Tuhan memberikan Rahmat Nya kepada setiap manusia. Tapi Dia hanya memilih beberapa manusia saja untuk menunjukkan kebesaran Nya melalui apa yang manusia-manusia tersebut lakukan untuk manusia lainnya.
Taufik, StudentsCare.id, 2017

No title available
KIROKAZE
occasionally subtle
Show & Tell

roma★

❣ Chile in a Photography ❣
we're not kids anymore.
YOU ARE THE REASON
$LAYYYTER
Game of Thrones Daily
Mike Driver
Not today Justin

Product Placement
Today's Document
Lint Roller? I Barely Know Her
Cosimo Galluzzi
RMH

⁂

Andulka
DEAR READER
seen from United States

seen from Morocco

seen from United States
seen from United States

seen from Colombia

seen from Canada
seen from Mexico

seen from United States

seen from Japan
seen from United States

seen from Austria

seen from Japan
seen from United States

seen from T1
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Japan

seen from United States

seen from United States
@muhammadluthfij
Tuhan memberikan Rahmat Nya kepada setiap manusia. Tapi Dia hanya memilih beberapa manusia saja untuk menunjukkan kebesaran Nya melalui apa yang manusia-manusia tersebut lakukan untuk manusia lainnya.
Taufik, StudentsCare.id, 2017
Jika tak mengerti? Tanyakan! Jika tak mengerti lagi? Tanyakan lagi! Jika tak mengerti lagi dan lagi? Pikirkan dan tanyakan lagi dan lagi! Jika tak mengerti lagi dan lagi dan lagi? Pikirkan lagi dan tanyakan lagi dan lagi dan lagi! Jika telah mengerti? Laksanakan! Sebab penolakan atas dasar egoisme perasaan bukanlah pilihan dalam menjalankan kebaikan.
Kekosongan di akhir tahunan, 2016
Gua sih selalu yakin kalo orang udah punya itikad yang kuat buat selalu berbuat sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak,Tuhan bakal selalu kasih modal. Apapun bentuknya. Bisa ilmu, pengalaman, kekuatan hati dan kesehatan. Yang pasti ga akan pernah orang itu jadi miskin. Bukan secara materi, karena miskin dan kaya itu soal hati.
Kampret, 25 November 2016
"Jalur hidup pergerakan, terutama untuk cita-cita mendobrak kebudayaan berpikir bangsa Indonesia, adalah jalur yang tak banyak diingini bahkan bisa jadi akan ditolak oleh istrimu dan sanak familimu. Sebab jalur itu hanya menjanjikan lika liku dan gesekan terhadap realita yang sudah mengakar dan begitu luas membentang. Tapi bagi kalian yang ingin mengambilnya,konsistenlah!" Doakan saya, Prof!
Prof. Susetiawan, Guru Besar Sosologi Masyarakat Industri Fisipol UGM
Kesederhanaan hidup adalah bentuk perlawanan terhadap keserakahan dunia
Sedikit Kisah dari Sana, Tentang Kita Pada Zamannya
Narasumber : Djoko Siswanto TM ’86 --> Periode 1986-1990
Cerita pada awal 80-an berawal dari keadaan kampus yang kian hari kian melemah dalam artian kegiatan-kegiatan kampus tak begitu lagi bergairah. Banyak hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi, namun yang paling kentara adalah efek dari persitiwa NKK/BKK yang dikeluarkan oleh pemerintah sekitar hampir sepuluh tahun lalu yang notabene merupakan pemerintahan orde baru. Salah satu efek paling besar adalah pembubaran Dewan Mahasiswa pada awal tahun 1982 yang merupakan dampak dari represifitas pemerintah melalui kampus pada saat itu. Keputusan pembubaran Dewan Mahasiswa pun diambil atas persetujuan 22 ketua himpunan dan 44 ketua unit pada saat itu. Pada tahun 1982 juga, terbentuk Forum Ketua Himpunan Jurusan (FKHJ) dan Badan Koordinasi Satuan Kegiatan (BKSK) yang tetap mengkoordinasikan kegiatan kemahasiswaan terpusat ITB. Kuatnya represifitas birokrasi kampus terhadap kegiatan kemahasiswaan menyebabkan munculnya kelompok-kelompok studi. Kegiatan kemahasiswaan mengarah pada studi mendalam mengenai ideologi, politik, hukum, ekonomi, sosial dan budaya, apalagi setelah aliran filsafat posmodernisme masuk ke Indonesia.
Kegiatan kemahasiswaan tidak dapat dikatakan mati. Tokoh-tokoh mahasiswa seperti Umar Djuoro, Amir Sambodo, Hendardi, dan Syafrudin Tumenggung tetap mempertahankan ruh kemahasiswaan. Muncul event seperti AMISCA Cup, HMS Cup, HMT Cup dan HIMAFI Cup atau Ganesha Football League agar persatuan mahasiswa ITB tetap terjaga.
Gerakan Mahasiswa ITB mulai bergulir saat FKHJ 1985-1986 dipimpin oleh Pramono Anung (TA’82) dan Justiani (IF’82). Demonstrasi mulai kembali dilakukan salah satunya saat menyambut kedatangan PM Inggris Margareth Thatcher. Selain itu terdapat pula aksi memotong kepala bebek sebagai tanda bahwa Indonesia jangan membebek bangsa barat, yang besamaan dengan kedatangan PM Perancis Francois Mitterand yang diikuti oleh 3000 massa. Aksi ini membangkitkan kembali semangat dan kepercayaan pada mahasiswa akan kekuatan mahasiswa.Jatuhnya pemerintahan Marcos di Filipina tahun 1986 juga mempercepat gerakan mahasiswa ITB. Mulai tahun 1987-1989, muncul tokoh mahasiswa seperti Fadjroel Rachman (KI’82), Syahganda (GD’84), Enin Supriyanto (SR’84), Ondos Koekeritz (GL ‘82), Hotasi Nababan (SI’84), Lendo Novo (TM’84) dari ITB, serta Ferry Juliantono dari UNPAD yang mendirikan Badan Koordinasi Mahasiswa Bandung (BKMB) dan Komite Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat (KSMR). BKMB dan KSMR mengadakan advokasi dan aksi demonstrasi atas kasus penggusuran tanah di Kacapiring, Cimacan, dan Badega.
Sedikit menengok ke dalam organisasi kemahasiswaan yang bernama Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan “PATRA” ITB yang pada saat itu (1986) sudah berumur sekitar 23 tahun. Pada periode sekitar 1986-1990, himpunan ini sudah mulai banyak berkembang dari sisi kegiatan yang dilaksanakan. Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan adalah arak-arakan wisuda yang pada saat itu masih boleh dilakukan sebebas-bebasnya oleh masing-masing himpunan. Kegiatan lain yang rutin pula dilakukan adalah kegiatan Orientasi Studi Jurusan untuk mahasiswa baru di Teknik Perminyakan. Meskipun pada saat itu aturan dari rektorat masih belum memperbolehkan adanya kegiatan OS, tapi karena kebutuhan yang cukup mendesak untuk tetap mendidik dan menanamkan nilai-nilai yang perlu ditanamkan pada saat itu maka kegiatan OS tetap dilaksanakan walaupun berstatus ilegal. Selain itu, HMTM “PATRA” mulai mencoba merambah dunia jurnalistik dengan adanya program menulis majalah yang berisi tentang keilmuan dan isu-isu seputar teknik perminyakan. Walaupun program majalah ini masih tergolong redup dibanding program lain yang biasa dilakukan, tapi setidaknya pernah ada beberapa majalah yang telah dihasilkan pada saat itu. Selain program majalah, mulai juga ditingkatkan intensitas program seminar keilmuan yang dilaksanakan oleh himpunan dengan bantuan dari para dosen teknik perminyakan dalam pencarian pembicara. Meskipun keadaan kampus secara umum sedang bergejolak, tapi di lingkungan akademik Teknik Perminyakan ITB hubungan antara dosen dan mahasiswa masih sangat baik dan erat. Terbukti dari rutinnya rapat antara ketua himpunan dan dosen Teknik Perminyakan untuk menentukan rekomendasi mahasiswa yang diberi beasiswa dan rekomendasi mahasiswa yang sudah harus diwanti-wanti karena proses studinya kurang baik. Hubungan antara PATRA dan organisasi kemahasiswaan terpusat pun cukup baik dan saling mendukung, salah satunya dengan adanya perwakilan dari PATRA yang menjadi perangkat di kepengurusan awal FKHJ yakni Mas Lendo Novo yang secara tidak terduga (walau ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya) menjadikan dirinya menjadi ketua himpunan selama dua periode. Mas Djoko Siswanto terpilih menjadi ketua himpunan pada tahun 1989 dan mengalami cukup banyak kejadian pada saat beliau menjabat.
Salah satu aksi yang diikuti oleh anggota PATRA pada saat itu adalah demonstrasi penolakan kedatangan Menteri Dalam Negeri Jenderal Rudini pada Agustus 1989 yang disinyalir merupakan salah satu aktor penyebab terjadinya insiden penggusuran tanah-tanah milik rakyat badega setahun sebelumnya. Jenderal Rudini yang pada saat itu hendak melakukan penataran mata kuliah P-4 kepada mahasiswa baru angkatan 1989 disambut dengan demonstrasi dan pelemparan telur. Usaha penolakan ini menyebabkan adanya beberapa mahasiswa yang ditangkap dan dipenjara. Setelah kejadian itu, kampus seolah meredup kembali karena ketegangan yang dihasilkan dari sistem represif yang diberlakukan oleh pihak kampus kembali terasa. Kasus penangkapan beberapa mahasiswa akibat demonstrasi tersebut menjadi fokus utama para mahasiswa pada masa itu, akhirnya diputuskan bahwa FKHJ mesti membagi fokus menjadi dua bagian besar yang akan mengurusi kasus penangkapan mahasiswa dengan goal harus bisa dibebaskan dan akan mengurusi kegiatan-kegiatan di dalam kampus yang seolah kembali meredup dan hampir mati. Pada saat itu, PATRA yang diwakili Mas Djoko Siswanto menjadi penanggung jawab dalam kegiatan internal kampus sebagai sekjend FKHJ. Aksi yang digalang pada kepengurusan tersebut sebagai bentuk penolakan dan aksi protes terhadap penangkapan beberapa mahasiswa dilakukan dalam bentuk aksi mogok kuliah selama dua minggu. Di kalangan mahasiswa Teknik Perminyakan sendiri cukup banyak mahasiswa yang ikut aksi mogok kuliah walaupun sempat ada pertentangan dengan beberapa senior pada saat itu dan beberapa dosen yang merasa kurang setuju degan aksi tersebut. Aksi ini akhirnya terhenti ketika pihak rektorat yang pada saat itu diwakili oleh Bapak rektor mengeluarkan sebuah tulisan kepada media dengan judul “ITB Akan Tetap Bisa Berjalan Walau Hanya dengan Mahasiswa S2” sebagai bentuk perlawanan dari pihak rektorat terhadap aksi mogok kuliah yang dilakukan oleh mahasiswa.
Setelah aksi mogok kuliah, FKHJ yang pada saat itu dipimpin perwakilan oleh PATRA mencoba untuk mengadvokasi kebijakan soal legalitas kegiatan OS yang sudah lama dilarang oleh pihak rektorat. Salah satu pengajuan yang diberikan oleh mahasiswa kepada pihak rektorat adalah melakukan kegiatan bersih-bersih kampus yang merupakan kedok yang disepakati oleh para mahasiswa agar kampus kembali berkegiatan dan OS bisa disisipkan dalam kegiatan tersebut. Akhirnya pihak rektorat pun setuju dan memperbolehkan mahasiswa melakukan kegiatan bersih-bersih kampus yang pada kenyataannya akhirnya dilanjutkan dengan kegaitan OS dari masing-masing jurusan.
Berbicara soal Orientasi Studi Jurusan, ada beberapa hal yang pada saat itu menjadi nilai-nilai penting yang tak pernah luput ditanamkan pada setiap proses Orientasi Studi Jurusan Teknik Perminyakan yakni: jiwa nasionalisme dalam bentukan penolakan korupsi dan skeptisisasi terhadap pihak militer dan pemerintah, jiwa idealis yang selalu diarahkan agar menjadi mahasiswa yang kuat dan teguh secara pendirian dalam setiap proses kehidupan, dan jiwa tangguh dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan yang menghadang. Sedikit mengulas soal jiwa idealis, pada masa-masa itu masih banyak ideologi-ideologi yang beredar di dalam kampus sebagai akibat dari infiltrasi organ-organ ekstrakampus yang masih cukup bebas berkeliaran dan beberapa yang terasa pada saat itu adalah banyaknya aliran dalam agama Islam yang beredar (karena kebetulan Mas Djoko Siswanto juga aktif di Masjid Salman ITB pada periode 1986-1990) dan masih adanya bau-bau sisa pergerakan ideologi komunis yang dahulu terakumulasi dalam partai politik PKI. Hal tersebut cukup terasa mengganggu bagi sebagian mahasiswa dan juga rektorat, terbukti dari program penataran P-4 yang masih dipertahankan pada masa itu sebagai salah satu bentuk doktrinasi ideologi orde baru dan perlawanan terhadap ideologi-ideologi yang beredar. Terlepas dari ideologi mana yang benar, para mahasiswa pada masa itu dipaksa untuk memiliki suatu landasan bertindak dalam setiap pergerakannya sehingga ideologi menjadi barang yang wajib dimiliki. Berbagai macam metode yang biasa dilakukan masih sama seperti masa-masa sebelumnya yang terkenal berorientasi pada kekerasan yang mendidik jiwa dan mental sampai beberapa metode inovasi dari sisi pengembangan keilmuan seperti tugas menerjemahkan buku-buku berbahasa inggris ke dalam bahasa indonesia agar bisa dikonsumsi oleh banyak anggota.
Pada masa akhir kepengurusan Mas Djoko Siswanto yaitu sekitar tahun 1990, pemerintah pada saat itu mengeluarkan peraturan yang merupakan sinyal pencabutan terhadap aturan NKK-BKK yang sudah lama berlaku salah satunya di kampus ITB. Setelah keluar peraturan tersebut, PATRA berinisiatif untuk membentuk suatu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga himpunan agar nantinya himpunan ini bisa memiliki legitimasi yang lebih kuat dan bentukan yang lebih jelas dan terus berkembang menjadi lebih baik lagi. Walaupun pada kenyataannya ketika proses pembuatan AD/ART tersebut masih berlangsung, Mas Djoko Siswanto harus meninggalkan kampus karena masa studi yang telah selesai dan kepengurusannya pun dilanjutkan oleh Mas Usman Pasarai TM ’87.
Pada periode 1986-1990 diatas, tersebar paradigma bahwa minyak mentah di dunia akan segera habis dalam kurun waktu sekitar 10 tahun. Namun pada kenyataannya, dunia teknik perminyakan pada saat itu sedang dalam masa pengembangan teknologi baru yang disebut secondary recovery dan Teknik Perminyakan ITB pun menjadi salah satu program studi yang dituntut untuk bisa mengembangkan teknologi tersebut. Walau paradigma minyak habis itu tetap beredar tapi tak membuat mahasiswa Teknik Perminyakan ITB kesulitan mencari pekerjaan setelah lulus menjadi sarjana dari ITB karena pada saat itu pun harga minyak masih relatif tinggi sehingga pihak industri pun masih membutuhkan banyak lulusan dari Teknik Perminyakan untuk membantu industri mengembangkan dunia migas di Indonesia maupun Internasional. Hipotesa yang beredar berkaitan dengan harga minyak yang cukup tinggi pada saat itu dengan gelagat mahasiswa Teknik Perminyakan ITB pada saat itu adalah terciptanya suasana yang kondusif dari dalam diri banyak mahasiswa untuk mengembangkan diri dalam berkegiatan di luar dunia akademiknya karena tidak ada kekhawatiran soal sulitnya lapangan kerja nantinya setelah menjadi sarjana. Tapi entah benar ataupun tidak, tetap saja pada masa ini banyak hal yang lebih fundamental dan menjadi alasan kuat mengapa pergerakan mahasiswa pada umumnya di ITB dan di PATRA pada khususnya masih diganderungi oleh banyak mahasiswa pada masa itu meskipun sempat kebingungan dan kelimpungan akibat represifitas pemerintah melalui kampus yang memaksa mahasiswa perlu mencari bentukan baru dari gerakan-gerakan kemahasiswaannya.
272 : Sedikit yang Tertinggal (1)
Kiranya sudah lama sekali aku tak menulis, mungkin ada hampir sekitar dua bulan lamanya. Waktu memang tak terasa karena memang dia berjalan begitu saja tanpa mau menunggu kita yang tak kunjung beranjak pergi tuk meninggalkan diri yang senantiasa berdiam tanpa henti. Disini mungkin aku hanya ingin mengingat-ingat dan mencoba memaknai apa yang telah ditinggalkan Sang waktu dan diriku agar aku tak membuat generasi setelahku terseret dalam kelembaman pergerakan atau minimal pemaknaan tentang kenyataan-kenyataan yang akan dihadapi nantinya.
1. SIK, Sidang Istimewa Kongres
Entah kapan tepatnya kegiatan ini terlaksana, aku sudah lupa. Tapi yang pasti ada beberapa hal yang masih saja menggelitik pikiranku bila kuingat tentang bagaimana dan apa yang dihasilkan dari kegiatan yang katanya merupakan salah satu kegiatan paling “istimewa” dalam sejarah per-kongres-an pada tahun ini. Mengapa tidak? Sebuah kegiatan berforum dan berdiskusi antar para elit demokrasi kampus ini yang bisa mengubah, entah dalam artian mengurangi atau menambah, arsip-arsip legal formal yang dimiliki kampus ini dan tentunya berimplikasi pada kehidupan sistemik yang akan dijalankan oleh setiap komponen KM ITB kedepannya. Kegiatan ini bagiku cukup menguras tenaga dan pikiran banyak manusia sebab banyak hal yang ingin diubah dalam sidang ini, seingatku ada enam poin yang menjadi bahasan dalam sidang ini. Proses persiapannya pun cukup panjang, setauku, dimulai dari kajian dasar dari internal pihak kongres sendiri yang menghasilkan draft yang selanjutnya dibawa oleh para senator ke rumahnya masing-masing dan di-”cerdas”-kan lah anggota-anggota himpunannya untuk bisa memiliki suhu yang sama dan dimintalah kami ini untuk berpikir dan memberikan pendapat hingga tercipta setiap sikap untuk setiap bahasan yang ingin dibawa lagi oleh setiap senator ke dalam kongres kembali. Setelah semua senator pulang kembali ke kongres, maka dimulai lah hari-hari yang, katanya, melelahkan bagi para elit demokrasi tersebut.
