Aku menatap kosong pada hidangan yang sudah terletak di hadapanku ini. Bentuknya aneh dengan gradasi warna coklat, kecuali nasinya. Aroma manis yang hangat menggelitik hidungku.
"Bisa dimakan?" aku ragu melihat bentuk sayuran dari nangka itu tercampur dengan lauk lainnya yang bentukknya nggak kalah berantakan.
Mata bulat wanita di hadapanku menyipit menahan tawanya. Tangan lembutnya meraih tanganku dan meletakkan sendok makan diantara jemariku.
"Try it. Kita hanya punya makanan ini sekarang. Kalau Mas nggak makan sekarang, nanti Mas bakal kelaparan selama perjalanan."
Aku terpaksa menurutinya, walau kalau bisa memilih sih lebih baik aku memakan kue bolu yang baru saja dibuang Raya karena mulai berjamur daripada makanan yang baru pertama kali kulihat wujudnya ini.
Hahaha. Pasti Raya akan menertawakanku sesukanya bila kuakui rasa makanan ini sangat enak di lidahku. Olahan buah nangka muda yang katanya untuk membuatnya dibutuhkan waktu yang cukup lama bercampur baik dengan bumbu dapur seperti daun salam - obviously, itu gede-gede banget terselip di antara sayurannya - dan cocok dimakan dengan nasi. Itu yang penting. Lauk pendamping lainnya ada opor ayam, sambal krecek - kata Raya terbuat dari kerupuk kulit, tempe, tahu, dan cabai yang dibiarkan utuh dan vulgar. Makanan khas Yogyakarta yang belum pernah aku coba sebelumnya.
"Kita mau kemana pagi ini?" tanyaku hanya untuk memastikan kesiapan fisikku.
Tidak ada yang mudah untuk dilakukan sejak aku baru pulih pasca kecelakaan dua bulan yang lalu. Yogyakarta adalah pilihan pertamaku saat aku diperbolehkan dokter untuk kembali melakukan aktivitas outdoor lagi. Sepuluh tahun tinggal di Lomalinda dan dua bulan pemulihan dari kecelakaan, membuatku mengambil keputusan impulsif. Pulang ke Indonesia, tanah airku. Dan menjemput cinta masa kecilku.
"Pulau Timang. Pemanasan buat kamu," Raya menunjukkan foto lautan luas dengan penampakkan gondola melayang-layang di antara dua pulau kecil. I love it - and Raya.
Raya Prameshwari dan Daneswara Mandala adalah nama yang selalu bersanding dalam setiap cerita dan acara. Sama-sama menjadi anak angkat keluarga Mandala membuat kami tidak terpisahkan. Sampai akhirnya aku menyadari, perasaan kamipun tidak dapat terpisahkan. Perasaan antara pria dan wanita sudah menggantikan sayang antar kakak-adik sejak sebelas tahun yang lalu.
Pindah ke rumah adik dari Ayah di Lomalinda adalah permintaan paling memilukan hati Ibu. Dia harus berpisah pada anak laki-lakinya untuk waktu yang lama. Karena ternyata setelah aku selesai berkuliah, aku belum juga mau pulang. Raya? Kata Ibu, dia berubah menjadi anak pendiam dengan lingkungan pertemanan yang terbatas. Ya, aku bisa merasakannya setiap kali Ayah maupun Ibu menelepon dan mengunjungiku di Lomalinda, Raya tidak pernah ada. Hanya titipan salam yang kudapat. Otomatis, kami putus hubungan dalam kurun waktu bertahun-tahun.
"Sampai! Kamu kuat jalan di batu-batu kan, Mas?" Raya membantuku turun dari SUV yang membawa kami sampai ke pelataran parkir Pulau Timang. Perjalanan dari penanda masuk kawasan wisata hingga sampai ke parkiran ini melewati jalanan yang cukup jelek. Masih penuh batu-batu dan membuatku mual sepanjang perjalanan. Mungkin Raya akan berpikir aku laki-laki lemah sekarang.
