Menafsir Langit Biru dan Cinta Searah
Langit Biru Cinta Searah adalah ketulusan, tidak lain dan tidak bukan. Manusia mulia mana lagi yang begitu ikhlas menghibur si jantung hatinya meski eksistensinya disadaripun belum tentu? Mohon maaf, Pak Sapardi. Kali ini saya mau mencintai secara ugal-ugalan.
Kamu yang mengenakan seragam
Rambutnya pun terkibas oleh angin
Datang berlari sendirian
Di tanjakan yang biasa itu
Ah cinta masa muda yang membara. Seragam dan terpaan angin, serta kesendirian dan hidup yang biasa-biasa saja. Sungguh pahit-getir penggambaran yang indah bagi masa remaja.
Pada momen pertemuan
Saat kita saling berpapasan itu
Dadaku ini terasa sesak
Jantung pun seperti akan berhenti
Terpesona oleh bunga
Yang namanya tak kukenal
Tanpa ingin menyentuhnya
Hanya memandang di kejauhan
Teruslah mekar tanpa menjadi layu
Lihat, betapa si tokoh begitu mencinta hingga kinerja organnya ingin mengundang maut. Tapi ketulusan bercampur niat menjaga kesucian (dan kepengecutan khas fase manusia sebelum otaknya matang sempurna) membuatnya mengagumi dari jauh sembari mendoakan personal growth insan yang dicintainya. Hmmm manise~
Langit biru cinta searah
Cinta itu pun terlahir di bawah langit
Rasa sayang yang mulai tumbuh
Dipelihara sang mentari
Langit biru cinta searah
Bagai ada tempat yang cerah dalam hati
Bisa bertemu hanya denganmu
Aku pun merasa bahagia
Kusuka kepada dirimu
Sangat suka
Awalnya saya bertanya-tanya apakah “rasa sayang yang dipelihara sang mentari” berarti lagu ini mengisahkan romansa di dalam Muhammadiyah. Tapi saya kemudian tersadar bahwa lagu ini saduran dari Jepang, sehingga tampaknya lebih cocok kalau matahari dianggap simbolisme keberuntungan dan harapan saja. Tentu saja keberuntungan besar memiliki sosok yang dengan bertemu saja sudah mencerahkan hati. Bucin mentok, manis memang.
Eh tapi omon-omon, hubungan langit biru dengan cinta searah apa ya? Apakah karena kita selalu mengagumi langit tapi langit tidak akan pernah membalas kekaguman kita?
Jikalau dirimu tampak sedih
Dan berjalan sambil tertunduk lesu
Aku pun 'kan merasa sedih
Perasaanku pun jadi gelap
Pada saat berpapasan
Aku 'kan menghiburmu tanpa menyapa
Kuingin besok kau menaiki
Tanjakan ini sambil tersenyum cerah
Walaupun matamu basah
Bagai embun pagi hari
Diriku akan selalu
Ada di sini, jadi perisai
Menjadi orang yang ada di sisimu
Lihat betapa 13 baris di atas menggambarkan keikhlasan dan empati tingkat tinggi, turut merasakan kemuraman dan kesedihan hingga rela menjadi perisai yang sudah barang tentu akan sakit semua demi senyuman si jantung hati. Saya bisa bersimpatisih, pengalaman soalnya.
Sumpah dari cinta searah
Walau kau tidak tahu pun tidak mengapa
Pandangan dari seseorang
Entah mengapa t'rasa hangat
Sumpah dari cinta searah
Aku tidaklah mengharapkan apapun
Keajaiban bertemu denganmu
Bagiku harta yang tak ternilai
Dirimu yang apa adanya
Aku suka
Langit biru cinta searah (langit biru)
Langit biru cinta searah (langit biru)
Langit biru cinta searah (langit biru)
Kuingin menjadi langit bagi dirimu
Dan selalu dapat menjagamu
Tanpa perlu kamu sadari
Langit biru cinta searah
Tak perlu kau memperhatikan diriku
Karena dirimu akan selalu
Terlihat oleh diriku ini
Saling berpapasan denganmu
Ku jadi tahu arti cinta
Terima kasih
Sekali lagi, protagonis kita ini berusaha menunjukkan keikhlasan tingkat tinggi yang mengharukan kokoro-ku. Betapa kehadiran si pujaan memang begitu menghangatkan hingga kita siap bertempur melawan dunia demi dia yang wujudnya sendiri sudah mampu membuar rongga dada terasa nyes dibasuh air hangat. Ya walaupun tidak berbalas juga. Boro-boro berbalas, di-notice aja enggak.
Tapi lagu ini ditutup dengan sangat cantik dan magis sekali dengan 3 baris terakhirnya. Betapa meskipun perih tidak karuan dan bertepuk sebelah tangan, akhirnya semua kisah ini jadi pembelajaran juga menuju kebenaran. Dalam hal ini, apa itu arti cinta. Sungguh magis tingkat tinggi untuk selalu belajar sejak dari buaian hingga liang lahat. Mantap, ternyata jeketi patlapan bisa ditarik nyerempet nilai Islami juga.