Aku lupa namanya, tapi setiap melihat kakak-kakaknya berlalu menuju Surau untuk mengaji dengan kerudung yang berkibar-kibar tertiup angin sore, ia selalu bergetar kagum. Usianya belum lagi lima tahun saat itu. Sesekali ia meninggalkan teman-temannya yang bermain di pematang dan menuju Surau. Mengintip dari sela-sela dinding anyaman bambu ia melihat belakang kerudung kakak-kakaknya yang sedang mengaji a-ba-ta-sa. Lagi-lagi ia ditiup angin kagum yang berdesir diantara degup jantungnya.
Pernah sekali ia merajuk kepada ibunya untuk dibuatkan kerudung sebagaimana kakak-kakaknya. Usianya mungkin enam tahun saat itu. Sang ibu hanya tersenyum dan menghelai lembut rambutnya, “Nanti ya Sayang, ada saatnya. Sudah ibu siapkan kerudung paling cantik buat kamu pakai pertama kali nanti.” Ucap ibunya lembut. Jadilah terkadang ia sesekali menyelinap ke lemari baju kakaknya dan mencoba-coba memakai kerudung kakaknya sambil bergaya di depan kaca.
Suatu kali tanpa sepengetahuannya, salah satu kakaknya memperhatikan kelakuannya dari balik pintu kamar. Kakaknya hanya tersenyum-senyum simpul melihat tingkah bungsunya itu. Demi melihat adiknya yang carut marut mencoba kerudung sekenanya, ia pun masuk dan sedikit mengejutkan adiknya. Tapi sesegera mungkin dia mengisyaratkan adiknya untuk diam agar tidak menarik perhatian ibu mereka yang ada di dapur. Lalu sambil duduk di pangkuan kakaknya di depan kaca, ia ditunjukkan cara memakai kerudung oleh kakaknya.
“Cantiknya, adik kakak!” Ucap kakaknya sambil memeluk erat adiknya setelah memakaikan kerudung di kepalanya. Ia pun tersipu malu mendapat pujian dari kakaknya.
“Usiamu berapa sekarang?” Tanya sang kakak. “Enam tahun Kak,” jawabnya.
“Wah berarti Ramadhan depan kamu akan ikut haflah di Surau dong! Wah kakak ga sabar melihat adik manis kakak pakai kerudung pertamanya,” Ujar sang kakak sambil memeluk erat adiknya.
Sejak saat itu ia pun menunggu-nunggu bulan Ramadhan segera datang, meskipun masih setengah tahun lagi. Di kampungnya, anak-anak diajak menghadiri haflah dan pawai di sore terakhir bulan Sya'ban untuk menyambut Ramadhan setiap tahunnya. Dan anak-anak gadis yang sudah berumur 7 tahun yang paling menarik perhatian, karena pada saat itu pertama kalinya mereka akan dipakaikan kerudung oleh Romo Kyai di Surau. Setelah itu mereka berbaris paling depan dengan kerudung pertamanya untuk pawai keliling kampung mendendangkan puji-pujian untuk Allah dan shalawat untuk Rasulullah.
Hari berganti hari lainnya, dibawa angin berhembus sampai ke hari terakhir bulan Sya'ban. Inilah saat yang telah ia tunggu-tunggu. Sejak subuh tak habis tingkahnya saking gembiranya ia akan memakai kerudung pertamanya. Beberapa kakaknya menggoda dan sesekali mengejek dan menakut-nakuti kalau ia akan terlihat jelek memakai kerudung. Dia pun dengan percaya diri mengatakan kalau dia akan terlihat cantik pakai kerudung. “Ih, mana kamu tahu? kamu kan belum pernah pakai?” Ujar salah satu kakaknya menggoda. Wajahnya tampak kisut mendengar celoteh kakaknya, tapi tetap bersikeras mengatakan kalau dirinya cantik pakai kerudung. Di dapur, kakak sulungnya yang pernah sembunyi-sembunyi mencobakan kerudung ke adik bungsunya itu cuma tersenyum simpul mendengar kegaduhan di ruang tengah.
Matahari mulai tergelincir menjelang ashar. Setelah mandi dan dibedaki kakak sulungnya, Ibunya menyerahkan satu setel baju kurung berwarna dominan putih dengan kombinasi merah manggis untuk dipakaikan sang kakak. “Kerudungnya mana Bu?” tanyanya penasaran setelah hanya melihat baju kurung dan rok di tangan kakaknya. “Kan nanti kerudungnya dipakaikan Kyai Fadil di Surau.” Jawab Ibunya. “Oh iya,” ujarnya sambil meringis.
