DARI BUKU HINGGA CURAHAN HATI
Jam di layar laptopku menunjukkan angka 1:42 AM saat aku memulai alenia ini. Aku seratus persen terjaga dan dorongan untuk menulis mendesak begitu kuat, jadi di sinilah aku sekarang, di depan Dellano (nama laptopku). Jika aku tiba-tiba ingin menulis pastilah ada sebab yang menjadi latar belakangnya dan kali ini penyebabnya berasal dari sebuah buku yang sedang aku baca. Tadi aku memang terbangun tengah malam, kantuk justru semakin hilang setelah ke kamar mandi jadi aku putuskan untuk membaca. Judul buku ini adalah “Mencari Sila kelima” ditulis oleh Audrey Yu Jia Hui. Sebuah buku yang direkomendasikan dosen untuk referensi matakuliah Filsafat Pancasila. Jujur aku belum mengenal nama pengarangnya sebelumnya. Di bagian sampul belakang terdapat potret sang penulis yang memakai pakaian wisuda, terlihat masih sangat muda. Sedikit keterangan dibawahnya membuat aku tahu jika beliau ini termasuk orang yang jenius, bayangkan saja lulus S-1 pada usia 16 tahun!
Namun sebenarnya yang justru membuatku kagum adalah bukan karena kecemerlangan otaknya saja, tapi karena rasa cintanya pada tanah air yang diungkapkannya dalam buku ini. Jujur aku pikir orang pintar dan jenius di Negara ini tidak sedikit jumlahnya. Namun mereka yang jenius dan masih mau “berbuat sesuatu” untuk negaranya amat minim jumlahnya. Banyak aku mendengar orang-orang seperti mereka lebih memilih pergi ke luar negeri bahkan mengabdi dengan kemampuan yang dimilikinya kepada Negara lain. Aku tak punya hak apapun untuk menyalahkan mereka. Karena aku juga sadar negaraku ini masih belum “siap”memfasilitasi orang-orang jenius dan berbakat seperti mereka.
Aku memang belum menyelesaikan buku ini, saat aku menulis ini baru sampai halaman 65. Tetapi aku sudah bisa merasakan luapan rasa cinta Audrey kepada Indonesia. Rasa cinta yang membuatnya ingin melakukan sesuatu untuk bangsanya yang ia tempuh dengan cara menulis buku ini. Tentu beliau ingin menggugah semangat cinta tanah air kepada pembacanya dan dalam kasusku harus kukatakan beliau telah berhasil, bahkan sebelum kuselesaikan halaman terakhir. Entahlah, mungkin karena buku ini semacam ungkapan kegalauan sang penulis tentang kondisi Negara dan bangsa Indonesia yang ditulis dengan jujur maka akupun bisa merasakan kegalauan itu.
Audrey tidak menempatkan diri sebagai orang yang tahu segalanya dan menawarkan solusinya untuk memperbaiki kondisi Negara ini. Sebaliknya, beliau memulai dengan pengakuan-pengakuan jujur, keresahan-keresahan yang membuat pergolakan dalam batinnya sehingga aku seperti mendengar seorang kawan yang sedang curhat. Dan saat aku mendengar curhatan itu aku bisa mengerti karena akupun mengalami hal yang sama dengannya!. Lucu memang, mengingat latar belakang aku dan Audrey yang sungguh berbeda. Dipandang “aneh” oleh orang-orang disekitar karena rasa nasionalisme, dicap sok idealis karena ingin mengabdi untuk bangsanya. Oh aku juga sering mengalaminya!
Biar kuceritakan, sebenarnya aku juga tidak tahu persis kapan rasa cinta tanah air itu mulai tumbuh dalam diriku. Yang kuingat sejak aku SMP aku sudah punya keinginan menjadi seorang relawan ataupun aktivis yang bisa membantu orang lain, bahkan pernah punya keinginan untuk membuat sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). keinginan yang jika aku katakana kepada orang lain aku pasti akan ditertawakan bahkan oleh orang tuaku sendiri. Memang sedikit lucu, karena keadaanku sendiri yang serba kekurangan. Orang tuaku pasti akan bilang bahwa orang yang rela tidak dibayar untuk membantu sesamanya pastilah orang yang serba berkecukupan hidupnya. Sementara kami hanyalah keluarga petani sederhana yang bahkan harus menjual sebagian tanah untuk biaya pendidikan!