"I'm okay. Nggak jauh lagi kan?"
"Sudah di depan situ, Mas," bukan Raya yang menjawab. Melainkan beberapa lelaki yang menunggu di parkiran. Mungkin mereka tour guide lokal pulau ini. Baiklah, aku menurut saja.
Setelah perjalanan beberapa tapak menuju meeting point, aku langsung menghembuskan nafas ringan. Ternyata foto bisa menipu. Aku hanya melihat sepenggal keseruan Pulau Timang di foto yang ditunjukkan Raya tadi. Nyatanya, pemandangan yang terhampar di hadapanku sekarang jauh lebih indah. Mungkin suasana di pulau Timang ini cukup sederhana, dimana hanya ada pulau karang yang tajam-tajam dan beberapa penjual makanan instan. Sederhana.
Sebagai tempat wisata yang katanya sudah beroperasi sejak tahun 1997, aku tidak melihat adanya fasilitas berarti yang pada umumnya terdapat di kawasan wisata. Well, setelah berbincang-bincang dengan penduduk lokal sekaligus tour guide dadakan di pulau ini, aku mendapat cerita yang cukup jelas mengenai keberadaan pulau Timang ini.
Pulau Timang adalah pulau kecil yang terletak kurang lebih 100 meter ke arah barat dari Pantai Timang. Pulaunya bukan seperti pulau kebanyakkan yang ada hamparan pasir maupun daratan yang menyenangkan untuk disinggahi. Pulau Timang bisa dikatakan juga sebagai bongkahan batu karang yang besar dengan tebing yang sangat curam. Mungkin itulah sebabnya, Pulau Timang juga disebut Batu PanjangMenurut penduduk lokal, pulau tersebut adalah tempat yang cukup menguntungkan untuk mendapatkan hasil laut seperti lobster, kepiting, dan hasil laut lainnya.
Tentulah aku heran, kenapa pulau yang menjadi tempat mata pencaharian para nelayan di daerah Gunung Kidul ini menjadi terkenal sebagai tempat wisata. Jawabannya ada pada alat pengangkut nelayan untuk sampai ke pulau batu karang tersebut. Gondola tradisional nan manual yang HANYA terbuat dari kayu dan bambu terangkai serta tali tambang plastik ini - ya, bukan tali baja seperti yang biasanya digunakan untuk menarik gondola - selanjutnya ditarik menggunakan tenaga manusia saja. Tanpa alat pengaman apapun bagi para penumpangnya. Satu lagi yang menambah ketidakamanan gondola ini adalah talinya dikaitkan ke tiang kayu yang ditancapkan pada karang-karang. Okay, aku malah tertarik.
Terdengar biasa saja? Rupanya yang menantang adalah, luncuran gondola itu terletak di atas laut dengan ketinggian sekitar 60 meter dari permukaan laut ditambah deburan ombak sangat besar yang sewaktu-waktu bisa menjilat penumpang gondola tersebut. Basah.
Usaha tarik-menarik gondola ini kemudian menjadi populer di kalangan penikmat wisata ekstrim. Lumayan, 6 orang yang mengelola kawasan wisata ini kemudian mematok harga untuk seluncuran gondola bolak balik dan tentunya bisa membantu perekonomian beberapa warga Gunung Kidul ini. Dengan bantuan penduduk sekitar juga, mereka sama-sama mempromosikan wisata ekstrim yang masih jarang dijamah wisatawan ini. Terbukti saat aku sampai, tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Aku dan Raya bisa puas bermain di pulau karang seberang itu sepertinya.
Kecelakaan sekitar dua bulan lalu cukup fatal bagiku. Lumayan, tungkai sebelah kanan retak dan butuh pemulihan setidaknya 5 minggu untuk bisa berjalan lagi dengan mudah. Sempat koma selama 3 hari juga membuat Raya mendadak melupakan "amnesia"-nya padaku. Ibu bilang, Raya langsung memaksa mendapatkan tiket pertama hari itu yang terbang ke Lomalinda. Keberuntungan yang terlalu kebetulan, karena Raya baru saja mendapatkan visa kunjungan ke Amerika saat itu.
