Begitu banyak cara ajaib untuk menegur atau memberikan petunjuk kepada kita yang tengah dilanda kegalauan hidup. Cara itu bisa saja merupakan cara yang sangat sangat sangat sederhana, namun memiliki efek yang sangat luar biasa. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui atau (sedikit) menyadari teguran tersebut? Kuncinya cuma dua (menurut saya), yakni peka terhadap sekeliling dan buka hati selebar-lebarnya dan siapkan ruang di hati seluas-luasnya.
Sebagian mungkin akan ada yang berfikir bahwa itu adalah cara yang naif atau mungkin alay, tapi boleh percaya atau tidak, silahkan, bagi saya cara itu memang bekerja dan sangat mujarab untuk menghadapi kegalauan hidup dengan berbagai tingkat skala galau yang sedang dihadapi. Kenapa saya begitu sangat yakin? Ya, karena saya mengalaminya sendiri.
Teguran indah itu terjadi sore tadi di tempat kerja saya satu jam sebelum waktu pulang tiba. Jujur saja selama satu minggu belakangan ini fikiran saya begitu tak keruan, mumet, galau. Tentu saja efek dari itu semua adalah tidak semangatnya dalam bekerja, di sekitar saya seolah banyak aura negatif yang berpancar, yang membuat saya selalu merasa ingin marah-marah bila ada hal yang bagi saya mengganggu pekerjaan atau rekan membuat kesalahan, bahkan cuma hal sepele bisa membuat saya bisa langsung tersulut emosi.
Saya sudah mengantisipasi, mencoba memblokir dengan segala cara agar saya tidak terlalu dikuasai rasa “galau” tersebut. Masalah kewajiban sebagai umat beragama, pun saya sudah laksanakan. Karena, itu modal utama untuk diri saya juga. Tapi, entah mengapa fikiran saya masih saja awut-awutan, acak kadut, bingung harus bagaimana. Tetntu saja muka saya jadi tertekuk tak terpoles senyum sedikitpun. Sampai salah satu rekan kerja saya tiba-tiba curcol mendadak perihal sakitnya dia yang sudah dua bulan dan kini dalam masa pengobatan. Rekan saya bilang dia terkadang merasa lelah, bosan selama dua bulan tubuhnya diatur obat-obat yang diresepkan dokter, rekan saya kadang tiba-tiba merasa jengkel, sampai suatu hari, katanya, saat dia mengambil resep obat diapotek, dia melihat dibungkus obat tertera, mungkin bisa disebut slogan, dengan huruf kapital semua, begini bunyinya: “HATI YANG GEMBIRA ADALAH OBAT!”.
Melihat rekan saya yang terus melihat “slogan” tersebut, akhirnya salah satu petugas di apotek tersebut nyeletuk begini. “Tepat banget kan, mba? Semahal apapun obat yang kita konsumsi, semahal apapun cara pengobatan yang kita lakukan, bila hati kta tetap murung atau bersedih percuma saja semua takkan ada efeknya pada tubuh kita, jadi bergembiralah mba, optimis, maka sugesti yang terbentukpun akan sedemikian rupa.”
Tertegunlah saya mendengar sekilas curcolan rekan saya tersebut, diri serasa ditegur secara halus namun menohok. Saat itulah saya menyadari apa yang menjadi penyebab “kegalauan” saya itu. Hati saya kurang bergembira, terlalu memikirkan dengan rumit dan berat pada hal yang sebenarnya mungkin sepele dan bisa dibawa santai. Sehingga rasa yang diproduksi oleh hati saya berimbas ke mood saya, sugesti saya terhadap menyikapi hal-hal disekitar, otomatis aura yang terpancar jadi kelabu; negatif.
Jadi—tanpa memandang arti secara hakekat tentunya, karena begitu panjang bila kita membahas itu—bergembiralah selalu, ciptakan mood yang enak pada hati dan fikiranmu biar aura positif yang terpancar disekitarmu, sehingga sugesti yang terbentuk adalah optimis yang bisa membuat diri selalu berprasangka baik dan memandang apapun melalui sisi baiknya pula.
HATI YANG GEMBIRA ADALAH OBAT. Bila mengingat “slogan” tersebut saya selalu tertawa sendiri. Formula ini begitu sederhana namun dengan efek yang luar biasa. Ya, memang benar adanya hati yang sealu bersedih apalagi dikombinasikan dengan racun emosi hanya akan membuat diri sendiri dan di sekitar kita tidak nyaman. Jadi, mari bergembira setiap hari dan pandang dunia dari berbagai sisi karena tak semua hal yang kita anggap buruk melulu begitu adanya.