Hebatnya orang lain bukan standar kehidupan kita.

No title available

Janaina Medeiros

Product Placement
DEAR READER
Mike Driver

#extradirty

pixel skylines
todays bird
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
No title available
Three Goblin Art
Jules of Nature

No title available
almost home
I'd rather be in outer space šø
ojovivo

if i look back, i am lost

shark vs the universe

JBB: An Artblog!
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from Argentina
seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@meowningful
Hebatnya orang lain bukan standar kehidupan kita.
Dimulai dari kita, ya!
Segala perubahan memang harus dimulai dari tiap individu. Persis seperti pesan Allah di surat Ar-Ra'd ayat 11:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah (keadaan) yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri".
Emangnya apa yang harus diubah? Yang paling pertama dan utama adalah pemikiran kita. Karena pemikiran akan menumbuhkan kemauan, dan perbuatan praktis adalah buahnya. Berikutnya mengubah budaya, kebiasaan dan tradisi. Sambat di twt bukan budaya kita, budaya kita itu makanan tinggal 1 tapi gak ada yang mau ngambil. Bukan begitu? Bukannnn! Denial ya anaknya..
Keyakinan atas kemenangan yang sudah Allah janjikan bukan untuk dinantikan aja. Bukankah iman itu tidak cukup kalau hanya diyakini dalam hati? Tetapi juga harus diucapkan dengan lisan dan dibuktikan melalui perbuatan.
Salah satu perbuatan yang bisa diusahakan hari ini adalah menghidupkan kembali tradisi ilmu kita. Lebih dari sekadar baca buku, tapi juga berdiskusi dan menulis, jadikan itu aktivitas harian. Inget, kita ini bukan adonan donat yang diem aja bisaĀ ngembangĀ šš»
Butuh yang suka
Ada beberapa pertanyaan seputar kebiasaan membaca yang sering orang tanyakan ke saya. Setidaknya ada 3 pertanyaan yang paling sering dilontarkan, "Kenapa suka baca?", "Kapan waktu baca bukunya?", dan yang terakhir "Gimana kalau belum ada buku bacaan yang membuat kita mau baca?". Mari kita urai benang yang belum terlanjur kusut ini wkwk.
1ļøā£ Kenapa suka baca?Jujur, awalnya saya sama sekali ga suka baca buku. Lingkungan rumah dan keluarga pun ga mendukung saya untuk akhirnya akrab dengan buku. Saya ingat betul, pertama kali saya baca buku ketika kelas 2 SMP. Judul buku yang saya baca "Infinitely Yours".
Dari judulnya aja udah kebayang kan, itu tipe novel romance yang alurnya ringan, menyenangkan, dan banyak bumbu-bumbu percintaanya. Saya boleh pinjam buku itu dari salah satu teman, kata dia bagus ceritanya.
Lanjut ke perjalanan membaca berikutnya. Kali ini giliran tetralogi empat musim karya Ilana Tan yang saya baca. Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London, saya tuntaskan hanya dalam waktu satu minggu. Berikutnya? Hiatus berkepanjangannn wkwk. Buku-buku itu gak membuat saya lantas punya kesukaan baca buku secara kontinu. Saya baru kembali baca buku di tahun kedua kuliah. Lama banget ya jedanya? hehe.
Itu termasuk salah satu fenomena besar dalam hidup yang saya dalami betul "kenapanya". Setelah lama bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa? Jawaban itu pun muncul ke permukaan. Ternyata, rasa keingintahuan saya lah yang sudah pingsan sejak lama. Akal saya sudah terlalu lama tidur. Sehingga saya merasa tidak butuh untuk membaca lagi. Saya lebih suka mendapat informasi yang instan, TV, sosial media, cerita teman, dan sebagainya.
Lantas, apa turning point-nya? Alarm apa yang akhirnya membangunkan rasa ingin tahu dan juga akal saya? Sederhana sekali, akal dan rasa ingin tahu saya terbangun di sebuah kajian yang saya hadiri.
