Tentara Mongol pada dasarnya adalah pasukan kavaleri darat. Mereka tidak punya pengalaman dengan angkatan laut, baik dalam strategi perang maupun jenis angkutan transportasi tentaranya. Ketika menyerbu Jawa, mereka mempergunakan kapal-kapal yang tidak didesain untuk beroperasi di laut. Kapal yang dipergunakan menjiplak kapal-kapal ukuran sedang yang biasa berlayar di sungai besar semacam Yangtse, sedikit memperbesar ukurannya kemudian dibawa buat melaut. Ini sesuai juga dengan penggalian peninggalan kapal-kapal Mongol yang dijumpai di pesisir Jepang saat Mongol menyerbu Jepang. Desain kapal Mongol itu tidak stabil terhadap gelombang laut bebas, apalagi taifun. Mudah tenggelam.
Di kemudian hari Cina mengirimkan ahli-ahlinya ke India untuk belajar membuat kapal-kapal yang bisa melayari Samudera. Laksamana Cheng Ho kemudian mempergunakan kapal-kapal itu untuk ekspedisinya hingga ke Madagaskar, lebih dari 100 tahun setelah ekspedisi Mongol ke Jawa.
2. RUTE
Pada jaman itu, navigasi laut masih sangat primitif. Tidak ada yang namanya peta laut. Yang ada hanya ingatan nahkoda mengenai rute dagang Cina ke Jawa yang biasa dilalui plus bantuan bintang di langit. Oleh karenanya, tentara Mongol yang ke Jawa tidak melalui rute langsung seperti di jaman modern yaitu melalui Laut Cina Selatan. Namun saat itu mereka berangkat dari Cina, mungkin mengambil sebagian logistik/ akomodasi di Champa (Vietnam Selatan sekarang), kemudian menyusuri pantai menuju perairan Malaka, ke laut sekitar Bangka/ Belitung kemudian ke Jawa. Itu adalah rute laut yang paling dikenal dan biasa ditempuh oleh pedagang- pedagang Cina ketika mereka pergi ke Jawa.
3. PETA LAUT DAN NAVIGASI
Tidak ada yang namanya peta laut. Navigasi pada dasarnya dilakukan dengan melihat posisi bintang. Kompas sederhana mungkin sudah ada dan dipergunakan. Sebagian besar rute laut ditempuh dengan mengandalkan pengalaman saudagar atau nahkoda kapal dagang yang sudah terbiasa datang ke Jawa. Mereka ini entah dibayar mahal, atau yang paling mungkin diancam dengan kekerasan untuk mengantar invasi pasukan Mongol. Metode ancaman dan pemaksaan nahkoda ini sudah biasa dipergunakan sebelumnya dalam penyerbuan Mongol ke Jepang dan Formosa (Taiwan).
Bagaimana rumitnya dan tidak diketahuinya posisi pulau-pulau nusantara bisa dilihat dari peta tertua yang digambar oleh Portugis. Disitu pulau Bali (Java Minor) diletakkan di sebelah utara pulau Jawa (Java Mayor) yang membuktikan kesimpang siuran posisi Bali dan Madura. Sementara itu Kalimantan dianggap pulau kecil, dengan banyak gugusan pulau di sekitarnya.
4. ANGIN
Pada jaman itu, kapal-kapal terutama digerakkan dengan layar yang mengandalkan angin plus pasukan pendayung. Persoalannya, tiupan angin di Asia Tenggara itu berubah setiap 6 bulan. Kalau sampai mereka salah membuat rencana invasinya (berangkat, menyerang, pulang), maka mereka tidak akan bisa pulang sesuai jadual dan karenanya rentan terhadap kekurangan logistik di Jawa serta serangan lawan yang lebih mengerti medan. "Jendela" penyerbuan terhitung sempit dan tidak bisa lama-lama. Oleh karena itu penarikan secepatnya tentara Mongol dari Jawa setelah mengalahkan Jayakatwang, juga dapat dilihat dari ketiadaan banyak waktu dan ancaman logistik yang membayangi pasukan. Mau tidak mau mereka memang harus segera pulang.
5. PASUKAN
Inti kekuatan pasukan Mongol ke Jawa adalah kavaleri berkuda. Mereka ini veteran perang di utara yang dijadikan inti pasukan serbu, diperkuat dengan pasukan infanteri dari Cina sebelah selatan. Mereka kuat dalam serbuan di medan yang lapang tapi seringkali kesulitan dalam perang di hutan-hutan. Ketika Mongol menyerbu Vietnam Selatan dari utara (jauh sebelum ekspedisi ke Jawa), tentara kavaleri mereka yang jumlahnya begitu banyak mengalami kesulitan ketika harus mendaki pegunungan dan menghadapi hutan rimba. Banyak yang mati karena kedinginan, serangan nyamuk, penyakit kolera, kehabisan makanan dan serangan gerilya di sepanjang jalan.
Invasi Mongol ke Jawa menghadapi medan hutan tropis yang serupa dan bisa jadi berakhir dengan kondisi yang sama buruknya dengan saat penyerbuan di Vietnam. Sehingga secepatnya menarik diri setelah membumi-hanguskan Kediri menjadi pilihan yang paling masuk akal guna menghindari kerusakan pasukan yang lebih fatal.
