"beberapa kemarahan mungkin akan menemukan kata maaf,tapi beberapa kekecewaan tidak akan menemukan kata sembuh"
_zetian_
seen from Switzerland
seen from Morocco

seen from United States
seen from Guatemala
seen from China
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
seen from Yemen
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
"beberapa kemarahan mungkin akan menemukan kata maaf,tapi beberapa kekecewaan tidak akan menemukan kata sembuh"
_zetian_
Pernahkah berkecamuk di benak kalian dan kalian bergumam dalam senyap seperti ini,
Kiranya siapa yang cintanya amat besar kepadaku setelah Allah? Siapa yang tangisannya paling dalam dan paling luka saat aku tiada di dunia?
Di Kepalaku: Senyum yang Mungkin Akan Patah
Membaca senyum mereka seolah membaca kitab suci, yang kutahu isinya, tapi kulangkahi juga ayatnya.
Sore ini, aku menatap sekumpulan anak. Mereka bermain, tertawa, dan tersenyum dengan leluasa.
Senyum anak-anak adalah tempat di mana aku bisa melihat kepercayaan tanpa syarat. Percaya bahwa dunia ini tempat yang aman, bahwa orang-orang akan menjaga, bahwa esok pasti lebih baik, bahwa sakit hati masih jauh di luar jangkauan imajinasi mereka. Senyum yang belum sempat kenal patah, putus asa, apalagi kompromi pada getirnya kenyataan.
Melihatnya tak hanya membuatku lega, tapi juga sedih di saat yang bersamaan. Sebab aku pun pernah punya senyum semurni itu, pernah punya hati selapang itu. Tapi entah bagaimana, di perjalanan, aku menukarnya. Dengan logika, ego, ambisi yang membelenggu—apa saja.
Betapa getir membayangkan tulusnya senyum anak-anak itu dan yang tumbuh mekar bersamanya hari ini, besok lusa bisa layu. Bahwa senyum semurni itu, sehangat itu, suatu hari bisa padam karena dihantam realitas yang rakus.
Anak-anak yang hari ini kulihat tertawa dan tersenyum tanpa takut, suatu saat akan diajari cara menahan tangis, menekan mimpi, menutup mulut. Tangan-tangan kecil mereka yang hari ini merangkai cita-cita, esok mungkin harus berbelok karena himpitan angka, keadaan, atau putusnya tali dukungan.
Aku ingin menepuk dadaku dan berkata dengan sok bijak, “Hidup memang begitu.”
Padahal jauh di dalam, aku tahu, seharusnya tidak begitu.
TANPA NAMA
Ada yang bergetar di dada,
bukan gembira, bukan juga luka.
Ia hanya… ada,
seperti kabut yang menolak dijamah kata.
Ingin kutulis,
tapi huruf-huruf saling bertabrakan,
maknanya retak sebelum lahir,
hilang di antara jeda dan bisikan.
Malam pun tak mengerti,
meski telah kuberi seribu sunyi.
Langit hanya menatap,
diam seperti aku yang tak tahu harus apa.
Perasaan ini,
bukan cinta, bukan nestapa,
ia seperti bayangan di cermin retak,
jelas namun tak bisa disentuh juga dibawa.
Dan aku hanya bisa diam,
menyimpannya di sudut dada yang paling rahasia,
tempat di mana semua rasa
tinggal sebagai tanya…
Mungkin sebenarnya pria yang aku butuhkan adalah dia yang memberikanku bibit bunga, pot, tanah, kompos, dan sekop lalu mengatakan, "ayo menanamnya. Aku tanamkan untukmu ya," daripada dia yang hanya pergi ke toko bunga lalu memetiknya untukku.
- Sastrasa
You will forever be the greatest regret I can never recover.
-Jalanpagi
Jari jemari kita sudah terlalu lama dingin,
Disapu jarak membelah dimensi,
Tak ada yang lebih hangat dari rongga yang disirami senyummu,
Kata pulang membuatku semakin rindu,
Tunggu aku, perjalanan mungkin tidak akan lama,
Bisa jadi beberapa detik lagi,
atau menit lagi,
atau jam lagi,
atau hari lagi,
atau bulan lagi,
atau tahun lagi,
Tunggu aku di rumah yang selalu kurindu.
14022025
Dahulu, konon katanya jikalau sepasang bisa bertahan mengucap angan-angan dari larut malam menuju siang mendongengkan janji-janji bisu demi langkah-melangkahi datangnya aral melintang.
Lalu kembali mempertanyakan kapan kiranya bisa meruntuhkan lagak tenang sementara tak ada lagi sepatah dua patah kata yang menghidupkan malam-malam panjang.
Bilamana telah siap menyambut gersang yang kian menjelang sementara nampan kosong dibumbui semerbak bimbang dengan jumlah yang tak terbilang.
Pun, kapan waktu lagi rasanya pembatas ruas-ruas bambu di ujung tebing kian menjulang berselaras mantra-mantra penuh harap tak terhingga dirapal berulang-ulang.
-Ditulis di hari yang (katanya) penuh kasih sayang, namun tak ada riang yang diundang menelisik menuju ruang (yang kamu pinta bahkan di waktu penuh luang).