Sore itu, tahun 2017, saya mengikuti kajian yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus, tepatnya oleh departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat). Jujur, saya sudah lupa apa tema kajian yang dibawakan saat itu. Namun, saya ingat betul betapa kepala ini sangat riuh, sibuk berpikir dan mencari jawaban kesana kemari. Kajian yang waktunya terbatas tentu belum bisa menjawab semua pertanyaan yang terlanjur menggunung di kepala saya. Akhirnya saya bertanya pada seorang kakak tingkat, kira-kira buku apa yang bisa mengakomodir rasa keingintahuan saya saat ini. Beliau merekomendasikan sebuah buku berjudul "Risalah untuk Kaum Muslimin" karya Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Buku yang cukup berat untuk saya kala itu wkwk. Bahkan untuk bisa memahaminya, saya perlu membaca tiap lembarnya secara berulang minimal 3x. Ditambah lagi, buku tersebut ditulis menggunakan bahasa Melayu. Singkatnya, buku tersebut mejelaskan persoalan apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh kaum muslimin. Dan pentingnya menjadikan Islamic Worldview sebagai bingkai dalam setiap gambaran kehidupan kaum muslim.
Sejak saat itu, akal saya seperti merengek untuk diberi makan. Sebagaimana perut ini yang keroncongan kalau belum bertemu nasi, wkwk. Akhirnya saya mulai rutin membaca buku. Dan, tentunya, tidak semua buku saya baca. Hanya buku-buku tertentu yang memang sesuai dengan kebutuhan saya. Seringnya saya membaca buku tentang pemikiran Islam, mengingat betapa gencarnya perang pemikiran yang kita hadapi saat ini. Karena saya seorang pendidik, saya juga suka sekali membaca karya-karya Ust. Adian Husaini yang membahas konsep pendidikan Islam. Lalu, buku seputar isme-isme baru yang coba merusak aqidah. Novel-novel pembangkit jiwa, atau buku-buku yang heartwarming juga menjadi pilihan saya.
Jadi, kalau saya simpulkan, pernyataan saya suka membaca buku agaknya kurang tepat. Karena rasa suka tidak mendasari saya untuk membaca buku. Tetapi, perasaan butuh itulah yang membuat saya ingin terus membaca dan mungkin tanpa sadar telah berubah menjadi suka. Seperti halnya makan, saya makan bukan karena suka, tetapi karena saya lapar dan butuh makanan untuk mengisi tenaga. Sebagai manusia yang fakir ilmu, saya butuh buku dan juga guru untuk bisa terus menemukan jawaban dan hikmah dari kehidupan.
2ļøā£ Kapan waktu baca bukunya? Kalau weekday, sebenarnya gak punya waktu khusus, kapanpun ada waktu luang saya usahakan untuk baca. Biasanya sebelum masuk kelas atau saat jam istirahat. Kalau weekend, biasanya saya saya baca sekitar jam 10 pagi dan jam 4 sore.
3ļøā£ Gimana kalau belum ada buku bacaan yang membuat kita mau baca? Hey, that's totally okay! Cari stimulus lain yang juga bisa membuat akal kita terus berkembang. Bisa denger kajian, ikut short course, diskusi sama temen, apapun itu asalkan terus ada asupan untuk pemikiran kita.
Allah udah lebihkan manusia dari makhluk ciptaan-Nya yang lain, yaitu dengan adanya akal. Dalam Al Quran juga Allah seringkali menyeru kita untuk berpikir dan merenungkan apa yang ada di langit dan di bumi. Selamat berpikir, jangan lupa berdzikir!
Sedikit yang Terpilih
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang 'sedikit' itu. Karena dari banyaknya orang, hanya sedikit yang beriman. Dan dari yang beriman, hanya sedikit saja yang berdakwah. Dan dari yang berdakwah, lebih sedikit lagi yang bersabar.
