Terperangkap dalam sejarah
Untuk hari ini jadikan pertemuan ini hanyalah bagian dari sebuah cerita, jangan jadikan hari ini sebuah sejarah.
Aku lelah terperangkap dalam sejarah, sejarah tentangmu
Tentang seorang aku yang setiap bertemu dengamu ingantanku selalu mengukir hangatnya senyum mu.
Menjadikanmu sebagai sejarah, tentang aku yang selalu jatuh hati pada setiap pertemuan denganmu.
Tentang kamu yang selalu ingin membuatku menulis tentang indahnya terjatuh di hati baik mu.
Namun hingga kini sejarah itu tak pernah berubah, tak ada tentang kita.
Hanya aku yang jatuh hati setelah bertemu denganmu, tak pernah ada sudut pandangmu tentang aku.
Dan kali pertemuan yang lain aku tetap selalu jatuh hati kepadamu.
Bedanya kamu membuatku menulis tentang pahitnya hati yang terjatuh dan tak pernah berbalas ini.
Maka dari itu tolong lah aku, untuk pertemuan kali ini tolong biarkan aku tidak menatap hangat nya senyum mu.
Biarkan aku untuk hanya menatap segelas lemon tea yang ada di depan mejamu.
Jangan terlalu sering mengajak ku untuk mengobrol, jangan biarkan aku melihat sisi baik mu.
Untuk satu jam pertama terimakasih telah membiarkanku hanya menatap segelas lemon tea yang ada di depan mejamu.
Tapi pertemuan ini terlalu lama untuk hatiku yang selalu merindukan senyum hangat mu
Aku mulai menatap mu satu, dua kali dalam obrolan mu dengan mereka.
Lalu aku mulai tidak bisa berhenti menatap mu, aku mulai menginginkan untuk berbicara dengamu.
Dan kali ini aku malah berusaha untuk tidak ketauan terlalu lama menatapmu.
Usahaku untuk tidak terjebak dalam sejarah mulai pudar.
Dan malam ini aku sempat jatuh hati lagi padamu.
Sehingga tidak ada pertemuan ku dengan mu yang tidak membuatku mengagumimu.
Dari pertemuan kita di tahun 2014 itu aku selalu jatuh hati setiap bertemu denganmu.
Maafkanlah aku, aku telah berusaha semampuku, mungkin ijinkan aku sekali lagi pada pertemuan ini.
Kelak di pertemuan kita di masa depan, aku tidak akan terjatuh lagi padamu.
Tidak lagi, cukup hari ini. (Sekuat ku dalam pikirku)