Aku tak pernah banyak berharap bahwa pandangan dan sikap dari lembgaku, tentunya bersama beberapa lembaga yang sering menjadi tandem diskusiku, akan dimenangkan dalam kontes perbaikan sistem ini sebab sejak masa “kepulangan” para senator ke rumahnya masing-masing seolah setiap senator sudah memiliki pandangannya sendiri yang entah muncul dari pribadi atau arahan dari atasan yang sedang bekerja pada saat itu. Tapi ya sudahlah bukan hal itu yang menjadi penting saat ini karena toh sidangnya pun telah usai dan beberapa poin yang diatur sudah bisa kita rasakan dampaknya walau masih sedikit. Disini aku hanya ingin menuliskan saja beberapa pandanganku tentang sikapku terkait beberapa isu yang dibahas pada kegiatan ini, salah satunya adalah penghapusan sebuah lembaga bernama tim beasiswa.
Sempat kubaca saat kumasih duduk di bangku kuliah tahap persiapan bersama bahwa ada sebuah lembaga yang bersifat sosial dan non-politis yang merupakan salah satu komponen KM ITB dibawah arahan kongres bernama tim beasiswa. Sempat juga ku terpaparkan tentang apa yang dikerjakan oleh lembaga tersebut semasa TPB dulu. Mereka menghimpun dana dari pihak luar kampus, membuat sistem distribusi yang baik kepada mahasiswa yang membutuhkan, mengurusi pendidikan anak-anak afirmasi dari beberapa daerah dengan bekerja sama bersama beberapa lembaga di kampus ini, hingga berkoordinasi dengan pihak himpunan dan fakultas terkait pendataan dan pengurusan kebutuhan-kebutuhan pembiayaan kuliah mahasiswa yang berkebutuhan. Dahulu tak begitu kupikirkan tentang keberadaan lembaga ini hingga suatu ketika(tepatnya saat aku TPB) aku dipanggil oleh salah satu komponen lembaga lain yang menurutku punya arah dan tujuan yang sama soal “kesejahteraan” mahasiswa. Pada saat itu aku sedikit kebingungan tentang adanya dua lembaga yang berbeda tempat namun mengurusi hal yang bagiku cukup sama karena tentunya akan menjadi inefisiensi bagi sistem besar yang namanya KM ITB ini.
Waktu pun berlalu hingga akhirnya aku mengerti, menurut versiku, bahwa memang ada yang tidak baik dalam keberjalanan sistem besar ini salah satunya dalam kelembagaan “kesejahteraan” mahasiswa. Aku merupakan salah satu orang yang sangat menolak ketika ada wacana dalam sidang bahwa lembaga tim beasiswa akan dihapuskan dan fungsinya akan diserahkan kepada kabinet yang toh katanya selama ini juga sudah menjalankan fungsi tersebut diantara beberapa fungsi kerja lainnya. Bagiku hal ini merupakan suatu upaya penyelewengan fungsi kabinet secara perlahan hingga bisa jadi nantinya kabinet akan selalu menjadi lembaga yang sibuk dengan urusan domestik “kesejahteraan” mahasiswanya dan melupakan fungsi alamiahnya sebagai lembaga yang harusnya dinamis dalam memperjuangkan banyak hal lain diuar “kesejahteraan” mahasiswa ITB. Fungsi dari kabinet bagiku lebih besar dari hanya sekedar mengurusi “kesejahteraan” karena bagiku yang menganggap bahwa kabinet merupakan lembaga sosial-politik harusnya lebih mampu untuk mendinamisasi kampus ini untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang muncul dari luar kampus ini. Bagaimana maksudnya? Ambil saja satu contoh, kita sama-sama tahu bagaimana sistem pendidikan di negeri ini berjalan. Kabinet lah yang seharusnya menjadi lembaga yang cepat tanggap dalam proses dinamisasi kampus untuk menjawab permasalahan tersebut dengan memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh KM ITB. Mungkin simple nya erat kaitannya fungsi eksternalitas sebagai pemenuhan peran mahasiswa dalam sistem sosial yang lebih besar dengan fungsi kerja kabinet itu sendiri. Entah mengapa aku malah melihat bahwa kabinet terlalu terbebani bila hal domestik yang bersifat personal mahasiswa(meskipun kesejahteraan ini diurusi secara kolektif). Hal lain yang menjadi aneh adalah ketika kabinet harus berurusan dengan pihak rektorat atau pihak terkait untuk mengurusi penyikapan terhadap ketidak idealan yang terjadi di dalam kampus tapi di sisi lain kabinet masih bergantung pada rektorat tentang pengurusan “kesejahteraan” mahasiswa, inilah yang menurutku bisa membuat kabinet seolah dilema tentang bagaimana harusnya bersikap. Bila konsepsi menyatakan bahwa KM ITB harus menjadi lembaga yang berjalan dengan efektif dan efisien, aku tak melihat itu bila kini masih saja kabinet kita harus diberi beban yang seharusnya bisa diberikan kepada lembaga lain yang nantinya akan membuat kinerja KM ITB kita semakin efektif dan efisien karena semua sesuai dengan tempatnya.
Sikapku pada saat itu adalah tentang perubahan fungsi kerja dari tim beasiswa (tentunya dengan mengganti pula namanya) menjadi lebih luas, seluas lembaga “kesejahteraan” yang dimiliki oleh kabinet biasanya, dengan tetap menjadi lembaga sosial non-politis yang fokusnya bukan hanya mengurusi beasiswa tapi kesejahteraan seutuhnya. Lalu kabinet diberikan keleluasaan sebagai lembaga sosial-politik yang tidak diberikan beban untuk menjadi baby sitter bagi sekitar empat belas ribu mahasiswa disini dan lebih berfokus pada dinamisasi kampus untuk memenuhi peran mahasiswa dalam sistem sosial yang lebih besar (mulai dari kampus, regional, nasional, hingga internasional). Tapi dengan keadaan yang sudah menjadi hasil saat ini, biarkanlah aku menuliskan sikapku disini setidaknya untuk bisa dijadikan bahan bacaan bagi para pelanjutku kelak. Sikapku belum tentu benar karena aku bukan orang yang paling tahu, aku hanya bersikap sesuai ilmu dan pemahamanku.
Terlalu panjang lebar ternyata, tapi baiklah akan kulanjutkan. Hal lain yang kini sedang kurasakan dampaknya adalah soal periodisasi antar lembaga dalam KM ITB yang sudah ditetapkan oleh sidang untuk diselaraskan secara waktu telah menunjukkan kekurangannya yang sama-sama kita harus telaah dan jadikan perbaikan kedepannya. Kita baru saja mengesahkan dalam kerangka waktu saja soal periodisasi ini, tapi belum sampai ke kerangka proses atau penyelarasan proses dari periodisasi itu sendiri. Bila kita bicara soal periodisasi lembaga maka kita pun berbicara tentang peningkatan atau setidaknya demand lebih tentang partisipasi massa lembaga dalam prosesnya, karena kita semua sadar bahwa memang proses periodisasi menjanjikan banyak pembelajaran bagi banyak anggota yang terlibat didalamnya terutama pembelajaran tentang sistem dan identitas lembaga kedepannya. Kebutuhan partisipasi yang besar inilah yang belum kita perhitungkan matang-matang dari kesepakatan soal penyelarasan waktu periodisasi lembaga. Buktinya terdapat kekurangan partisipasi yang amat sangat, menurutku, dalam proses periodisasi terpusat dan beberapa himpunan karena fokus yang terpecah. Massa yang hadir hearing atau turut serta secara aktif dalam proses-proses lainnya seolah bingung dan tak tentu sikapnya terhadap semua proses ini apalagi ditambah keadaan ujian tengah semester dan sebulan menuju ujian akhir semester yang lagi-lagi merenggut fokus berkegiatan kembali pada habitatnya di kelas-kelas formal dan waktu luang mahasiswa. Mungkin kedepannya bisa kita selaraskan pula prosesnya entah dari giliran atau urutan antara lembaga terpusat dengan sektoral atau disesuaikan secara teknis atau operasional proses periodisasinya sehingga proses periodisasi yang selaras bukan hanya menjadi proses yang tak matang sejak awal hingga akhir tapi menjadi proses panjang yang berkelanjutan dalam pembangunan sistem dan pendidikan mahasiswa kebanyakan.
Pembahasan lain yang menjadi fokusku saat itu adalah tentang penentuan proses pemilihan MWA/WM yang biasanya dilakukan secara terbuka dengan partisipasi massa dan diwacanakan untuk diubah dalam proses pemilihannya dengan cukup hanya dipilih oleh kongres. Untungnya hal ini tidak terjadi, seingatku, sehnigga proses pemilihan umum tetap menjadi proses utama dalam pemilihan MWA/WM selanjutnya. Mengapa proses ini menjadi penting? Agar setiap mahasiswa bisa kembali berpikir tentang seberapa pentingnya posisi MWA/WM di dalam kelembagaan kita dan seberapa idealnya status MWA/WM kini yang masih saja mengurusi semua aspirasi, termasuk S2 dan S3, juga untuk membuat bargain dari MWA/WM sendiri semakin tinggi di mata mahasiswa ITB agar kedepannya proses kinerja dari MWA/WM tak terhambat karena ketidak tahuan atau ketidak pedulian mahasiswa atau lembaga lain kepadanya. Menjadi isu hangat di lembagaku tentang status MWA/WM yang katanya masih mengurusi mahasiswa S2 dan S3 padahal toh secara struktur mereka bukan bagian dari KM ITB dan MWA/WM menerima arahan kerja dari kongres yang notabene merupakan representasi dari mahasiswa S1 ITB. Inilah yang menurutku lebih penting dibahas juga selain daripada hanya membicarakan proses pemilihannya saja. Bagiku alangkah lebih baiknya bila kita bisa mengajukan untuk meminta slot dua orang di MWA yang nantinya akan menjadi representasi dari KM ITB dan non-KM ITB (S2 dan S3) karena toh secara kebutuhan sudah berbeda, mengapa? karena dari arah proses pendidikannya pun sudah berbeda antara mahasiswa S1 dan pasca sarjana sehingga akan lebih bijak bila ada dikotomi secara sistem dalam mewadahi kebutuhan tersebut. Lalu persoalan proses pemilihan kembali kutekankan adalah tentang proses partisipasi dalam pemebelajaran secara kolektif untuk perbaikan sistem dan pembelajaran pribadi mahasiwa, dan untuk kasus ini salah satu poin penting lainnya adalah peningkatan nilai MWA/WM di mata mahasiswa ITB kebanyakan.
Sidang istimewa memanglah istimewa, karena toh waktu enam hari(katanya dan mudah mudahan) bisa mempengaruhi keberjalanan sistem selama bertahun-tahun kedepan. Apapun yang menjadi keputusan sidang pada saat itu, marilah kita maknai sebagai kesadaran mulia dari mahasiswa yang ingin selalu memperbaiki diri dan sistem yang ditempatinya tanpa harus kita pikirkan benar salahnya(setidaknya untuk saat ini), tapi saranku tolong lihat dan perhatikan keberjalanan dari setiap hasil sidang ini. Bila tak sesuai dengan semestinya, segeralah kembalikan pada hakikatnya.
2. Kegiatan kolaborasi FEM 2015 dan Petroviro 2015
Dua kegiatan ini sudah berlalu hampir sejak satu setengah bulan yang lalu. Far East Movement 2015 merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan oleh himpunan-himpunan di timur jauh yang gerah dengan kegiatan kolaborasi yang biasanya kita lakukan hanya dalam rangka mempererat kekeluargaan antar anggota kita. Mengapa masih harus dipertahankan kegiatan yang hanya sekedarnya itu bila secara geografisnya kini kita semua begitu sangat dekat. Kami semua sudah berada pada satu lantai dan satu garis yang sama, interaksi antar anggota kita tak begitu sulit bahkan untuk tempat tidur sendiri sudah tak ada lagi batasan ruangan dan batasan waktu seperti biasa hahaha. Dari sinilah kami tersadar bahwa potensi keilmuan kami yang bisa dikatakan memiliki rumpun yang sama atau dekat bisa menjadi potensi dalam memberikan manfaat yang lebih dibanding hanya sekedar kegiatan hura-hura bagi kawasan sektoral kami saja. Maka diubahlah konsep kolaborasi yang dulu hanya sekedar gathering kini mendapat nilai tambah yang lebih dari sisi pemaparan tentang keselarasan keilmuan kami pada seluruh massa kampus dan mahasiswa diluar kampus ini. Kegiatan seminar terbuka pun menjadi salah satu langkah awal yang kita lakukan sebagai pembuka pergerakan kami di tahun-tahun berikutnya, seminar yang berisikan topik-topik soal energi dan sumber daya mineral ini dianggap cukup memberikan banyak manfaat terutama untuk mahasiswa diluar rumpun kami untuk memahami betapa luasnya rumpun ini dan membutuhkan banyak rumpun diluar kami sendiri. Tak lupa juga kami tetap adakan kegiatan bersifat gathering yang merupakan bentuk syukur kami dalam terlaksananya kegiatan keilmuan kami sebelumnya, tak begitu muluk harapanku dengan budaya baru ini hanya saja yang kuinginkan adalah budaya kolaborasi keilmuan ini harus dipertahankan dan dikembangkan menjadi bentukan yang lebih besar dampaknya karena kolaborasi pasti menyimpan potensi yang besar sehingga sangat disayangkan bila potensi dari sisi konten ataupun massa hanya disalurkan kepada kegiatan yang begitu-begitu saja. Seminar kolaborasi di tahun ini cukuplah menjadi langkah awal yang harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan langkah-langkah lebih besar karena bila tetap saja dipertahankan tanpa adanya perubahan itu sudah menjadi bukti bahwa kita masih berjalan di tempat kita memulai.
Salah satu follow up dari semangat berkolaborasi antar keilmuan yang kami lakukan pada akhir September kemarin adalah rangkaian kegiatan Petroviro 2015 yang ingin mencerdaskan mahasiswa se-Indonesia dan masyarakat umum tentang bagaimana seharusnya sebuah proses eksplorasi dan eksploitasi migas bisa menjadi proses yang memperhatikan dan tetap menjaga kelestarian dan pengembangan lingkungan secara berkelanjutan. Dengan rangkaian perlombaan dari sebelum acara utama digelar hingga seminar dan kegiatan perpisahan yang digelar dalam satu hari utama di akhir September kemarin. Salah satu yang menarik dari lomba yang diadakan adalah tentang bagaimana ide-ide inovasi dalam hal perbaikan lingkungan yang telah rusak akibat adanya proses eksploitasi migas yang buruk bisa dikumpulkan dan saling diuji hingga bisa menjadi ide yang matang. Juara dan trophy bukanlah hasil akhir yang dicari, toh ide yang dihasilkan dan disepakati sebagai ide terbaiklah yang sebenarnya kami cari untuk kami teruskan menjadi draft ajuan solusi kepada pihak yang berwenang dan bertanggung jawab dalam hal ini pemerintah untuk bisa mempertimbangkan dan mungkin merealisasikan solusi yang kami berikan. Sedikit gambaran, solusi yang kami hasilkan adalah tentang perbaikan daerah Lhokseumawe yang dahulu dengan PT. Arun LNG nya bisa menjadi kota petrodollar yang kini sudah tak lagi memilki taji dalam bidang ekonomi dan berdampak pada banyak bidang terutama lingkungan dan kesejahteraan masyarakatnya.
Dua kegiatan tersebut hanyalah sedikit gambaran yang ingin kuberikan pada para pembaca terutama para pelanjutku kelak bahwa jalan manfaat bagi keilmuan kita telah terbuka lebar, tentunya bersama dengan keilmuan lain agar semakin terakumulasilah kekuatan dan potensi kita semua sehingga pergerakan yang sinergis dalam artian berproses baik dan berdampak baik bisa terlaksana, karena memang itu kan yang katanya diinginkan para praktisi kemahasiswaan saat ini? Sinergisasi adalah tentang kesadaran akan posisi diri dalam sistem yang ditempati dan kemauan untuk saling melengkapi potensi yang dimiliki agar terbentuk sebuah optimasi peran sebagai satu kesatuan mahasiswa yang sama-sama ingin berbuat kebaikan untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.
Seratus Delapan Puluh Tujuh : Potongan Kisah dan Sikap
Awal bulan ini tetiba ada panggilan khusus untuk membicarakan suatu hal yang awalnya tak begitu aku pikirkan. Panggilan tersebut berkenaan dengan adanya undangan dari pemerintah kota bandung dalam hal ini Bapak Wali Kota Bandung yang mengundang secara langsung perwakilan dari BEM Bandung dimana KM ITB termasuk didalamnya untuk bersama-sama membicarakan program mahasiswa yang bisa dikolaborasikan dengan pihak pemerintah kota. Sekilas memang agenda dan tujuan itu tak begitu aneh, hingga penjelasan lebih lanjut pun ada. Dari pihak pemerintah kota mengundang untuk ikut bersama menuju Pantai Pangandaran dengan akomodasi ditanggung oleh pemerintah kota mulai dari transportasi hingga tempat tinggal, dan di daerah Pantai Pangandaran itulah diskusi bersama antara pemkot dan perwakilan mahasiswa akan dilaksanakan.
Pihak dari BEM Bandung (kecuali KM ITB) telah mengeluarkan sikapnya yakni tidak mengikuti kegiatan tersebut dengan berbagai alasan dan pertimbangan, seperti konten yang berlum terlalu siap hingga idealisme tentang kedekatan mahasiswa dengan pihak penguasa yang bisa berakibat buruk bagi rakyat. Aku tak begitu ambil pusing soal sikap BEM Bandung itu, di forum itu aku bertanya tanya soal apa sikap yang akan diambil oleh KM ITB dalam isu ini. Bapak Presiden kita menjawab bahwa KM ITB akan ikut dan kabinet akan mengirimkan perwakilan walaupun HMJ tak mengirimkan perwakilan sekalipun, sebab hal ini merupakan konsekuensi logis dari arah kebijakan dan arah gerak dari kepengurusan kabinet saat ini yang mengusung kolaborasi antar instansi dan organisasi dalam hubungan timbal balik yang baik.