"Raya memang bermaksud untuk mengunjungimu, Mas."
Jawaban Ibu saat aku sadar dan bertanya mengenai kehadiran Raya membuat hatiku lapang. Raya sudah memaafkan kepergianku dan seolah ingin berdamai dengan masa lalu demi menyambut masa depan. Katakanlah aku tersanjung.
"Aku akan nemenin Mas sampai sembuh dan nggak akan tinggalin Mas lagi," Raya menangis tersedu saat melihatku tersadar dari koma.
"Aku mau pulang, tapi bukan ke Jakarta."
"Kemanapun Mas pergi, aku ikut."
"Aku nggak kemana-mana, Mas. Cuma beli minum barusan," Raya langsung duduk di sebelahku dan menyodorkan air mineral botolan yang tidak dingin itu.
"Aku mau naik gondola itu. Mas mau ikut?" Raya menyelidik dari jauh keberadaan gondola tersebut yang baru saja mengangkat beberapa muda mudi kembali dari Batu Panjang.
"Amankah, Pak?" aku kembali menunjukkan kepengecutanku dihadapan Raya. Bapak Samsul langsung mengiyakan dengan semangat. Mungkin dia akan mendapat tambahan rupiah kalau aku juga ikutan naik gondola itu. Baiklah, aku tidak akan menguraikan senyum tulusnya itu.
Genggaman erat antara aku dan Raya langsung membawa kami menuju tepi tebing tempat kami akan menaiki gondola tersebut. Satu keterkejutanku lagi, tepian tebing karang ini hanya dibatasi oleh kayu kecil yang ditancapkan diantara karang dan sehelai tali tambang plastik mengelilingi tebing. Aku bergidik ngeri. Okelah, aku harus mengakui kalau aku sedikit takut ketinggian dan sangat takut akan kealaman laut. Seolah air laut itu ingin menelanku ke bawah sana setiap aku menatapnya. Tapi, demi Raya aku lawan semua rasa takut dan pengecutku.
Aku yang pertama meluncur. Demi Tuhan, itu gondolanya hanya terbuat dari kayu yang bahkan kurang rapat untuk melindungi penumpang di dalamnya. Sandaranku hanyalah seutas tali tambang plastik. Salah duduk, bisa amblas aku ke deburan ombak di bawah. Ya, kalaupun aku harus jatuh, aku sih memilih saat gondola sedang berada di tengah-tengah. Aku yakin aku akan jatuh ke dalam air. Bukan ke atas karang tajam yang dekat dengan tepian masing-masing tebing. Pastilah nanti tubuhku….
"Mas, udah siap? Nanti aku fotoin yah, jadi lihat ke aku terus," Raya membuyarkan lamunan hororku.
'Aku memang akan selalu menatapmu, Raya. Nggak akan aku berpaling lagi,' batinku.
Ada alasan kenapa Raya tidak menggandeng nama Ayah di urutan namanya. Raya memang disebut anak angkat, tapi dia tidak pernah mendapatkan nama Ayah. Raya anak asuh karena dia dititipkan saja di panti asuhan. Bukan sepertiku yang memang yatim piatu pada saat itu. Memang saat ini kedua orang tua Raya sudah meninggal, tapi dia tetaplah Raya Prameshwari, bukan anak keluarga Mandala.
Fakta tersebut baru aku dapatkan sesaat sebelum aku pergi meninggalkan Jakarta. Sepertinya hal yang sama dialami juga oleh Raya. Kalau aku tidak salah prediksi, dia menjauhiku karena alasan itu juga. Kami butuh menata perasaan kami masing-masing. Lebih sepuluh tahun dan satu kejadiaan naas untuk kembali menyatukan kami. Setidaknya gelagat itulah yang kurasakan saat ini.
"It was amazing! Mas nggak percaya bisa berdiri di gondola itu sambil ngeliat air laut di bawah," aku tertawa sendiri yang berhasil mempecundangi si pengecut dalam tubuhku.
