Hari Ini Bulan Juni
Adakalanya kucuran keringat telah keluar namun buah yang dirawat belum juga bisa dipanen. Adapula langkah demi langkah terbuang begitu saja tanpa memperlihatkan destinasi. Atau mungkin seperti air yang direbus namun tak kunjung masak. Atau layaknya gitar yang dipetik dan tak mengeluarkan suara. Ini nonsense. Di sini mungkin faktor X terselip kasat mata dan tak pernah terstruktur dalam teori, sehingga proses dan hasil tak kunjung bertemu. Kita tak pernah tau faktor X ini bisa jadi restu orang tua kita, atau butuh doa orang-orang di sekitar, sedekah yang masih kurang, bahkan bisa jadi ada kata maaf yang belum terucap, atau justru hal teknis seperti ketekunan, kesabaran dan kerja keras yang masih kurang. Namun seringkali kita lupa peran kita adalah bukan memastikan hasil yang diinginkan, tapi memastikan adanya ikhtiar yang mengarah ke hasil. Seringkali kita mendahului takdir, mengumbar mimpi lalu membiarkan diri kecewa. Kenapa kita tak menertawakan mimpi yang belum tercapai, berbahagia ketika kecewa, terbahak ketika terjatuh. Sebagian kita mungkin telah berhasil menggapai mimpi. Tapi taukah kita akan usaha dan keistiqomahan yang mereka lalui? Waktu tiap kita menuju mimpi boleh jadi berbeda, tapi apakah segala kesuksesan juga mempunyai perbedaan istiqomah?
Dalam science, sebuah hipotesa hanya bisa disebut sebagai teori apabila telah berhasil diuji dan terbukti. Oleh karena itu sebuah teori sejatinya selalu akan linier dengan praktek. Lantas bagaimana dengan praktek di lapangan yang tak sesuai dengan teori? Barangkali bukan teori yang tak aplikatif, tapi teori tersebut memang belum lengkap. Faktor X belum teridentifikasi. Teori tersebut masih hipotesa, belum disebut teori. Namun dengan keterbatasan pengetahuan kita, mungkin momen ini hanya bermaksud mengajarkan arti istiqomah. Kita memang telah melewati proses-proses, tapi belum tentu melewatinya dengan istiqomah. Kita hanya perlu berjalan lebih jauh lagi, agar menemukan faktor X.