6. SEKUTU LOKAL
Rute ke Jawa mungkin bisa diperoleh melalui pemaksaan nahkoda, pendaratan pasukan kavaleri dan infanteri yang jumlahnya puluhan ribu mungkin sedikit lebih sulit, namun melakukan penyerbuan darat ke Kediri adalah persoalan yang jauh lebih kompleks. Rute sungai dan darat mana yang harus dilewati? Apakah jalannya bisa dilewati kuda dan pedati logistik? Dan sebagainya
Laksamana Speelman yang mendarat di Surabaya pada sekitar 1677 (nyaris 400 tahun setelah Mongol) saja akhirnya hanya bisa sampai ke sekitar Terung (Mojokerto) ketika mengejar Trunojoyo. Speelman merasa, tanpa sekutu lokal yang mengerti jalan dan medan setempat, mustahil baginya untuk mengejar Trunojoyo sampai Kediri.
Persoalan itu akhirnya bisa teratasi oleh tentara Mongol ketika Raden Wijaya menyediakan diri sebagai sekutu lokalnya.
7. BARANG RAMPASAN
Model serangan yang umum dipergunakan di jaman itu, apakah di Cina atau di Asia Tenggara adalah dengan penghancuran pusat kekuatan politik dan melakukan penjarahan. Biasanya, hasil jarahan akan dibagi-bagi oleh komandan pasukan dan anak buahnya. Dan bagian besar rampasan perang akan dipersembahkan kepada Kaisar sebagai bukti keberhasilan tugas. Berdasarkan catatan, komandan panglima Mongol mempersembahkan barang rampasan dari Singasari dan Kediri kepada kaisarnya sejumlah 150.000 tael perak. Saya pernah menghitung dengan melakukan konversi kasar dengan harga perak saat ini, total nilai rampasan itu sekitar Rp 200-300 milyar (tergantung pada kadar peraknya).
1.) Apa jendral yuan benar benar tidak tau kalau kertanegara sudah terbunuh?
2.) Apa jayakatwang yg merebut kekuasaan dari kertanegara kurang pintar hingga mau menanggung akibat tindakan kertanegara melukai utusan yuan mongol yg datang ke singasari?
Komunikasi saat itu sangat sulit. Dara Petak dan Dara Jingga itu datang ke Jawa masih belum tahu kalau Singasari dan Kertanegara sudah tidak ada.
Saat itu tidak ada orang yang bisa memperkirakan bahwa Kubilai Khan akan memerintahkan penyerangan Jawa. Tahunya pasukan Mongol khan setelah mereka sampai di sekitar Tuban. Lagian penyerangan ke Jawa itu insidentil, tadinya Kubilai sedanf merencanakan penyerangan ke Jepang yg ketiga tp rencananya lalu diubah ke Jawa.
kalo komunikasi sulit kenapa dyah wijaya bisa membangun aliansi dengan pasukan yuan?
Gak ada aliansi yg direncanakan jauh hari.... aliansi itu diciptakan ketika pasukan Mongol sudah tiba dan karena persamaan kepentingan saja : melawan jayakatwang
berarti mereka bisa berkomunikasi,
Bisa berkomunikasi setelah pasukan sampai di Jawa. Pada saat itu bahasa melayu juga sudah dipergunakan sebagai bahasa di kalangan pedagang.
kalau bisa tentu saja jayakatwang juga bisa berkomunikasi dengan yuan. Lagian kabar bahwa yuan berkemungkinan akan serang kertanegara tentunya sudah menyebar sejak di lukainya utusan yuan. Kediri tidak punya kepentingan apa apa atas dwipantaranya singasari dan juga sebagai musuh kertanegara tidak ada alasan bagi jayakatwang menerima tanggung jawab perbuatan kertanegara atas utusan yuan.
Yang pertama ketemu dengan pasukan mongol kebetulan adalah raden wijaya, karena berada di sekitar mojokerto. Lebih dekat ke pelabuhan. Jadi informasi apapun yang mengalir ke panglima mongol, ya berasal dari raden wijaya. Tergantung raden wijaya mau ngomong apa khan?
Kedua, pasukan mongol itu di kepalanya masih ada kertanegara ataupun penerusnya...jadi siapapun yg ada di eks singasari harus dihancurkan, karena mereka khan gak mungkin kirim berita ke Cina "ini orangnya udah gak ada, terus kita musti gimana?". Yg paling masuk akal adalah menyerbu "singasari", menjarahnya dan mempersembahkan ke kaisar, serta membawa kerabatnya yg tersisa ke Cina untuk dihukum.
bisa juga seperti itu,tapi yg paling masuk akal jayakatwang menjawab dulu ke pasukan yuan bahwa kediri bukan singasari. Btw di catatan jendral shi bi apa bener yuan tidak tau kalo kertanegara udah terbunuh
raja jawa telah di bunuh oleh pangeran kalang
Gini loh ya.. seandainya Anda adalah komandan pasukan Mongol.. terus dikabarin kalau kertanegara sudah terbunuh, apakah berita itu bisa Anda percayai? Bagaimana Anda yakin kalau itu bukan trik saja dr kertanegara spy tidak diserbu? Bagaimana Anda nantinya akan mempertanggungjawabkan semua itu kepada Kaisar?
Jadi apakah kertanegara sdh meninggal beneran atau tidak menjadi tidak relevan di mata panglima pasukan mongol. Satu2nya pertanggungjawabannya kepada kaisar adalah dengan menghancurkan istana kertanegara, atau istana penggantinya dan membawa raja dan kerabatnya ke Cina untuk dihadapkan pada kaisar.
...........
Apakah sisa sisa pasukan yg lari dari gebukan balik raden wijaya masih banyak membawa rampasan?
Yess.. menurut sumber Cina mereka membawa rampasan. Hal yg masuk akal, karena biasanya penyerbuan itu diawali dengan pendudukan keraton, perampasan harta dan penghancuran situs (yg paling gampang dibakar karena kebanyakan bangunan terbuat dari kayu).