"Next stop, Kalibiru. Shall we?" Binar mata Raya berhasil mengurangi nyeri di pergelangan kakiku yang terlalu lama berjalan di atas batu karang yang tidak rata.
Aku merangkul Raya, meninggalkan Pulau Timang dan 4 lembar uang seratus ribuan kepada salah satu penarik gondola tradisional tadi.
Alasan kepulanganku ke Indonesia adalah untuk selalu mendampingi Raya, walaupun dia pernah mencetuskan ide untuk menemaniku walaupun aku tetap di Lomalinda. Aku hanya tidak berminat menghabiskan sisa masa mudaku di negeri orang jauh dari keutuhan keluargaku.
Entah apa yang membuatku memilih Yogyakarta tanpa berpikir panjang saat aku masih dirawat di rumah sakit. Mungkin aku membutuhkan ketenangan, mungkin aku membutuhkan keramahan, mungkin aku butuh dunia yang berbeda dari hiruk pikuk metropolitan selama ini. Seumur hidupku, aku hanya pernah sekali ke Yogyakarta bersama Ayah, Ibu, dan Raya. Itupun sewaktu Yangkung meninggal. Tidak ada wisata selain duduk manis di ruang tengah rumah mendengarkan keluarga besar Yangkung menceritakan semua kenangan tentang Yangkung yang bahkan saat itu belum kukenal dengan baik. Hal yang kuingat dari Yangkung hanyalah penyambutannya yang luar biasa bahagia padaku dan juga Raya. Kami sedikitpun tidak merasa asing.
Yogyakarta mengajarkanku kenyamanan dan keramahannya. Tidak peduli dengan semakin modern-nya kehidupan manusia sekarang, Yogyakarta selalu mempunyai tempat untuk membawa penduduk dan tamunya selalu merasa di rumah. Aku ingin pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan ke Kalibiru, Kulon Progo, aku mengamati kembali hasil jepretan Raya di kameranya. Sudah beberapa hari kami di Yogyakarta dan ini hari terakhir kami. Raya memaksaku untuk mengunjungi beberapa tempat wisata sebelum kami kembali ke Jakarta. Ayah dan Ibu akhirnya menyuruh kami pulang karena kami sudah terlalu lama berlibur sekembalinya dari Lomalinda.
Raya sudah terlalu sering mengunjungi Yogyakarta sampai-sampai dia selalu mengajukan dirinya untuk menjadi tour guide bagi teman-temannya yang ingin liburan ke Yogyakarta. Anehnya Raya tidak mengusulkan tempat-tempat penuh sejarah untuk kukunjungi kali ini. Katanya, kunjungan temu kangen pada keluarga kerajaan bisa menunggu waktu yang lain. Jadilah hanya ada satu foto diriku di depan Keraton Yogyakarta dengan tampang cemberut, karena Raya menyuruhku buru-buru agar tidak ketinggalan tur ke Candi Borobudur. Mobil keluarga kami saat itu sedang bermasalah, jadi Raya mendaftarkanku dan dirinya ikut tur lokal ke candi-candi ternama di Yogyakarta. Prambanan adalah candi yang lainnya.
Satu foto yang aku sukai adalah saat kamera berhasil pindah ke tanganku dan bidikkanku pada Raya yang sedang menawar kain batik di Pasar Beringhardjo. Raya bukanlah wanita yang tomboy dan cuek terhadap penampilan. Walaupun dia suka akan wisata alam, bukan berarti dia tomboy. Ibu berhasil mendidiknya sebagai wanita sejati, luar dan dalam. Raya selalu tampil dengan make-up.
Tapi siang itu di Pasar Beringhardjo, Raya tampil polos seakan wajahnya tidak pernah kenal bedak apapun. Dan dia tampak cantik dengan senyum tanpa henti di wajahnya hari itu.
"Hapus foto itu yah. Aku jelek banget, Mas. Nggak pake make-up dan keringetan gitu," Raya mendapatiku menatap fotonya tanpa henti.
