QSoft
Alhamdulillah awal bulan september 2016 ini aku telah menyelesaikan pelatihan qsoft oleh kitadata.com
Pelatihan dilakukan selama kurang lebih satu bulan yang dibagi dalam empat modul.
Semoga makin dekat mengenal dan dekat dengan AlQuran :))
I'd rather be in outer space 🛸

roma★
Keni
KIROKAZE
he wasn't even looking at me and he found me
occasionally subtle
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Stranger Things
sheepfilms

Discoholic 🪩
Cosmic Funnies

izzy's playlists!

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
$LAYYYTER
todays bird
Today's Document

pixel skylines

⁂
DEAR READER

seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from T1
seen from Azerbaijan

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Germany

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Iraq

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Jordan
seen from Jordan
@mii-time
QSoft
Alhamdulillah awal bulan september 2016 ini aku telah menyelesaikan pelatihan qsoft oleh kitadata.com
Pelatihan dilakukan selama kurang lebih satu bulan yang dibagi dalam empat modul.
Semoga makin dekat mengenal dan dekat dengan AlQuran :))
SemangKa! Semangat Kakaaa^^
Ok. Ini hari baru. Sekian inspirasi, sekian pelajaran, sekian quote positif, sekian peringatan. Be new me. Be new Indah. Pray to Allah, trust Him (things that of course I must do). And trust Him. Ask for his pardon. Trust Him. Trust Him.. AlQuran is friend that will always guide to get close to Allah.. Semangat indaaah!..^^
Solusi untuk tidur mendengkur ^^
Silas Daniel Raj, dari the European Lung Foundation mencoba melakukan studi terhadap 130 orang, dimana setengah dari orang tersebut bermain alat musik tiup.
Hasilnya, kelompok yang memainkan alat musik tiup ternyata memiliki resiko rendah terhadap apnoea atau gangguan pernapasan yang seringkali terjadi saat tidur.
"Penemuan dari peneletian ini dapat menjadi alat pencegah atau terapi bagi orang yang memiliki masalah pernapasan saat tidur," ujar Daniel Raj.
Selanjutnya, Daniel Raj mengungkapkan bahwa bermain alat musik tiup khususnya yang terbuat dari bahan kuningan, dapat menjadi alternatif yang menggembirakan bagi orang yang mengorok saat tidur.
"Alat musik tiup dapat menjadi sebuah metode tak berbahaya dan sangat murah untuk mencegah terjadinya gangguan pernapasan saat tidur,"tambahnya.
Danie Raj menjelaskan bahwa hal tersebut dapat terjadi karena lewat alat musik tiup ini, otot pada bagian tenggorokan yang menjadi celah keluar masuk udara dapat lebih mengembang.
Apnoea atau kesulitan bernafas sendiri sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat menyebabkan naiknya tekanan darah, menimbulkan resiko stroke, diabetes, serangan jantung, dan bahkan depresi.
Sumber: Kompas.com
Kalau Suami yang Cuci Pakaian, Ini Kata Rasulullah...
Nyambung dengan yang terpikirkan sesaat sebelum baca artikel ini di tribunnews.com^^
Empat nasihat Rasulullah SAW untuk para suami:
1. Cucilah Bajumu
Nasehat pertama ini memiliki dua dimensi. Dimensi pertama ada pada proses. Dimensi kedua terletak pada hasilnya.
Sebagai sebuah proses, “cucilah bajumu” berarti berbagi dengan istri dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan domestik, khususnya bagi keluarga yang tidak memiliki khadimat.
Mencuci baju tidak dibebankan kepada istri saja, melainkan suami juga melakukannya. Baik mencuci dengan tangan maupun dengan mesin cuci.
Konsep berbagi peran inilah yang diteladankan oleh Rasulullah. Kendati beliau adalah Nabi, pemimpin negara, qiyadah dakwah dan panglima perang, beliau menyempatkan diri untuk membantu istri-istrinya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.
Ditinjau dari dimensi hasil, “cucilah bajumu” membuat suami tampil dengan pakaian rapi di depan istrinya. Tidak kusut. Tidak menyebalkan.