Jadi, aku sama sekali tidak menyalahkan mereka yang memandangku aneh. Keinginan untuk menjadi sukarelawan masih tetap tumbuh dalam diriku. Memasuki bangku SMA akupun mengikuti ektrakulikuler PMR (Palang Merah Remaja), saat Diklat semua ditanya oleh kakak senior alasan mengapa ingin menjadi anggota PMR. Satu-satunya jawaban yang bisa kuucapkan hanya “Saya ingin membantu orang lain, Kak”. Lagi-lagi aku ditertawakan. Awalnya aku tidak paham namun setelah lulus SMA aku baru sadar bahwa sebagian besar waktu yang aku jalani sebagai anggota PMR bersama dengan kawan-kawan yang lainnya adalah untuk latihan lomba, lomba kepalang-merahan dan menjadi panitia Diklat untuk anggota junior. Bagian “membantu sesama” nyatanya porsinya amat kecil.
Setelah memasuki bangku kulaih barulah hasratku untuk menjadi berguna untuk orang lain mendapatkan wadahnya. Aku menjadi seorang relawan di sebuah gerakan yang diinisiai oleh salah satu tokoh yang aku kagumi sejak lama. Bukan karena ketokohan beliau yang membuat aku bergabung, namun lebih karena ide dan gagasannya untuk menyelesaikan permasalahan Negara dengan cara turun tangan sesuai dengan kompetensi kita. Menurutku memang itulah yang harus kita lakukan bersama, berhenti mengeluh tentang permasalahn negara dan ikut andil dalam penyelesaian masalahnya. Tidak mengumpat dalam gelap namun menyalakan lilin terang.
Harus aku akui bahwa menjadi relawan memang tidak mudah, baru awal saja banyak orang-orang yang mencibirku termasuk teman-teman dekat. Namun kebahagian yang datang karena menjadi relawan juga amatlah besar. Membuat orang lain tersenyum bahagia nyatanya memberikan kebahagian yang berlipat-liapat sebagai ganjarannya. Aku bahkan sampai berpikir bahwa manusia baru benar-benar menjadi manusia jika dia bisa berguna untuk manusia yang lain. Hal ini senada dengan apa yang diajarkan oleh agamaku. Aku baru sadar mungkin inilah yang dimaksud Audrey dalam buku “Mencari Sila Kelima” bahwa fondasi agama yang sejati adalah kasih. Meskipun dengan istilah yang berbeda tapi agamaku juga mengajarkan kasih sayang kepada sesama, persaudaraan dan persamaan kedudukan. Bahwasanya yang membedakan manusia di mata Tuhan hanya iman dan ketaqwaanya.
Jujur saat menulis kalimat diatas ada rasa takut menyelinap, takut salah memahami, salah tafsir karena akupun masih sangat awam dalam bidang keagamaan. Semoga ada yang sudi membaca coretanku ini dan meluruskanku bila memang aku telah salah memahami. Sesungguhnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Kembali lagi pada topik tentang keinginanku membantu sesama. Tapi sepertinya kata-kata “membantu sesama” terlalu tinggi untukku, orang yang masih sering menyusahkan orangtuanya dan teman-temannya. Aku hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat, bahwa karunia usia yang diberikan kepadaku tidak kubuang percuma tanpa ada gunanya untuk masyarakatku. Mengingat aku bukan orang yang berkecukupan, aku (sampai saat ini) belum bisa membantu orang lain dengan hartaku. Yang aku punya adalah modal untuk menjadi seorang pendidik. Ya aku memang kuliah di jurusan kependidikan dan seorang calon guru. Aku berfikir satu-satunya yang bisa aku sumbangkan kepada orang lain adalah sedikit ilmu yang aku miliki.
Maka aku ingin sekali mengikuti program SM3T setelah lulus kuliah. SM3T adalah singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal yang merupakan salah satu program Kemenristek Dikti. Keinginanku ini sejujurnya tidak tulus-tulus amat. Hei aku juga manusia biasa!. Aku dengar jika mengikuti SM3T maka akan otomatis mendapat beasiswa PPG atau Pendidikan Profesi Guru sehingga akan lebih mudah untuk menjadi guru bersertifikasi. Apa kau berpendapat aku sangatlah munafik? Mengabdi di daehah terpencil satu tahun agar bisa mendapatkan gaji yang besar di kemudian hari?. Kawan, harus kukatakan padamu aku juga sangat jijik dengan diriku sendiri karena pemikiran itu. Tapi biar kujelaskan dulu, agar kamu bisa mengerti.
