Ini adalah cerita bagian kedua, agar membacanya tidak bingung silahkan scroll cari part 01 memantaskan diri
Alfa sangat senang karena hari ini banyak mendapat masukan dari orang yang baru dikenalnya tadi saat jalan-jalan sore.
Di rumah, Alfa kembali dengan aktivitas kesehariannya. Sebetulnya sudah lama Ia tidak mendapat teman berbicara, disisi lain karena orang tuanya sibuk bekerja berangkat pagi pulang malam, ada seperti tidak ada.
Yah akhirnya hari pun berlalu sangat membosankan bagi dirinya. Makan, tidur, mandi, makan, tidur, mandi, sudah seperti firaun saja. Namun, dibalik latar keluarganya seperti itu, Ia senang hidup dikelilingi orang-orang baik, yang mau menerima dirinya dan menganggap ada dirinya. Menurutnya sesedih apapun hidupnya, pasti selalu ada sesuatu yang bisa disyukuri. Teringat perkataan bapak-bapak tadi "setiap sesuatu harus ada pasangannya, kalau ada sedih harus ada bahagianya", itu juga termasuk yang membuat Ia menikmati hidupnya.
Hari pun berlalu seperti biasanya, sebab kemarin Ia berjanji akan bertemu orang itu sore ini, kali ini Ia menggunakan pakaian yang agak rapih, tidak seperti kemarin yang hanya menggunakan sendal jepit swallow yang biasa di masjid-masjid, Ia menggunakan pakaian kasual dan menggunakan sepatu.
Hari ini sedikit berawan, sinar matahari di balik awan membuat efek oranye ke penjuru langit, tenang rasanya. Ketika Alfa pergi ke tempat kemarin, ternyata orang itu sudah ada di sana, duduk sambil menikmati segelas kopi dan memandang orang berlalu-lalang di depannya.
"Pak! Sudah sampai, dari tadi?"
"Ah..tidak kok Al, sekitar lima atau sepuluh menit yang lalu"
Orang itu memanggil Alfa dengan sebutan namanya.
"Wah, cepat sekali atau saya yang kelamanaan nih pak? Maaf nih hehehe"
"Tidak kok nak Alfa, saya suka berangkat lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan, lagian juga saya ingin mencari udara segar lebih banyak", ucapnya.
"Eh..saya sudah pesan kopi, kamu mau tidak kopi? Anak muda biasanya suka senja dan kopi hahaha" tambahnya.
"Mau pak..saya pesan dulu ya pak"
Alfa pun pergi untuk memesan kopi.
Ketika Ia kembali, Ia melempar sebuah pertanyaan.
"Pak, tadi bapak bilang suka datang lebih cepat dari jadwal yang sudah di tentukan, kenapa gitu?"
"Oh, tidak kenapa-kenapa, kalau bisa lebih cepat kenapa tidak, kan?
"Masa itu saja, pasti ada alasan lainnya." saut alfa
"Heee ngotot ya kamu. Nih Al..kamu sekolah kan? Pastinya pernah ikut organisasi atau minimal kerja kelompok dong?"
"Kalau pernah, pasti pernah ketemu saat-saat dimana ada rapat-rapat atau bahas apa gitu yang mengharuskan kamu kumpul dong"
"Iya pernah, kenapa gitu?"
"Pernah lihat anggotanya datang terlambat?"
"Itu sih bukan pernah lagi, sering pak hm"
"Ya jengkel marah aja gitu kalau tanpa alasan yang jelas, tetapi telat." Jawab Alfa sambil terbawa emosi karena teringat yang lalu-lalu.
"Nah seperti itu Al.. saya tidak ingin memperlakukan orang seenak saya, datang terlambat misalnya. Selain merusak image saya, juga itu merusak hubungan manusiawi saya dengan orang lain, orang tidak percaya lagi dengan saya.
Tentu itu kerugian yang sangat berarti bagi saya."
"Dimana pun kamu berada, sesusah apapun keadaan kamu saat itu, setidaknya jangan jadi beban buat orang lain." tambah orang itu.
"Benar juga pak, banyak yang tanpa kita sadari, sebenarnya kita sudah menjadi beban banyak orang ya, misalnya seperti datang terlambat itu"
"Nah iya Al, masa kaya gitu aja ga tau gimana"
"Hehe, sekarang saya ngerti Pak"
"Ngomong-ngomong kamu rapih ya hari ini, kaya mau ketemu presiden aja haha." Bapak itu terkeukeh.
"Gak papa, ini sebagian dari usaha saya menghormati Bapak hehe"
"Santai saja Mas dengan saya ini", ungkap pria itu sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong soal kemarin, kamu menanyakan tentang hal baik kan, Mas? Yang nak Alfa lakukan ini (berpakaian rapih) juga suatu kebaikan loh"
"Oh ya?" Alfa memasang muka bingung.
Seseorang datang membawa pesanan kopi yang tadi Alfa pesan
"Ini kopinya, Mas. Mau ditaruh dimana?", ucap orang tersebut.
