Sebelum Lelap
Bahkan jika sesuatu itu bukan yang terbaik menurutmu, kamu selalu bisa berbaik sangka bahwa itu adalah yang terbaik menurut Allah. Hatimupun seketika menjadi lapang.
Salah satu yang menyebabkan sedih berkepanjangan adalah keengganan kita untuk meluaskan definisi bahagia, bahwa bahagia hanyalah bisa didapat jika hidup berjalan sesuai rencana. Aduhai, padahal kita adalah makhluk usaha, tak berkuasa sedikitpun dengan hasil. Lantas bagaimana seseorang yang hanya memiliki usaha memaksa definisi bahagianya dari keberhasilan hasil, sesuatu yang di luar kendalinya?!
Hati manusia rapuh, ditambah dengan definisi bahagia yang rapuh ini, duh tak terbayang berapa ribu luka dan sakit yang harus ia derita.
Untungnya, kita memiliki tempat bersandar yang kuat; dialah Allah. Maka sandarkanlah hati dan definisi bahagiamu kepada Allah. Bahwa bahagia tak harus dari hal-hal yang berjalan sesuai rencana, tapi pada hal-hal yang di luar perkiraanpun, bahkan gagal, kita masih bisa merasakan bahagia. Karena jika memang itu tidak sejalan dengan mau kita, ia selalu sejalan dengan maunya Allah.
Berbisiklah, "Jika berhasil, ya Alhamdulillah. Jika tidak, ya tidak apa-apa. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah."
Jika berhasil dan tidak berhasil sama-sama membuatmu bersyukur. Lantas adakah yang akan membuatmu khawatir lagi?
Tidak ada. Kamu pun lebih bisa menikmati secara penuh dan utuh proses perjuangan tanpa dibayang-bayangi rasa takut berlebih tentang hasil. Toh apapun hasilnya sama saja, sama-sama baik.
Kamu menjadi lebih percaya diri, lebih fokus dan bersemangat. Bukankah yang kerap kali menghalangi kita dari totalitas dalam berjuang adalah ketakutan kita terhadap hasil? Bawaannya tidak tenang. Lantas ketidak tenangan ini merambat ke segala hal; pikiran, hati, tangan, kaki, mata, telinga dan seterusnya. Hidup jadi tidak nikmat.
Yang lebih penting dari menikmati keberhasilan adalah menikmati perjuangan. Dan kita tak akan pernah menikmati perjuangan sampai benar-benar memasrahkan hasil kepada Dia yang memang memegang kuasa mutlak atas hasil tersebut.
Dan kita tak akan pernah bisa memasrahkan hasil kepada Allah sampai kita benar-benar mempercayakan kebaikan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya.
"Seandainya manusia ditunjukkan takdir-takdirnya, tentulah ia akan memilih apa yang telah Allah pilihkan untuknya," tutur sayyidina Umar.
๐ febriawanjauhari









