Beliau kerap disapa Pak Tahmid. Usianya 46 tahun, bisa terbilang masih cukup muda untuk seorang bapak yang memiliki tiga anak dengan anak pertama berusia mahasiswa semester 3.
  Istri Pak Tahmid bekerja sebagai pengajar di SMPN 1 Bambanglipuro. Istrinya biasa berangkat ke sekolah pagi hari dan kembali pulang kerumah menjelang petang. Oleh karena itu, Pak Tahmid mulai mencuci piring sehabis shalat subuh, menyiapkan bekal yang sesekali dibutuhkan oleh anaknya. Istri Pak Tahmid memasak dan hanya sempat membantu menyapu rumah sebelum berangkat mengajar. Tidak hanya sampai disitu, setelah mencuci piring beliau mengantar anak kedua dan ketiganya berangkat ke sekolah. Sehabis mengantar sekolah, berbagai pekerjaan rumah telah menunggunya. Biasanya, sehabis mengantar beliau akan mencuci baju, lalu menjemurnya di pelataran rumahnya. Berkaitan dengan membersihkan halaman, beliau juga hampir setiap hari melakukan hal tersebut. Sampai waktu siang menjelang sore, beliau akan menjemput anaknya. Apabila diwaktu akhir pekan atau jam pelajaran belum efektif, beliau akan memastikan anak-anaknya agar makan siang. Kalau tidak tersedia makanan, beliau yang akan menyiapkan makan siang. Jadi, hampir semua pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh Pak Tahmid. Sedangkan untuk penghasilan utama berasal dari istrinya. Pak Tahmid bisa berperan sebagai penentu jalan keluarganya, juga sekaligus dapat berperan sebagai bapak "rumah tangga" yang cenderung lebih sering mengurus pekerjaan rumah.
  Pak Tahmid mengungkapkan bahwa tidak merasa gengsi sama sekali untuk melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasanya cenderung dilakukan oleh ibu-ibu, beliau melakukan pekerjaan rumah tangga apa saja selagi beliau bisa. Beliau mengaku telah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga sejak remaja. Dahulu, beliau beserta saudara-saudara kandungnya membagi pekerjaan rumah tangga yang kemudian pergantiannya akan digilir setiap minggu. Pak Tahmid juga mengungkapkan bahwa apabila beliau mengikuti gengsinya dengan lebih memilih bekerja seperti jadi pegawai untuk memberikan nafkah lebih bagi keluarganya justru malah membuat anak-anaknya tidak terurus. Beliau mengaku sudah bahagia dan mensyukuri hidupnya saat ini.