Oke, informasi-informasi itu sudah cukup terang bagiku. Aku mencoba bertanya pada diriku sendiri soal isu ini dan bagaimana aku menyikapinya. Secara lembaga memang kurasa aku belum begitu menyertakan pandangan massa soal ini, disitu kesalahan yang kulakukan dan dengan menuliskan ini aku mencoba menuliskannya. Akhirnya secara lembaga aku memutuskan untuk tidak ikut serta dalam kegiatan ini karena beberapa alasan seperti adanya agenda yang berbenturan dengan kegiatan tersebut dan tidak adanya kepentingan dengan pemerintah kota dalam program himpunan. Dangkal memang pertimbangan yang kuambil sebagai seorang ketua lembaga pada saat itu, tapi setidaknya hal itu dibutuhkan karena langkah taktis sangat penting untuk diambil dengan melihat keadaan anggota yang sedang sibuk berkuliah pada hari itu dan fokus mempersiapkan agenda yang akan dihadapi (agenda yang bentrok tadi).
Namun, secara pribadi akhirnya aku bersyukur telah mengambil keputusan itu untuk lembaga ini. Sebab ada beberapa hal yang setelah aku diskusikan dengan beberapa orang menuju pada jawaban yang sama dengan pertimbangan lain. Kegiatan bepergian ke pangandaran ini sejatinya harus menjadi kegiatan yang memiliki itikad baik dan menjadi fasillitas bersama-sama antara pemerintah kota dengan perwakilan mahasiswa untuk memikirkan pengembangan Kota Bandung. Tapi ada beberapa hal yang patut dipertanyakan, dari manakah dana yang digunakan dalam kegiatan tersebut (terutama dana yang digunakan untuk memberikan akomodasi gratis kepada para mahasiswa)? Mengapa kegiatan tersebut harus diadakan diluar kota? Apakah kegiatan berdiskusi soal Kota Bandung adalah kegiatan utama disana atau malah kegiatan sampingan saja? Dan satu pertanyaan lain lagi yang aku tujukan pada lembaga besar kampus ini, mau memposisikan diri seperti apa KM ITB ini dalam kegiatan itu?
Tetiba ada sedikit percakapan yang membuatku benar-benar berpikir dan mengambil sikap ini pada malam itu :
G: “Ada nasihat buat saya?”
U: “Soal jalan bareng RK ya? Kalo dari saya sebenernya soal positioning diri kita sebagai KM ITB aja yang masih belum begitu jelas,meskipun nanti bukan soal pernyataan sikap tapi kita harus berbuat seperlunya sesuai tujuan dan kejaran yg kita miliki. Selebihnya lebih baik ga dilakukan atau kalo mau ya pisah rombongan saja (hal ini untuk menanggapi desas-desus yang beredar soal dana yang digunakan milik siapa dan seharusnya dipergunakan untuk apa).Saya bukan menyarankan untuk menutup diri kita sebagai mahasiswa pada pihak pemerintah,tapi saya hanya meminta kita bersikap seperlunya dan tetap berhati hati,yang kita lakukan ini langkah politis banget soalnya meskipun kata Putu bahwa RK tidak berafiliasi sama parpol manapun tapi tetep aja RK kan pemegang kebijakan publik disini jadinya sinisme dari media(walaupun terkadang sering dibilang kalau RK itu temannya media tapi siapa yang tau kan) yg bisa saja terjadi nantinya akan mencoreng nama baik mahasiswa di berbagai kalangan.”
Dua hari berselang, kawanku mengabarkan bahwa dia telah kembali ke Kota Bandung dan langsung saja kami bertemu untuk berbincang soal kegiatan yang kemarin dia ikuti bersama beberapa perwakilan KM ITB. Soal menyoal dana dan kegiatan apakah itu mungkin sudah sedikit terang bahwa sebenarnya pada kegiatan itu yang diundang bukan hanya perwakilan dari mahasiswa saja melainkan banyak juga dari perwakilan komunitas dan perwakilan perkumpulan-perkumpulan pemuda lainnya. Selain itu dari pihak pemerintah kota yang hadir adalah Bapak Wali dan beberapa perwakilan dari Dinas Pemuda dan Olah raga Kota Bandung, akhirnya jelas bahwa dana yang digunakan adalah dana milik Dinas Pemuda dan Olah raga yang katanya penyerapannya masih kurang sehingga dibentuklah kegiatan ini. Pertanyaan mengenai mengapa harus diluar kota dijawab dengan jawaban yang menurutku masih kurang bisa diterima(karena bila dilakukan tidak di tempat itu pun masih bisa didapatkan kejarannya) bahwa kegiatan keluar kota ini merupakan upaya kultural yang ingin dibentuk oleh pemerintah kota bersama para pemuda yang hadir pada saat itu.
Persoalan diatas sudah bukan menjadi fokus utama lagi karena hal itu sudah terjadi dan tak bisa diulangi lagi, tetapi tetap harus ada pembelajaran yang bisa diambil oleh seluruh mahasiswa disini baik yang ikut serta ataupun tidak. Pada kegiatan tersebut diceritakan(oleh kawanku ini) bahwa pembawaan anak-anak KM ITB sangatlah kaku dan terkesan kikuk menghadapi semua yang terjadi dalam kegiatan tersebut. Mungkin hal ini merupakan implikasi dari desas-desus yang beredar di kampus soal kegiatan ini tepat setelah mereka (para perwakilan KM ITB) itu memutuskan untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Hal ini ditambah pula dari cerita kawanku yang lain bahwa anak-anak KM ITB jadi dipandang seolah sangat resisten dan sukar bergaul atau bersosialisasi dengan orang-orang disana entah karena apa sehingga membuat pandangan yang kurang enak dari sisi perwakilan lain (diluar KM ITB) dan pihak pemerintah terhadap KM ITB pada saat itu.
Selama menjadi mahasiswa, persoalan yang harus diusung adalah bukan tentang benar salahnya sikap yang diambil. Tetapi lebih kepada bagaimana caranya kita bisa selau menyikapi sesuatu dengan dasar-dasar pemikiran yang kita miliki dan tidak bersikap adalah suatu hal yang harus dihindari oleh seorang mahasiswa. Dari fenomena ini aku belajar pula satu hal bahwa ketika kita sudah bersikap dalam suatu hal maka kita harus konsisten dengan sikap kita. Bila kita sudah bersikap untuk menolak satu hal maka kita harus bisa mempertanggung jawabkan hal itu dengan memberikan dasar-dasar dari pilihan kita dan tetap mendukung hal-hal esensial dari sikap lain yang diambil oleh mahasiswa lain (maksudnya adalah bila kita tak setuju dengan metodenya maka dukung tujuannya dan tetap beri masukan agar bisa dicari jalan terbaiknya untuk semua), lalu bila kita sudah bersikap untuk ikut serta atau mendukung suatu hal maka kita harus bisa melihat dinamisasi yang terjadi di lapangan dan bisa menyesuaikan diri dengan hal itu tanpa harus menanggalkan atau mengikis sikap yang telah diambil. Dalam kasus ini, aku berpesan kepada kawan-kawan yang pada saat itu kebingungan dalam bersikap di lapangan setelah memutuskan untuk ikut dan akhirnya menjadi kaku dalam pembawaan (berdasarkan kisah dari kawanku) bahwa sebenarnya lapangan itu dinamis dan jangan sampai sikap yang kawan-kawan telah ambil itu terkikis hanya karena kawan-kawan tak bisa beradaptasi dengan lapangan. Ke kaku an yang terjadi malah bisa menimbulkan sinisme terhadap sikap yang telah kawan-kawan ambil dan tidak menunjukkan kedewasaan dari pilihan yang telah ditetapkan. Dengan tulisan ini semoga aku dan para pembaca bisa semakin belajar soal sikap diri kita sebagai mahasiswa terhadap segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan kita hadapi nantinya.
Seratus Delapan Puluh : Kisah Akhir Bulan
Tak terasa sudah memasuki hari ke seratus depalan puluh dan terakhir kali aku menulis adalah tepat dua puluh hari yang lalu. Dalam rentang waktu dua puluh hari itu cukup banyak kejadian yang membuatku belajar dan membuat himpunan ini (seharusnya) belajar juga.
Pada pertengahan bulan Agustus kemarin kami berkunjung ke kampus UPN di Yogyakarta dengan niatan berbagi dan mencari pandangan soal organisasi, soal himpunan, soal sebuah isu energi yang sedang marak diperbincangkan, dan soal keadaan kampus juga perkuliaahan disana. Kisah lengkap soal kunjungan mungkin bisa dilihat pada aplikasi “induk data eksternal” milik kewakahiman eksternal PATRA, namun ada beberapa hal yang sangat aku senangi dalam kunjungan kami kemarin. Pertama, soal harmonisasi lembaga yang terjadi dalam tubuh organisasi mahasiswa terknik perminyakan mereka. Dalam struktur organisasi mahasiswa teknik perminyakan mereka terdapat beberapa organisasi semi otonom yang dinaungi oleh organisasi utama bernama himpunan mahasiswa teknik perminyakan. Organisasi semi otonom tersebut seperti IATMI, SPE, Muslim TM UPN, dan empat organisasi lain didalam himpunan mahasiswa teknik perminyakan UPN memiliki garis besar kerja yang jelas dan tak saling tumpang tindih baik antar organisasi semi otonom tersebut atau dengan divisi-divisi yang menjadi kelengkapan himpunan mahasiswa teknik perminyakan itu sendiri. Kesulitan paling sering dihadapi hanya soal waktu penempatan kegiatan, namun jenis kegiatan yang dilakukan telah bisa disesuaikan dari arahan ketua himpunan kepada setiap organisasi dan setiap divisi yang ada didalam himpunan mahasiswa teknik perminyakan UPN.
Sering jadi pertanyaan dalam benakku apakah bisa suatu saat nanti hal itu terjadi disini, di himpunan mahasiswa teknik perminyakan ITB? Kukira dengan melihat keadaan disana harus ada beberapa hal yang dimiliki oleh seorang ketua himpunan yang menaungi banyak organisasi semi otonom dibawahnya, terutama IATMI dan SPE. Kedua organisasi tersebut memliki standarisasi tersendiri dari organisasi pusat mereka yang harusnya dipahami pula oleh seorang ketua himpunan agar arahan yang nantinya diberikan tetap bisa menunjang pemenuhan standar dari organisasi tersebut. Beberapa orang disini mungkin akan bingung saat membaca paragraf awal tulisan ini, tapi mungkin beberapa orang akan mengerti karena arah pikiranku menuju pada satu pertanyaan saja “bisakah kita mencoba hal ini atau ada cara lain yang bisa membuat optimasi pendidikan anak TM ITB diluar kelas (terutama dalam organisasi di teknik perminyakan ini) bisa semakin baik?”
Kedua, aku melihat di setiap pintu depan semua ruangan milik program studi teknik perminyakan disana terdapat tulisan yang berisikan visi dan misi program studi teknik perminyakan UPN. Tak ada satupun ruangan disana yang tak ditempeli tulisan tersebut. Aku berpikir bahwa ini merupakan salah satu cara paling efektif untuk selalu menyadarkan kepada seluruh civitas academica TM UPN disana bahwa sebenarnya semua proses yang dialami dan dijalankan secara bersama-sama disana adalah menuju pada suatu tujuan yang jelas sebagai sebuah program studi teknik perminyakan. Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri, di sebelah manakah penyadaran itu dilakukan di tempatku saat ini? Mungkin di dalam kelas saat kami belajar ya mungkin sedikit-sedikit terkadang disinggung juga, namun hal itu belum cukup menurutku. Point pentingnya bukan soal tempelan visi misi di setiap pintu yang ada, tapi soal bagaimana tujuan bersama (sebagai suatu civitas academica TM) yang terwujud menjadi visi dan misi program studi tersebut bisa menjadi virus yang menghinggapi setiap diri civitas academica disini agar setiap hal yang sudah, sedang, dan akan dilakukan bisa dimaknai sebagai salah satu upaya pemenuhan tujuan bersama tersebut dan juga menjadi semangat bersama dalam menjalani semua proses yang ada dalam program studi ini.
Beberapa waktu setelah kunjungan tersebut, terjadilah kejadian yang dalam pikiranku bukan merupakan kejadian yang aku inginkan. Kejadian tersebut merupakan bagian dari keberjalanan kegiatan OSKM yang melibatkan partisipasi massa kampus secara aktif. Ya, kegiatan yang menamakan dirinya dengan nama “Kumpul Massa”. Mungkin kegiatan itu akan kunamai sebagai “Kebodohan 2.0″, mengapa? Karena memang itulah yang aku lihat. Bukan berarti aku menghina pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan itu, namun nama itu aku pakai untuk menandai kejadian mana yang membuktikan bahwa diri ini (mungkin kita juga) masih harus banyak belajar agar tak terjadi lagi hal seperti itu.
Berawal dari forum yang tak begitu jelas arahnya tentang pencarian alasan untuk dibentuknya suatu metode yang pada saat itu belum terbayang atau mungkin sudah terbayang apa akhirnya dalam benak beberapa orang. Soal forum dan keberjalanannya aku tak begitu banyak ambil pikir, tapi yang jadi sorotan pada saat itu adalah keterbukaan dari kedua belah pihak yang tak begitu jelas terlihat. Satu sisi dari para eksekutor seolah menunjukkan bahwa mereka tak begitu punya kebutuhan akan adanya sebuah metode yang nantinya disebut dengan “Kumpul Massa” dan mengembalikan bahwa seharusnya itu menjadi kebutuhan dari massa kampus yang hadir pada saat itu. Di sisi lain, massa kampus pun tak begitu terbuka untuk mengakui bahwa sebenarnya lembaganya tak begitu bisa dikondisikan untuk setidaknya concern pada setiap proses yang terjadi dalam masa-masa perencanaan dan persiapan OSKM ini. Akhirnya setelah berputar putar kami pun bersepakat bahwa ada satu alasan bersama yang menjadi dasar dari dibutuhkannya sebuah metode dan adanya kebutuhan bersama dari semua pihak (baik eksekutor maupun massa kampus) untuk membentuk dan menjalankan sebuah metode yang pada saat itu disepakati bahwa metode yang perlu digunakan adalah metode kultural yang membuat berkumpulnya banyak orang dalam satu waktu dan satu tempat untuk membicarakan satu hal, OSKM.
Forum kedua dibentuk pada hari lain dan entah mengapa keluar kebutuhan lain yang tak disepakati pada forum pertama dari pihak eksekutor. Sejujurnya aku tak begitu ambil pikir soal itu, karena pada dasarnya tujuan tambahan itu adalah hal baik pula yang masih relevan dengan kesepakatan pada forum pertama. Tapi, ada hal yang sangat aku soroti pada forum itu dan forum ketiga yang dinamakan forum sosialisasi. Pada forum kedua, hal yang dibahas adalah bentukan metodenya saja tanpa adanya pembahasan konten dan flow materi atau setidaknya flow kegiatan yang akan dijalankan bersama-sama. Pembahasan metode pun berakhir dengan dihasilkannya tiga pilihan metode yang akan dipilih dan dijalankan nantinya. Namun, pada forum ketiga semua seolah sudah beres dengan sendirinya. Tiba-tiba semua seolah sudah diatur oleh salah satu pihak saja, mulai dari hal teknis hingga konten yang akan diberikan. Setelah itu, setiap lembaga dibebaskan untuk membentuk metodenya dan dibebaskan untuk berkoordinasi dengan lembaga lain tanpa adanya koridor yang jelas (walaupun ada dan menurutku itu bukan suatu koridor yang jelas). Aku tak menyalahkan siapa-siapa disini, namun bila harus menunjuk maka aku akan tunjuk semua pihak yang terlibat termasuk diriku sendiri. Mungkin kami yang begitu malas atau tak siap dalam mempersiapkan metode ini yang seharusnya bisa menjadi salah satu momen dimana setiap orang bisa menjadi bagian dari OSKM, atau mungkin kami yang begitu bodoh sehingga tak tahu harus bagaimana mempersiapkan semua ini. Entahlah, tapi yang aku lihat dan aku rasakan dalam proses persiapan itu semua seolah berjalan baik karena kita tak benar-benar menjalankannya. Waktulah yang menjalankannya dan memaksa kita untuk mengikutinya, tak terlihat koordinasi yang baik dan tak terlihat kesamaan frame yang membuat metode itu seolah hanya milik lembaga atau pihak masing-masing.
Akhirnya para panitia OSKM angkatan 2014 lah yang menjadi korban kebodohan. Mereka seolah melihat bahwa kami semua tak mengerti apa-apa selain tampil di depan umum dan berbuat sesuka hati. Mungkin memang tidak semua lembaga berbuat hal itu, tapi semua ini harus ditanggung bersama. Salah satu komponen OSKM sudah terluka dan para panitia angkatan 2014 lah korbannya pada saat itu. Sepertinya aku cukup sepakat dengan opini salah seorang mahasiswa bahwa “pada malam itu kebanyakan lembaga seolah hanya membuat hiburan bagi dirinya bukan membuat pembelajaran bagi para panitia.” Ya mungkin kebodohan 2.0 ini akan jadi paksaan bagi kita untuk belajar agar tak terjadi kebodohan 2.0 yang sama suatu saat nanti.
Ada satu kisah lagi yang menarik di akhir Agustus kemarin, tentang terkuaknya sisi lain dari sejarah munculnya nama himpunan ini. PATRA, nama himpunan kami yang selalu kami dengar dan ceritakan pada orang lain adalah berasal dari sebuah nama lapangan minyak terbesar yang pernah ada di suatu daerah di dataran eropa dengan cadangan yang sangat besar. Dari situlah nama PATRA muncul karena nama lapangan tersebut adalah gulf of PATRA dengan harapan bahwa para anggota himpunan pada saat itu hingga suatu saat nanti bisa memiliki semangat yang besar sebesar cadangan minyak yang terkandung di gulf of PATRA dalam membuat perubahan di industri migas dan di negeri ini. Mungkin dari situlah muncul slogan “PATRA besar, PATRA kuat” yang selalu dikumandangkan oleh anak anak himpunan ini. Tapi ternyata memang semua hal pasti memiliki sisi yang lain dari dirinya, kisah lain itu kami dengar dari salah satu dosen kami saat kegiatan silaturahmi yang kami lakukan bersama dengan dosen dan TU teknik perminyakan. Diceritakan bahwa dahulu itu ada sebuah merk minyak di daerah Jawa tengah atau timur yang cukup terkenal dengan nama “minyak potro”. Karena keadaannya pada saat itu banyak anak teknik perminyakan berasal dari daerah sana maka nama himpunan diberi nama “POTRO” lalu karena disini tanah sunda dan nama itupun diserap dengan logat sunda menjadi “PATRA”. Entah kisah mana yang benar, tapi keduanya memiliki keunikan masing-masing. kisah lapangan minyak terbesar yang konon ada pada masa itu menjadi penekanan filosofis terhadap semangat para anggota himpunan pada saat itu, dan kisah soal nama sebuah merk minyak yang terkenal menjadi sebuah penekanan bahwa kita memang anak minyak hingga himpunan kita pun bernama sebuah merk minyak terkenal pada masa itu.
