"Mba, ikutan kelas parentingnya Abah X yuk, beberapa bulan lalu aku pernah ikut pas beliau di Jakarta, beliau tu praktisi technical parenting. Jadi yang beliau sampaikan detail adalah tentang teknik menghadapi anak sehari-hari. Cara penyampaiannya juga nggak membosankan. Dua hari berasa enjoy bnget. In syaa Allaah bermanfaat. Kalau bisa Ayahnya diajak, Mba. Ayahnya Haidar juga belum sih. Tapi aku sedang mengupayakan banget." Tukasku panjang lebar kepada Ibu muda dengan 3 anak itu.
Aku mengenali beliau sebagai Ibu yang penyayang namun tetap tegas dalam disiplin, Ibu pembelajar, Ibu yang tangguh. Alhamdulillaah, aku beruntung karena Allaah pertemukanku dengannya.
"Hehe mau sih, Mba." Jawabnya sambil mengoleskan selai pada roti yang dipegang oleh salah satu anaknya. "Tapi Ayahnya kayanya bukan tipe orang yang suka cari insight di dalam kelas belajar kaya gitu. Maksudku, Ayahnya tu bukan tipe orang yang teoritis. Dan kegiatan beliau juga padat. Bisa punya libur dua hari untuk ikut kelas kayanya belum bisa. "
"Biayanya juga lumayan ya, Mba" Sambungnya lagi.
"Tapi pematerinya ini nggak teoritis gitu kok Mba. Hmm beliau juga suka sharing lewat video singkat di youtube, mungkin bisa disimak lewat sana dulu Mba. Menurutku ilmu yang kita dapat, lebih berharga dari nominalnya Mba. Sekali seumur hidup. Akan dipakai selamanya sebagau bekal buat mengasuh anak." Aku mencoba meyakinkannya lagi sambil mencarikan channel yang kumaksud. Gigih banget ya aku, udah kaya marketer acaranya aja hihi. Tapi beneran. Kelas ini beneran bagus banget.
"In syaa Allaah, Mba. Makasih ya, Mba." Ucap Ibu muda itu. Aku bisa merasakannya, tulus sekali.
"Ayahnya anak-anak pernah bilang sama aku, tahu teori parenting A, B, C, itu penting dan sangat boleh untuk dipelajari. Tapi ada yang lebih penting sebelum mengejar itu semua."
Aku membetulkan posisi duduk agar lebih nyaman menyimak.
"Menjaga hubungan kita sama Allaah, itu yang terpenting kata Ayahnya."
Aku masih diam, menunggu Ibu muda itu melanjutkan penjelasannya.
"Pernah nggak sih, Mba.. Kita merasa tau dan paham seutuhnya kalau anak begini, kita harus begitu. Let's say, ketika anak tantrum, kita harus keep calm, sabar, kuasai diri, kuasai nafas, jangan ikut terpancing, dsb.
Tapi ketika kita ada di posisi yang sedang tidak ideal, maksudnya hubungan kita dengan Allaah itu sedang nggak baik, apalagi ditambah capek atau lagi ada masalah sama suami, kaya lenyap seketika ga sih semua teori itu?"
Aku mengiyakan dalam hati.
"Jaga Allaah, maka Allaah akan menjagamu. Memudahkan urusanmu." Lanjutnya.
"Maa syaa Allaah.." gumamku.
"Kata Ayahnya, ilmu Allaah itu luas sekali, dan cuma atas kehendakNya kita bisa dapat pemahaman atas sebagian ilmuNya. Deketin Allaah, maka Allaah akan bagi ilmu itu. Nggak harus lewat seminar parenting yang kita pengenin banget untuk datang tapi belum bisa karena satu dan lain hal. Nggak harus lewat buku yang maa syaa Allaah tebalnya sehingga kita juga belum yakin bisa melahapnya. Itu cuma salah satu wasilah. Bisa lewat apa aja. In syaa Allaah mudah bagi Allaah."
Kalimat itu ditutup dan berhasil membuatku diam.Iya, ada satu hal yang kulupa. Aku kan punya Allaah, yang menggenggam hati anak-anakku. Yang menggenggam hatiku & hati suamiku. Yang bisa menyelesaikan urusan kami begitu mudah dengan caraNya.