"Di sini saja", balas Alfa sambil membersihkan debu di kursi.
"Bagaimana tadi, Pak?" Alfa membuka obrolan yang tadi terputus.
"Iya itu juga sebagian dari kebaikan loh nak Alfa, kebaikan dalam memperlakukan manusia lain"
"Toh juga kebaikan bukan hanya sebatas memberi materi yang berwujud, melainkan juga yang tidak berwujud seperti nak Alfa ini. Cuma mungkin yang banyak atau sering kita jumpai itu orang-orang yang baik dalam memberi sebuah materi, seperti uang misalnya." Tambah bapak itu.
"Kalau itu, saya sering lihat di televisi, Pak! Banyak juga yang dijadikan program acara"
"Padahal baik itu bukan perkara itu saja, misalnya saja seperti berpakaian rapih saat bertemu orang lain, selain orang itu berusaha memuliakan orang yang ditemuinya, Ia juga mencerminkan keadaan dia saat menghadap penciptanya loh Mas. Kalau cara berpakaian terhadap orang lain saja diperhatikan, apalagi yang di atas (Tuhan) kan?", tambahnya.
"Atau bisa juga membantu teman kamu yang sedang kesulitan, membantu sahabat yang sedang mengalami putus cinta, membantu memberikan saran itu juga kebaikan." Tambahnya lagi.
"Di saat orang lain kepanasan karena matahari yang sangat terik, kamu ada melebarkan sayap kamu untuk meneduhkan, melindungi, dan merangkul semua orang yang membutuhkan kamu dan di saat itu pula kamu tidak ingin kebaikanmu terlihat orang lain, itu definisi baik menurut saya"
"Saya pernah Pak saat berbelanja kebutuhan sekolah, saya melihat pengemis, kasihan sekali. Sementara itu, saya ingin membantunya, di saku saya cuma ada uang dua ribu dan sepuluh ribu, saya berniat mengasihkan dua ribu, sementara sepuluh ribu untuk saya naik angkot pulang ke rumah. Akan tetapi, saat saya ambil uang dari saku celana saya yang keluar lebih dulu uang sepuluh ribu nya Pak. Eh ada cewe lewat Pak, melihat saya ngeluarin uang sepuluh ribu. Akhirnya saya pikir, udah tanggung ada yang lihat ya Pak hehe saya kasih tuh uang sepuluh ribu nya ke pengemis tersebut dan saya nya pulang jalan kaki hehe, itu bagaimana, Pak?"
Bapak itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk punggung Alfa.
"Itu sih kembali lagi ke kamu Alfa, saya bukan Tuhan yang bisa menentukan itu bakal diterima atau tidak amalnya, itu ikhlas atau tidak, itu dosa atau tidak. Itu semua kembali lagi ke pribadi masing-masing karena perkara hati itu tidak ada yang tahu isinya. Menurut saya, kalau mas nya niatnya baik dan ikhlas ya sudah selesai masalah itu, mau habis itu orang bilang apa bodoamat apa yang mereka katakan. Semua yang menjalani kan kamu sendiri."
"Manusia itu bukan Tuhan, tetapi banyak manusia bertingkah seperti Tuhan hehe." Tambahnya.
"Izinkan saya berbicara panjang lebar sama kamu mengenai hal ini, kiranya mungkin bermanfaat."
"Boleh banget Pak, ayo apa?", Alfa sangat antusias.
"Ini terlepas dari masalah kamu tadi."
"Sebetulnya baik itu tergantung dari niat seseorang. Bahkan, meskipun hanya niat saja itu sudah terhitung kebaikan loh, cuma terkadang niatnya ini nih di manuver oleh seseorang dengan berkedok 'ingin dilihat seseorang' kebaikannya itu, misalnya saja seseorang yang ingin dinaikan pangkatnya oleh bos, anak muda yang cari perhatian lawan jenisnya, dan masih banyak lagi, kamu pasti terpikirkan. Itu tidak salah sih, tetapi kalau kamu mau tahu letak kenikmatannya itu bukan disitu, yaitu dimana kamu berbuat baik tidak ada orang lain yang tahu itu nikmatnya bukan main Mas. Orang yang kita bantu pun senyum nya sumringah"
"Sejatinya tingkat kebutuhan seseorang itu berbeda-beda Mas, tidak bisa kita sama ratakan. Misalnya, si A butuh saja, si B butuh sekali, si C tidak terlalu butuh.
Nah masalahnya ketika orang tersebut butuh sekali dan menunggu untuk bantuan, apa kamu tega berbuat baik dengan menjual muka orang tersebut? Kemudian dijadikan untuk keperluan apa itu yang anak muda banyak main sekarang? Instragram atau instra apa itu yang kaya status WA?"
"Tentu tidak tega saya pak, manusia manapun tidak tega. Maksudnya instastory?", jawab Alfa.
"Nah itu betul saya tidak main begituan tidak tahu hehe."