ā + ā + ā
"Gimana ya, Bu? Saya bingung. Anak saya berubah banget. Biasanya dia ga pernah kayak gini. Sekarang makin susah kalo dibilangin sama orang tua. Terus jadi jail banget sama adiknya. Belajar sama saya juga gamau, sekarang maunya belajar sendiri, gatau beneran belajar atau cuma baca-baca aja. Kalau saya ajak ngobrol baik-baik malah diam. Kalau saya kasih tau dengan nada tinggi malah marah balik ke saya. Adabnya ke orang tua jadi beda bu. Saya bangunin subuh pun susah, malah marah. Muroja'ah juga jadi ga semangat kayak dulu".
Sebuah keluh kesah dari seorang bunda yang anaknya diajar oleh saya. FYI, ini bukan yang pertama kalinya wkwk. Mungkin udah lebih dari 3 kali saya dapet keluhan senada dari beliau. Jujur, pertama kali saya denger keluhan itu rasanya seperti dipojokkan. Seolah-olah saya lah yang punya andil besar atas perubahan sikap anaknya. Saya lah yang belum bisa mendidik anak itu dengan baik. Pokoknya saya yang salah dan gagal. Padahal di sekolah, anaknya adalah anak yang baik adabnya dan juga cerdas.
Sekali, dua kali, tiga kali, sampai sekarang entah yang ke berapa kali, akhirnya saya punya sudut pandang lain. Fase merasa disalahkan, merasa bersalah, atau merasa gagal mendidik udah terlewati. Karena apaaa? Karena saya ingat sebuah pepatah wkwk.
"It takes a village to raise a child", isn't it?
Untuk mendidik seorang anak, kita butuh orang sekampung. Kebayang ga tuh sekampung kayak apa banyaknya. Berapa banyak orang yang harus terlibat dan bersinergi dengan kita untuk mendidik seorang anak. Kita butuh ekosistem pendidikan yang baik. Ayah, bunda, kakek, nenek, guru, teman sekolah, tetangga, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Bahkan, menyekolahkan anak di sekolah Islam aja ga cukup. Ga menjamin anak itu langsung jadi anak yang berakhlakul karimah atau auto hafidz Quran. Sinergi dengan orang tua, dan lingkungan yang kondusif juga punya andil besar dalam proses mendidik anak. Intinya adalah, ini tanggung jawab bersama.
Kembali pada keluh kesah sang bunda. Akhirnya saya dapet jawabannya, ada di kata bercetak tebal. Ternyata, bunda tersebut memilih saya sebagai teman berbagi. Berbagi tentang bagaimana bingungnya ia dengan perubahan perilaku sang anak. Tentang bagaimana belum siapnya ia menerima fakta, bahwa perubahan adalah sesuatu yang pasti pada diri manusia.
Beliau bingung, belum juga terlihat akar masalahnya. Belum juga nampak penyebab perubahan perilaku anaknya.
Saya sampaikan kepada beliau, bahwa perilaku anaknya sangat baik di sekolah. Ia cerdas, nilai akademiknya pun bagus, adabnya baik, dan juga akur dengan teman-temannya. Apa yang menjadi keresahan sang bunda sama sekali ga saya temukan jawabannya di sekolah.
Terussss gimana dong?
Gini, kepribadian anak dibentuk dari 3 hal. ā dari keluarganya, ā dari sekolahnya, dan ā dari lingkungannya. Tapi, ā dari keluarga (pola asuh) itu lah yang menjadi pondasi. ā itu lah yang paling mengokohkan langkah sang anak. Sehingga guncangan dari luar ga akan terlalu berpengaruh terhadap pribadinya.
Maka, kalau kita ga nemuin jawaban itu di luar (eksternal), udah seharusnya kita mencari jawaban ke dalam (pola asuh keluarga).
Saling lempar kesalahan ga akan membuahkan perbaikan. Kurang bijak rasanya kalau kita saling tuding. Karena mendidik ini memang pekerjaan bersama.