Iya paham..pasti lah. Bahkan hingga perang jaman modern...si musuh diharuskan menanggung biaya perang juga.
Maksud saya, apakah raden Wijaya yg menghajar balik pasukan asing itu, masih banyak harta rampasan yg lolos dibawa pulang ke negeri cina?
Saya beranggapan bahwa serangan raden wijaya tidak bersifat masif dalam arti perang terbuka antara inti kedua pasukan tapi dalam bentuk gangguan2 sepanjang jalur penarikan mundur pasukan Mongol. Karena lebih paham medan, sementara jumlahnya kalah banyak, maka strategi gerilya menyerang sayap2 pasukan mongol itu paling efektif. Toh tujuan utama raden wijaya adalah mengenyahkan pasukan mongol dulu. Tp pasukan utama mongol yg membawa barang jarahan akan sempat dengan cukup bebas balik ke kapal. Dilain pihak, pasukan mongol juga merasa sudah melaksanakan tugas "penghukuman", ada barang berharga dan sandera yg dibawa kepada kaisar plus angin muson segera berakhir shg mereka juga gak pengen melayani serangan gerilya di sayap2 pasukan
O..ya ya saya juga berpikir begitu. Toh..digebug ataukah tidak oleh Raden Wijaya dan pasukannya, mongol memang sudah beranjak balik, bahkan ada versi Jayakatwang pun juga dibawa dalam kapal mereka (bukan dieksekusi di kerajaannya saat digempur mongol dan pasukan R Wijaya)
Yang saya pernah tahu, keturunannya yg dibawa ke tiongkok
...................
Padahal Mongol jika menyerang mereka mempersiapkan segala hal termasuk berkerjasama dengan oposisi setempat.
Pertanyaan bagaimana mungkin Mongol tidak mengetahui jika oposisi tersebut adalah yg awalnya menentang nya. Raden Wijaya adalah mantu dari raja Singasari.
Dan apa tidak mungkin jika Mongol sudah tahu Singasari runtuh dan sekarang jayakatwang yg berkuasa?!
Seandainya dengan sistem dari pusat bumi hanguskan, maka Raden Wijaya tidak akan berkolaborasi. Ya di hancurkan sekalian.
Kertanegara itu tewas sekitar bulan Juni 1292. Kabar itu bahkan tidak diketahui Mahisa Anabrang yang ada di Melayu, shg mereka masih mengirimkan Dara Petak dan Dara Jingga ke Singasari. Apalagi Cina yang jauh disana, wong yang di Jambi saja gak tahu peristiwa di Jawa. Kalau tahu, Mahisa Anabrang gak akan bawa Dara Petak dan Dara Jingga ke Jawa. Armada Mongol itu berangkat mungkin Nov/Des 1292 memanfaatkan angin muson yg bertiup dr Timur Laut, 6 bulan setelah Kertanegara wafat. Kedatangan mereka ke Jawa-pun tidak diketahui oleh Melayu/Jambi padahal ratusan kapal mereka khan melintas di sktr Bangka/Belitung dan malah sempat istirahat pula disitu.
Dari situ kelihatan bahwa komunikasi saat itu memang sangat sangat sulit.
Saya menganggap bahwa untuk mempelajari sejarah, maka kita musti turba (turun kebawah) dengan menempatkan diri kita pada alam pikiran orang jaman itu dengan peradaban saat itu.
Banyak versi, dan tidak harus versi anda yg wajib di Amini dan di iyakan.
Karena kita sama sama tidak mengalami masa itu.
Betul... sejarah masa lalu itu direkonstruksi dengan berbagai sumber kemudian dievaluasi mana skenario yg paling masuk akal. Seberapa klop elemen-elemen yg lain dst. Tapi tetap saja akan ada ruang bagi ketidakpastian. Oleh karena itu sejarawan biasa juga mempergunakan kata2 "mungkin", "bisa jadi", "skenario yang masuk akal adalah" dst dsb. Uraian saya diatas didasarkan pada berbagai sumber, termasuk sejarah perdagangan asia tenggara (angin, jenis kapal, lalu lintas, navigasi dst) serta sejarah singkat pembangunan dan penggunaan kapal Yuan utk menaklukkan Jepang, Vietnam dan Jawa.
Kalau Anda punya argumen berbeda silakan disampaikan juga beserta dengan elemen pendukungnya. Shg kita bisa coba diskusi/ evaluasi bersama sama. Ini khan proses rekonstruksi sejarah biasa.
Ada sebuah buku desertasi doktor di Singapore mengenai Invasi Mongol ke Jawa ini yg banyak mempergunakan sumber2 Cina tapi harganya masih 800-900 ribu Bro hahaha....ntar nunggu aja bacanya kalau dah ada edisi murahnya. Saya baru icip-icip baca bagian gratisnya saja, dan so far gak ada pertentangan dgn apa yg saya tulis diatas.
Monggol hampir menguasai separuh bumi,tapi mengapa saat menghadapi Jawa monggol jadi Goblok? Sehingga tidak memperhitungkan kapal.
Saya tidak paham bagian mana yg menjadikan mereka tampak bodoh. Tapi ada baiknya kita melihat situasi di Cina.
