Apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang adalah misteri dan apa-apa yang sudah kau alami itulah history. #explorekediri #kedirikekinian #hutanpinus (di Jugo, Jawa Timur, Indonesia)

祝日 / Permanent Vacation
AnasAbdin
noise dept.
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
No title available
trying on a metaphor
TVSTRANGERTHINGS

Product Placement
occasionally subtle

❣ Chile in a Photography ❣
YOU ARE THE REASON
almost home

No title available
NASA

roma★
taylor price
RMH
Peter Solarz
i don't do bad sauce passes
d e v o n

seen from Brazil

seen from Japan
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Greece

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
@miftahmj
Apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang adalah misteri dan apa-apa yang sudah kau alami itulah history. #explorekediri #kedirikekinian #hutanpinus (di Jugo, Jawa Timur, Indonesia)
Manusia itu kodratnya memang berbeda-beda. Jadi jangan disamaratakan. Kalau memang saya dilahirkan menjadi orang yang introvert dan sedikit susah bergaul dengan banyak orang apakah saya salah. Ayolah, jangan terlalu skeptis. Dunia ini memang diciptakan dengan banyak sekali tipe manusia yang tentu akan berbeda antara satu dengan lainnya. Karena dunia butuh keseimbangan. Kalau semua orang terlampaui sempurna seperti diri anda merasa, maka untuk apa yang lain diciptakan? Orang introvert juga bukan berarti tidak bisa bergaul, sejujurnya mereka sangat bisa bergaul. Akan tetapi, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat dirinya nyaman dan yakin bahwa orang itu bisa dipercaya. Dan mereka -si introvert juga bisa sangat menyayangi seseorang dan menjadi sahabat baik untuk orang lain. Terkesan sedikit teman dan cupu pergaulan memang, tapi mereka nyaman dengan itu. Karena bagi mereka yang penting adalah sedikit tapi berkualitas serta bermanfaat dan membawa kepada jalan Allah. InsyaAllah.
-selftalk
Semoga senyummu selalu menjadi bahagiamu dan bahagia orang disekitarmu ☺ #kedirisukasuka #kediri (di Lereng Gunung Wilis)
Fitrah Seksualitas
By: Elly Risman Musa
Punya suami yang kasar? Kaku? Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.
Kok sebegitunya?
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.
Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka
inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
Simpan untuk bekal :)
Rasanya semenjak semua orang mengabdikan dirinya untuk media sosial -read terutama ig kok saya merasa banyak yang tidak menjadi dirinya sendiri? Semua pencitraan dilakukan hanya agar terlihat sempurna di dunia itu.
- atau hanya perasaanku saja?
" kalau bukan kita yang membahagiakan diri kita sendiri, lantas siapa? Karena bahagia itu bersumber dari alam bawah sadarmu sendiri"
Saya masih tetap akan bisa berkarya kan meskipun tidak punya STR seperti teman sepofresi saya di dunia medis? Toh masih banyak hal lain yang bisa saya lakukan. Dengan dunia yang luas ini. Meskipun saya mungkin sudah tidak bisa di dunia medis lagi. Down? Iya. Marah? Saya mencoba berfikir positif. Allah pasti punya rencana yang indah buatku, itulah kenapa punya saya belum jadi sampai sekarang atau mungkin bahkan berkasnya sudah raib entah kemana. Hanya saja saya belum tahu rencana indah itu akan seperti apa. Saya hanya mencoba berhusnudzon saja. Mencoba untuk selalu legowo atas apa yang datang kepada saya. Saya pasrahkan semuanya kepada sang pemberi segalanya.
- karena saya masih terus belajar untuk menerima nya dengan hati yang ikhlas dalam bentuk apapun itu, dan selalu mencoba untuk menerima jalan indah yang Allah telah persiapkan. Saya harus yakin!
Semakin kesini saya semakin sadar bahwa pendidikan itu memang penting.
Kenapa? Karena hampir 6 bulan ini saya mengamati sendiri bahwa terdapat perbedaan yang jelas sekali terasa antara sekolah dengan sistem pembelajaran yang baik dengan yang hanya penting sekolah. Mulai dari cara berfikir, menatap masa depan sampai menghadapi masalah sehari-hari. Karena saya mengalami sendiri dari yang saya dampingi belajar selama ini.
Karena sepertinya saya memang belum selesai dengan diri saya sendiri.
Itulah mengapa dia belum datang, karena dia juga-mungkin sedang dalam tahap menyelesaikan dengan dirinya sendiri.
Bagaimana kita tahu bahwa apa yang kita pilih itu tepat?
Bagiku, barangkali ini hanya salah satu cara mengetahuinya:
“Ketika kita tahu konsekuensi dari pilihan kita tersebut dan kita siap dengan konsekuensinya.”
Bukankah betapa sering kita memilih, tapi tidak siap dengan konsekuensinya? Hanya mau dengan pilihan tersebut, tapi tidak mau menjalani resikonya.