Orang tua ga bisa sepenuhnya mengandalkan atau menyalahkan sekolah, dan sekolah juga harus siap untuk bersinergiāmembangun komunikasiādengan orang tua. Ditambah lagi menghadirkan lingkungan yang kondusif, supaya anak bisa mengimplementasikan ilmu yang didapat. Damai dan tenteram sekali bukan kalo kayak gitu? Saling dukung dan juga saling introspeksi š
Semangat pokoknya untuk para guru, apalagi yang masih melajang. Harus mau belajar gimana cara mendidik anak, psikologi anak, cara handle keluh kesah orang tua biar ga panik duluan, dan malah ngawur jawabnya. Karena sejatinya mereka adalah partner kita dalam mendidik.
Selamat mendidik, semoga berbuah baik :)
06:50
Orang-orang jam 06:50 itu selalu sama. Mereka pergi ke tujuan yang sama setiap hari. Entah untuk mendidik, mengobati, atau apa saja yang bisa mereka lakukan demi menjemput rezeki.
Orang-orang jam 06:50 itu selalu sama. Mereka menunggu hal yang sama setiap hari. Entah jemputan pribadi, TJ dari Komplek Pelni, atau ojek online via aplikasi.
Orang-orang jam 06:50 itu selalu sama. Mereka berharap semoga yang sama setiap hari. Semoga tidak terlambat tiba di kantor, semoga siang nanti jualan tukang batagor, atau semoga pulang cepat lalu bisa nonton drakor.
Orang-orang jam 06:50 itu aku, yang selalu sama. Aku menuju, tapi jika saat ini belum waktunya, maka aku menunggu, berteman harap yang masih sama, dua jadi satu.
Berpikir
"Suka membaca itu tidak begitu penting", tuturmu.
"Lantas apa yang lebih penting?", aku bergumam dalam hati.
"Suka berpikir lebih penting daripada suka membaca", sambungmu setelah melihat raut wajahku yang bingung.
Aku diam sesaat, "Hmm.. yaa, setujuu".
Sepertinya aku mulai paham maksud dari pernyataan itu. Kalau hanya sekadar membaca, membolak-balik halaman karena ingin segera menamatkan, memang percuma saja. Tidak ada pesan atau hikmah yang didapatkan, atau lebih parah lagi, kita bisa salah mengambil pesan.
Aku jadi ingat, suatu hari kamu pernah bilang, "Kita ini muridnya guru bukan muridnya buku. Adapun buku-buku itu hanya sebagai wasilah agar kita terbiasa untuk berpikir dan merenung. Bahkan alam di sekeliling kita pun bisa menjadi bahan renungan, bukan? Langit-langit tanpa tiang. Air laut yang tidak menyatu tanpa penghalang. Peredaran bintang-bintang."
Ah lagi-lagi aku suka dengan cara berpikirmu. Cara berpikir yang selalu membawaku selangkah lebih dekat dengan-Nya. Selain suka membaca buku, sepertinya aku sudah mulai suka bertukar pikiran denganmu. Bisa luangkan waktu?
Lebih dekat
Pertama-tama, mari kita abaikan akun yang tidak premium di atas hahahaha.
Saya penggemar berat lagu Sherina yang satu ini. Setiap kali rasa dan logika saling debat, rasanya lagu ini cocok untuk jadi pengingat. Karena ada banyak hal yang membingungkan, bukan? Kadang jawabannya saja tidak mampu menenangkan. Sering tertipu dengan pandangan yang terbatas, dan pendengaran yang tidak terlalu jelas.
Mungkin karena jarak, kita terlalu jauh dari apa yang ingin kita lihat dan dengar. Terlalu cepat membuat kesimpulan padahal masih samar-samar.
"Lihat segalanya lebih dekat", sudah seperti itu kah kita? Sampai kita yakin bahwa jawaban ini memang kebenarannya. Bukan berasal dari prasangka siapapun yang menyampaikannya.
Kalau saja kita mau lebih dekat untuk melihat dan mendengar, mungkin kita akan mudah memahami, musabab dari kejadian belakangan ini.
Karena tidak semua katanya adalah faktanya.
Percaya gak percaya
Percaya itu adanya di hati atau di kepala?
Atau ada di keduanya?
Atau justru ada di mulut-mulut yang penuh tipu daya?