Pertama, pasukan mongol itu terbentuk dari padang2 rumput yang mengandalkan kecepatan kavaleri berkuda. Anggap saja tank dan pasar jaman kuno. Di Mongolia sana gak ada yg namanya laut, apa itu topan, navigasi dan apa itu angin muson. Semua itu diluar jangkauan pengetahuan orang Mongol. Pengetahuan mengenai laut diperoleh dari orang Cina yang berada di pesisir2, yang kesetiaannya bisa saja terbagi. Emang siapa elo Mongol? Kira2 begitu... hahaha
Kedua, pedagang2 Cina sendiri berlayar hanya sampai Malaka kemudian balik lagi. Ini beda dengan pedagang2 India yang menempuh perjalanan samudera, kadang dari India Barat ke Malaka ataupun dari India ke Aden di Yaman. Orang India sdh biasa dgn pelayaran samudera, shg nantinya kaisar Cina mengirimkan ahli2nya untuk belajar pembuatan dan pengendalian kapal samodera ke India.
Masalah penguasaan teknologi ini bukan sesuatu yg gampang.
Hitler itu bisa menang perang dengan cepat di daratan Eropa mempergunakan pasukan kavaleri dalam bentuk panser dan tank. Tapi begitu sampai ke laut, ya gak ada apa2nya melawan Inggris. Hebat di darat tidak menjadi jaminan jadi tangguh di lautan, karena keduanya membutuhkan penguasaan teknologi dan SDM yg berbeda.
Topik Invasi MONGOL ke Jawa, ini menyimpan banyak pertanyaan, terutama untuk mengenali lebih dalam situasi dan kondisi politik, militer, teknologi dan budaya masyarakat dan peradaban Jawa pada masa kejayaan Kertanegara dan Kerajaan Daha & Kadiri di seputar aliran Sungai Brantas.
Kisah invasi Mongol sebanyak 2 kali, yang kemudian memunculkan MAJAPAHIT, membuat saya bertakon takon, Kapal2 Perang milik Kertanegara yg diparkir di Greasik itu apa cuma sedikit? Sehingga tidak terjadi Sea Combat? Kapal2 perang Singosari masih berada di Selat Malaka? Kok gak ketemu rombongan kapal Mongol ini ya?
Tahun 1293, bagaimana bentuk kapal perang Jawa ini? Dan desain apa yg ditiru? Pastinya kapal2 Singasari ini sdh klas Ocean going dg daya angkut logistik dan pasukan 100 org per kapal. Itulah sebabnya Nusantara di zaman Kertanegara sudah menguasai Malaka, Siam dan Maluku?
Kapal sekelas Jung miik Angkatan Laut Majapahit, yg kapasitas dan ukuran 6 kali kapal Jaugernot Spanyol, apakah sdh dimiliki Kertanegara?
Richard Psimeon Kita bisa merekonstruksi keadaan maritim saat itu salah satunya berdasarkan catatan portugis sbg bangsa eropa yg datang ke India dan Asia Tenggara ---dan dengan budaya tulisan.
Dr situ akan kelihatan bahwa kapal pada dasarnya dipergunakan untuk perdagangan (kapal cargo), bukan utk perang. Kalaupun digunakan utk perang, pada dasarnya itu adalah kapal dagang yang diisi prajurit bukan kapal pengangkut pasukan. Tidak efisien karena kapal dagang itu desainnya model kamar2 kedap air, spy muatan aman dr air. Istilahnya ini macam truk tanah yang digunakan untuk mengangkut orang...gak nyaman. Bisa bikin mabok laut para prajurit darat yg gak biasa di laut. Ini melemahkan pasukan.
Kedua, jaman itu hanya kapal2 India yg terbiasa mengarungi samudera. Dari India Barat (Gujarat, Goa, Surat dsb) mereka sampai ke Teluk Persia, Aden (Yaman) dan Afrika Timur. Yg India Timur (Koromandel, Benggala dsb) berlayar ke timur menuju Malaka. Kapal2 ukuran besar banyak yg dibangun di Pegu (Burma sekarang) karena teknik dan persediaan kayu yg bagus. Kapal2 kelas samudera itu seringkali dibawa dengan muatan ke pantai India Barat atau ke Malaka. Setelah muatannya dijual, lalu sekalian kapalnya dijual. Kapal2 ini ada yg diketahui dibeli oleh Jepara. Tapi tujuannya memang buat cargo.
Ketiga, kapal2 dagang dari Cina itu hanya sampai Malaka atau pantai timur sumatera kemudian balik ke Cina karena musim angin sdh berbalik. Jd kalau ada pendeta Cina mau ke India, mereka harus transit di Malaka atau Palembang/Jambi lalu menumpang kapal india ke barat.
Keempat, kapal2 yang ada di asia tenggara pada dasarnya berukuran kecil/sedang dan berlayar di sepanjang pantai. Kalau ada angin ribut atau badai mereka akan cari perlindungan ke pantai/ teluk terdekat.
Ekspedisi ke Melayu itu dimulai 1275 dan kembali membawa Dara Petak/ Dara Jingga tahun 1292. Itu artinya 17 tahun. Agak sulit utk menerima itu sbg ekspedisi militer murni yg bercorak pendudukan. Lebih masuk akal kalau itu sebuah unjuk/ pameran kekuatan yg disertai dengan diplomasi penaklukan. Salah satu yg dianggap ikut serta membuat Kubilai naik pitam, selain karena Meng Ki, adalah juga karena Melayu ---yg saat itu dianggap pusat perdagangan juga selain Malaka-- tidak lagi mengirimkan utusan ke Cina dan ini karena Kertanegara.