Mungkin sebagian suami tidak merasa perlu tampil rapi di hadapan suaminya, terlebih ketika malam tiba. Namun, jika ia menuntut istrinya tampil prima di depannya, mengapa ia tidak menuntut dirinya melakukan hal yang sama?
Bukankah Islam menjunjung keadilan? Kita para suami kadang belum juga mengerti bahwa wanita itu tidak selalu mencurahkan perasaannya kepada suami.
Ia kadang menyimpannya di hati dan berusaha menyabarkan diri. Saat kita para suami dengan mudah mengatakan “Pakaialah baju yang indah”, para istri hanya menahan sabar melihat kita menghampirinya dengan baju berbau.
Mari kita berusaha berubah. Menjadi suami yang lebih rapi di depan istri.
2.Rapikan rambutmu
Ketika berangkat kerja, ketika pergi ke kantor, ketika hendak syuro, ketika mau mengisi pengajian, kita para lelaki yang katanya tidak suka dandan, minimal merapikan rambut.Lalu saat hanya berdua dengan istri, mengapa kita tidak melakukan hal serupa? Bukankah jika begitu kita lebih mengutamakan orang lain daripada istri kita sendiri? Padahal rekan-rekan kerjanya tidak memasakkannya.Teman-temannya juga tak bisa merawatnya ketika ia sakit. Yang setia menemani, yang setia merawat adalah istri. Dan tidak ada orang lain yang bisa menghangatkannya di kala kedinginan kecuali istrinya sendiri. Lalu mengapa kita sebagai suami justru tak bisa tampil rapi saat bersamanya?
3. Gosoklah gigimu
Bau mulut adalah satu hal yang mengganggu komunikasi dan menjadi pembatas kedekatan. Ketika seorang suami tak suka istrinya mengeluarkan bau saat ia berbicara, demikian pula istri sebenarnya tak suka jika suaminya menghampirinya dengan bau yang tak sedap.Adalah junjungan kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setiap akan masuk rumah, beliau bersiwak terlebih dahulu.
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Bunda Aisyah menjadi saksi kebiasaan Rasulullah ini. Ketika ditanya, “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab: ”Bersiwak”.
Maka sungguh nasehat ini harus dikerjakan oleh para suami. Hendaklah ia rajin bersiwak atau menggosok giginya.
Jika berduaan dengan istri, pastikan sudah gosok gigi. Pastikan tak ada bau yang mengganggu. Hingga curhat pun menjadi mengasyikkan. Hingga berduaan pun jadi penuh kemesraan.
Dan lebih dari itu, menggosok gigi atau bersiwak mendatangkan dua kebaikan. Kebersihan dan kesehatan mulut, serta mendatangkan keridhaan Tuhan. “Bersiwak itu membersihkan mulut dan membuat Tuhan ridha” (HR. Al Baihaqi dan An Nasa’i).
4. Berhiaslah untuk istrimu
Para sahabat Nabi adalah suami-suami yang terdepan dalam mengamalkan nasehat ini. Ibnu Abbas mengatakan, “Aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka istriku berhias untukku.”
Mengapa demikian, karena Ibnu Abbas yakin, “Sesungguhnya berhiasnya suami di hadapan istrinya akan membantu istri menundukkan pandangannya dari melihat laki-laki selain suaminya. Berhiasnya suami di hadapan istrinya juga makin mendekatkan hati keduanya.”
Jika para sahabat yang sibuk berdakwah dan berjihad tidak lalai berhias untuk istrinya, bagaimana dengan kita? Semoga bisa meneladani mereka. (Muchlisin BK/Keluargacinta.com)
Air susu dibalas dengan Air zamzam
Kisah tentang cinta Sita Raham pada suaminya, Buya Hamka, ibarat air susu. Manis, segar dan menyehatkan. Bagaimana beliau mencintai buya dengan segenap kasih sayang. Menjaga kehormatan buya, selalu. Seorang istri yang sholehah.
=●= Ada Tiga Kunci Kebahagiaan Laki Laki =●=
1. Istri shalehah yang jika di pandang membuatmu semakin sayang. Jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu.