Pembukaan Masa Penerimaan Anggota Baru telah membuka pandangan baru terutama pada salah satu budaya yang hingga kini masih dipertahankan dalam himpunan ini. Budaya berjahim atau menggunakan jaket himpunan yang biasanya sering ditekankan sebagai bentukan kebanggaan semata kini sudah usang dan diganti dengan pandangan baru dari para anggota yang sama-sama membentuk dan menjalankan MPAB tahun ini. Dalam rangkaian pembukaan kemarin banyak hal yang ditekankan terkait hal ini dan salah satu yang bagiku paling penting adalah tentang fungsi pengingat bagi setiap anggota yang mengenakan jaket himpunan itu sendiri. Apa yang perlu diingatkan? Pertama soal peran, fungsi dan tugas sebagai seorang mahasiswa teknik perminyakan ITB dalam mengembangkan keilmuan dan keprofesian untuk kesejahteraan manusia secara umum. Kedua soal peran, fungsi, dan tugas sebagai seorang anggota himpunan mahasiswa jurusan teknik perminyakan yang memiliki tujuan untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan. Dan ketiga soal peran, fungsi, dan tugas sebagai seorang mahasiswa yang harus selalu bisa berusaha untuk menjadi solusi atas permasalahan yang terjadi. Munculah pemaknaan baru sejak saat itu juga bahwa berjahim bukan hanya sekedar menunjukkan kebanggaan, tapi menunjukkan sebuah pertanyaan besar bagi si pemakai tentang sudah sejauh mana pelaksanaan peran, fungsi, dan tugas sebagai seorang mahasiswa teknik perminyakan dan anggota himpunan mahasiswa jurusan teknik perminyakan itu sendiri. Artinya, budaya berjahim itu merupakan budaya refleksi dalam keseharian tentang tiga hal diatas agar apa-apa yang kita lakukan selalu sesuai dengan apa yang semestinya kita lakukan.
“Akulah jingga kepedulian” “Akulah jingga keilmuan dan keprofesian” “Akulah jingga semangat berkemahasiswaan”
Tiga orang itulah yang secara sadar ataupun tidak pada prosesi pembukaan kemarin telah mengingatkan aku dan mungkin banyak anggota disini soal pemaknaan kembali pada budaya berjaket jingga ini.
Seratus Enam Puluh: Percakapan
H: “Bang, aing mau tanya sesuatu nih bang. Boleh ga nih?”
U: “Mau tanya apa boy?”
H: “Jangan marah tapi ya? Sebenernya aing bingung gitu bang, gunanya aing ikut-ikut kepanitiaan dalam himpunan itu apa? Ya apalagi kaya sekarang aing cuma jadi staff artistik yang kerjanya cuma gunting dan tempel barang gitu. Aing ngerasa kalo pembelajaran yang ditawarkan itu sangat sedikit dan malah terkesan jadi membuang waktu gitu.”
U: “Terus terus?”
H: “Ya aing sebenarnya kasian aja gitu bang sama anak-anak yang lain yang selama ini mungkin ga pernah ngerasain jadi mamet atau apapun yang menurut aing besar banget porsi pembelajarannya. Gimana tuh bang?”
U: “Ooooh, jadi itu yang mau ditanyain, hahaha. Jadi gini boy, bukannya kita udah pernah diskusi ya dulu? Oh baru dikit deng. Sebenarnya proses pendidikan di himpunan itu harus kita lihat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari komponen-komponen pendidikan yang tidak bisa kita saling pisahkan dalam proses kehidupan berhimpun. Proses pendidikan anggota di himpunan itu meliputi:
Kegiatan ber-divisi: kegiatan ini mencakup seluruh proses yang dijalani selama para anggota himpunan menjadi magangers atau menjadi staff dari divisi di badan pengurus himpunan ini. Kegiatan ini meliputi pengerjaan tugas harian, mingguan, atau bulanan yang merupakan kegiatan rutin divisinya seperti rapat divisi atau jalan-jalan divisi atau bahkan pengerjaan tugas yang tercantum dalam draft divisi tersebut. Kegiatan ber-divisi ini dianggap salah satu yang cukup besar peranannya karena sejak awal masuk himpunan sampai menjadi lulusan tetap bisa diikuti oleh setiap anggota di tingkat berapapun dia.
Kegiatan atau event pengembangan: kegiatan ini mencakup garis-garis kerja atau program kerja divisi kaderisasi yang secara struktur memang memiliki kewajiban untuk membuat kegiatan-kegiatan yang bersifat pengembangan. Kegiatan-kegiatan ini memang tidak banyak karena harus memperhatikan kegiatan lain dalam pelaksanaanya di satu tahun kepengurusan, namun kegiatan ini biasanya dirancang secara berkala dan disesuaikan dengan kegiatan pendidikan yang lain (salah satunya dengan kegiatan ber-divisi, karena kegiatan pengembangan ini biasanya digunakan sebagai checkpoint dari keberjalanan proses pendidikan anggota di himpunan agar himpunan melalui badan pengurus bisa mengevaluasi hasil pendidikan secara berkala). Kegiatan ini yang sering kita temui seperti kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru, terus kegiatan Latihan Kepemimpinan Organisasi, terus ada Latihan Kepemimpinan Lanjutan, dan kegiatan atau project-project lain yang dibuat oleh divisi kaderisasi.
Kegiatan atau event non pengembangan: aku masih belum menemukan nama yang pas buat komponen ini tapi setidaknya maksud dari penamaan ini adalah untuk menunjukkan bahwa ada kegiatan lain diluar kegiatan yang dibuat oleh divisi kaderisasi yang maksud dan tujuannya sama-sama untuk menjadi tempat berpendidikan bagi anggota himpunan. Kegiatan ini meliputi kegiatan-kegiatan seperti kajian, pewadahan minat dan bakat, kegiatan optimasi akademik, dan kegiatan-kegiatan lain yang dibuat oleh selain divisi kaderisasi pada badan pengurus. Semua kegiatan ini tak bisa dipandang sebelah mata karena kalau kita sadari bahwa sebenarnya secara kuantitas jumlah kegiatan ini jauh lebih banyak dibanding jumlah kegiatan pengembangan dan tentunya variasi kegiatannya memang jauh lebih luas juga sehingga harus disadari bahwa kegiatan ini memang penting juga untuk membantu mengakselerasi proses pendidikan anggota di himpunan.
Kegiatan kepanitiaan: Ini juga salah satu komponen yang mendukung sistem pendidikan anggota di himpunan. Biasanya komponen keempat ini erat kaitannya dengan komponen ketiga karena biasanya kegiatan-kegiatan non pengembangan dijalankan melalui sebuah kepanitiaan ad hoc (ya meskipun ada kegiatan pengembangan yang menggunakan panitia juga tapi tak sebanyak kegiatan non pengembangan). Kegiatan kepanitiaan termasuk salah satu komponen dalam sistem pendidikan anggota karena dalam proses keberjalanannya (terutama dalam kepengurusan tahun ini) lebih mengarah pada simulasi menjadi badan pengurus nantinya, makannya kenapa semua kepanitiaan di kepengurusan ini harus memiliki draft kerja yang jelas dan rinci juga dikonsolidasikan bersama badan pengurus untuk direvisi dan disepakati agar setiap pelaksana kepanitiaan terpaparkan lebih banyak soal salah satu kegiatan badan pengurus dalam menjalankan himpunan dengan program-program nya.
Sebenernya ada lagi sih satu komponen yang menurut aing bisa menjadi penyokong proses pendidikan anggota yaitu berkegiatan keseharian di himpunan (misalkan main ke himpunan, baca buku di himpunan, nonton tv atau kumpul-kumpul di himpunan, dan masih banyak lagi kegiatan keseharian yang bisa dilakukan di himpunan) tapi kegiatan ini nggak aing masukin kedalam salah satu kategori karena dalam pandangan aing cukup sulit untuk dibuat sebuah sistem yang nyata untuk kegiatan ini dibanding empat komponen diatas. Tapi aing ngga memungkiri kalo sebenarnya komponen ini juga sangat penting karena terkadang dengan kita berkegiatan di himpunan macam nginep atau lainnya kita jadi bisa makin banyak belajar dan mendapat ilmu dari proses interaksi yang dilakukan di himpunan.
Nah, yang perlu diingat adalah bahwa setiap sistem ga ada yang sempurna dong. Iya kan? Kesempurnaan sebuah sistem juga dipengaruhi oleh keberjalanan komponen-komponennya secara berkesinambungan dan ga sendiri-sendiri. Iya ngga boy?”
H: “Hmmmm iya iya ngerti bang, jadinya emang seharusnya kita bisa memandang semua hal di himpunan sebagai bentuk fasilitas yang diberikan himpunan untuk kita bisa mengembangkan diri gitu ya? Dan seharusnya emang kita bisa jalanin semua komponennya dengan baik, ya kan? Ya ditambah komponen terakhir tadi tentang berkeseharian di himpunan buat makin nambah ilmu juga dengan ngobrol-ngobrol atau apalah di himpunan. Jadinya aing dapet nih, berarti emang yang sedang aing lakukan ini adalah salah satu proses pendidikan bagi diri aing dalam hal lain (maksudnya hal yang diluar kebiasaan kegiatan aing gitu) dan aing ngga bisa mandang hal ini sebagai satu-satunya pembelajaran yang aing sedang jalani tapi bisa aing maknai sebagai salah satu komponen yang perlu didukung komponen lain gitu ya? Trus aing jadi nyadar juga, waktu nyiapin artistik kan kita di himpunan dan kita sambil ngobrol dan diskusi juga sambil motong dan nempel. Ya berarti seharusnya aing lebih menyadari aja ya. Hmmm bener bener, aing dapet bang point nya.”
U: “Ya silahkan simpulkan sendiri aja boy, aing cuma pengen jelasin secara umum aja kaya gitu. Takut terlalu mengarahkan, nantinya kita jadi sama sama ga mikir. Kalo menurutmu sekarang apa yang kamu lakukan ternyata mendukung proses pembelajaran kamu di himpunan (dengan pemahaman tentang sistem dan komponen dalam proses pendidikan diatas) ya syukur kalo gitu. Semoga semua anggota juga terpikir soal hal ini dan jadi terpacu untuk memaksimalkan semua komponen yang ada untuk tercapainya proses pendidikan yang lebih maksimal.”
H: “Okedeh bang, aing cerna dulu pemahaman aing ini. Makasih ya bang”
(Dengan sedikit perubahan pada beberapa sisi, tapi tidak mengubah isi pesan yang disampaikan kok):
F: “Oi, oi, oi! Lagi sibuk ngga?”
U: “Ngga, kenapa coy?”
F: “Gw baru buka pesbuk nih, menarik banget liat tulisan tulisan anak-anak MPAB maneh. Mau tau dong dasar maneh ngasih tugas-tugas seperti itu buat mereka kenapa ya? Ada hubungannya atau nggak sih penasaran. Hehehe”
U: “Oooh itu, kalo dasar-dasar dari tugasnya sebenernya emang materi dari MPAB itu sendiri, biar nantinya mereka semakin paham dan lebih memaknai aja setiap materi yang nantinya bakal mereka sampaikan ke angkatan baru. Inti tambahan dari tugas-tugas yang dikasih juga emang seputar pemberdayaan kemampuan mereka untuk kepentingan MPAB dan himpunan juga tentang kebermanfaatan dari tugas itu untuk perkembangan mereka dan untuk MPAB juga himpunan.”
F: “Oooh, trus kenapa harus beberapa aja dari mereka? Maksudnya kenapa justru ngga di floorin ke semua gitu, soalnya kayanya bagus gitu kalo semua panitia punya dasar berpikir why i must run MPAB dari tugas-tugas kaya gitu.” (terus doi ngasih link artikel---> http://www.newyorker.com/tech/elements/walking-helps-us-think)
U: “Hahahaha, harapannya emang buat semua pak, cuma aing mikir butuh media tambahan untuk menyampaikan semua maksud ini ke semua panitia dan akhirnya mereka lah yang aing anggep mungkin bisa jadi salah satu kanal untuk penyampaian semua ini ke temen-temennya. Karena emang harapannya dengan tugas-tugas mereka yang banyak berkaitan sama orang lain maka akan semakin banyak juga temen-temen mereka yang ikut terlibat dan ikut memaknai.”
F: “Owalah iya juga ya makin kurus ntar lo hahaha, entah kenapa makin kesini makin kerasa gitu pi sebenarnya yang bikin orang males itu karena gatau dasarnya kenapa harus ngelakuin ini ngelakuin itu. Nah pas liat cara maneh gini, jadi ngerti lah ternyata ada banyak cara buat bikin orang tau dasar dari sesuatu yang akan atau harus dikerjakannya hahaha.”
U: “Sepakat sih, emang sebenernya pertanyaan soal why itu harus bisa dijawab dengan sangat baik dan sebenar-benarnya sebelum kita menjawab soal how.”
F: “Nah sebenernya ngedeliver supaya bisa tau why itu yang paling susah, how nya mah bakal muncul pasti dengan sendirinya setelah why itu terjawab. Ya aing sih merasa sampai saat ini masih sulit dan berkutat pada pertanyaan tentang gimana caranya ngedeliver si why itu biar bisa nyerap ke semua orang.”
......................................................................................................................
Sepakat sih sama perkataan temanku semalam soal salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sebuah kepengurusan dalam himpunan itu adalah tentang penyampaian mimpi hingga ke tahapan memahami dan memaknai setiap proses yang ada di himpunan sebagai bentuk konkret dari upaya pencapaian mimpi itu. Tantangan besar himpunan adalah mimpi besar dari himpunan itu sendiri.
Seratus Lima Puluh Enam:(Sekitar) Setengah Tahun Lagi
Bulan Agustus telah berjalan lebih dari satu minggu, dan terakhir kulihat bahwa tulisanku belum bertambah sejak sebelum hari kemenangan di bulan lalu tiba. Entah mengapa seolah semua begitu mempesona sehingga membuat diriku terlena dan terlupa untuk terus memaknai dan terlebih lagi untuk berbagi.
Akhir bulan Juli bukanlah akhir dari pembelajaran baru, eksperimen program telah terjadi dan bagi kami terbukti berhasil untuk menjawab kebutuhan pada saat itu. Kegiatan malam wisuda yang kami satu padukan dengan kegiatan sharing bersama alumni dan dosen soal masa depan telah cukup banyak menghipnotis para mahasiswa, wisudawan, orang tua, bahkan dosen dan pegawai TU untuk sama-sama menikmati dan mengambil pelajaran dari apa yang dipaparkan. Bagiku? Aku melihat sebuah kehangatan dalam kegiatan tersebut, kehangatan yang tak hanya dirasakan oleh para pejuang kelulusan dan orang tuanya, melainkan dirasakan pula oleh seluruh manusia yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Wajah senang dan sumringah karena merasa ada nilai manfaat yang tak sekedarnya dari kegiatan ini telah kulihat dan tentu saja telah lama kudambakan.
Aku melihat sebuah kesempatan dan aku melihat adanya sebuah cara jitu dalam memberikan kesenangan sekaligus kebermanfaatan. Dari eksperimen kegiatan kemarin aku semakin tahu bahwa kita mesti peka dan mau untuk berpikir keluar dari kebiasaan agar bisa menghasilkan sebuah metode yang begitu berbeda. Tentunya dengan tujuan bermacam-macam; mulai dari sekedar menarik massa (bila hal itu saja yang diperlukan untuk berjalannya sebuah program, tapi bagiku tidak), atau menjawab sebuah tantangan perubahan (yang biasanya hal ini menjadi keinginan dari para badan pengurus baru yang terkadang tanpa mengetahui dasar dari perubahan itu yang penting berubah saja), atau soal kebermanfaatan dan hal baik lain yang dicoba untuk dirangkum dalam sebuah kegiatan yang tentunya berubah dari biasanya.
Setelah hari-hari kelulusan berlalu, himpunan mulai ramai didatangi anggota dengan berbagai cerita dari kampung halamannya. Tak sedikit dari mereka yang merasa takjub dengan keadaan himpunan yang berubah secara fisik, aku jadi teringat dengan semangat yang dibawa oleh salah satu divisi yang memang mengurusi hal ini. Semangat memanipulasi keadaan secara fisik supaya warga atau masyarakat atau anggota dari himpunan selalu merasa bahwa himpunan ini terus bergerak dan terus berbenah menuju kearah kenyamanan yang sesungguhnya, kenyamanan untuk berkegiatan. Seperti di tulisanku yang dahulu, kami tetap mempertahankan soal manipulasi ruang publik secara fisik di himpunan ini supaya ornag-orang selalu merasa berbeda ketika hadir di tempat ini. Perbedaan itulah yang kami yakini akan membuat setiap orang tergerak untuk lebih mencari tahu dan mengenali hingga akhirnya membuat mereka nyaman dengan keadaan disini.
Teringat salah satu diskusi yang asik dengan beberapa anggota di himpunan saat kami sedang bersama-sama mempersiapkan dekorasi dari kegiatan kelulusan.
U : “Kenapa ya, sedikit bingung sih aing. Kenapa sebegitu kompetitifnya gini kultur anak minyak, dan kompetisi yang dirasakan itu adalah komeptisi antar individu.”
A: “Wajar sih bang, apalagi kalo emang dari awal masuknya aja udah kaya seleksi dengan nilai terbaik. Tapi yang aku aneh itu soal kultur “pecinta pencapaian” dari anak minyak itu sendiri.”
U: “Maksudnya gimana tuh pecinta pencapaian?”
I: “Ya mungkin yang dimaksud dia tuh soal kenapa anak minyak selalu berusaha untuk mencapai pencapaian terbaiknya tapi secara pribadi. Cukup setuju sih apalagi ngeliat cukup banyak kegiatan sharing yang sering kita lakuin dengan tajuk yang hampir sama soal pencapaian pribadi saat ini.”
U: “hmm ngerti aing, mungkin ada korelasinya ngga sih sama keadaan kultur kita yang sangat kompetitif secara individu pada saat masih kuliah hingga akhirnya itu menjadi karakter yang tertanam hingga dunia pekerjaan atau dunia apapun yang diarungi setelah lulus?”