Seperti yang sudah kusampaikan di atas, aku berasal dari keluarga yang amat sederhana. Kedua orang tuaku dalah petani, semi-buruh tani bahkan, hal ini karena sawah yang kami miliki tidaklah seberapa luas maka untuk menambah biaya hidup sehari-hari mereka juga menggarap sawah milik orang lain. aku tidaklah sampai hati mengatakan keluargaku miskin, walaupun mungkin kenyataanya begitu bagi oarng lain yang melihat. Menyebut keluargaku sendiri miskin rasanya sungguh kurang bersyukur, karena kenyataannya kami tak pernah sampai kekurangan makan. Kami hanya sederhana. Dan yang membuat aku sangat bangga kepada kedua orang tuaku adalah karena kerja keras mereka dalam membiayai pendidikan anak-anaknya.
Bapak yang bahkan tidak lulus SR (Sekolah Rakyat) mati-matian bekerja di sawah demi meyekolahkan aku dan kakakku. Bekerja untuk pemilik sawah satu ke pemilik sawah yang lain, menjadi tangan kanan pemilik lahan mulai dari Pak Haji, Kepala Desa bahkan tetangga sendiri. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan betapa bangganya aku kepadanya. Bapakku, yang kurus kering menghitam setiap hari di sawah, telah mengorbankan semuanya demi melihat anak-anaknya menjadi sarjana. Kutulis kalimat ini dengan isakan tangis, teringat pada mata bapak yang cekung, kelelahan yang yang tak mungkin bisa tertutupi akibat beban kerja yang sudah dilakukannya sejak kecil!. Sejak usia 10 tahun hingga sekarang tangan dan kakinya dia gunakan setiap hari untuk menafkahi keluarga.
Di saat banyak orang tua di desaku memaksa anak-anaknya menyudahi pendidikannya agar mereka segera bekerja mengumpulkan kekayaan , Bapak Ibuku tidak!. Di saat orang-orang seusia bapak hanya tinggal menunggu kiriman dari anak-anaknya di perantauan Bapak justru sebaliknya. Bekerja dari pagi hingga sore demi mengirim uang untuk anak-anaknya yang kuliah di perantauan. Inilah kawan, alasanku kenapa aku juga bertekad ingin memiliki gaji yang layak. Aku sadar jika aku menuruti keinginanku menjadi guru relawan yang benar-benar tidak menerima gaji, sama saja aku seperti menghianati orang tuaku sendiri. Aku egois karena hanya mengikuti idealismeku tanap memikirkan kondisi keluarga.
Aku, anak sebagai anak mereka punya tanggung jawab untuk membalas budi kebaikan orang tua. Aku sadar sepenuhnya bahwa Bapak menyekolahkan aku agar memiliki penghidupan yang lebih layak darinya di kemudian hari. Maka salah satu keinginan terbesarku adalah bisa melihat bapak “bersantai” di usia tuanya, tanpa perlu memikirkan pekerjaan di sawah karena biaya hidupnya telah aku tanggung. Nah itu kawan alasan dibalik “ketidaktulusan” niat yang aku miliki terkait keinginanku menjadi guru SM3T. bagiku ini seperti sambil menyelam minum air, selain akan memenuhi panggilan jiwa untuk mengabdi juga sebagai jalan memenuhi tanggung jawab sebagai anak yang berbakti. Lagipula, bukankah ironis bila kita bisa bermanfaat bagi orang lain tapi tidak bagi orang tua kita sendiri?
4.23 AM saat kuketik paragraf ini. Tak kusangka tulisan yang awalnya membahas sebuah buku berubah menjadi curahan hati. Aku memang masih sangat amatir dalam menulis, yang jelas seperti Audrey aku juga ingin jujur dalam setiap tulisanku. Karena dengan begitu pesan yang sampai kepada hati orang yang membacanya. Semoga saja cuharan hati saya ini ada guna dan manfaatnya, Aamiin.
Kawanmu,
Munawaroh