Sampai sekarang saya belum pernah menemukan nama TROWULAN tertulis di prasasti atau rontal kuno sebagai ibukota Kerajaan Majapahit. Yang ada ialah ANTARAŚAŚI yang tertulis di kakawin Nāgarakṛtāgama. Antaraśaśi bersinonim dengan Antarawulan (śaśi = wulan) yang diduga sebagai cilal bakal nama Trowulan modern. Tapi, informasi dari Mpu Prapañca, Antaraśaśi bukan nama ibukota, melainkan daerah tempat pendarmaan Śrī Jayanāgara, raja kedua Majapahit.
Kalau nama Trowulan tidak tertulis di sumber kuno, lalu apa dong nama ibukota Majapahit? Yang tanya seperti itu biasanya membayangkan Majapahit seperti Indonesia, lalu Trowulan dipilih jadi nama ibukota, biar selaras dengan Jakarta. Nggak lah yauw ... Konsep di zaman kuno berbeda dengan zaman modern. Sistem zaman kuno adalah negara-kota. Misalnya, Ma Huan (sekretaris Cheng Ho) pada tahun 1415 mencatat: Raja Jawa tinggal di kota bernama Majapahit.
Sejarahnya begini. Raja Jawa bernama Śrī Kṛtanagara yang beribukota di Tumapĕl, digulingkan bawahannya, yaitu Śrī Jayakatwang dari Gĕlang-Gĕlang pada 1292. Kemudian Śrī Jayakatwang menjadi raja Jawa, dan memilih Daha sebagai ibukota baru. Selanjutnya, menantu Śrī Kṛtanagara yang bernama Raden Wijaya pura-pura menyerah. Ia mendapat Hutan Trik dari Śrī Jayakatwang untuk dibuka menjadi permukiman, diberi nama Majapahit. Kemudian pada 1293 Raden Wijaya bersekutu dengan pasukan Dinasti Yuan berhasil menggulingkan Śrī Jayakatwang. Raden Wijaya pun menjadi raja Jawa, sedangkan Majapahit yang semula dukuh permukiman, naik kelas menjadi ibukota.
Kesimpulan :
- Śrī Kṛtanagara : raja Jawa yang beribukota di Tumapĕl.
- Śrī Jayakatwang : raja Jawa yang beribukota di Daha.
- Raden Wijaya : raja Jawa yang beribukota di Majapahit.
Kalau tidak percaya silakan cek prasasti Kudadu, di situ Raden Wijaya tertulis sebagai : samastayawadwīpeśwara (raja seluruh Pulau Jawa). Jadi, pada zaman itu kalau ada orang mau pergi ke ibukota, mereka bilangnya "mau ke Majapahit", bukan "mau ke Trowulan".
Kekuatan armada laut kerajaan Majapahit sangat ditakuti pada zamannya. Saat itu kapal-kapal perang Majapahit sudah dilengkapi oleh Cetbang semacam meriam yang sangat ditakuti.
Pada zamannya Cetbang termasuk paling canggih. Pembuatan senjata tersebut diadopsi dari senjata perang milik tentara Mongol.
Saat itu angkatan laut Majapahit dipimpin oleh Laksamana Empu Nala. Meski kemampuannya luar biasa, namun ketenaran Empu Nala ini masih kalah oleh Mahapatih Gadjah Mada.
Dalam berbagai buku sejarah dan dalam berbagai prasasti, nama Gadjah Mada yang selalu muncul. Padahal ternyata, Empu Nala ini tidak kalah hebatnya dengan Gadjah Mada. Jasa-jasanya terhadap Majapahit juga sangat banyak.
Sekitar tahun 1339-1341, seluruh Nusantara bagian barat berturut-turut diserang dan ditaklukkan armada Kerajaan Majapahit, tentunya dipimpinan Laksamana Nala.
Dalam buku Nusantara dalam Catatan Tionghoa karya WP Groeneveldt, saat itu kerajaan yang pertama dihancurkan Majapahit adalah Kerajaan Pasai, selanjutnya Jambi dan Palembang.
Kemudian mereka menaklukkan Langkasuka, Kelantan, Kedah, Selangor, Tumasik (Singapura). Selanjutnya armada Majapahit mendarat di Tanjungpura, menundukkan Sambas, Banjarmasin, Pasir, dan Kutai.
Dalam buku itu juga ditulis, pada 1377, Suwarnabhumi diserbu oleh tentara Jawa. Putera mahkota Suwarnabhumi tidak berani naik tahta tanpa bantuan dan persetujuan kaisar China, karena takut kepada Raja Jawa.
Saat itu, armada Majapahit memiliki kekuatan 40 ribu prajurit. Jumlah tersebut jadi sebuah kekuatan dahsyat dan tidak ada tandingannya di Asia Tenggara.
Pada 1343, Mahapatih Gadjah Mada dibantu oleh Laksamana Nala memimpin armada laut Majapahit dengan kekuatan 3.000 prajurit menuju wilayah timur Nusantara. Di sana mereka menaklukkan kerajaan-kerajaan yang bersikap dingin atau mencoba melepaskan diri.
Kerajaan yang dimaksud adalah Bali, Lombok, Sumbawa, Seram, Sulawesi, Dompo. Seluruh wilayah timur Nusantara telah disatukan, termasuk Pulau Irian, Sanggir Talaud, sampai Kepulauan Filipina Selatan.
Konon rahasia kekuatan laut Majapahit sejak zaman Gajah Mada adalah Empu Nala sebagai panglima tertinggi.
Nama Empu Nala kala itu tersohor dalam membangun angkatan laut, termasuk membuat kapal laut untuk perang. Dia menemukan sejenis pohon raksasa yang dirahasiakan lokasinya. Pohon itu digunakan untuk membangun kapal-kapal Majapahit yang berukuran besar.
.............