S: “iya sih aing setuju kalo ada korelasi antara kultur kehidupan di kuliah dengan karakter yang terbawa saat lulus nanti. Terus apa yang bisa dilakuin sama himpunan?”
U: “ngga ngga, kayanya ada satu hal lagi deh yang bikin itu semua bisa terjadi. Tapi disini kita ngga bicara kita bener atau salah ya, kita hanya coba menganalisa aja kenapa semua ini bisa terjadi.”
A: “Kayanya ada hubungannya deh sama proses pendidikan yang diterima seorang mahasiswa juga di himpunannya.”
I: “gimana tuh emang hubungannya?”
A: “ya aku sih ngerasa aneh aja selama kita misalkan di osjur kan selalu ditekankan soal maju bersama tuh, tapi kayanya ada satu hal yang lebih esensial tapi kurang ditanamkan selain doktrin kebersamaan semata yang bisa jadi bikin kita malah jadi eneg dengan yang namanya kebersamaan.”
U: “ah sepakat sih itu, aing pernah ngbrol dengan seseorang yang pernah mempertanyakan mengapa harus ada visi angkatan dan bagimana seharusnya visi angkatan itu dibentuk sejak masih menjadi mahasiswa. Selama ini kita ga pernah punya visi angkatan ngga sih? Yang aing tau itu kita cuma punya sebatas komitmen angkatan yang orientasinya hanya sekedar berkontribusi di himpunan saja. Padahal sebenarnya kan kalo kita sadari kita dibentuk disini bukan hanya untuk hidup di himpunan melainkan di dunia masyarakat yang lebih nyata setelah lulus nantinya.”
S, A, I: “trus gimana tuh harusnya soal visi angkatan itu?”
U: “ngga tau sih, cuma ya sekedar mikir aja setelah ngobrol sama seseorang itu bahwa sebenarnya yang lebih penting kan gimana caranya kita dengan keilmuan kita nantinya bisa memperbaiki keadaan dunia migas kita atau dunia keenergian kita kedepannya untuk kemaslahatan masyarakat kita dan dunia. Trus mungkin kita selama ini dilupakan atau memang lupa bahwa semua itu gak bisa kita lakuin sendirian, harus bisa dilakuin bersama-sama dengan adanya orang-orang kita di setiap lini yang tersedia. Visi angkatan yang seharusnya dibentuk itu soal bagaimana nantinya kita semua secara satu angkatan harus menjalani kehidupan setelah lulus secara bersama bukan perseorangan dengan pemahaman bahwa dunia migas kita gak akan bisa dipikul oleh seorang diri saja dari kita tapi harus dibagi dan dipikul bersama.”
S: “point nya berarti soal memaparkan keadaan dunia migas kita secara komprehensif ga sih di setiap waktu pendidikan anggota di himpunan? Sehingga nantinya kesadaran itu tumbuh dan mungkin inisiatif membuat visi bersama itu akan muncul juga walau bentuknya bukan tugas. Soalnya gini, kalo kita paksain di orientasi awal aja atau osjur aja itu gak mungkin karena pandangan soal keilmuan aja tuh masih belum banyak karena baru masuk jurusannya. Tapi dengan semua proses di himpunan setelah itu dan memasuki masa-masa tingkat tiga menurut aing udah cukup pas kalo kesadaran itu mulai di trigger ke tahapan selanjutnya soal visi bersama itu. Ya kaya seumur kita sekarang aja yang sedang menjabat di himpunan dan telah terpaparkan banyak kenyataan dan informasi yang beredar soal dunia migas kita.”
A; “sepakat sih bang, mungkin bisa jadi sebuah output dari pendidikan lanjutan yang biasanya himpunan lakukan dengan tajuk LKO atau LKL kaya tahun ini. Menurut aku juga penting sih visi bersama itu, soalnya nantinya aku yakin kalo dari visi bersama itu bakal terbentuk pembagian lini yang pas dengan kesadaran bersama bahwa setiap lini pembangunan dunia migas memang harus dari kita juga. Ngga akan ada lagi pandangan sebelah mata pada orang-orang yang memilih jalan akademisi, atau mengenyampingkan orang-orang yang memilih jalur pembuatan regulasi di pemerintahan, atau hanya mementingkan orang-orang yang menjadi pekerja atau teknisi di suatu company. Semua harus disadari secara bersama bahwa lini-lini tersebut dan lini lainnya dalam dunia migas kita harus ada yang mengisi dan kalo bukan dari kita siapa lagi coba? Penting sih visi angkatan dengan pemahaman akan dunia migas kita dari sisi keilmuan itu. Sepakat bang!”
Entah apa yang kami pikirkan pada saat itu, tapi yang pasti kami telah menyepakati satu hal bahwa core business himpunan adalah keilmuan dan dengan memaknai keilmuan itulah kita seharusnya bisa lebih kaya pandangan bukan cuma sekedar menjelma menjadi manusia pencari pencapaian pribadi atau memandang orang lain hanya sekedar peramai kompetisi. Karena keilmuan kitalah yang mengajarkan bahwa kemajuan dunia migas kita tak bisa terjadi bila tak ada yang mau mengisi di setiap lini dengan komitmen bersama untuk memajukan negeri.
Awal Bulan ini rapat koordinasi badan pengurus mulai bergulir lagi, isi dari rapat koordinasi tak jauh berbeda dengan rapat koordinasi sebelumnya. Mulai dari membahas timeline kegiatan secara mendetil dalam sebulan kedepan, lalu berlanjut pada pembahasan mekanisme organisasi yang berkaitan dengan seluruh bidang dan divisi agar tak lupa karena sudah lama tak berjumpa dan berkegiatan secara formal di himpunan, hingga penyamaan suhu kembali dan pembahasan mengenai permasalahan yang berkaitan dengan proses pendidikan anggota baik secara formal maupun informal di himpunan.
Rapat koordinasi kemarin dihadiri oleh beberapa wajah baru yakni para penanggung jawab sementara yang sengaja aku hadirkan untuk merasakan dan mengalami sesuatu yang, harapannya, bisa membuat mereka belajar dan menyebarkan pembelajaran ini kepada angkatannya. Para PJS ini kebanyakan berbeda dengan para PJS sebelumnya sehingga aku sadari bahwa sudah semakin banyak angkatan 2013 yang terpaparkan soal kepengurusan dan hal-hal berkaitan dengan himpunan.
Tak ada yang begitu spesial saat itu, semua berjalan seperti biasanya. Tapi, beberapa orang yang mungkin membaca hal ini akan mengerti apa yang aku rasakan saat rapat koordinasi kemarin. Aku menyembunyikan sesuatu yang mungkin hingga saat ini hanya beberapa orang saja yang tahu dan mengerti. Aku sembunyikan hal itu karena aku melihat wajah dan perasaan penuh harap dan tak sabaran untuk segera menyingsing hari esok yang merupakan setengah dari perjalanan kepengurusan kami tahun ini. Wajah-wajah itu aku lihat dari para badan pengurus dan para PJS yang hadir pada saat itu, semua seolah menunjukkan kembali rasa penasarannya terhadap keadaan himpunan setengah tahun kedepan. Rasa penasaran itu terpancar dari ide-ide dan tanggapan-tanggapan dari mereka di rapat koordinasi kemarin. Ide-ide yang tertrigger dari pemahaman bahwa draft adalah acuan minimal dari kegiatan kepengurusan dan ide-ide yang tertrigger dari rasa penasaran atas apa yang bisa dilakukan oleh masing-masing divisi untuk membuat perubahan berarti di himpunan secara bersama-sama sebagai badan pengurus organisasi.
Tak perlu banyak yang kutuliskan disini, tapi kalian harus mengerti bahwa tidak semudah itu untuk memutuskan bila keadaannya seperti ini. Ini aku hanya tunjukkan dari salah satu sisi saja, karena kurasa tak perlu dituliskan dari sisi pribadiku saat ini. Keputusan itu tak mudah kawan, karena mimpi ini belum semuanya terlaksana dan waktu masih terus berjalan. Biarkan aku menyelesaikan dahulu urusanku disini sambil menimbang-nimbang tentang apa yang akan dan seharusnya terjadi. Biarlah dulu, biarkanlah.
Seratus Empat Puluh : PROVOKATIF!
Tulisan kali ini hanya sekedar refleksi, bukan suatu teori-teori yang terkadang malah jadi tak dimengerti. Hanya kucoba tuk tuliskan saja.
Beberapa hari sebelum lebaran kemarin, terjadi beberapa perubahan dalam beberapa perencanaan kegiatan himpunan di tahun ini. Terhitung memang sudah memasuki setengah dari masa kepengurusan yang kami jalani dan aku berpikir bahwa memang sudah seharusnya kita meninjau ulang semua program kerja entah yang telah dijalankan ataupun yang akan dijalankan. Hal ini berkaitan dengan tulisanku yang pernah menyebutkan bahwa kelemahan dari draft kepengurusan yang dibuat di awal adalah kurangnya fleksibilitas dalam menghadapi dinamisasi organisasi di lapangan. Akhinrya terhitung ada beberapa kegiatan yang tadinya digabung dengan kegiatan lain akhirnya dipisahkan waktu dan konsep pelaksanaannya bahkan ada pula yang malah digabung dengan organisasi lain dalam waktu dan konsep pelaksanaannya. Kondisi-kondisi seperti diatas (ketika perencanaan yang dilakukan di awal kepengurusan ternyata tak mampu dijalankan ketika sudah memasuki beberapa tahap) bagiku adalah kondisi yang cukup lumrah dan memang seharusnya terjadi dalam sebuah organisasi. Hal ini akan memaksa kita untuk terus berpikir dan terus “penasaran” dengan apa yang seharusnya bisa kita lakukan dengan keadaan ini. Entah mengapa aku langsung teringat dengan sebuah bagian dari suatu buku yang mengisahkan tentang bagaimana sebuah organisasi (dalam buku itu bicara soal korporat pada umumnya) harus bisa bergerak terus tanpa henti.
Buku yang ditulis oleh seorang Blogger ternama itu membuat aku teringat pada slogan yang kami miliki yaitu #PROVOKATIF. Dahulu ketika kami membuat slogan itu kami hanya berpikir bahwa itu adalah kata yang pas untuk membentuk sebuah akronim dari kata-kata Progresif dan Kolaboratif. Tapi kata provokatif itu seharusnya punya nilai magis yang lebih besar daripada hanya sekedar akronim belaka (tentunya dengan tidak menghilangkan urgensi progresif dan kolaboratif yang merupakan kejaran utama dari kepengurusan tahun ini). Provokatif sendiri dalam artian kamus bahasa indonesia adalah bersifat provokasi; merangsang untuk bertindak. Nah dalam artian organisasi yang sedang kujalani saat ini berarti bagaimana caranya sistem dan manusia yang ada didalamnya bisa selalu merangsang semua lini himpunan ini untuk bertindak. Bertindak apa? Tentunya membuat sesuatu yang bisa mencapai tujuan organisasi ini dan menjawab permasalahan-permasalahan yang ada. Provokatif ini berarti rangsangan untuk bisa membuat atau minimal menyadarkan setiap orang bahwa kita semua memiliki prakarsa untuk memulai sesuatu, untuk mengubah sesuatu, untuk melaksanakan sesuatu, dan untuk menyelesaikan sesuatu. Aku seolah ingin berterima kasih pada pemikiran anak-anak yang dahulu memaksaku untuk menggunakan akronim ini untuk branding visi organisasi karena ternyata memang kata itulah yang sering hilang dari organisasi disini. Keinginan dan kemampuan untuk memprovokasi status quo yang sudah sekian lama tak kita goyahkan entah karena kita acuh atau karena memang kita tak terangsang untuk melakukannya.
Bagian lain dari buku itu yang membuatku semakin memaknai akronim provokatif dan semakin memaknai bahwa perubahan dan kesempatan untuk melakukan sesuatu dalam organisasi bukanlah suatu keburukan akan aku tuliskan dibawah sini, semoga bukan hanya aku saja yang bisa semakin memaknai hal-hal sederhana itu melainkan kita semua agar kita tak terjebak dan terpuruk dalam ketakutan dan kemalasan kita sendiri.
Fluks (perubahan secara terus menerus) adalah aliran. Kita dapat mengukur fluks dari panas atau molekul. Segala sesuatu yang bergerak. Risiko melibatkan kondisi menang dan kalah. Kita mempertaruhkan sesuatu, dan hal itu mungkin saja akan membuahkan hasil (atau mungkin juga tidak). Tidak akan ada resiko yang muncul ketika Anda mencemplungkan sebuah es ke dalam segelas teh panas. Panas akan bergerak dari air menuju es, terjadilah fluks... pergerakan.
Risiko, bagi sebagian orang, adalah sesuatu yang buruk, karena risiko disertai dengan kemungkinan akan adanya kegagalan. Mungkin saja hanya berupa kegagalan sementara, tetapi kenyataan itu tidak begitu berpengaruh jika Anda terus-menerus memikirkannya yang kemudian membuat Anda terpuruk. Jadi, bagi sebagian orang, risiko sama artinya dengan kegagalan (jika Anda mengambil risiko yang cukup besar, maka cepat atau lambat, Anda akan gagal). Risiko dihindari karena kita memang dilatih untuk menghindari risiko. Saya mendefinisikan kecemasan sebagai merasakan kegagalan sejak awal.... dan jika Anda mengalami kecemasan saat ingin memulai sebuah proyek, Anda pasti akan menghubung-hubungkan risiko dengan kegagalan.
Dari waktu ke waktu, orang-orang juga mulai keliru menyamakan antara fluks dengan risiko. Kita telah menyimpulkan bahwa jika sesuatu mengalir, jika ada pergerakan, maka tentunya akan ada risiko.
Mereka yang takut dengan risiko juga mulai takut dengan segala jenis pergerakan. Orang-orang bersikap seolah-olah fluks, pergerakan orang-orang ataupun ide-ide atau hal lain apa pun yang tidak dapat diprediksi, membuat kita terpapar pada risiko, dan risiko membuat kita terpapar pada kegagalan. Orang-orang yang takut berusaha untuk menghindari bentrokan, sehingga mereka pun menghindari pergerakan.
Orang-orang ini membuat dua kesalahan. Pertama, mereka berasumsi bahwa risiko adalah sesuatu yang buruk, dan kedua, mereka keliru menyamakan antara risiko dengan fluks, serta menyimpulkan bahwa pergerakan juga merupakan sesuatu yang buruk.
Saya tidak terkejut bila mendapati ada banyak diantara orang-orang ini yang tidak mampu untuk terus maju. Terjebak dengan status quo, terjebak dalam upaya mempertahankan posisi mereka di pasar, terjebak dengan pendidikan yang mereka miliki, dan tidak bersedia untuk mendapatkan lebih. Mereka terjebak karena mereka takut untuk melihat sesuatu yang baru di TV, takut untuk membaca sesuatu yang baru pada Kindle mereka, takut untuk mengajukan pertanyaan yang sulit.
Tidak satupun dari hal ini yang akan relevan, kecuali: sekarang seluruh dunia sedang mengalami fluks. Jika proyek Anda tidak mengalami pergerakan, maka bila dibandingkan dengan seluruh dunia di sekitar Anda, sesungguhnya Anda sedang melangkah mundur. Seperti sebuah batu di tengah-tengah sungai yang mengalir, Anda mungkin tetap berdiri tegak di tempat Anda, tetapi dengan adanya pergerakan di sekitar Anda, bentrokan sungguh tak terhindarkan. Ironisnya, bagi orang-orang yang lebih memilih untuk tidak bergerak, sebenarnya terdapat jauh lebih sedikit pergolakan di sekitar kayu yang mengapung mengikuti arus di sungai yang sama. Kayu tersebut bergerak, kayu tersebut berubah, tetapi bila dibandingkan dengan sungai dan sekitarnya, kayu tersebut relatif tenang.
Perekonomian menuntut adanya fluks. Fluks bukanlah sesuatu yang berisiko. Fluks adalah apa yang akan kita alami. Untungnya, fluks juga merupakan alasan kita dilahirkan.
Seth Godin dalam Poke The Box
Seratus Tiga Puluh Tiga: Kajian dan Identitas
Mengapa kajian bisa menjadi begitu penting bagi kita sebagai mahasiswa? Aku memiliki pandangan yang baru saja kuperbaharui beberapa waktu yang lalu setelah mendapatkan lagi-lagi cuplikan diskusi dengan kawan. Kajian bukan semata-mata soal mengasah cara berpikir kita agar bisa lebih analitis dalam menilai sesuatu atau hanya sekedar memiliki pola pikir yang sistematis. Bila memang hanya itu yang menjadi tujuan maka sudah cukuplah proses belajar mengajar di kelas untuk memenuhi hasrat tersebut, karena kebetulan meskipun sifat keilmuan dalam kelas dari jurusanku terkadang (bahkan seringnya) cenderung operasional tapi tetap mengedepankan sisi analitis dan cara berpikir yang sistematis.
Diskusi berawal dari pertanyaan mengapa seringnya organ-organ intrakampus begitu lembamnya dalam hal pergerakan atau penyikapan suatu hal entah hal kecil ataupun hal besar yang terjadi di dalam maupun diluar kampus itu sendiri. Dan pertanyaan itu dilanjut, mengapa organ-organ ekstrakampus yang bersifat tidak legal seringkali berusaha untuk menimbun kekuatan di dalam kampus (di dalam organ-organ intrakampus) guna melancarkan kepentingan-kepentingannya. Diskusi pun berawal dari dua pertanyaan itu.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu kami dapat setelah mendiskusikan hasil penuturan para pelaku organisasi, baik intra maupun ekstra, yang kebetulan hadir ke kampus kami pada waktu itu. Organisasi ekstrakampus biasanya memiliki sebuah sistem nilai yang dikendalikan oleh sebuah ideologi yang jelas (apapun itu) untuk menjadi motif dari semua pergerakan yang dilakukan. Sudah banyak organ ekstra yang menunjukkan hal itu, bagaimana mereka menghimpun massa untuk bergerak dengan alasan kesamaan ideologi yang dimiliki. Namun, apa daya ketika keadaannya bahwa organ-organ ekstra ini tak diakui secara legal berbeda dengan keadaan organ-organ intra yang memiliki legalitas minimal karena dinaungi sebuah sistem instansi pendidikan.