2. Kendaraan yang baik yang bisa menghantar kemana kamu pergi
3. Rumah yang damai yang penuh kasih sayang.
●□● TIGA PERKARA YANG MEMBUATNYA SENGSARA...
1. Istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan ia tidak bisa menjaga lidahnya. Ia tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi, karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu.
2. Kendaraan rusak yang jika di pakai hanya membuatmu lelah dan jika di tinggalkan tidak bisa menghantarmu pergi
3.Rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.
SAYA diminta berpidato, tapi sebenarnya ibu-ibu dan bapak-bapak sendiri memaklumi bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato dari sejak memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya.”
Itulah kalimat singkat dari Siti Raham binti Endah saat didapuk memberikan pidato dalam kunjungan Buya Hamka ke Makassar.
Berikut adalah penuturan Irfan, putra Buya, yang menuturkan bagaimana Buya sepeninggal istrinya atau Ummi Irfan.
“Setelah aku perhatikan bagaimana Ayah mengatasi duka lara sepeninggal Ummi, baru aku mulai bisa menyimak. Bila sedang sendiri, Ayah selalu kudengar bersenandung dengan suara yang hampir tidak terdengar. Menyenandungkan ‘kaba’. Jika tidak Ayah menghabiskan 5-6 jam hanya untuk membaca Al Quran.
Dalam kuatnya Ayah membaca Al Quran, suatu kali pernah aku tanyakan.
“Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al Quran?”tanyaku kepada ayah.
“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.
“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanyaku lagi.
“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab Ayah lagi.
Cinta Siti Rahmah yang ibarat air susu, manis, segar dan menyehatkan dibalas dengan air zamzam, air surga dari Allah, Sang Maha Cinta..
Sumber:
islampos.com
Yang kerap kali dapat diperbudak oleh orang lain ialah pemuda-pemuda yang sok tahu. Pemuda yang ditimpa penyakit rendah diri, mentang-mentang sudah dibawa bergaul, dalam masyarakat yang agak “barat” sifatnya, dia belum merasa progressif kalau belum turut bersorak mengatakan bahwa Islam, harus pandai menyesuaikan kalau mau maju
Buya Hamka
Cinta adalah kehormatan
Kisah yang aku bagikan berikut tentang salah satu makna cinta yang tidak pernah terpikir olehku, dan mungkin juga banyak diantara kita.
Cinta adalah kehormatan.
Kisah tentang cerita cinta Siti Raham binti Endah pada suaminya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau dikenal dengan Buya Hamka.
Kisah cinta mereka dimulai pada 5 April 1929. Kala itu, Siti Raham berusia 15 tahun. Sedangkan Buya Hamka berumur 21 tahun. Sejak itu, mereka sah menjadi pasangan suami istri. Ya, di sebuah usia dimana para muda-mudi saat ini lebih sibuk memakan rayuan dan menenggak kemaksiatan.
Perjuangan Buya Hamka meminang Siti Raham patutlah ditiru. Tidaklah salah Allah menganugerahi manusia dengan kekuatan akal pikirannya. Buya Hamka kemudian menulis roman berbahasa Minang berjudul “Si Sabariyah”. Buku itu dicetak tiga kali. Dari honor buku itulah Buya membiayai pernikahannya.
Banyak suka dan duka mewarnai perjalanan Buya Hamka merajut rumah tangga. Ulama Muhammadiyah itu tidak salah memilih Siti Raham. Di saat ujian datang, wanita kelahiran 1914 ini tampil sebagai motivasi baginya. Tanpa mengeluh maupun gulana.
“Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa berganti-ganti, karena di rumah hanya ada sehelai kain,” tutur Hamka dalam buku biografi “Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr. Hamka” karangan Rusydi Hamka.
Puncak kemiskinan dua sejoli ini terjadi ketika lahir anak ketiga, yaitu Rusydi Hamka. Dia dilahirkan di kamar asrama, Kulliyatul Mubalighin, Padang Panjang pada 1935. Sedangkan anak pertama Buya Hamka, bernama Hisyam, meninggal dalam usia lima tahun. Besarnya beban ekonomi ditambah kerasnya penjajahan, membuat Hamka harus memutar otak untuk membiayai anak-anaknya.
