Suatu hari nanti, kau akan mencarinya. Yang dulu selalu ada–kapanpun dan dimanapun, yang selalu terima hari burukmu. Namun sayang, seluruh mimpinya berguguran, kau memilih pergi.
Suatu hari nanti, kau akan sadar kalau kau salah. Dalam rentang waktu itu, dia memang tak bisa karena belum terbiasa tanpamu. Dia menanti tapi kau tak ingin kembali.
Suatu hari nanti, kau akan merenungi hal yang belum sempat kau selesaikan dan kau butuh dia–untuk membagi segalanya, seperti dulu. Jiwamu hampa dan kau rindu dia.
Lalu, kau ingat dia, tempat biasa kalian berjumpa, leluconnya yang membuat matamu berair, obrolan yang mengundang kehangatan yang menjalar hingga ke ulu hatimu.
Kau ingat, betapa dia selalu menyemangatimu saat kau merasa payah. Dia menyayangimu, tapi kau baru menyadari sekarang. Kau akhirnya merasakan seluruh kecewa yang dia rasakan. Tapi kau terlalu malu untuk mengakuinya.
Darinya, kau akan belajar: untuk tidak melukai siapapun dengan alasan yang paling bisa dia maklumin sekalipun. Kau harus tau, tidak semua luka bisa disembuhkan begitu saja.
Karena bisa jadi, di hidupmu–hanya dia satu-satunya yang sanggup memahamimu.