Organ-organ intrakampus merupakan sebuah organ yang mewadahi pergerakan dan pendidikan bagi para mahasiswa yang ada di dalamnya. Hingga saat ini aku memahami mengapa terkadang organ-organ intra begitu lembam karena ternyata organ ini tak didasari sesuatu yang jelas atau motif yang jelas dan dominan yang mampu mendasari semua sistem tata nilai yang berlaku di dalamnya. Dalam pandanganku, berarti organ-organ intrakampus lebih sering dikatakan merupakan organ yang bebas nilai sehingga sebenarnya bisa jadi banyak ideologi yang berseliweran didalamnya tapi tak ada yang menjadi dominan atau menjadi dasar yang jelas atau bisa jadi tak ada sama sekali ideologi yang beredar di pasar organ intrakampus ini sehingga benar-benar bebas dari nilai manapun.
Keadaan ini menjadi jawaban dari pertanyaan mengapa seringkali organ-organ ekstra kampus merongrong organ-organ intrakampus. Kebutuhan dari organ ekstra adalah adanya legitimasi dari pergerakan yang mereka akan buat dan organ intra lah yang memiliki hal itu dan ditambah dengan keadaan mereka yang bebeas nilai sehingga cukup mudah seharusnya untuk merongrong motif pergerakan mereka yang memang terkadang tak begitu jelas. Keadaan ini pula yang bisa menjawab mengapa kita seringkali mendasari sistem kebenaran kita pada sistem kebenaran ilmiah yang begitu bebas dari nilai karena sistem kebenaran itu hanya didasari dari metode-metode ilmiah.
Lalu apa hubungannya semua tulisan diatas? Simple, bagiku setelah mendapat cuplikan dari diskusi itu aku seolah ditunjukkan bahwa kajian memiliki posisi yang cukup penting dan strategis untuk menjadi metode pengasahan ideologi bagi para mahasiswa di dalam organ intrakampus yang seringkali lembam. Organ intra sudah seharusnya (dalam pandanganku) menerima semua ideologi (yang biasanya dibawa oleh organ-organ ekstra) untuk masuk kedalamnya dan kajian adalah metode kita untuk menunjukkan ideologi-ideologi tersebut kepada para mahasiswa agar setiap mahasiswa terpaparkan pada ideologi-ideologi yang ada dan bisa menjadikan sebuah ideologi atau bahkan membentuk suatu ideologi baru sebagai identitas yang akan dipegang teguh olehnya sampai dia mati. Teringat bahwa di beberapa tulisan sebelum ini aku sempat menuliskan bahwa sistem kemahasiswaan adalah sistem pendidikan identitas seorang mahasiswa menjadi seorang manusia yang seutuhnya, dan identitas itu dibentuk melalui serangkaian bentuk kegiatan dan kegiatan yang cukup strategis dalam hal ini adalah kajian. Tapi, perlu digaris bawahi, aku tak membenarkan adanya kepentingan organ ekstra yang masuk (lebih pada kepentingan politis) dan tak menyalahkan pula hanya saja yang menjadi concern dalam tulisanku adalah tentang keuntungan pendidikan ideologi yang masuk melalui organ ekstra ke dalam organ intra untuk sampai pada mahsiswa yang ada di dalamnya. Tentang kepentingan politis atau apapun aku merasa tak begitu perlu membahasnya. Entah pandanganku salah atau benar, karena disini aku tak bicara salah atau benar melainkan mencoba memaknai saja apa yang kurasakan.
Mencoba merefleksikan apa yang sudah terjadi dalam organisaasiku ini, organisasi kita semua, himpunan mahasiswa jurusan. Sempat teringat perkataan seorang kawan yang telah meniggalkan kampus karena lulus, dia berkata bahwa ideologi yang tertanam dalam organ-organ himpunan maupun manusianya adalah ideologi pertemanan sehingga banyak sekali alasan-alasan ketidak enakan atau rasa sungkan yang menjadi alasan utama kebanyakan orang untuk mengikuti sebuah kegiatan ataupun sebuah pergerakan. Keadaan itu seringkali kuakui kebenarannya, bahkan hingga hari ini dalam organisasiku sendiri. Hal ini terkadang menjadi pisau bermata dua, bila kita hanya mengejar terlaksananya sebuah program kerja dengan antusiasme yang tinggi, satu sisi bila banyak yang sedang ikut maka teman-teman lain pun ikut dan sebaliknya bila sedang sepi maka akan semakin sepi karena teman-teman lain merasa tak memiliki dorongan untuk hadir berkegiatan.
Dari refleksi ini aku mendapat sebuah gambaran baru tentang bagaimana sebenarnya kajian bisa menjadi metode sentral dalam proses penanaman alasan-alasan atau motif-motif dalam berkegiatan di himpunan. Dalam tulisan ini yang aku maksud dengan kajian bukanlah divisi atau bidang kajian melainkan budaya belajar, membaca, menulis, dan berdiskusi yang seringkali kita lakukan sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun akan lebih terakselerasi bila ada tunjangan dari sistem berupa sebuah bidang atau divisi yang mencoba mensistemasikan hal tersebut. Kegiatan berdiskusi, kegiatan membaca, dan kegiatan menulis merupakan kegiatan-kegiatan yang harus segera dimasyarakatkan dalam himpunan agar tujuan kita untuk membentuk dan menanamkan motif dalam diri setiap mahasiswa atau anggota menjadi semakin mudah. Tentunya dengan harapan minimal ideologi pertemanan menjadi ideologi usang yang tak perlu lagi dipakai dalam berhimpun karena seharusnya setiap mahasiswa memiliki motif yang jelas dalam berkegiatan, dimana motif tersebut merupakan hasil pengejawantahan dari identitas dirinya.
Beberapa hari yang lalu tiba-tiba aku dihubungi oleh salah satu badan pengurusku yang membawa kegelisahan dia saat menjalani kerja praktek di sebuah perusahaan minyak yang ada di negeri ini. Berikut cuplikan diskusi kami yang menurutku cukup relevan dengan tulisan ini:
D: “gini pi, aing cuma agak gelisah nih melihat relevansi kemahasiswaan yang kita coba bangun, nah cuma di dunia kerja itu kaya ga kesentuh ini sepengamatan aing wktu kp sih pi, padahal di tempat aing tu banyak anak patra, nah yg aing agak bingung itu mimpi mimpi kita sbg mahasiswa itu kaya bener bener udh hilang di dunia kerja, aing bahkan mancing mancing obrolan ya kaya kita biasalah terutama kaya kajian energi gitu tp tanggapannya malah ga sesuai harapan gitu pi. Ya aing takut aja apa nanti kita kalo udh di posisi mereka bakal gitu jg? Kalo kasarnya udh acuh sih kalo aing bilang dgn mimpi mimpi kemahasiswaan, kalo kata polem mungkin udh terjerumus menjadi budak kapitalis wkwkkw. Yang aing gelisah itu masalah relevansi himpunan kita sendiri dengan segala hal dan sistem yg ada apakah nanti akan menghasilkan lululusan lulusan yg sama atau engga gitu pi.”
U: “Aing mau coba nulis soal itu dit, mungkin nyambung. Sebenarnya tulisan aing ini isinya cuplikan diskusi bersama teman soal ekstra kampus dan intra kampus. Trus nanti bakal nyambung dg kebiasaan kajian dan korelasinya dengan pembentukan identitas ideologis seorang mahasiswa yg bakal dia bawa hingga dia menjadi lulusan kampus. Kajian itu menjadi sangat strategis kalo kita menyadari bahwa kampus itu adalah arena bebas nilai dimana setiap ideologi bisa tumbuh dan berkembang. Berbeda dg organ organ ekstra kampus yg biasanya sudah punya platform ideologi nya masing masing. Nah yg jadi sorotan itu adalah bukan ttp mempertahankan status quo bahwa kampus harus netral dr ideologi ideologi yg mengharah pada politik, tp harusnya kajian bisa lebih intens dan dipandang sebagai solusi dalam mengatur arena pertarungan ideologi dalm kampus ini. Biar apa? Biar dg kajian kajian itu setiap mahasiswa bisa mengetahui dan mendalami ideologi manapun yg nantinya bisa jadi identitias dan motif hidup dia kedepannya setelah dia lulus.”
D: “Menarik pi, cuma kegelisahan aing itu terlepas dari katakanlah setiap lulusan TM sudah memiliki ideologi dan identitas sebagai sarjana teknik perminyakan. Mungkin ga dengan segala kondisi di luar sana dan segala ketidak idealan dari sistem di luar sana yg menyebabkam nilai nilai yg sudah kita bangun di kampus itu pudar bahkan hilang. Atau kita sekarang mulai coba melihat dari sisi di luar sana, masih serelevan apa hal hal yg coba kita bangun sehingga bisa berguna di dunia kerja nanti? Soalnya yg aing lihat profesionalisme, etos kerja dll itu lebih kepake dari organisasi katakanlah macem spe dan iatmi gitu pi. Aing bukannya meremehkan nilai nilai kemahasiswaan yg coba dibentuk di himpunan, malah aing pengen jg biar nilai itu ttp ada, makanua aing tu gelisah pi wkwkkwk. Takutnya itu kita terpisah sama tembok tinggi pi, antara kehidupan mahasiswa di kampus dan dunia kerja, nah setibanya kita udh di dunia kerja kita kaget dengan segala kondisi dan keadaan yg menyebabkan kita sendiri utk berubah.”
U: “Nah sebenrnya gabisa gitu aja menurut aing. Gabisa kita terlepas dr pertanyaan nilai apa yg dia anut dan sekuat apa identitas itu terbentuk dlm dirinya sejak dr menjadi mahasiswa. Bahkan seorang presiden bem pun blm tentu punya kekuatan ideologi yg besar loh(menurut aing). Masalah intervensi lingkungan itu pasti bos, krn memang itu sebuah keniscayaan dalam hidup bermasyarakat. Cuma yg jadi penting itu bukan faktor eksternal tp faktor internalnya menurut aing, faktor si orang itu sendiri. Sistem kemahasiswaan kita sampai saat ini (dalam pandangan aing) udh cukup baik dalam hal memenuhi kebutuhan kita sebagai mahasiswa (dalam hal ini seperti kebutuhan advokasi, kegiatan, dan lainnya) Tapi masih cukup kurang dalam mengakomodasi pertanyaan pertanyaan fundamental kehidupan yg biasanya irisannya dg ideologi dan nilai nilai atau dg kata lain masih belum cukup baik untuk memenuhi kebutuhan kita sbg manusia (terutama soal identitas diri)”
D: “Hmm, jadi menurut maneh gimana pi? tp itu emg belum bisa jadi dasar generalisasi kondisi dunia kerja kok, cuma sepengamatan aing terhadap beberapa karyawan yg katakanlah dulu mendapatkan nilai nilai yg sama sama kita, itupun cuma satu bukan wkwkwkw. Satu bulan maksudnya. Aing cuma keinget aja sama chat polem sama biga td kalo di kantor mereka susah mau ngajak diskusi gituan wkweekw. Seolah olah nilai nilai kemahasiswaan itu udh pudar sama sifat antusiasnya.”
U: “Entah sih nyambung apa ngga, tapi aing keinget dari temen kalo ada alumni plano yg bilang bahwa harusnya jangan pernah kebalik, menjadi realistis boleh saat jadi mahasiswa tp menjadi idealis itu harusnya setelah lulus dr mahasiswa. Sekarang adanya kebalik, Idealis saat jd mahasiswa dan realistis saat jadi karyawan. Berarti hal taktis yg bisa kita lakukan saat ini adalah memanfaatkan proses kemahasiswaan ini sbg proses pemebntukan identitas bagi diri kita bukan hanya buat mengisi cv dan pengalaman(kebanyakan ini motif yg sering dipegang banyak mahasiswa).
D: “Wah itu setuju aing pi, emg jaman udh pada kebalik sih ini wkwkwkw. Ga jelas lg mana yang hak mana yg bathil wkwkwk”
U: “Wkwkwkwk, Begitulah dit. Kalo udh jelas mah buat apa atuh kita hidup? Seolah hanya tinggal menjalankan sop, kita bentuk lah sop yg seharusnya. Btw, Maneh nulis aja soal itu dr kacamata maneh yg udh kp. Kan aing belom,Wkwkwkwk
D: ”Hmm, dicoba pi, tp masih mencari hal yg mau dibahas, soalnya agak abstrak jg kalo aing masih mikirnya wkwkw. Tp yg aing tulis di tumblr patra buat bulan juni itu ada sedikit pengamatan aing jg pi yg bisa difasilitasi himpunan utk menghadapi dunia kerja”
U: “Wkwkwkwk mantap mantap. Nah kali kali diskusi kopi sore bareng kastrat boy dong. Biar mereka juga ikut mikir beginian.Wkwkwkwk. Itu baru semangat kajian, jangan cuma kejar tayang ya. Krn kamu sudah melihat kenyataan dg senyata nyata nya”
D: “Insyaallah mang bantu wkwkw”
Hal lain yang kurefleksikan soal ini adalah tentang bagaimana organ-organ intrakampus kita menanggapi atau menyikapi soal suatu kejadian dan kasus yang terjadi di sekitar kita. Salah satunya yang kemarin aku hadapi bersama beberapa kawanku soal nasib segelintir orang yang sudah lama menggantungkan hidup mereka pada pekerjaan mereka yang kita tahu tak begitu prospektif saat ini. Ingatkan aku untuk melanjutkan tulisan tentang ini di tulisanku berikutnya :)
Seratus Dua Puluh Empat : Cuplikan
Rasanya sudah cukup lama tidak menulis lagi entah karena memang tak ada bahan tulisan atau aku yang sudah mulai lelah untuk menuliskannya. Tapi aku bersyukur karena sebenarnya belakangan ini aku dihadapkan pada potongan-potongan kisah yang bagiku cukup menarik untuk ditelaah di kemudian hari sebagai bentuk kontemplasi dalam diri dan organisasi. Disini aku ingin bercerita soal cuplikan kisah-kisah yang kualami dan kuterima selama hampir dua minggu tidak menulis lagi.
Sebuah buku yang kubaca pernah mengatakan bahwa kemakmuran dan kemiskinan suatu negara bergantung pada bagaimana keadaan institusi kemasyarakatan yang terdiri dari institusi politik dan institusi ekonomi yang ada pada negara tersebut. Sejarah telah mencatat bagaimana institusi kemasyarakatan tersebut bisa sangat mempengaruhi keadaan berbagai negara hingga hari ini. Mitos soal teori kebodohan suatu bangsa, mitos soal kesialan geografis, dan mitos soal kesalahan kebudayaan yang seringkali disebut sebagai biang kehancuran atau kemsikinan suatu negara sungguh tak terbukti karena ternyata sejarah tak berkata demikian.
Sejarah berkata bahwa kemakmuran suatu bangsa bisa berawal dari adanya institusi politik-ekonomi yang ekstraktif maupun inklusif. institusi kemasyarakatan yang ekstraktif adalah suatu perangkat sistem yang dibentuk dan dijalankan untuk menguntungkan beberapa pihak saja dengan memeras seluruh kekayaan dan hak-hak perorangan diluar pihak yang berkepentingan. Institusi yang ekstraktif bertujuan untuk mempertahankan tampuk kekuasaan dan keadaan ekonomi dari para penguasa dan kroni-kroni nya. Institusi politik-ekonomi yang ekstraktif biasanya memiliki sistem hierarki sosial dalam pemerintahan, cenderung selalu menjalankan pemerintahan secara terpusat dan absolut (seperti kerajaan-kerajaan dan menghindari keberagaman politik), cenderung menghindari inovasi teknologi dan pendidikan karena dengan itu semua bisa mencabik-cabik kekuasaan para penguasa sebab pendidikan dan kemajuan teknologi akan membuat pemikiran masyarakat menjadi lebih berkembang dan bisa menjadi pembangkang.
Lain hal nya dengan institusi yang bersifat inklusif yang cenderung memiliki keberagaman politik dalam pemerintahan dengan tetap menjaga kendali terpusat tetap ada, tidak menggunakan hierarki sosial dalam pemerintahan sehingga yang berkuasa adalah hukum yang berlaku dari perumusan bersama, adanya kontrol yang jelas terhadap penguasa, juga cenderung memberikan insentif kepada setiap masyarakat dengan adanya hak kepemilikan perorangan yang diatur oleh hukum dan membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin berkembang.
Kedua sistem tersebut terbukti bisa membawa kemakmuran, namun bedanya adalah pada seberapa panjang umur dari kemakmuran tersebut. Lagi-lagi sejarah berkata bagaimana keadaan negara-negara seperti di kawasan sub-sahara Afrika dan Amerika selatan yang kemakmuran mereka dahulu berawal dari institusi politik-ekonomi yang ekstraktif dan berakhir begitu cepat, berbea dengan negara-negara di Eropa Barat dan Amerika serikat yang mengawali kemakmuran dengan institusi politik-ekonomi yang inklusif dan bertahan hingga hari ini.
Sebenarnya kisah diatas bukanlah tujuan utama yang ingin kusampaikan disini, tapi itu setidaknya akan membantu dirimu dan diriku sendiri untuk melanjutkan membaca dan menulis kisah ini. ya kuharap.
Kau tahu negara Somalia? Negeri yang teletak di kawasan tanduk Afrika ini adalah contoh negara yang porak poranda karena tidak adanya institusi politik-ekonomi yang inklusif. Padahal bila kau tahu bahwa sebenarnya negeri itu telah memiliki salah satu ciri dari institusi yang inklusif, yakni dari keberagaman politik yang dimiliki. Tapi semua itu malah menjadi awal kehancuran mereka sebab disana tak terdapat sentralisasi pemerintahan yang kuat. Negara Somalia dikuasai oleh enam klan besar yang masing-,masing klan merupakan kelompok adat dan keluarga yang saling bersatu untuk membentuk suatu kekuatan yang besar. Keberagaman ini menjadi kerapuhan bagi Somalia karena disana tidak ada pemerintahan sentral yang sanggup mendominasi semua klan dan mengatur hukum dan sistem kenegaraan bagi seluruh klan, yang ada malah setiap klan harus selalu berperang demi mendominasi satu sama lain sehingga perang saudara dalam satu negara tersebut sering sekali terjadi.
Entah mengapa aku langsung teringat organisasi besarku di kampus ini. Mungkin sama atau bahkan analogiku yang salah bila aku menyamakan keadaan di Somalia dari beberapa sisi menjadi sama dengan keadaan di kampusku ini. Bila kita bicara soal institusi yang ada, maka seharusnya institusi yang berlaku di kampus ini lebih mirip dengan pemerintahan Amerika Serikat yang terbukti secara sejarah bisa menjadi negara maju dengan salah satunya keberagaman politik dan sentralisasi pemerintahan yang cukup baik. Tapi entah mengapa ketika aku membaca soal negeri Somalia malah aku tertegun dan merasa ada kesamaan disini.