X : Bagus namun segenap Filipina itu bukanya Mitreka satata?
Y : nah itu yang memang hrus ny di diskusi kan..kalo menurut sYa pribadi bkan mitra dlm artian teman tp mitra yang dlm urusan politik/militer/perdagangan yg majaphit sebagai pemimpin..
krn prinsip nya itu sejalan dengan kertanegara..mengusai segala urusan dan menjadi kan mitra/teman bagi yg mau tp tetap dengan singosari sebagai pemimpin..
X : namun ada kata satata yg artinya sederajat..berarti jika dimaknai maka tidak ada yg lebih tinggi pun lebih rendah
Y : se tw saya mitreka satata nya majapahit itu kerajaan Dharmmanagari (yang sekarang disebut Nakhon si Thammarat di Thailand), Syangkayodhyapura (yang sekarang Ayuthaya di Thailand), KHmer (yang sekarang di negara kamboja) dan Champa (sekarang menjadi negara vietnam),slain itu saya msh blom tw pak..monggo samean kalo puny data..
X : yang menjadi pertanyaan kira kira dari mana sumbernya bahwa Filipina ini merupakan bawahan Majapahit..sebab saya tidak menemukan sumber tersebut..pun termasuk Mitreka satata dalam hubungan perdagangan rempah2
Y : itu pendapat pribadi saya pak..dlm artian mitra tp tetap majapahit sbagai pemimpin..layaknya singosari dlu jaman kertanegara..klo sumber tulisan di atas sdah saya cantumkan di atas..
Jawa meliputi Jiwana, Singasari, Wengker, Lasem, Daha, Pajang, Matahun, Paguhan, Wirabhumi, Mataram, Pawwanawwan, dan Kebalan.
Digantara artinya wilayah lain yaitu daerah yang takluk kepada raja Rajasanagara selain Jawa. Daerah tersebut adalah Pahang, Melayu, Gurun, dan bakulapura.
Nusantara adalah pulau-pulau lain, yang termasuk Nusantara adalah Daerah melayu, daerah Tanjung Nagara, dan daerah Semenanjung Malaya.
Desantara adalah Syangka, Ayodyapura, Dharmanagari, marutama, Rajapura, Anghanagari, Campa, Kamboja.
Dwipantara adalah kepulauan lain, yang termasuk dwipantara dan mitra adalah Yawana, Cina, Karnataka, dan Goda.
X : wah kalau begitu lebih tepatnya bukan pemimpin..namun bisa disebut negara yg lebih maju,semisal hub China-Indonesia juga China lebih maju namun tidak dapat diartikan pemimpin..
Y : iya bisa jga bgtu pak tp krn di saat itu majapahit lbih kuat jd keputusan lbih banyak di pengaruhi majapahit layak nya china - indo skrng..ya krn itu sya bilang perlu di diskusi kan lg..
Jawa meliputi Jiwana, Singasari, Wengker, Lasem, Daha, Pajang, Matahun, Paguhan, Wirabhumi, Mataram, Pawwanawwan, dan Kebalan.
.........
X : Ada beberapa daerah di Philipina yg masuk Majapahit, seperti Solot (kepulauan Sulu, di selatan Philipina) dan Saludung (nama lama dari Manila yaitu Seludong)
Y : adakah bukti otentiknya kang?
X : di Nagarakrtagama disebut berturut turut Buruneng, Kalka, Saludung, Solot. Buruneng = Brunai Kalka = Kalaka di Serawak
Saludung = kemungkinan besar Seludong di Pulau Luzon, yg sekarang jadi ibukota Manila. Nama Manila sepertinya baru muncul abad 15-16. Di google ada itu kerajaan Seludong.
Solot = sudah pasti kepulauan Sulu di dekat Mindanao. Ada 2 nama Solot di Nagarakrtagama, yg satunya Solot sekarang pulau Solor di NTT
Z : masalah yawana apa untuk sementara tetap mengarah kerajaan di tataran sunda mas..???.
X : dulu2 Yawana dianggap daerah Vietnam yg sekarang, yaitu daerah Annam sekitar Hanoi.
Yg menduga Yawana sebagai daerah Arab itu pendapat dari Irawan Joko nugroho yg menulis Majapahit peradaban maritim..
........
X : Karena masih terbuat dari batu yang dilontarkan cetbang itu batu atau mesiu? Kemudian babak berikutnya buatan meriam dengan kuningan ya. Ternyata lebih jos.
Y : CETBANG atau PAO (Istilah dlm bhs Cina) pada awalnya belum pakai laras baru berupa bom lempar semacam (granat eksplosif) petasan banting yg ukurannya lbh besar (kemungkinan di bag dlm nya diisi semacam gotri) digunakan dlm invasi ke Jepang oleh tentara Khublai Khan. Selain itu mereka gunakan panah lontar yg di bagian ujungnya berisi mesiu berhulu ledak ringan.
Invasi ke Jepang dilakukan tiga kali, namun kesemuanya gagal dg banyak korban jatuh di pihak Mongol.
Sebuah cetbang Armada Laut Majapahit dg gambar lambang Surya Dewata Nawa Sanga.
Cetbang sebuah senjata meriam berukuran mini sampai sedang sbg andalan Armada Laut pimpinan Laksamana Nala.
