aku menyukai lagu ini murni karena musik dan nadanya yang nyaman di telinga.
I wanna live forever I’m the oak tree Forever scar the stranger I wanna grow my hair and nails you up my life I hope to do change your last name and be a wife
Jika disimak secara menyeluruh, menurut keyakinanku, sebenarnya lagu ini bercerita tentang seorang perempuan yang gagal move on dari pasangannya dan berharap hubungan mereka bisa tetap berlanjut hingga duduk dalam altar pernikahan. Lagu ini lebih berupa pesan dan harapan terpendam dari si perempuan kepada laki-laki idamannya yang telah pergi. Ia rela menukarnya dengan apa saja, bahkan kesendiriannya untuk tetap bersama laki-laki itu dalam artian apapun.
I wanna live forever Whom you realize forever means together I hope you know When you say it wasn’t over For the third times I hope you know You make me wanna give me something, more and more
Namun, aku memiliki interpretasi sendiri mengenai liriknya. Aku meyakini bahwa lirik lagu ini mengisahkan perjalanan kami tumbuh dan dewasa. Era putih abu-abu merupakan waktu terbaik di sepanjang lini masa hidupku. Secara spesifik, aku merindukan waktu dimana kami nongkrong di teras rumah Faisal, mendengarkan senandung lagu dan curahan hati masing-masing perihal asmara ditemani semilir angin serta gerimis hujan rintik-rintik. Kadang kami makan indomie yang dibuat oleh ibunya Faisal. Jika bosan dan tidak terlalu enak hati merepotkan orang rumah, kami jalan kaki ke depan gang untuk menuju angkringan. Tak berhenti sampai disitu, kami bahkan beberapa kali sengaja menginap di sana, tidur bersama-sama hanya beralaskan karpet dan bantal di ruang tengah.
Aaa…wanna give you hold All the time And wear you robe It’s just, for the pooring rain That never end All the time (My life is raining all the time)
Setiap lagu ini terdengar, mau tidak mau ingatanku akan kembali ke sana secara terus-menerus. Masa muda yang menyenangkan, tanpa beban kehidupan dan tanggungjawab besar bersandaran. Celetukan-celetukan, tawa-canda, tangisan, renungan, perselisihan, keanehan, kebimbangan, keraguan dan kebersamaan, waktu-waktu itu akan selalu ku bingkai dalam kenangan manis. Rasanya ingin membawa tali tambang dan mengekang tangan kalian semua agar aliran waktu tak kuasa menyeretnya.
Wahai kalian yang tetap hidup dalam alam kenangan yang selalu ada di hati dan jiwa, terima kasih karena pernah hadir dalam kehidupanku. Tanpa kalian, masa mudaku tidak akan pernah sama. Semoga kalian baik-baik ya, sebab aku tidak bisa lagi memulangkan kita seperti dahulu sedia kala. Bukan karena perselisihan, tetapi jalan dan kerasnya hidup tentu membuat kita menjadi orang yang berbeda.
Bandung, 22 Januari 2026
@menujusenja










