Kukira slama ini kau t’lah lupakanku.
Ya, aku tak menyangka kami akan berjumpa lagi. Di sebuah taman, di antara hiruk pikuk kota yang ada di bawah langit sore ini.
Enam tahun penuh, aku berusaha menghapus ingatanku, mengunci memoriku mati-matian, mencari berbagai cara melupakan sosok itu–yang menghilang mentah-mentah, tanpa ucapan atau pelukan hangat.
Kusangka tak ada lagi kenangan di hatimu.
“Dulu, aku tak pernah ucapin salam perpisahan ya.”
“Ya, ngungkit masa lalu lagi.”
“Jadi, apa kabar?”
Hening.
Lama tak kudengar suaramu, sepatah kata, maupun secarik berita.
Kepergiannya merontokkan semua mimpiku. Dan aku tak pernah tahu, jika membiarkan kenangan terhapus akan sesakit ini. Bodohnya, selama itu aku selalu mengulang kembali kebiasaan yang pernah kami habiskan berdua. Terduduk penantianku sambil berharap nama itu akan kembali. Selalu memberikan kesempatan kedua dan berjanji akan memaklumi segalanya jika dia kembali.
Bila engkau kembali, saat kunanti dirimu.
Hari demi hari aku menunggu, tapi pada suatu hari aku tersedak, menangis sejadi-jadinya, membuang semua harapan itu, lalu pergi menemukan hidup baru dan tak pernah membawakannya lagi sekeping cinta. Sebab, masihkah menunggu namanya, jika hari ini, esok, dan seterusnya sama saja–dia tak kunjung datang?
Dan sekarang, dia sudah ada di sini.
Namun dirimu kembali, saat ku tak bisa bersamamu lagi.
Perlahan, aku mengumpulkan keberanian untuk menolak segala rasa yang merasuk dadaku. Aku tak bisa menyangkal betapa aku rindu dengan sosoknya. Kenangan kami berputar jelas di otakku, yang tak kusadari selama ini belum sempat kuakhiri.
Jangan salahkan aku bila kini ku berpaling hati dari cintamu.
“Kamu selalu memutuskan semuanya sendiri.”
“Saat itu, karena aku belum cukup yakin.”
“Jadi, sekarang?”
“Kita mulai dari awal ya?”
Di tengah kesepian, ku mencari dan menanti, berharap dirimu kembali .
Sungguh, dalam hati kecilku tersisip harapan untuk mengiyakan tawarannya, menghampiri pundaknya, lalu memeluknya seolah tak akan pernah kulepas lagi. Aku bisa membayangkan hari-hariku diisi kembali oleh tawa candanya, saat dia menatapku dalam lalu aku merasa dunia benar-benar indah.
Kau tak bisa sesukamu menghilang tanpa kata dan kini kaupun kembali bagai hujan tanpa awan.
Tapi, dengan sangat berat aku memilih untuk mengubur dalam-dalam harapan itu, meyakinkan diri bahwa tanpanya aku juga bisa bahagia. Giliranku kini yang merontokkan mimpinya. Mungkin, waktu kami memang tidak pernah tepat.
Kau takkan pernah mengerti, betapa sakitnya aku.
Setidaknya, aku masih lebih baik membuatnya tau bahwa aku masih selalu mengingatnya. Tapi hingga hari ini saja. Pukul 12 tepat di malam hari nanti, aku akan bergegas pergi. Menghempaskan namanya dalam hitungan detik. Dan ingin tidak ingat apa-apa lagi.
Sebuah siluet laki-laki memelukku, menenangkanku, dan membuatku terhisap dalam tidur yang lelap, tanpa kenangan, tanpa ingatan, dan tanpa dia pastinya–lelaki yang telah memberiku sepasang anak kembar.
Dan kini, semua sudah terlambat…
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Ceritakan15Lagumu. cc: @ceritakan15lagumu.
♪ : Hujan Tanpa Awan - Base Jam