Hola 🤗

★
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
YOU ARE THE REASON
Show & Tell
d e v o n
🪼
AnasAbdin

Discoholic 🪩

PR's Tumblrdome
No title available

No title available

祝日 / Permanent Vacation
Claire Keane
Today's Document

if i look back, i am lost

roma★
NASA
No title available
Acquired Stardust
tumblr dot com

seen from Malaysia
seen from Portugal

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States
seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China

seen from Spain

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Germany

seen from United States

seen from Singapore
@munchtyler17
Hola 🤗
aku tidak pernah ikhlas melepasmu, aku hanya terpaksa karena aku tau bahagiamu bukan aku.
Aku kembali ingat bahwa aku bukan siapa-siapa. Aku tidak pernah menjadi seseorang yang istimewa di hidup orang lain. Aku hanya seonggok manusia yang hidup di suatu tempat, dan berusaha menjauh dari orang-orang dengan terlambat. sebelum mereka menjauhiku lebih dulu. Dan berakhir sendirian tiap malam.
26-01-2025
Kamu akan jadi orang terakhir yang akan aku perjuangkan mati-matian sehabis nyawaku. Mungkin hari ini kita dicukupkan sampai di sini. Namun segera nanti akan membersamai selamanya.
Membebaskanmu demi untuk memilih apa yang kau rasa baik merupakan bentuk rasa sayangku yang terakhir. Meski bersamaan dengan itu masih kupertanyakan hampir tiap hari, apa pilihanmu memang baik, atau aku yang selama ini tidak cukup baik untukmu. #171823
Dari pengalaman dan kejadian di 2024, saya semakin percaya bahwa cinta merupakan suatu eksperimentasi terhadap relasi dalam kehidupan. Tatkala mencintai, kita sebetulnya tidak sedang berupaya menemukan diri yang rasional, merumuskan interaksi yang romantis, apalagi memeroleh hidup yang sempurna. Justru, cinta, mengajarkan kita untuk jujur pada kerentanan dan kompromi pada irasionalitas. Melalui cinta, kelemahan seseorang pun menjadi transparan dan memungkinkan untuk direkognisi. Maka dari itu, cinta, sebagai eksperimen, merupakan ruang untuk belajar kedirian dan memahami bagaimana kita sangat membutuhkan orang lain untuk mengenali makna hidup melalui rajutan kesepahaman. Dalam gelapnya kehidupan, eksperimen tidak sedang bermaksud mengantarkan seseorang menuju ruangan yang dipenuhi oleh cahaya. Melainkan, eksperimen akan menujukkan bahwa lentera tersebut bisa jadi adalah bagian dari diri kata yang ditemukan melalui orang lain.
Apakah gerakan tubuh ini sangat lambat sehingga tidak pernah dapat menyeimbangi lajunya? Apakah pencernaan pikiran ini begitu bermasalah sehingga tidak dapat mengerti kompleksitasnya? Apakah kuantitas energi ini sedemikian kecil, sehingga hanya mampu mengupayakan hal-hal kecil yang jauh dari kata standar? Apakah sensitivitas diri ini akan selalu tumpul, sehingga memahami dan berempati atasnya tidak lebih dari sebuah angan belaka. ENTAH. Terkutuk menjadi manusia yang lambat, bodoh, tidak sensitif seringkali mengantarkan saya pada kondisi krisis eksistensial yang cukup dalam dan menggerogoti diri. Bercermin dengan diri sendiri di saat seperti ini, saya bahkan tidak tahu mesti melakukan apa terhadap faktisitas yang menandai keterlemparan saya. Ditambah lagi, saya amat kesulitan mengekspresikan kesedihan, ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, dan kelelahan diri saya. Mungkin, ini yang oleh Nietzsche ditunjuk sebagai dunia dan diri yang chaotic, dimana hidup hanya akan mengantarkan pada rasa sakit.
Ini tidak membunuhku. Tapi sesuatu dalam diriku mati hari ini.
Karena aku hanya bagian kecil yang tak penting dari duniamu.
Sudah 300 tahun sejak wafatnya (1804), Immanuel Kant masih tetap memberi pengaruh, baik secara positif maupun negatif, bagi peradaban manusia hingga hari ini. Seringkali, ia disalahpahami sebagai yang paling bertanggung jawab bagi pemisahan epistemologi (pengetahuan) dari teologi (Tuhan). Bahkan, tidak sedikit yang menuduhnya tidak percaya Tuhan. Padahal, Kant sendiri sangat meyakini Tuhan, namun dengan cara yang sama sekali berbeda. Baginya, pembuktian Tuhan itu bukan berada pada sorotan eksistensi namun pada bagaimana Tuhan berfungsi dalam domain moralitas. Menempatkan Tuhan sebagai kebaikan tertinggi (das hochste Gut), Kant berargumen bahwa keberadaan-Nya adalah suatu kemestian agar seluruh tindakan moral manusia dapat dijelaskan. Ini menjadi penting, karena sebagian besar kalangan terjebak dalam debat kusir terkait Tuhan tanpa memedulikan apa konsekuensi praktis dari bertuhan. Dari Kant, kita mengerti bahwa Tuhan tidak dibuktikan, namun diperlukan guna membuat tindakan moral manusia menjadi masuk akal.