Dalam kondisi diliputi kemiskinan, pergilah Hamka ke Medan untuk bekerja di Majalah Pedoman Masyarakat. Di kota yang kini menjadi ibukota Sumatera Utara itu, Hamka tinggal selama sebelas tahun.
Menurut penuturan Rusydi Hamka, saat itulah dia menyaksikan dan mengalami kesulitan-kesulitan hidup kedua orangtuanya. Di balik tanggung jawab sang ayah, tak lupa kesetiaan Siti Raham senantiasa bersamanya. Wanita tegar itu senantiasa menjalankan amanah Buya Hamka untuk menjadi istri yang taat suami dan mendidik anak-anak di kala Buya tiada bersamanya.
Dengan kondisi pas-pasan, Buya Hamka mampu menahkodai rumah tangga dengan tujuh orang anak. Itu belum ditambah beberapa kemenakan yang ikut dibiayai Buya Hamka. Sebab dalam adat Minang, seorang Mamak punya tanggung jawab terhadap kemenakan dan saudara perempuannya.
Rusydi mengatakan Hamka adalah orang yang biasa-biasa saja. Berbeda dengan pria keturunan Minang yang pandai berdagang, Buya Hamka bukanlah orang yang mewarisi bakat berbisnis. Hamka juga bukanlah orang yang makan gaji dari pemerintah.
“Ketika pindah ke Padang Panjang dalam suasana revolusi, ayah jelas tak punya sumber kehidupan tetap yang diharapkan setiap bulan,” terang Rusydi Hamka.
Saat memimpin Muhammadiyah di Sumatera Barat, Buya Hamka kerap keliling kampung untuk berdakwah. Perjalanan itu kerap dilaluinya dengan Bendi maupun berjalan kaki. Hal itu dilakukan selama berhari-hari tanpa pulang ke rumah.
Maka saat menemui istrinya di rumah, pertanyaan yang sering diutarakan Buya Hamka adalah: Apakah anak-anak (bisa) makan? Hingga Buya Hamka sengaja menepuk perut anak-anaknya untuk mengetahui apakah buah hatinya lapar atau kenyang.
Di sinilah, Siti Raham sukses menjalankan amanah sebagai Ibu. Agar anak-anaknya tidak kelaparan, Siti Raham rela menjual harta simpanannya. Beliau bukanlah wanita menjadikan perhiasan sebagai makhota. Karena makhota sejatinya adalah Buya Hamka dan keluarga.
Maka Kalung, gelang emas, dan kain batik halus yang dibelinya di Medan terpaksa dijual di bawah harga demi membeli beras dan membayar uang sekolah anak-anak. Biarlah dirinya kesusahan, asal perut anak-anaknya tidak kelaparan dan tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Kerapa kali dirinya meneteskan air mata, ketika membuka almarinya untuk mengambil kain-kain simpanannya untuk dijual ke pasar. Tak tega melihat istrinya terus menguras hartanya, Buya Hamka sontak mengeluarkan beberapa helai kain Bugisnya untuk dijual. Namun sang istri mencegahnya.
“Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja. Karena Angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai orang miskin,” ujarnya.
Demikianlah dalam keadaan sederhana Siti Raham masih mempertimbangkan kehormatan suaminya. Apa saja dilakukannya agar Buya Hamka tidak terlihat lusuh di mata jama’ah dan masyarakat. Dari mulai memikirkan pakaian hingga membersihkan kopiah bila Buya Hamka hendak keluar.
Karena cinta adalah kehormatan.
Sumber:
islampos.com
Teladan
Pagi ini dibuka dengan membaca beberapa tulisan dari pada para teladan.
Dimulai dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka, diantaranya tentang kisah beliau dengan presiden pertama Indonesia. Diceritakan bahwa terjadi selisih pendapat diantara mereka yang berakibat pada dijebloskannya sang buya ke dalam penjara di Sukabumi selama 2 tahun 4 bulan. Tapi sungguh buya tidak dendam pada sang proklamator. Beliau menunjukkan akhlak mulia seorang muslim..
”Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik. Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”
Akhlak mulia tersebut yang dirasakan dan diakui pula oleh Soekarno. Diakhir hayatnya ia berpesan meminta kesediaan buya untuk mengimami solat jenazah jika dirinya meninggal.
“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”
Air tuba telah dibalas dengan air susu..
Teladan berikutnya adalah Abu Bakar Ash-Shidiq. Sungguh mulia sahabat tersayang Rasulullah tersebut. Keimanannya kepada Allah dan kesetiaannya pada Rasulullah sungguh tidak diragukan. Ketika Rasulullah meninggal, Umar menafikannya lalu Abu Bakar berkata
“Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tapi barangsiapa diantara kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak meninggal. Allah berfirman, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlaku sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kalian berbalik kebelakang-murtad? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Tidak heran jika Umar serta tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar membaiatnya sebagai khalifah. Dalam pidato pelantikannya Abu Bakar berkata
“Saya, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian. Oleh karena itu saya sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua. Menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang terpilih sebagai penguasa adalah kesetiaan yang sebenar-benarnya; sedang menyembunyikan kebenaran adalah suatu kemunafikan. Orang yang kuat maupun orang yang lemah adalah sama kedudukannya dan saya akan memperlakukan kalian semua secara adil. Jika aku bertindak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, taatilah aku, tetapi jika aku mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidaklah layak kalian menaatiku.”
Sungguh seorang pemimpin layak menjadikan Abu Bakar sebagai salah seorang panutan dalam memimpin.
Berlanjut pada teladan diantara para teladan, Muhammad Rasulullah..
Semoga shalawat serta salam selalu tercurah padanya. Utusan Allah, pemimpin diantara para pemimpin. Manusia yang juga diakui umat beragama lain sebagai manusia paling berpengaruh di Dunia.
"My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the secular and religious level. …It is probable that the relative influence of Muhammad on Islam has been larger than the combined influence of Jesus Christ and St. Paul on Christianity. …It is this unparalleled combination of secular and religious influence which I feel entitles Muhammad to be considered the most influential single figure in human history" (Michael Hart in 'The 100, A Ranking of the Most Influental Person in History' New York, 1978)
Shidiq, Amanah, Fatonah, Tabliqh. Benar, dapat dipercaya, cerdas, menyampaikan (ayat Allah). 4 Sifat nabi yang hendaknya menjadi acuan kita juga dalam bertindak.
"Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagimu yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:21]
Cerita tentang para teladan berikutnya adalah kisah ulama sepeninggal Nabi dan Sahabat. Abdullah ibn 'Abbas, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Mas'ud, Abdullah ibn 'amr ibn Al 'Ash, Imam Asy-Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Hanbal, dll
Perbedaan pendapat diantara mereka tidaklah menjadikan mereka berpecah belah.
“Perbedaan pemahaman fiqh adalah niscaya, sebab sifat bahasa ‘Arab dalam nashyang kosakatanya terkadang musytarak atau bermakna banyak. Belum lagi, perbedaan karunia kecerdasan setiap manusia, cara berfikirnya, dan bahkan watak serta akhlaq. Ditambah pula perbedaan latar belakang, tempat, zaman, dan kebiasaan turut mewarna-warnikan pengertian.” (Syaikh Yusuf Al Qaradlawy)
“Sungguh demi Allah. Tidaklah aku berdebat dengan seseorang, melainkan aku sangat berharap agar Allah menampakkan kebenaran padaku melalui lisannya.”(Imam Asy Syafi’i)
“Kita lebih berhajat pada sedikit adab, daripada berbanyak pengetahuan.” (Imam ‘Abdullah ibn Al Mubarak)
Di kala lain beliau menyatakan bahwa dirinya memerlukan waktu 30 tahun untuk belajar adab, ditambah 20 tahun untuk belajar ilmu. “Adapun ilmu yang kuhimpun dari seluruh penjuru raya selama dua dasawarsa”, simpulnya, “Sama sekali tak bernilai tanpa Adab yang kulatihkan sebelumnya.”