Bukti kepemilikan senjata jenis cetbang ini ada jg yg diketemukan di Bali (tersimpan di Museum.Bali di pusat kota Denpasar)
Tahun 1478M Majapahit bergolak, Awan hitam tebal bergulung gulung diatas Kutaraja Trowulan, Dentuman petir disertai kilat silih berganti menyambar pucuk pucuk pohon disekitar tembok pagar istana. rakyat di cekam rasa ketakutan luar biasa, Beberapa orang terlihat segera masuk rumah dan mengunci pintunya rapat rapat, Rasa takut mereka cukup beralasan, disaat cuaca gelap sedemikian rupa, Dari kejauhan terdengar derap ribuan kaki kuda dari segala penjuru mata angin dipacu sangat cepat oleh para penunggangnya, mereka belum menyadari tentang apa yang sebenarnya terjadi, para penunggang kuda itu bertelanjang dada dengan tubuh tegap dengan membekal senjata lengkap, Di punggung mereka terlihat sebusur panah dan sebilah keris terselip di pinggang nya, Tangan kiri memegang tameng terbuat dari logam keras dan tangan kanan memegang tali kekang kuda, tak lupa di punggung kuda juga terselip sebilah pedang panjang siap hunus.
Hari itu rupanya telah terjadi penyerangan hebat terhadap ibukota Majapahit di Trowulan, Serangan mendadak ini dipimpin oleh empat orang putra San Sinagara alias Rajasawardhana Dyah Wijayakumara, Mereka adalah Bhre Koripan Dyah Samarawijaya, Bhre Mataram Dyah Wijayakarana, Bhre Pamotan Dyah Wijayakusuma dan Si bungsu Bhre Kertabhumi Dyah Ranawijaya. Penyerangan mendadak ini dilakukan dan direncanakan begitu matang, penyerangan yang disiapkan untuk merebut kembali hak tahta Majapahit yang telah diambil sepihak oleh Paman mereka Singhawikramawardhana Dyah Suraprabawa.
Semenjak kepergian nya dari istana Trowulan tahun 1468M, keempat putra Sinagara bertekad menyusun kekuatan untuk suatu ketika menggempur istana Trowulan.
Pada penyerangan yang sangat mendadak tersebut, para prajurit istana begitu kewalahan dan terdesak hebat , mereka secara singkat bisa dengan mudah di kalahkankan.
Sang Prabu Dyah Suraprabawa pun tak sempat menyelamatkan diri. Raja Majapahit yang naik tahta dari tahun 1466M setelah menjabat sebagai Bhre Tumapel itu pun Mokta Ring Kedaton.
Pasukan pimpinan Samarawijaya menerapkan politik bumi hangus, Kedaton Trowulan di bakar habis tak tersisa.Kepulan asap tebal masih terlihat disisa sisa puing reruntuhan istana Trowulan yang megah.
Pertempuran dahsyat itu rupanya juga menewaskan Sang Samarawijaya, Maka kemudian hak tahta Majapahit diputuskan diambil alih oleh adiknya Dyah Wijayakarana dan memindahkan ibukota dari Trowulan ke Keling.
By : Damar Wulung
Sumber: menurut prasasti petak 1486M, dan juga naskah Kuno Pararaton
....
Widi : Kertabhumi niku napa sami kalih Brawijaya V. ?
Damar : beda Pak, menurut teorinya Bu Nia Solihat Irfan, Bhre Kertabhumi itu punya nama asli Gitindrawardhana Dyah Ranawijaya, beliau ketika naik tahta tahun 1486M di Keling, Menggunakan Gelar Batara Wijaya, ketika Tome Pires seorang apoteker dari Portugis datang mengunjungi Jawa, Si Tome Pires ini masih mendapati bahwa Batara Wijaya ini masih hidup dan menjadi raja di Daha.
Yang saya tulis itu kan biar enak di baca, khususnya bagi yg awam generasi muda kurang tertarik baca buku sejarah yg monoton..jadi kalo dikemas dalam tulisan bergaya novel gini kan enak dibacanya..agar pembaca bisa merasakan nuansa masuk ke zaman itu..
Romo : Baginda di pandan salas menjadi raja di tumapel, lalu menjadi baginda prabu pd th 1338 saka, ia menjadi prabu dua th lamanya. Selanjutnya pergi dr istana. Anak2 sang sinagara ialah: baginda di kahuripan, baginda di mataram, baginda di pamotan dan yg bungsu ialah baginda kertabumi, ini adalah paman baginda yg wafat didalam kedatuan pada th 1400 saka..sengaja saya salin bagian akhir dr kitab pararaton, pertanyaan saya apakah cerita yg mas ceritakan adalah cerita yg saya kutib di atas?? Sudah lama saya pingin mengetahui cerita yg sebenarnya bagaimana sebab sampai hr ini saya blm paham..selanjutnya pd alinea terakhir di sebutkan..yg bungsu ialah: baginda kertabumi, ini adalah paman baginda yg wafat didalam kedatuan pd th 1400 saka, pertanyaan saya dimana letak kertabumi? Disebutkan disitu beliau wafat didalam kedatuan, apakah ini artinya beliau yg menggantikan menjadi raja di trowulan atau tetap di kertabumi dan wafat di sana? Mohon dijelaskan dan matur nuwun.
Damar : sebelum saya jawab, saya mau tanya dulu..kata PRABHU yg saya lingkari merah itu paling tepat sebagai kata ganti untuk siapa??
Romo : wah trm kasih dikasih tek aslinya(saya hanya punya terjemaha bahasa indonesianya)..lebih tepat untuk bhre pandan salas.
Damar : kalo kata PRABHU dianggap sebagai Bhre Pandansalas, Maka sudah jelaslah bahwa Beliau Mokta ring Kedaton..dan yang Sah Saking Kedaton tahun 1468M adalah Putra putra San Sinagara..