Kesepahaman intersubjektivitas ini yg sering kita lupakan. Sebagai akibat dari globalisasi, manusia cenderung memandang dirinya sufficiently untuk berziarah. Diri dilihat sedemikian otonom sehingga yang lain diposisikan sebagai noda yg dapat mengotori kemurniannya. la pun diisolasi, dan yang lain pun berusaha disingkirkan. Padahal, seperti yang ditunjukkan Ricoeur, kedirian dan identitas kita ini ibarat cerita naratif (narrative identity). Kita adalah subjek bagi cerita orang lain, demikian pula sebaliknya. Orang lain juga mengambil peran dalam menuliskan cerita bagi diri kita, begitupun sebaliknya. Memang, ada identitas yang tetap dari diri (idem identity). Tapi, identitas itu bisa diubah, dimodifikasi, dan dievaluasi melalu perjumpaan dengan yang lain (ipse identity). Maka, diri itu sebetulnya polisemi. Perziarahan itu bukan cuman pengalaman individu kita, namun juga mencakup perjumpaan dan pengenalan kita dengan yang lain. Bisa jadi, ziarah akan menjadi penuh makna, jika yang lain disikapi secara etis.
Walaupun dikutuk untuk cemas, para peziarah diberkati anugerah yang sangat mahal, yaitu interaksi, relasi, dan memahami. Seperti yang telah saya sebutkan, perjumpaan antar satu peziarah dengan yang lain itu adalah keniscayaan dalam perjalanan hidup. Perjumpaan ini tidak hanya mengambil bentuk sapaan, namun pertukaran bekal. Oleh karenanya, makna hidup kita sangat dideterminasi oleh perjumpaan itu. Saya sangat tersentuh ketika Ricoeur menyebut diri kita sebagai himpunan dari perjumpaan dengan ragam diri (Oneself as Another). Perjalanan ziarah kita tidak akan pernah menemukan realisasinya apabila tidak disertai dengan keterlibatan yang lain. Mulai dari peran paling minor, hingga yang paling mayor, yang lain sangat menentukan bagaimana jalan yang kita pilih itu dijalani. Maka, yang paling penting dari perjumpaan dengan yang lain, perbedaan jalan yang ditempuh oleh yang lain, adalah bagaimana menemukan kesepahaman intersubjektif yang etis, suatu kesepahaman yang dapat mendorong kita untuk sama-sama menuju tujuan.
Barangkali, stasiun yang menjadi titik akhir dari semua jalan yang ditempuh oleh para peziarah cemas adalah kematian. Kematian ini pula yang, apabila direnungkan, akan mentransparankan kecemasan, kerentanan, dan kerapuhan kita. Jika dihadapkan pada kematian, pada ketiadaan, mungkin ada banyak cara untuk melupakannya sejenak dan lari dari kecemasan tersebut. Namun, kematian itu sendiri tidak pernah pergi. Dia akan menanti di penghujung perjalanan. Mau tidak mau, kita akan mengakhiri ziarah kita di sana. Mungkin, yang bisa kita lakukan adalah menerima, menghadapi, dan mempersiapkan bekal. Heidegger sudah menulis panjang tentang sein-zum-tode. Nietzsche telah bersabda banyak mengenai eternal recurrence. Agama-agama pun telah menyediakan sekian banyak penjelasan mengenai bagaimana menyambut kematian dengan bersahaja. Bahkan, agama melangkah lebih jauh dengan menjelaskan apa yang ada di baliknya. Semuanya tidak lain adalah untuk menemani perjalanan kita, karena kehidupan memang seambigu itu.
Mengapa kecemasan menjadi karakter dasar para peziarah? Jika berkenalan dengan para arif eksistensialis, seperti Nietzsche, Kierkegaard, Tillich, Iqbal, Sadra, Heidegger, dll, kita akan menemukan bahwa manusia adalah peziarah yang sebetulnya tidak mengetahui apa-apa mengenai asal-usul, cara hidup, hingga tujuan akhirnya. Maka dari itu, faktisitas memaksa mereka mencemaskan semua itu. Kecemasan ini kemudian mendorong mereka untuk mencari jawaban, menentukan arah, dan menemukan jalannya. Agama dan filsafat lalu dapat dipandang sebagai gmaps yang membantu kita menemukan itu semua. Saya sendiri melihat jalan hidup sebagai harapan para peziarah. Karena, manusia yang sepenuhnya meletakkan kediriannya pada jalan yang ia pilih sebetulnya sedang berharap agar sampai di tujuan. Mereka lalu butuh untuk percaya dan berpegang pada jalan tersebut karena dunia begitu chaotic. Maka tidak berlebihan jika Tillich menobatkan agama sebagai ultimate concern yang menyentuh relung paling dasar dari diri seseorang.
Mari membayangkan bahwa kehidupan kita adalah perziarahan. Dalam ziarah, kita akan menemukan setidaknya tiga bagian konstitutif: destinasi, jalan, dan tanda. Umumnya, manusia mempunyai tujuan akhir dari kehidupannya. Dari lensa orang beragama, tujuan akhir itu adalah Yang Maha Lain. Jalan untuk menuju ke tujuan tidak lain merupakan nilai, pandangan dunia, dan laku kehidupan berkeutamaan yang mesti diejawantahkan setiap hari. Sementara tandanya bisa berbeda-beda. Mulai dari Nabi Muhammad, Alquran, Yesus Kristus, Sakramen, Nabi Musa, Taurat, Bhagavad Gita, Vedas, dll. Tanda-tanda tersebutlah yang menunjukkan jalan bagi para peziarah. Menariknya, dalam keragaman jalan yang termanifestasikan dalam beragam tanda, seorang peziarah sebetulnya sangat mungkin bertemu dengan peziarah lainnya jika berada di persimpangan jalan, stasiun, maupun tempat peristirahatan. Idealnya, mereka akan berjumpa, berdialog, dan bertukal bekal (spiritualitas dan moralitas) karena sama-sama menanggung kecemasan perziarahan.
The end.
No passion.