Atau mungkin ada pada telinga-telinga tanpa mata?
"Selamat datang di dunia, Pus!", katanya.
Dunia yang membuat kita percaya, bahwa tidak dipercaya manusia pun tak ada buruknya. Dunia yang membuat kita percaya, bahwa dipercaya manusia pun tak selalu ada baiknya.
Lagi-lagi soal rumput
Mungkin istilah rumput tetangga lebih hijau muncul akibat banyak dari kita yang kurang pandai bersyukur, saya salah satunya. Lihat kanan, "Wihhh enak banget jalan hidupnya dia". Lihat kiri, "Pengen deh ada di posisi si A", dan seterusnya. Selalu merasa kurang, selalu mau jadi si A, B, C. Padahal si A, B, C, mau jadi D, dan akan terus berputar seperti itu sampai titik syukur yang menghentikan kita.
Ternyata apa yang kita lihat enak dari hidup orang lain belum tentu cocok dengan kebutuhan kita. Apa yang kita lihat "ga enak" dari hidup kita, belum tentu juga seperti itu. Mungkin, enaknya belum terasa karena terhalang dengan rasa kurang yang terus menerus.
Lagi ancur-ancurnya dan kepingin nulis
Pernah beberapa kali lihat video orang-orang, mereka menggambarkan kondisi yang lagi ancur-remuk-redam tapi tetap harus ngelanjutin hidupnya. Eh ternyata, sekarang saya lagi jadi 'orang-orang' itu, haha. Sebelumnya saya cuma menerka-nerka, "Gimana ya rasanya?". Tapi, sekarang jelas betul, kayak nusuk-nusuk seluruh badan.
Kalo direnungi lagi, mungkin itu bagian dari kasih sayang-Nya juga. Dia tetap menginginkan kita terus melakukan kebaikan dalam kondisi yang ngga ideal sekalipun. Mungkin itu juga jawaban dari pinta "Kuatkan hamba", "Sibukkan hamba dalam kebaikan", "Berikan hamba lingkungan yang baik", dan seterusnya. Kita juga ga bisa ngedikte kapan waktu yang tepat, kan?
Pas lagi ancur-ancurnya gini? Why not? Bisa jadi menurut-Nya ini waktu yang paling ideal. Biar terlihat, teruji, dan terbukti sejauh mana kedewasaan 'orang ini' menjalani takdir langit.
Semoga lulus dan selesai dengan cara yang paling baik, aamiin.
Apa sih pentingnya hidup dengan iman???
Biar ga gampang hopeless cui.
Bisa menyeimbangkan kerja-kerja dunia dan akhirat tuh.. the most important skills ever pokoknya!
Naik sepeda
Inget gak dulu waktu pertama kali belajar naik sepeda? Umur berapa? Jatuh berapa kali? Pernah nabrak apa aja? Kalo saya, kira-kira umur 8 tahun. Jatuhnya.. berapa kali yaa, hahaha. Pastinya berkali-kali, jatuh-bangun-jatuh-bangun. Ternyata sesulit itu untuk bisa mengatur keseimbangan badan, perlu latihan. Lapangan dekat rumah saya jadi saksi betapa sering lutut ini menciumnyaš¤£. Nabrak juga pernah, nabrak jemuran tetangga pas gaya-gayaan lepas tangan, terus malah langsung tancap gas. Astaghfirullah.. maafin Puspa kecil yaa, mba tetangga.
Seru banget proses belajar naik sepeda tuh. Kita jadi tau, kalo ternyata ngatur keseimbangan itu sulit, tapi bukan berarti mustahil, cuma perlu latihan yang banyak aja. Kita jatuh-bangun-nabrak-jatuh-bangun, dan tetep aja mau naik sepeda lagi. Tapi pasti ada yang berubah dong, jadi lebih hati-hati, dan gak usah gaya-gayaan biar selamat wkwk. Naik sepeda aja kayak yang seharusnya, duduk di sadel, kaki di pedal, tangan di setang, sambil jari telunjuknya megang rem. Gak perlu kebut-kebutan, kalo ada polisi tidur sambil direm, kalo udah maghrib pulang terus mandi, dan seterusnya.