“Ais, ayo buruan ke Surau!” Seru temannya Kiki yang seusia dengannya dari luar pekarangan saat melihatnya dibalik jendela ruang tamu. -Ah iya, aku ingat, namanya Aisyah-. Aisyah pun melongok keluar jendela, “Iya, sebentar, tunggu ya!” serunya kepada Kiki. “Kak, cepetan dong, sudah ditunggu Kiki!” ujarnya ke kakaknya yang sedang menyisir rambutnya. “Iya sabar dong adik manis,” jawab kakaknya sambil tersenyum. Sejurus setelah selesai ia pamit kepada kakak dan ibunya lalu segera meluncur keluar rumah menemui Kiki untuk berangkat menuju Surau.
di Surau, ada lima anak seumuran Aisyah yang juga akan mengikuti Haflah pemakaian kerudung pertama kali. Mereka semua tampak gembira sepanjang ashar hingga menjelang acara utama. Selepas remaja laki-laki menampilkan keahliannya memainkan hadrah, sampailah kegiatan ke inti acara. kelima anak gadis yang termasuk Aisyah diantaranya dipanggil menuju ke depan mihrab. Masing-masing dipakaikan kerudung oleh Kyai Fadil yang telah disiapkan orang tua mereka. Sampailah giliran Aisyah. Kyai Fadil memakaikan kerudung berwarna putih senada dengan bajunya. Dengan renda-renda bunga berwarna merah manggis yang terlihat menawan. Aku tak bisa menjelaskan perasaan Aisyah ketika itu. Mungkin semacam ada pawai drumband di dalam dadanya. Karena Aisyah sendiri sampai tak mendengar dengan jelas doa-doa yang dibacakan Kyai Fadil di keningnya. Perasaan itu tetap berlanjut bahkan saat pawai. Dia dan keempat temannya berjalan di depan. Mereka bersorak sorai gembira, mendendangkan puji-pujian untuk Allah dan shalawat untuk RasulNya. Meskipun mulutnya turut bersorak bersama teman-temannya, ia seakan tak mendengarkan semua kegembiraan itu. Yang terdengar di telinganya hanya suara ramai dari dalam dadanya yang tak bisa ia jelaskan. Ramainya tak gaduh dan memekakkan telinga, malah membuatnya merasa tentram dan hanyut di dalamnya. Bibirnya tak lelah-lelahnya tetap tersungging sepanjang pawai.
Selesai tarawih, Aisyah, kakak-kakaknya, dan Ayah-Ibunya pulang menuju rumah mereka. Di antara temaram nyala obor sambil menyusuri pematang denga digandeng oleh Ibunya, Aisyah tiba-tiba menyeloroh, “Bu, semua orang Islam harus pakai kerudung ya?”
Setelah sejenak terhenyak mendengar selorohan Aisyah, Ibunya tersenyum dan balik bertanya, “Kok tiba-tiba adik tanya seperti itu?” tanya Ibunya.
“Soalnya di sekolah ada kakak-kakak kelas yang lebih tua tapi tak pakai kerudung.” jawab Aisyah.
Mendengarnya, Ibunya hanya tersenyum dan diam sejenak.
“Aisyah cinta sama Allah tak?” Tanya Ibunya.
“Cinta dong!” jawab Aisyah gesit. “Sama Rasulullah cinta juga tak?” Tanya Ibunya lagi. “Cinta juga!” jawab Aisyah lagi dengan sergap.
“Nah pakai kerudung ini jadi bukti kalau Aisyah cinta sama Allah dan Rasulullah. Jadi biar orang-orang tahu kalau Aisyah cinta sama Allah dan Rasulullah. Apalagi Aisyah jadi lebih cantik pakai kerudung, kan?” Ujar ibunya menjelaskan.
“Iya bu,” Jawab aisyah sambil meringis mendapat pujian dari Ibunya.
“Kata kakak kelas Aisyah di sekolah, pakai kerudung panas, apalagi kalau siang-siang.” Seloroh Aisyah lagi.
“Kalau Aisyah benar-benar cinta Allah dan Rasulullah, nanti panasnya tiba-tiba jadi dingin kok! percaya kakak deh,” Timpal kakak sulungnya yang berjalan di belakang Aisyah dan Ibunya yang sedari tadi mendengarkan perbincangan mereka. Aisyah mengangguk-angguk mendengar jawaban kakaknya.
“Makanya Aisyah jangan putus-putus cintanya sama Allah dan Rasulullah, ya.” Ujar Ibunya menambahi. Aisyah tersenyum sambil mengangguk lebih cepat.
Malam itu malam pertama bulan Ramadhan. Aisyah tertidur dengan masih memakai kerudungnya. Senyumnya tenang. Allah dan RasulNya disimpannya erat-erat dalam dadanya malam itu. Esok dan seterusnya, ia akan mengembang dari kuncup yang mungil menjadi bunga-bunga indah yang semerbak sampai ke Surga. Semoga juga semua anak-anak gadis muslim di mana saja berada.
Ya Allah bimbing para Shalihat kami..