"Nggak. Sekali-sekali aku butuh foto kamu tanpa make-up."
Raya ingin membunuhku perlahan sepertinya. Kurasa dia tahu kalau aku masih lemah, tapi kenapa pilihan tempat wisatanya harus yang menyebalkan semua sih. Untung saja semuanya indah. Teramat indah sampai aku meyakini, tempat-tempat seperti ini mempunyai daya tarik romantis pada setiap pasangan.
Setelah lagi-lagi jalan berkelok, kumpulan tanjakkan, dan tikungan tajam kami lewati, dihadapanku terlihatlah tanjakkan memuakkan dan memualkan untuk kami lalui. Lagi-lagi kakiku harus menjerit dalam sepatu ketika menyadari aku akan melewati tanjakkan tinggi itu.
"Ojek, Mas! Lima ribu rupiah saja," seru beberapa pengendara motor yang bersedia di sekitar parkiran mobil kami. Aku sudah hampir menyerah mengeluarkan receh lima ribuan sewaktu Raya menarik tanganku menaiki tanjakkan tersebut. Raya, kamu sudah berhasil melucuti semua gengsiku satu hari ini.
Setelah membayar dua puluh rupiah sebagai tanda masuk dan menduduki setidaknya 4 kursi singgah dalam tanjakkan, kami berhasil juga berfoto di depan tulisan Kalibiru.
"Barang bukti, Mas. Siapa tahu Ibu sama Ayah kepo pengen tahu," kata Raya jahil.
Selanjutnya, kuserahkan jejak jalan kami pada Raya. Dia menuntunku ke jalan setapak yang harus kami lalui. Sudah semakin sore dan meleset dari dugaanku, tempat ini semakin ramai. Walau masih tidak bisa dikatakan padat. Pemandangan dari atas jalan setapak ini cukup indah.
Kurang lebih 450 meter di atas permukaan laut, tempatku berdiri inilah yang dinamakan pegunungan Menoreh. Aku bisa melihat hamparan luas pepohonan pinus dan telaga yang dinamakan Waduk Sermo dalam sekali pandang. Aku merangkul Raya. Orang mungkin melihatku mesra pada Raya, padahal aku hanya hampir pingsan melalui tanjakkan. Tolong salahkan kakiku yang baru saja pulih dari operasi besar dua bulan lalu.
Aku hampir mengatakan tidak ada yang spesial dari tempat ini sampai kemudian Raya memutar tubuhku ke arah telaga itu tadi. Dengan segera aku merasa diriku kecil diantara ciptaan Tuhan yang mempesona ini. Warna jingga dan biru langit yang mulai menggelap ditambah hijaunya pepohonan dan udara yang sejuk, membuatku hampir lupa tujuan utamaku mengiyakan permintaan Raya kemari.
Tenang dan damai, itulah yang kurasakan. Walaupun banyak orang mencoba mengabadikan keindahan alam di sekitar kami ini, tapi tidak sama sekali mengganggu ketenangan yang ada. Kecuali kalau ajakan Raya untuk memotret kami berdua berkali-kali dihitung sebagai gangguan. Terserah dialah.
"Mas, turun kesitu yuk," Raya menunjuk salah satu menara pandang yang ada tulisan "Spot Foto 1" ditempelkan di batang pohon.
"Mumpung sepi, kita fotoan."
"Nggak mau. Nanti jatuh!" aku makin panik. Aneh, padahal tadi aku berani naik gondola di atas laut luas pula.
"Payah. Padahal di atas situ keren, romantis lagi."
Raya merengut seperti anak kecil. Lupa akan usianya yang sudah terlampau tua untuk bercanda ala anak sekolahan. Lagipula, tahu darimana dia tempat di atas pohon itu romantis? Dia pernah pergi dengan lelaki mana ke tempat itu?
"Ayo. Naik berdua. Mas nggak mau sendirian."
"Penakut. Anak kecil yang tadi aja berani naik sendiri."
"Mas nggak penakut. Tapi, biar Mas tau seromantis apa maksudmu." Raya mematung dalam rangkulanku.