Kurang lebih sama lah yaa kayak jalanin hidup. Harus bisa seimbang. Antara kerja-kerja dunia dan akhirat. Dan ada jatuh-bangun-nabrak-jatuh-bangunnya juga kayak yang tadi. Tapi tetep harus dijalaninālanjutinākan hidupnya? Kalo ngatur keseimbangan badan aja perlu latihan yang banyak, berarti ngatur keseimbangan hidup perlu latihan yang banyak banyak banyak. Of course, kita jadi lebih hati-hati, dan gak banyak gaya. Ibadah yang benar, minum yang cukup, makan yang bergizi, tidur yang tanpa overthinking (haha bisa g tu), belajar yang banyak, kerja yang giat, nugas yang tanpa penundaan :'))))), apalagi? Tambahin sendiri, ya, wkwk.
Kita butuh seimbang untuk bisa terus bergerak.
It doesn't go away
Pernah lihat anak kecil yang menangis saat ayahnya pergi kerja? Atau yang menangis saat terbangun tapi tak ada ibu di sampingnya? Ia menangis karena satu-satunya hal yang diketahui adalah, ayah dan ibunya hilang, meninggalkan. Lalu tangisnya semakin menjadi-jadi, karena tidak nampak sosok orangtuanya dalam pandangan.
Padahal, tak ada yang hilang.
Hanya karena sesuatu tidak terlihat, bukan berarti dia hilang. Perginya justru karena sayang. Ayahnya harus bekerja, ibunya harus memasak, dan seterusnya. Hingga saat mereka kembali, ada sesuatu yang bisa diberi. Entah mobil-mobilan, bakwan nasi daging, atau sekadar pelukan hangat pereda tangis.
Pelan-pelan, si anak kecil belajar. Jika yang tidak terlihat itu, bukan berarti hilang. Bisa jadi sedang memperjuangkan sesuatu, menyiapkan sesuatu, biar dia dan Dia saja yang tau. Yang tidak terlihat itu, bukan berarti hilang. Bisa jadi sengaja disimpan, disembunyi dalam-dalam, hingga tiba waktu tepat untuk meroboh sekat. Yang tidak terlihat itu, bukan berarti hilang. Bisa jadi besok atau lusa akan datang, jika benar tujuan perginya adalah pulang.
Dia yakin, tak ada yang hilang.
āJanganlah kamu merasa lemah..ā, begitu Tuhanmu memerintahkanmu.
Seketika saja kamu mampu untuk melewati segala halang rintang kehidupan. Seraya berkata, āMemang diriku satu-satunya yang paling bisa diandalkanā. Kamu mengelu-elukan betapa tangguhnya dirimu. Kekecewaanmu bergantung pada orang lain, membawamu untuk memilih bergantung pada diri sendiri.
Begitu cepatnya manusia lupa. Bukankah kamu dan orang lain itu sama saja?! Sama-sama seonggok daging yang diberi nyawa. Lalu kenapa kamu ulangi lagi bergantung kepada manusia? Sekalipun itu adalah dirimu sendiri. Indahkah perasaan kecewa bagimu?
Kalaupun kamu merasa selalu mampu melewati segalanya, bukankah itu karena kemurahan hati Tuhanmu? Sesungguhnya Dia yang telah memberimu sedikit dari kekuatan-Nya. Dan jika nanti kamu merasa lemah, bukankah memang begitu adanya?
Perasaan lemahāyang benarāakan menjadikanmu ingin selalu dekat dan bergantung pada-Nya. Meminta supaya dikuatkan, diberi pertolongan, hingga terangkat perlahan-lahan semua beban. Karena sebaik-baiknya rasa lemah adalah yang membawamu kembali menghamba. Tuhanmu itu, Dia mampu mengkonversi rasa lemah menjadi kekuatan agar kamu terus berjalan. https://www.instagram.com/p/CUDByvNhiyO/?utm_medium=tumblr