Kampus ini memiliki keberagaman politik yang ditandai dengan adanya lembaga-lembaga yang analog dengan klan di Somalia. Maisng-masing lembaga memiliki hak otonomi tersendiri untuk membangun klan nya. Tidak ada satu klan yang lebih unggul dibandingkan dengan klan lain. Namun bedanya disini kami memiliki pemerintahan terpusat yang harapannya bisa menjadi komponen yang mengatur sentralisasi pemerintahan dalam institusi politik yang ada di kampus ini. Dua lembaga sebagai representasi pemerintahan terpusat ini sebenarnya cukup sama dengan yang dimiliki oleh negara serikat seperti Amerika. Namun yang kurasakan kini malah pemerintahan terpusat seolah tak punya kendali terhadap kelompok-kelompok politik lain didalam sistem besar ini. Ada satu pemahaman bahwa pemerintahan terpusat harusnya mengurusi kebutuhan dan apa-apa yang tidak bisa diurusi oleh kelompok-kelompok pemerintahan di daerah dan mengatur hukum-hukum yang berlaku secara umum bagi seluruh daerah yang ada.
Tapi kini aku tak melihat itu, seolah setiap klan tak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan oleh pemerintahan terpusat sebab dampak yang dihasilkan pun tidak begitu berpengaruh pada keadaan setiap klan yang ada. Aku sempat berpikir untuk memangkas otonomi dari masing-masing klan terhadap daerahnya dan menyerahkan wewenang tersebut pada pemerintahan terpusat agar setiap klan merasakan keberadaan dan kebutuhan akan adanya sentralisasi pemerintahan dalam sistem kita ini. Atau kebutuhan-kebutuhan secara menyeluruh misalnya anggaran dana kemahasiswaan bisa jadi diberikan kepada lembaga pemerintahan terpusat sebagai pengatur agar setiap semakin banyak hal-hal yang mengikat setiap klan pada pemerintahan terpusat.
Pandanganku memang tak begitu dalam, tapi sejatinya aku hanya melihat kesamaan dari cuplikan kisah yang kubaca belakangan ini. Aku takut bahwa nantinya setiap klan yang ada akan saling “bunuh” dalam sistem ini karena tak ada sentralisasi yang cukup kuat untuk membendung keangkuhan dan otonomi berlebih dari masing-masing klan. Ya mungkin ini baru sekedar cuplikan dari apa yang kulihat dan kurasakan. Memang masih perlu kupahami tapi setidaknya kutuliskan dulu.
Cuplikan lain terjadi pada tanggal 28 Juni 2015 kemarin, tepat di hari aku bertambah kesempatan untuk tetap ada di bumi menjalani hidupku ini. Telah ada dua puluh kali tanggal 28 Juni yang kulewati sebelumnya dan cukup banyak pelajaran yang sudah kualami setiap tahunnya. Tapi saat ini menarik, karena aku ditemani oleh dua bacaan yang bagiku cukup menyentuh dan patut dijadikan pelajaran dalam hidup kedepannya. Satu bacaan bercerita soal tokoh dari Jepang pada abad ke 16 yang menjadi penguasa tertinggi pemerintahan Jepang (Wakil kaisar) dengan jalur non-bangsawan dan pembuktian kemampuan-kemampuan. Hideyoshi namanya, kisah yang heroik dipertontonkan dalam buku biografinya yang sempat kubaca beberapa hari yang lalu. Tapi aku bukannya menjadi tertarik pada kisahnya malah aku menjadi lebih tertarik pada kisah kepemimpinan Muhammad SAW yang sering diperdengarkan padaku beberapa tahun lalu saat aku masih kecil. Dari buku biografi sang penguasa Jepang itu aku belajar bahwa sebenarnya nila-nilai kepemimpinan telah diajarkan jauh berabad-abad sebelum Hideyoshi hidup dan menguasai Jepang dan diajarkan oleh seorang yang sama-sama berasal dari keluarga buta aksara dan bukan bangsawan. Ya Muhammad SAW. Nilai-nilai toleransi, kegigihan, dedikasi, serta nilai-nilai kepemimpinan yang lain sama-sama diajarkan oleh kedua tokoh tersebut, tapi yang menjadi berbeda adalah bagaimana kedua tokoh tersebut menjalankan nilai-nilai itu dalam kehidupan mereka.
Muhammad dengan ideologi Islamnya dan Hideyoshi dengan motifnya yang ingin membuktikan pada dunia bahwa dia bisa menjadi pemimpin telah dibuktikan oleh sejarah dengan bagaimana pengaruh yang dihasilkan oleh keduanya bukan hanya untuk daerahnya tapi juga untuk dunia. Negara Islam terbukti bisa sampai menguasai dua pertiga belahan dunia dan menjadi salah satu kekuatan besar pada masa yang cukup panjang.
Kedua tokoh tersebut memang istimewa dari sisi kisah kepemimpinannya, namun yang kutangkap dari apa yang kubaca adalah ada satu kekuatan yang bisa membuat nilai-nilai kepemimpinan itu bisa menjadi pengaruh yang sangat besar baik bagi diri sendiri ataupun dunia, yaitu kekuatan ideologi yang akan menjadi motif dalam proses penerapan nilai-nilai kepemimpinan tersebut. Dari situ aku bertanya pada diriku sendiri tentang motif yang selama ini aku miliki untuk menjalani proses kehidupan di dunia ini. Sudah seberapa kuat motif itu? Sudah seberapa jelas motif itu? Apakah motif itu hanya akan bisa membuat aku sekedar menjalani hidup ini ataukah akan menjadi senjata yang cukup ampuh untuk aku menguasai hidup ini? Mungkin ini salah satu pukulan yang kuterima pada tanggal 28 Juni ku yang ke dua puluh satu kemarin dan kuharap aku bisa belajar dari itu.
Sebenarnya masih ada cuplikan lain yang harus kutuliskan tapi biarlah kutulis di lain waktu.
Seratus Sebelas : Bisnis dan Kompetensi
Sekitar dua atau tiga hari yang lalu aku terduduk bersama beberapa kawan di sebuah warung donat dan kopi yang sudah cukup lama bersemayam di hatiku soal tempat nongkrong di daerah kampus. Malam itu perbincangan diawali dengan pertanyaan apa sebenarnya core business dari organisasi kemahasiswaan di kampus ini. Sebenarnya pertanyaan ini muncul karena seorang kawanku pada sore harinya bertemu seorang tokoh kampus lain pada zamannya dan membicarakan hal yang sama. Core business sendiri sesuai dengan pemahamanku merupakan suatu hal yang menjadi penopang seluruh proses hidup ogranisasi sebagai sebuah kegiatan utama atau kegiatan inti dari organisasi tersebut. Menurut tokoh kampus lain itu beliau menuturkan bahwa core business dari BEM nya adalah sosial politik sehingga semua kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk program kerja dari organisasinya didasarkan pada keadaan sosial politik yang terjadi di negeri ini. Aku langsung bertanya pada diriku sendiri tentang apa sebenarnya core business dari himpunan ini, dan apa juga core business dari kabinet KM ITB saat ini (sejujurnya untuk kabinet KM ITB hanya sekedar penasaran tapi tak apalah sekalian saja). Pandangan kami pada malam itu berkesimpulan bahwa sebenarnya core business dari kabinet KM ITB yang seharusnya adalah sama seperti BEM pada umumnya walau secara sistem memang berbeda tapi sosial politik lah core businessnya. Namun pertanyaan lain muncul pada saat itu, apakah memang benar core business sosial politik adalah core business yang relevan bagi kabinet saat ini? Entahlah karena sebenarnya yang kulihat selama ini bahwa core business yang terangkat dan terasa adalah service. Entah service bagi mahasiswa perseorangan atau service untuk lembaga-lembaga lain dalam sistem besar KM ITB ini sendiri. Sosial politik yang terasa bagiku (mungkin kuakui bahwa aku masih kurang banyak terpaparkan tentang kabinet secara merinci tapi setidaknya aku coba utarakan apa yang aku rasakan bukan untuk merendahkan melainkan menjadi refleksi bagi diriku sendiri sebagai salah satu anggota KM ITB dan anggota dari salah satu komponen yang bekerja sama dengan kabinet) selama ini adalah advokasi internal dan mungkin beberapa kegiatan eksternal lain yang pasang surut. Entah pandanganku benar adanya atau tidak, tapi yang pasti itu yang kurasakan saat ini.
Berbeda dengan kabinet tapi sama adanya, bukankah berarti organisasi kemahasiswaan di tingkat jurusan memiliki core business yaitu keilmuan? Berarti kegiatan utama dari himpunan ini adalah kegiatan berkeilmuan dengan bentukan metode yang bisa bervariasi dalam membungkus core keilmuan itu sendiri. Bukankah tujuan dari adanya organisasi kemahasiswaan di tingkat jurusan secara legal adalah membantu program studi untuk mendidik dan mengembangkan para mahasiswa jurusan agar nantinya bisa menjadi lulusan yang diharapkan? Nah dari sana pula maka cukup jelas bahwa core business dari himpunan adalah keilmuan. Tapi kini keadaannya sama, aku merasa bahwa yang menjadi core business di himpunan terutama selama ini yang kurasakan di himpunanku adalah service. Selalu berbicara tentang bagaimana caranya membuat orang bisa nyaman berkegiatan, kegiatan bisa ramai didatangi orang, hingga bagaimana caranya agar anggota merasa beruntung karena berhimpun. Yang aku soroti adalah kegiatan inti yang selama ini berjalan tidak didasari dengan core business yang sesuai yaitu keilmuan sehingga yang terjadi adalah antitesis dari bagian tulisanku kemarin karena yang kita pikirkan adalah tentang menyenangkan orang maka yang sering terjadi adalah rasa sakit hati, ngambek, bete, dan berakhir pada hilang-hilangan. Itu salah? Tidak sepenuhnya, memang benar bahwa service sangat dibutuhkan tapi sebagai salah satu metode yang bisa membuat anggota tidak akan merasa takut untuk berkegiatan di himpunan. Tapi tentunya kegiatan keilmuan adalah kegiatan utama yang harusnya bisa menjadikan himpunan ini lebih optimal dengan semua mandat yang diberikan padanya untuk menjadi organisasi yang mendidik mahasiswa jurusan menjadi lulusan yang diharapkan.
Bicara soal core business selalu menarik bila dilanjutkan dengan perbincangan mengenai core competence. Dari pemahaman yang aku miliki, core competence adalah suatu kemampuan unik atau khusus atau utama yang dimiliki sebuah organisasi untuk membedakan dirinya dengan organisasi yang lain dan mebuat organisasi tersebut menjadi terdepan dalam kompetisi. Bila kita benturkan dengan organisasi kemahasiswaan jurusan dan pembicaraan terait core business keilmuan yang melekat pada organisasi kita maka setiap himpunan disini tentunya sudah bisa digariskan menjadi terdepan dalam competence nya masing-masing yaitu keilmuan yang dimilikinya masing-masing. Himpunan ini dengan keilmuan teknik perminyakan nya harusnya bisa menjadi terdepan dalam competence keilmuan perminyakan dan energi migas dalam pergerakan yang akan dilakukan nantinya dan begitu pula setiap himpunan mahasiswa jurusan dengan kompetensi keilmuannya. Ini sebenarnya masih berupa anggapan saja dari diri ini, bagaimana jadinya bila core business kabinet yang berarah sosial politik dikolaborasikan dengan core business himpunan yaitu keilmuan dan core competence yang disatu padukan dari masing-masing keilmuan? Aku belum mau menjawab pertanyaan ini, karena aku takut pandanganku masih belum cukup untuk kutuliskan disini. Biar kucerna dan kumaknai dulu agar suatu saat bisa kutuliskan.
Seratus Sepuluh : Mencoba Maknai Lagi
Baru sekitar tiga hari shaum Ramadhan tapi kayanya sudah cukup lama hampir dua minggu menjelang tulisanku ikut berpuasa, salah memang tapi semoga segala sesuatu yang terjadi masih bisa dimaknai dengan baik minimal oleh diri ini.
Tak lama berselang dari tulisan terakhirku waktu itu masuklah hitungan seratus hari dari kepengurusan yang PROVOKATIF ini. Biasanya kalau di negara ini selalu ada evaluasi dan refleksi seratus harian dalam sebuah kepengurusan negara dalam hal ini kabinet dan presidennya. Aku pun sempat berpikir tentang apa saja yang telah terjadi selama seratus hari kepengurusan ini, sebenarnya telah banyak sesuatu yang kami mulai dari nol hingga saat ini dan bentuk evaluasi juga refleksi yang akan dilakukan adalah bentuk sungai keberjalanan yang akan dimuat oleh mading medkominfo nantinya sebagai bentuk transparansi seluruh kegiatan kepada anggota dalam upaya peningkatan kesadaran anggota tentang pentingnya partisipasi dalam setiap program untuk dirinya dan untuk pembangunan himpunan ini sendiri. Selain itu aku merasa sangat terbantu dengan adanya sistem pengarsipan keseharian berupa tulisan-tulisan dalam Tumblr himpunan ini yang bisa menunjukkan tentang apa saja sebenarnya yang telah terjadi selama kepengurusan ini bergulir.
Setelah lewat seratus hari dan memasuki waktu liburan pada bulan Juni ini cukup banyak hal yang kualami disini, salah satunya adalah saat berdiskusi dengan calon komandan lapangan dari himpunan kawanku. Dalam forum itu kami berbincang tentang diri kami sendiri, ya tentang mahasiswa. Diawali dari pertanyaan siapa kita dan untuk apa kita disini hingga pertanyaan mengenai kemahasiswaan dan organisasi kemahasiswaan. Terdengar klasik memang, tapi dari forum itu sebenarnya aku semakin meyakini bahwa sebenarnya mahasiswa adalah sekelompok manusia dari kalangan pemuda yang sedang kebingungan sehingga dia harus menjalani sebuah proses kehidupan demi membentuk identitas dia dan institusi pendidikan tinggi ini adalah salah satu tempat dimana pendidikan identitas itu dijalankan. Tugas perguruan tinggi untuk menjalankan tiga ajaran agung yang biasanya menjadi dasar pergerakan institusi pendidikan tinggi di negeri ini merupakan tugas yang bagiku tak akan pernah tercapai karena bila tercapai maka gugurlah urgensi dari adanya pengejaran tiga ajaran terebut melainkan tiga hal itu adalah sebuah bentuk pelaksanaan kehidupan berpendidikan yang tak henti-hentinya harus merasuki setiap lini kehidupan seorang mahasiswa.
Yang tak kalah menarik lagi adalah isu yang mengguncang lembaga-lembaga dalam kampus terutama himpunan pada saat tanggal 4 Juni 2015. Tersebar surat edaran dari wakil rektor bidang akademik dan kemahasiswaan yang berisi pedoman kegiatan orientasi himpunan mahasiswa jurusan. Surat tersebut menyebutkan beberapa point yang menarik seperti pembatasan jumlah kegiatan orientasi, pembatasan waktu kegiatan orientasi, pemandatan untuk mencantumkan materi pendidikan karakter agar kegiatan orientasi ini menjadi kegiatan yang bisa mendidik anak-anak secara demokratis, terbuka, dan humanis. Sontak seisi kampus seolah bertanya soal surat yang tidak jelas asal muasal pengambilan kebijakan tersebut. Esok harinya setiap perwakilan lembaga berkumpul untuk mencari titik temu dari sisi mahasiswa mengenai surat edaran tersebut. Dari forum itu keluar beberapa point yang kami pertanyakan, yaitu:
1. Terkait pengambilan keputusan yang kami rasa bersifat sepihak. Hal ini sebenarnya menjadi point penting bagiku dalam isu ini, mengapa tidak? Teringat bahwa pernah terjadi hal serupa pada kebijakan jam malam yang tak ada tanda-tandan pelibatan mahasiswa dalam penentuannya. Selain itu, teringat bahwa pada saat kegiatan duduk bersama pun telah bersepakat walau tak diatas kertas bahwa bila ada suatu kebijakan yang akan dibuat dan itu berkaitan dengan kegiatan dan keberjalanan kehidupan mahasiswa akan dilakukan diskusi terlebih dahulu sebelum kebijakan tersebut diputuskan. Lalu bagaimana bisa kita membentuk suatu kegiatan yang bersifat demokratis, humanis, dan terbuka(berlaku juga bagi para peserta kegiatan) bila dalam pembuatan peraturan kegiatan ini pun tak menerapkan tiga azas tersebut. Jikalau demokrasi itu minimal menjamin terlaksananya tiga fungsi yaitu kesempatan untuk mendapatkan informasi, kesempatan unutuk mempengaruhi pengambilan keputusan, dan kesempatan untuk memberikan pendapat atau aspirasi maka kejadian ini tidak mencukupi dua dari tiga fungsi tersebut. Harapanku sebenarnya bukan pada perubahan peraturan yang sudah menjadi pedoman bagi lembaga kemahasiswaan di kampus ini dan bagi kebanyakan fakultas/sekolah, tapi lebih pada perubahan kultur pengambilan keputusan terkait kebijakan yang akan dipakai untuk mahasiswa kedepannya. Kepengurusan rektorat ini masihlah panjang dan kehidupan bersama mahasiswa pun tak akan pernah berhenti, bila memang rektorat menghendaki kita berlayar bersama dalam satu bahtera maka mari bangunlah bahtera itu secara bersama minimal dengan bersama-sama menjalankan tiga azas yang sebenarnya amat baik untuk dijalankan.
2. Terkait pandangan pihak rektorat tentang kaderisasi dan proses orientasi himpunan. Hal ini menjadi menarik untuk dijadikan bahasan kedepan karena bisa jadi mulai dari penyamaan frame inilah pihak mahasiswa dengan organisasi kemahasiswaannya dan pihak rektorat bisa sama-sama berjalan ke satu arah seperti yang selama ini diharapkan, salah satunya dalam proses pendidikan diluar kelas yang menjadi penunjang proses pendidikan dalam kelas di institusi pendidikan tinggi ini.