Dengan sepuluh ribu rupiah untuk masing-masing kami, berdiri di atas menara pandang ini sungguh menakjubkan. Selain mendapatkan objek foto yang keren, kami bisa memandang hampir seluas lensa kamera aksi dalam sekali pandang. Luas!
Kalau tadi aku sempat merasa kecil sebagai ciptaan Tuhan, sekarang aku bisa merasakan sedikit kekuasaan dari atas sini. Aku mampu mendekati Si Pencipta di atas sana, walau hanya dari menara pandang buatan manusia yang tidak terlalu tinggi ini. Raya menggelayut manja di sampingku. Bukan bermanja-manjaan. Tapi dia membujukku untuk pergi ke menara pandang lainnya untuk mencoba permainan flying fox yang terlalu mini bagiku.
"Please?" Raya masih mencoba menaklukkanku dengan tatapan memelasnya. Baiklah.
Tambahan dua puluh lima ribu untuk masing-masing kami berhasil mengikat kami di atas pohon dan siap meluncur kilat ke menara pandang satu lagi. Demi permintaan tuan putri Raya. Dan rencana dadakan yang akan kulakukan.
Raya meluncur terlebih dahulu dan dilanjutkan olehku. Aku gugup. Bukan karena ketinggian ataupun tali kecil yang mengikatku. Tapi karena sesuatu yang berada di kantong celanaku. Dan harga diriku yang menunggu nasibnya setelah aku berhasil menghampiri Raya.
Hanya jawaban itu yang kubutuhkan untuk memantapkan keputusanku pulang ke Indonesia setelah rangkaian perawatanku selesai. Setelah terbangun dari koma dan melihat Raya berrada selalu di sampingku menemaniku, aku tidak ingin sendiri lagi. Diskusiku dengan Ayah dan Ibu sewaktu Raya kembali ke apartemen untuk istirahat, membuahkan satu restu yang kuharapkan. Secara hukum tidak ada masalah. Apalagi secara agama. Raya bukanlah adik kandungku, juga bukan adik angkatku. Dia hanya adik yang dibiayai oleh keluargaku sampai usianya cukup dewasa untuk segala urusan hukum di negara ini.
"Raya Prameshwari. Terima kasih sudah menemaniku beberapa bulan terakhir ini. Aku juga berterima kasih pada Tuhan dan kedua orang tuaku karena memberikan kesempatan ini." Masih menggantung di ujung lintasan flying fox, atas kerjasama dadakan dengan petugas outbound, aku berhasil membuat lidahku melafalkan kalimat-kalimat sakti ini.
"Mas?" Raya tampaknya mulai menyadari sesuatu. Dia tidak lagi berdiri di pinggir menara pandang, tapi semakin merapat pada batang pohon di belakangnya. Mas-mas yang berdiri di belakangnya mulai mesem-mesem menambah kegugupanku.
"Ayah dan Ibu sudah baik sekali tidak pernah memberikan nama Mandala untuk kamu. Karena ini mungkin waktu buat aku yang melamar kamu untuk menggunakan nama Mandala." Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ujung kalimat sakti ini.
"Raya Prameshwari Mandala, kamu suka dan mau memiliki nama itu?"
"Bantuin aku turun, Mas. Nanti cincinnya nyangkut di rope-nya."
Senyum Raya otomatis merusak konsentrasiku menuruni undakan pohon ini. Kami berdua terlalu bahagia sampai aku melupakan fakta, beberapa orang yang memperhatikan kami dari tadi menyorakki kami.
"Thank you Raya Prameshwari Mandala, love of my life."
Jingga menutup hari dengan sempurna sampai mataharinya larut ke sisi bumi yang lain. Gelap mulai menghampiri, tapi yang aku tahu hari kami baru bersinar, karena Raya dan Mandala kembali bersanding dalam satu kalimat dan momen.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Jalan2INDONESIA yang diselenggarakan Nulisbuku.com, Storial.co, dan Walk Indies.