- Kurniawan Gunadi -
(via kurniawangunadi)
Perjuangan yang Diam
Euforia hari wisuda selalu luar biasa. Banyak sekali foto-foto yang menghiasi laman media sosial beberapa hari ke depan. Juga ucapan yang tak putus masuk ke ponsel. Tapi, tak kala diri menyadari ketika bangun esok pagi. Mata terbuka, matahari bersinar, burung bernyanyi, air mengalir, dan udara berhembus.
Ada hembusan yang masuk ke kepala kita, terjun ke hati kita. Rasa cemas dan khawatir saat menyadari bahwa kita belum bekerja, tapi ada yang lebih mencemaskan yaitu tatkala kita tidak tahu mau bekerja apa selepas ini. Kita masih bergulat pada pertanyaan, apakah ingin mengikuti passion/kesukaan kita pada sesuatu atau mengambil kesempatan apapun yang datang. Padahal seharusnya urusan itu sebaiknya sudah kita selesaikan sebelum wisuda.
Di hari pertama selepas wisuda, orang tua mungkin belum akan banyak bertanya. Tapi hari-hari berikutnya, mungkin rumah adalah tempat paling tidak nyaman untuk kita tinggali. Saat kita masih dalam kebingungan, kita butuh dukungan bukan pertanyaan. Tapi saat itu finansial kita masih bergantung kepada orang tua. Kita masih harus meminta uang dan kita malu-malu mengatakannya.
Kita berjuang, kita merasa kita sedang berjuang. Tapi orang lain tidak melihat perjuangan kita. Mereka bertanya dan kita belum punya jawabannya. Tapi pertanyaan itu hampir datang setiap hari. Entah dari keluarga, entah dari teman.
Dan kita semakin resah, kembali ke pertanyaan tentang apakah mengikuti kesukaan kita pada suatu bidang atau mengambil kesempatan apapun yang ada. Sekalipun mungkin pekerjaan itu bukanlah hal yang kita sukai.
Kita terperangkap. Pada pertanyaan yang sama setiap hari. Pertanyaan dari diri sendiri, juga dari orang sekitar.
©kurniawangunadi | Yogyakarta, 4 September 2017
Selamat tinggal 23 tahun
Itu artinya saya semakin menua. Semakin dekat dengan ajal. Dan seharusnya saya semakin mendekat kepada sang Pemilik Segalanya.
pada akhirnya passion adalah gairah, perasaan penuh, utuh, dan bersyukur yang kita dapatkan ketika kita melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang, sesuatu yang kita cintai. passion kita dapatkan bukan dari sebuah pencarian, melainkan dari sebuah penemuan. artinya, passion bisa menjadi apa saja, di mana saja, dan kapan saja–yang kita temukan karena kita berada di sana dan dekat dengannya. passion adalah yang menjadikan diri kita bermanfaat–karena kita sangat andal pada bidang tersebut, atau karena kita berada di dalamnya. artinya, passion tak melulu sesuatu yang menjadi ketertarikan kita, passion adalah hadiah dari ketekunan dan keuletan kita. passion adalah sesuatu yang begitu kita cintai, bukan karena kita berpikir bahwa kita menyukainya, melainkan karena sesuatu itu kita lakukan dengan mengharap ridho Allah semata. benarlah apa yang orang bijak bilang: tidak usahlah kamu mengikuti passion-mu. biarkanlah passion yang mengikutimu. lakukanlah kebaikan dengan penuh kecintaan, niscaya passion tumbuh sebagaimana kebahagiaan yang hadir karena hati yang bersyukur dan sabar.
(via prawitamutia)
Yup
Hidup bukan hanya sekedar pesulap 1 2 3 bim salabim jadi. Karena yang sejauh ini aku jalani, hidup memang sulit, melelahkan dan tak ayal pula menguras amarah. Namun disela-sela kehidupan yang seperti itu selalu ada saja kebahagiaan dan senyuman yang menyelingi. Karena memang Allah sudah menciptakan keseimbangan yang luar biasa dimana pun itu. Selalu mengingat-kan diri yang mudah mengeluh ini untuk bersyukur. Semarah apapun. Setidak menerima apapun. Semenyerah apapun. Seberada dititik terendah hidupmu. Yang penting masih ingat Allah-Tuhanmu. Lama kelamaan dirimu akan bisa menerima apapun itu.
Yang aku tau, Hidup itu tentang menerima dan mensyukuri apa yang ada.
Skenario itu.
Memang apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut-NYA. Sama halnya dalam hal jodoh. Dulu aku sangat mengira bahwa mereka berdua akan bersatu dengan indahnya kuasa-MU. Namun, hari ini, aku mendengar bahwa salah satunya akan menyempurnakan separuh agama-MU. Memang skenario dari MU tak akan ada yg pernah tau. Seperti halnya kisah dilan dan milea. Mungkin ini juga akan sama. Dan buatku juga akan berlaku sama. Tinggal menunggu waktunya. Semoga selalu dikuatkan. Dikuatkan untuk memberikan ucapan dan do'a secara langsung terutama.
Jadilah setangguh rumput liar. Loc: Around Papuma Beach . #photographyoftheday #photooftheday #amateurphotography #landscape #tebing#grass #vsco #explorejember #lingkarindonesia #explorejatimbeach #papumabeach