Maka catatan tentang teladan ini ditutup dengan sebuah kisah.
Dua orang faqih dari kalangan sahabat, ‘Abdullah ibn ‘Abbas dan Zaid ibn Tsabit, RadhiyaLlahu ‘Anhuma, juga berbeda pendapat dalam banyak masalah. Salah satunya soal faraidh atau penghitungan waris.
Menurut Ibn ‘Abbas, bagian kakek sama dengan ayah kala dia tiada, dan adanya kakek menghijab hak saudara. Tidak demikian menurut Zaid. Bagi penulis wahyu kebanggaan orang-orang Anshar ini, kakek berkedudukan sama dengan saudara.
“Ana sa-ubahiluh”, geram Ibn ‘Abbas suatu ketika,”Aku akan bermubahalah dengan Zaid! Bagaimana mungkin dia bedakan bagian kakek dengan ayah tapi tetap samakan bagian anak dengan cucu?” Tapi ketika ada kerabat Ibn ‘Abbas mengalami persoalan waris yang harus diselesaikan dengan memilih pnedapatnya atau pendapat si faqih Anshar; beliau justru mengundang Zaid ibn Tsabit, untuk dimintai fatwa dalam menyelesaikannya. Zaid pun datang dan setelah mendengar penuturan dari keluarga tentang susunan para Ahli waris, beliau memutuskannya menurut pendapat Ibn ‘Abbas, bukan pendapatnya. Ketika Zaid pamit pulang, Ibn ‘Abbas pun menuntun keledai sang Mufti kota Nabi sembari berjalan kaki, bermaksud mengantar hingga ke rumahnya. Zaidpun merasa tak enak hati dan menegurnya.
“Tak usah begitu duhai putra Paman RasuluLlah” ujar Zaid, “Tak perlu engkau menuntun keledaiku!”
“Beginilah kami diperintahkan”, ujar Ibn ‘Abbas sambil tersenyum, “Untuk memuliakan para ‘ulama kami.”
“Kalau begitu”, tukas Zaid, “Perlihatkanlah tanganmu duhai sepupu RasuluLlah!”
Maka Ibn ‘Abbas pun menunjukkan tangannya dan segeralah Zaid mencium serta mengecupnya dengan penuh ta’zhim. Ibn ‘Abbas amat terkejut atas perlakuan ini dan menegur Zaid, “Apa ini wahai sahabat RasuluLlah? Apa ini wahai penulis Al Quran dan faqihnya kaum Anshar?”
Maka Zaid tersenyum. “Demikianlah kami diperintahkan, jelasnya, “Untuk memuliakan keluarga dan ahli bait RasuluLlah ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Moga Allah ridhai mereka semua; yang luas ilmunya, dalam fikihnya, lapang dadanya, jelita akhlaqnya.
Moga kita dimampukan meneladaninya. Hari ini, kita dan mereka bagai bumi dan langit dalam ilmu. Maka di lapis-lapis keberkahan, dalam adab dan akhlaq, mari mengupayakan jadi cermin pemantul para mentari itu.
Sumber:
www.islampos.com
http://agusnizami.com/2011/10/24/4-sifat-nabi-shiddiq-amanah-fathonah-dan-tabligh
http://media-islam.or.id/2008/03/31/nabi-muhammad-manusia-paling-sempurna-di-dunia/
http://salimafillah.com/berpelangi-dalam-cinta/
Kuburu akhlak dan ilmu dari setiap orang yang dengannya aku bertemu, bagaikan seorang ibu mencari anaknya semata wayang yang telah hilang
Imam Asy-Syafi'i
Pendapatku benar, tapi kemungkinan mengandung kekeliruan. Adapun pendapat orang selainku itu keliru, tapi berkemungkinan mengandung kebenaranan
Imam Asy-Syafi'i
enakan juga makan daging sapii hihihihi
Today.. #fiuuh
Hari ini diawali dengan tidur abis subuh. fiuhhh
Dan hari ini ditutup dengan ghibah, lebay, #gakbanget
Cape ah hari ini.. besok harus lebih baik dari hari ini.. :)
#rajin #gakghibah #gaklebay yeay!!^^