Aku sendiri tak begitu menyangsikan soal pembatasan jumlah kegiatan orientasi yang harus dilaksanakan oleh himpunan karena bagiku sebenarnya proses orientasi itu berbicara tentang efisiensi metode yang kita gunakan dan bagaimana sebenarnya kita melanjutkan proses orientasi menjadi proses pendidikan berenjang dalam himpunan agar tercipta integrasi pendidikan bagi setiap calon anggota hingga beres menjadi anggota nantinya. Hal ini pun menjadi salah satu upaya pemaknaan kembali mengenai proses kaderisasi anggota sebagai proses pendidikan yang tak bertumpu pada satu fase saja melainkan bertahap dan terintegrasi sehingga paradigma tentang orientasi adalah waktu ideal pemberian segalanya tidak lagi begitu menjamur sehingga kita cenderung malas untuk mencari inovasi bagi proses pendidikan setelahnya. Hanya ingat saja, dalam kasus ini aku masih tak setuju dengan proses pengambilan keputusan dari kebijakan ini, walau pihak lain telah mewartakan bahwa fungsi aspirasi telah dijalankan melalui dekan fakultas/ sekolah, yang jelas semua itu tak terasa entah karena fungsi aspirasinya tak jalan ataukah memang fungsi itu sebenarnya tak pernah ada. Lalu terkait analisis kondisi yang kurasa hanya mengedepankan salah satu sisi saja, industri, tanpa melirik keadaan lain yang sebenarnya menjadi variabel juga bagi hal ini seperti sistem pendidikan yang berjalan saat ini atau keadaan kegiatan kemahasiswaan kini.
Entah mengapa belakangan ini aku senang berkontemplasi tentang apa yang bisa menghambat sebuah inovasi dalam keberjalanan organisasi. Tentunya analisis yang kulakuan itu berdasar pada apa yang kulihat dalam himpunan ini, pikiran ini muncul karena ketakutanku terhadap stagnansi yang bisa terjadi kapan saja. Aku sepakat dengan buku yang telah kubaca kemarin bahwasannya organisasi kemahasiswaan hari ini bukan lagi harus sibuk dengan permasalahan ngambek antar anggota, atau susahnya mencari massa, ataupun mengurusi hal-hal remeh organisasi melainkan sudah seharusnya bisa menjadi wadah ide-ide yang terus diasah untuk bisa menjadi inovasi yang menggerakkan organisasi agar bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di lingkungan kita baik masyarakat sekitar ataupun masyarakat pada umumnya. Dari sanalah aku mulai berpikir dan lebih cenderung takut akan apa yang sedang aku jalani dan akan aku hadapi nantinya, aku takut bahwa himpunan ini nantinya akan jatuh pada lubang yang sama sehingga inovasi yang menjadi mimpi hanya akan sekedar mimpi. Pikiranku langsung melayang pada sebuah bentuk birokrasi organisasi yang ada di himpunan ini, draft kepengurusan, yang sejak awal telah dirancang dan disepakati bersama Badan Perwakilan Angkatan.
Mengapa aku berpikir langsung pada draft itu karena memang hal itu yang aku takutkan bisa menyebabkan stagnansi berkepanjangan atau stagnansi yang tak disadari oleh kami sebagai badan pengurus himpunan ini sehingga inovasi tak akan pernah terjadi. Draft kepengurusan memang dirancang agar kami sebagai badan pengurus bisa mempertanggung jawabkan dengan jelas apa-apa saja yang telah kami lakukan untuk membangun himpunan bersama dengan anggota dan draft ini hadir sebagai bentuk fungsi kontrol dari setiap gerak-gerik dan geliat pergerakan himpunan itu sendiri, kalau kau paham juga bahwasannya dalam himpunan ini adanya draft kepengurusan itu adalah bentuk pembebanan peranan swasta dalam himpunan kepada lembaga yang ada dalam himpunan ini terutama Badan Perwakilan Angkatan. Tapi yang aku takutkan disini adalah pandangan kami pada saat kami merancang draft kepengurusan diawal adalah pandangan-pandangan yang spekulatif dan tidak didasari pada apa-apa yang akan terjadi nantinya dalam keberjalanan himpunan sehingga bisa membuat kami tak berdaya bila sesuatu yang tak terduga terjadi karena sifat kaku dan rigidnya draft kepengurusan tersebut.
Kenapa aku sebut stagnansi yang tak disadari? Bila tulisanku yang terdahulu menceritakan tentang distorsi mimpi karena paradigma parameter indikator kegiatan, kini aku bercerita tentang orientasi pekerjaan berdasarkan draft kepengurusan saja. Memang benar bila draft kepengurusan itu adalah prioritas utama sebagai pedoman keberjalanan kepengurusan namun bukan berarti menjadi penghalang bagi terciptanya pembangunan yang lebih massive dalam himpunan ini. Terkadang aku selalu merasa takut bahwa kami nantinya hanya akan mengejar terlaksananya semua kegiatan yang tertulis dalam draft tanpa menganalisis keberjalanan yang terjadi sehingga kami tak berusaha lagi untuk berpikir memutar otak untuk selalu mencari solusi lain yang ada diluar draft namun masih bisa menjawab tujuan dan menyelesaikan permasalahan. Ketakutan ini adalah tentang ketakuta matinya kreativitas kami karena kekangan birokrasi dalam paradigma kami sendiri. Seharusnya kami jadikan draft kepengurusan sebagai referensi minimal untuk menjawab tujuan dan menyelesaikan permasalahan organisasi tapi untuk inovasi diperlukan analisis dari setiap keberjalanan kegiatan dan diikuti dengan solusi entah itu berupa perbaikan kegaitan selanjutnya ataupun pelaksanaan kegiatan baru yang bisa memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi. Aku beri contoh analogi yang aku takut akan terjadi,misalnya rencanamu akan memotong sebuah apel menggunakan sebilah pisau dan dalam catatan perencanaanmu hanya tertulis:
“tujuan: menjadi sehat dengan mengkonsumsi buah buahan
latar belakang: buah buahan dipercaya secara medis bisa meningkatkan daya tahan tubuh seseorang sehingga bila mengkonsumsi buah secara teratur akan membuat tubuh seseorang tetap sehat dan tidak rentan terhadap penyakit.
deskripsi kegiatan: memakan buah apel dengan sebilah pisau dan memakan buah apel tersebut dengan ketentuan minimal mengkonsumsi buah apel dua kali dalam sehari
parameter keberhasilan: buah apel dimakan minimal dua hari sekali dan dalam kurun waktu satu tahun tidak pernah terkena penyakit”
Catatan perencanaan tersebut seharusnya menjadi landasan pekerjaan minimal yang pada saat itu dianggap bisa menjawab tujuan, namun masih banyak juga hal-hal diluar catatan perencanaan yang bisa dilakukan dan malah bisa mengoptimalkan proses pencapaian tujuan tersebut misalnya dengan kita memakan buah apel tiga kali sehari atau memakan buah lain ditambah dengan apel dalam bentukan sop buah atau bentuk lainnya yang lebih menyehatkan. Bukan masalah buahnya tapi tentang cara pandang kita terhadap perencanaan yang kita buat dan pelaksanaannya. Aku harap stagnansi itu tidak akan terjadi baik disadari maupun tidak. Jangan takut kawan, apalagi malas. Kalian punya banyak kewenangan dalam menggerakkan roda organisasi di himpunan ini, bila perencanaan yang dibuat butuh sebuah optimasi maka buatlah hal itu walau tak diatur dalam draft kepengurusan. Jangan pernah takut untuk berkreasi karena ketakutan berkreasi adalah upaya pertama dalam penutupan keran inovasi. Himpunan ini bukan butuh program yang hanya dilaksanakan, tapi himpunan ini butuh pembangunan yang dibangun diatas program-program yang dilaksanakan.
Sembilan Puluh Delapan : Inspirasi dan Sementara
Tepat sehari setelah menulis tulisan sebelumnya, saya bersama dengan Hizha (perwakilan dari HMT), Aristya ‘juki’(perwakilan dari IMMG), dan Julius (perwakilan dari Terra) pergi ke sebuah desa di daerah Subang. Kepergian kami kesana bukan tanpa alasan yang jelas, kami pergi kesana dalam rangka menghadiri kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh FTTM 2014. Kau tahu bahwa sebenarnya kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah salah satu dari beberapa rangkaian kegiatan dari aksi kreatif yang dibuat oleh teman-teman FTTM 2014 kemarin. Tugas dari panitia kadwil hanyalah membuat sebuah pergerakan kreatif yang mampu menyelesaikan permasalahan masyarakat di sekitar kita, tapi ternyata mereka dalam pandanganku telah melakukan semua itu dengan baik dan bahkan melebihi ekspektasi awalku sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab atas kegaitan kaderisasi wilayah kemarin.
Rangkaian aksi kreatif yang mereka lakukan diawali dengan kegiatan seminar umum untuk anak-anak setingkat SMA dengan tema seputar fakultas FTTM dan hubungannya dengan kemajuan bangsa. Sebuah seminar yang seolah menjual fakultas ini tapi pada dasarnya hal ini dilakukan untuk menjadi bahan refleksi bagi anak-anak FTTM 2014 nya itu sendiri, karena dengan adanya kegiatan ini bukan hanya para siswa SMA yang terserdaskan tapi FTTM 2014 pun jadi lebih memaknai bahwasannya setiap program studi di FTTM memiliki satu kesamaan tujuan untuk membangun lini energi dan mineral bangsa yang semakin maju kedepannya dan ingin menjadi solusi dari semua permasalahan eksplorasi, eksploitasi, dan pengolahan sumber daya alam di negeri ini. Tak hanya berhenti di seminar itu, mereka meanjutkan rangkaian aksi kreatif mereka dengan bentukan sosialisasi secara umum kepada masyarakat kota Bandung tentang isu pertalite sebagai salah satu bahan bakar minyak yang digadang-gadang akan bisa menggantikan premium di masa mendatang dengan kualitas yang lebih mendekati pertamax. Sosialisasi ini sebenarnya adalah hal yang umum kita temukan dari pergerakan-pergerakan para mahasiswa yang berkecimpung dalam sebuah kelompok keilmuan, namun yang menjadi menarik adalah anak-anak FTTM 2014 menjadi lebih peka kepada masyarakat karena sebenarnya masyarakat bukan semata mencemaskan harga BBM yang sedikit demi sedikit kembali merangkak naik, melainkan mencemaskan sesuatu yang lebih mendasar dari itu yakni bahan makanan pokok yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Dari kegiatan itu FTTM 2014 jadi lebih sadar bahwasannya keilmuan mereka cukup erat dengan keadaan masyarakat hanya saja memang perlu pendalaman lebih lagi dalam hal pengolahan isu yang berkaitan dengan kebijakan sehingga nantinya kebijakan itu tak akan mencekik rakyat atau beberapa golongan dari rakyat.
Rangkaian pamungkas dari kegiatan aksi kreatif mereka adalah kegiatan “Reservoir” yang merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang telah kuceritakan sedikit diawal cerita. Mereka dengan jumlah sekitar dua ratus orang berbondong-bondong datang dan hadir di sebuah desa di daerah Subang dan merancang berbagai kegiatan yang, semoga saja, bisa menjadi dampak positif bagi seluruh warga desa tersebut di kemudian hari. Mereka melakukan kegiatan sejak hari Kamis hingga hari Sabtu dengan menginap di rumah-rumah warga untuk berbaur dan berinteraksi dengan baik agar kegiatan yang dilakukan bisa juga diikuti oleh seluruh warga yang menjadi sasaran. Kegiatan diawali dari proses perencanaan di hari pertama, perencanaan yang paling memakan waktu adalah perencanaan untuk pemasangan pipa dari mata air ke rumah-rumah warga di sebuah dusun yang selama ini sering kesulitan air bersih karena fasilitas pengairan yang tidak memadai sebelumnya. Hari pertama sendiri kami hadiri di malam hari ketika anak-anak FTTM 2014 sedang melakukan evaluasi harian setelah di sore dan malam hari itu mereka bermain dengan anak-anak kecil dari desa. Senang rasanya melihat wajah penuh keceriaan dari anak-anak kecil itu yang seolah menemukan teman-teman baru untuk belajar dan bermain walau hanya singgah sesaat saja di desa. Malam itu kami berbincang dengan beberapa perwakilan angkatan tentang apa-apa saja yang telah mereka lakukan hingga bisa melaksanakan kegiatan yang bagiku cukup super untuk dilakukan oleh sebuah angkatan fakultas. Keesokan harinya aku semakin tercengang dan lebih tepatnya semakin merasa kagum pada mereka, luasan desa yang cukup besar seolah tak menjadi halangan bagi mereka untuk bisa mengaktualisasikan setiap lini desa untuk kegiatan yang mereka telah rencanakan. Di pagi hari mereka semua beserta para warga bekerja bakti dengan membersihkan daerah alun-alun desa yang berupa masjid dan lapangan yang biasa anak-anak pakai untuk bermain bola. Lalu diadakan sebuah pasar murah yang berisi baju dan potongan pakaian bekas lainnya, pasar murah ini dihadiri oleh banyak warga terutama ibu-ibu yang berusaha untuk memberi hadiah pada anak-anaknya yang akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Di tempat lain tak jauh dari alun-alun, dilaksanakan penyuluhan tentang sampah organik untuk warga dan pembagian pupuk gratis sebagai bentuk pengetahuan bahwa sampah organik bisa diolah menjadi pupuk yang bisa menyuburkan tanaman. Setelah beberapa jam, dimulailah proses pemipaan dan proses persiapan kegiatan lainnya di sisi desa yang lain. Siang itu mereka melakukan pemipaan mata air dan mengadakan kelas inspirasi bagi warga desa khususnya anak-anak setingkat SMP tentang cita-cita pendidikan yang tinggi dengan harapan mereka semua bisa menemukan cita-cita mereka terkait pendidikan yang selama ini mungkin masih terpendam.
Pada siang itu memang kami dari perwakilan himpunan pulang kembali ke Bandung karena ada agenda yang harus kami hadiri, tapi yang kami tahu bahwa di sore hari hingga malam itu FTTM 2014 mengadakan perlombaan untuk warga desa dan ditutup dengan pasar malam yang berisi bimbingan dan penyuluhan tentang kesehatan dan lingkungan; stand makanan dan minuman gratis; ditambah dengan nonton film bersama.
Sungguh benar-benar terinspirasi aku dibuatnya, apalagi ketika Hizha berkata “Kenapa himpunan aing ngga bisa bikin yang gini ya? Padahal duitnya lebih banyak dari mereka, legitimasi sebagai lembaga juga lebih kuat dari mereka yang cuma sekedar angkatan dalam fakultas.” Jujur aku tertegun dibuatnya, seolah aku mencoba menarik kesimpulan cepat bahwa selama ini yang menjadi halangan bagi kami untuk melakukan hal tersebut adalah pemikiran kami sendiri tentang penyelesaian permasalahan masyarakat dengan keilmuan tanpa kami sadari sebenarnya kami telah lupa bahwa keilmuan kami memang erat dengan masyarakat tapi tidak secara langsung dan satu tahap seperti keilmuan beberapa jurusan yang begitu aplikatif pada keadaan sekitar. Pemikiran inilah yang mungkin pada saat forum kedua mamet OSKM 2015 pernah Atika Almira ingatkan bahwa “ Takutnya anak ITB itu terlalu berpikir bahwa mereka hanya bisa menyelesaikan permasalahan masyarakat dengan keilmuan yang mereka miliki, sehingga ketika ada permasalahan yang tidak sesuai dengan keilmuannya mereka akan diam dan cenderung tak acuh pada hal itu.” Memang seharusnya yang ditekankan disini adalah semangat untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat dan salah satu caranya adalah dengan keilmuan yang kita miliki. Tapi ingat bahwa yang terpenting adalah semangat dan kemauan menyelesaikan permasalahan tersebut dan aku telah melihat itu saat meghadiri rangkaian kegiatan aksi kreatif FTTM 2014 kemarin. Kuharap bahwa tulisan ini bukan saja hanya bisa menyadarkanku tapi bisa menyadarkan setiap orang yang selama ini sedang kebingungan dengan dirinya dan masyarakat yang ada di sekitarnya.
Hari Minggu pagi selepas kegiatan nonton bareng di himpunan, aku bersama para penanggung jawab sementara dari beberapa kepala divisi di badan pengurus melakukan rapat koordinasi. Rapat koordinasi ini dilakukan dengan tujuan utuk mengecek arahan kegiatan dan arahan terakait timeline yang diberikan oleh kepala divisi kepada para penanggung jawab sementaranya. Selain itu, dalam rapat koordinasi ini juga diberikan arahan-arahan tambahan sebagai bentuk tugas kerja bagi para penanggung jawab sementara yang salah satunya adalah menuliskan keberjalanan selama mereka menjadi PJS atau dengan kata lain membuat sebuah tulisan minimal satu kali setiap bulannya selama menjadi PJS dan nantinya akan dicantumkan dalam Tumblr milik himpunan ini.
Sistem PJS yang saat ini sedang kami jalankan sebetulnya merupakan sebuah upaya persiapan kepengurusan selanjutnya dengan metode simulasi badan pengurus, walaupun sebenarnya tidak semua kepala divisi memiliki PJS tapi kuharap dengan adanya kejelasan sistem PJS di tahun ini bisa membuat angakatan 2013 terekspos pada keseharian badan pengurus yang sebenarnya. Dalam sistem PJS ini awalnya kami samakan frame terkait sistem kepengurusan dan mekanisme-mekanisme keberjalanan kepengurusan. Setelah itu disepakati pula bagaimana mekanisme kerja PJS yang setiap kali setelah melaksanakan tugas harus melaporkan pada kepala divisinya agar kepala divisi juga mengetahui perkembangan divisinya pada saat berhalangan bertugas. Selain itu, para PJS pun diberikan kewenangan untuk membagi tugas kepada staff dalam satu divisinya sebagai upaya pemenuhan tugas organisasi dan sebagai upaya simulasi badan pengurus dalam hal pemberian tanggung jawab dan pembentukan nilai dalam setiap individu dalam satu divisi.
Dari sini sebenarnya aku banyak berharap pada angkatan 2013 untuk segera menyiapkan angkatannya karena sebentar lagi pemilihan kahim baru akan segera dimulai, ya sekitar Oktober atau November, sehingga kami dari badan pengurus sangat mau untuk memfasilitasi angkatan kalian untuk berkembang pesat demi mempersiapkan keberlanjutan mimpi dari kepengurusan kali ini dan salah satu fasilitas yang kami berikan adalah sistem penanggung jawab sementara ini.