"Masalahnya Mas, ga semua orang berpikiran seperti kamu. Saya kira banyak orang yang baik hanya ingin diketahui banyak orang bahwa dirinya baik. Tentu kalau saya dikasihani dengan cara seperti ini tidak mau, tetapi kembali lagi mungkin cara pikir saya salah, kamu jangan terlalu memakan kata-kata saya, banyak otak seharusnya banyak pendapat yang berbeda nak Alfa dan PR kamu adalah bisa menelan mana yang layak untuk dikonsumsi".
"Menurut saya, yang seperti itu sama halnya dengan orang yang menasihati temannya yang berbuat salah di muka umum atau di depan banyak orang. Baik sih niatnya, tetapi dibungkus dengan nafsu popularitas, itu tidak lebih dari memalukan temannya dan dirinya tidak lebih dari sampah."
"Ada lagi misalnya disekolah kamu punya seorang teman, kurang pandai, sementara kamu murid yang pandai misalnya, yang kurang pandai itu dibantu, bukan dijatuhin sekalian ke jurang. Barangkali suatu saat temanmu lebih sukses dari kamu, kamu bisa dapat madunya siapa tahu."
"Inget jadi baik itu, bakal kembali lagi baik ke diri kamu sendiri. Jatah mu tidak akan diambil oleh orang lain atau tertukar dengan orang lain, yang tertukar itu sendal saya kemarin di masjid hehe."
Alfa tersenyum dan melihat sekelilingnya setelah mendengar itu.
"Betul juga, terus, Pak?"
"Sebetulnya masih banyak nih Al yang harus saya jelaskan, bisa sampai besok jadinya haha. Tapi ada yang lebih penting lagi."
"Tetap menjadi versi terbaik dari dirimu, tetap berkata baik pada orang lain, pernah dengar pepatah 'lidah itu lebih tajam dari pedang'? Kalau luka fisik itu gampang di obati satu jam kering, kalau luka di hati itu susah mengobatinya, bahkan tidak bisa diobati Al."
"Orang itu yang paling pertama dinilai dari bicaranya , lebih anggun atau tidak anggun dilihat dari apa yang keluar dari mulutnya."
Bapak itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam tasnya.
"Mas ini botol berisi air putih di dalamnya, kalau saya tumpahkan isinya apa?"
"Salah, air sirup lah" saut bapak itu
"Bercanda serius banget haha"
Kemudian bapak itu menumpahkan air tersebut ke tanah
"Air putih yang keluar Mas, kalau tanah ini saya tanami pohon durian, mungkin saja bisa berbuah banyak".
"Sebaliknya, kalau botol ini saya isi dengan air kopi atau air comberan, apa yang keluar?"
"Apakah tanah yang ditumpahkan air comberan atau kopi ini bisa hidup, menghasilkan yang terbaik?"
"Mungkin tidak, mungkin iya pak" sahut Alfa
"Kalau kita kaitkan dengan kita, botol ini sebagai manusia, bermacam-macam air itu adalah isi dari manusianya masing-masing, dan tanah adalah orang lain.
Kalau isinya yang baik-baik pasti keluarnya yang baik-baik juga dan orang yang menerimanya juga akan balik lagi baik ke kita. Sebaliknya kalau keluar bangsat, anjing, dan teman-temannya sudah terbayang isi di dalamnya seperti apa?
Kalau botolnya diisi air comberan keluarnya bakal air comberan juga mas dan ketika sampai di orang belum tentu balik lagi ke kitanya baik."
"tetapi jangan di pukul rata yang berbicara tidak baik itu orangnya tidak baik semua Mas, ada kok orang yang baik diluaran sana, tapi alangkah baiknya lagi ketika kamu berbicara dengan orang yang lebih dewasa dari kamu botolnya diisi dengan madu, manis. Sedangkan, dengan orang yang seusiamu menyesuaikan lagi gaya bicaranya, itu yang namanya seimbang Mas"
"Kalau orang jawa bilang 'kabeh iku opo nandure, nek nandure apik ya hasil e apik, nek nandure elek ya hasile elek' kayak ngono loh Mas, paham?".
"Paham sekali pak, terimakasih"
Anak dari bapak itu datang
"Pak dicari-cari ternyata di sini, ayo pulang pak sudah sore", ucap anaknya.
"Nanti toh nduk, Bapak lagi ngobrol loh ini".
Karena kaget yang datang perempuan, Alfa tak bisa memalingkan pandangan nya ke anak tersebut.
"Hoii nak Alfa, kedip jangan diliatin terus nanti suka."
"Hehe ngga Pak, kaget aja hehe" cengar cengir karena ketahuan melihat anak perempuan tersebut.
"Nih kenalin, namanya Aquila Nashwa Syakira Azahra, panggil saja Aquila"
"Manis" kata itu tak sengaja diucapkan Alfa
"Mungkin nanti kita bisa bertemu lagi lain waktu."jawab Alfa.
Karena sudah sore akhirnya mereka menyudahi pembicaran mereka dan Alfa? Sambil berjalan pulang Alfa senyum-senyum sendiri habis melihat ternyata anak Bapak itu manis.
Kalau bermanfaat jangan lupa share, kalau ada kritik dan saran, silahkan komentar.