Hal ini diperkuat dengan dengan ditemukannya prasasti Pamintihan tahun 1473M, bahwa Suraprabawa masih menjabat sebagai raja Majapahit dan berhak memberikan anugrah Sima perdikan kepada loyalisnya bernama Arya Surung.
Ahmad : Berarti bukan karena serangan Demak ya Pak Damar Wulung hancurnya keraton Majapahit, seperti yg selama ini dituduhkan oleh orang orang Fanatik Kejawen
Damar : tulisan saya diatas diambil dari sumber prasasti dan naskah Pararaton..jadi lebih valid di banding babad.
Prasasti adalah sumber primer yg dibuat pada masa orangnya masih hidup.
Bayu : Jika Bhre Kertabhumi itu adalah Girindrawhardana apakah sama dengan Girindrawhardana yg mengkudeta Prabu Brawijaya V..?
Dimana dari sumber yg saya baca bahwa Girindrawhardana tsb (Brawijaya Vl) tidak mewarisi trah Majapahit
Mohon pencerahannya kang mas
Damar : sebelom saya jawab, kita harus bedakan dulu, mana tokoh mitos/ fiktif dan mana tokoh nyata sesuai sumber prasasti..jika tokoh nyata dan fiksi kita campur, maka pembahasan ini sampe kapanpun TDK akan ketemu..
Bayu : nggih kang mas saya mohon pencerahan lebih jauh khususnya tentang faktor fiktifisasi tsb 🙏🏼☕️✨
Damar : Yang punya nama Girindrawardhana itu bukan cuma 1 orang, melainkan 3 orang..semua adalah putra putra Sinagara , Di Prasasti Waringin Pitu 1447M, salah seorang yg punya nama Girindrawardhana telah lahir dan ditulis oleh sang kakek dalam prasasti, sementara dua orang Girindrawardhana yg lain belom lahir ke dunia.
Nama Girindrawardhana juga tertulis dalam prasasti Jiyu dan petak 1486M.
Dengan adanya sumber prasasti tersebut, fix kita bisa ambil kesimpulan bahwa Girindrawardhana adalah putra Sinagara..dan bukan Suraprabawa ( Bhre Pandansalas ) ,
Artinya teori bahwa Girindrawardhana adalah pura Suraprabawa karena memiliki kesamaan arti dalam gelar, itu sudah gugur..
Tahun 1468M putra putra Sinagara di sebut dalam Pararaton ada empat orang, masing masing menjabat sebagai Bhre di Kahuripan, Mataram, Pamotan dan di Kertabhumi.
Putra pertama dan kedua jelas bisa diidentifikasi yaitu Bhre Koripan bernama asli Wijayaparajrama Dyah Samarawijaya , Bhre Mataram bernama asli Girindrawardhana Dyah Wijayakarana, Dan dua orang tersisa bisa disimpulkan mereka Bhre Pamotan bernama asli Girindrawardhana Sri Singawardhana Dyah Wijayakusuma dan yg bungsu Bhre Kertabhumi bernama Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Hal ini jika merujuk dari kronologi cerita yg ditulis dalam prasasti petak dan jiyu terkait kekerabatan mereka berempat..
Sedangkan Brawijaya V adalah tokoh fiktif karangan pujangga Surakarta yg ditulis ratusan tahun setelah Trowulan runtuh..ini jelas tidak bisa dipakai sebagai rujukan.
Bayu : Matur suwun penjelasanipun
Wuaduh nanging nopo leres kang mas Brawijaya niku tokoh fiktif..?!
Kulo nembe dangu niki saking sampean.
Apakah karena tidak ditemukan pada data primer ?
Damar : Brawijaya V ini adalah tokoh yg g jelas, ditulis di babad yg penulisannya era zaman Surakarta, ratusan tahun setelah Majapahit runtuh, ditulis oleh pujangga istana atas pesanan sang raja..tujuannya untuk mendapatkan legitimasi agar seolah olah Raja mereka masih ada trah raja Majapahit.
.......
Widi : Bapaknya Raden Patah siapa...?
Widi : saya meyakini bahwa Raden fatah adalah keturunan Tiongkok dari Ayah..setidaknya ini merujuk dari sumber catatan asing ( Tome Pires ) dan dari Sejarah Banten.
Menurut Sejarah Banten, Pendiri Demak diambil menantu oleh Raja Majapahit, karena berhasil menumpas pemberontakan di Tulembang.
Widi : Nyuwun sewu....andaikan demikian....siapakah Raja Majapahit tersebut...
Damar : kalo di chek dengan timelinenya, bisa diambil kesimpulan bahwa Raden Fatah alias Pate Rodim Sr alias Cu cu alias Arya Sumangsang adalah menantu dari Maharaja Majapahit Singhawikramawardhanna Dyah Suraprabawa yg menjadi Raja tahun 1466 - 1478M.
Hal ini merujuk dari sumber Sejarah Banten, dan juga dari Suma Oriental yg ditulis tahun 1513M serta Pararaton
Agus : berarti Raden patah juga ga bisa dipastikan adalah keturunan dari kertawijaya mas ?
Damar : Rd Fatah putra Kertawijaya itu hasil Otak Atik gathuk..
Damar : sejarah itu dinamis, tidak bisa berhenti di satu titik, ketika ditemukan bukti baru yang lebih valid, maka yg lama otomatis gugur..
Widi : Oalah otak saya kok makin guatel ini hahaha...
Matur suwun pencerahanipun kang mas ✨☕️
Kalo boleh saya langsung saja membaca dari sumber refrensi yg sampean jadikan rujukan kang mas, bukunya berjudul apa dan siapa penulisnya, syukur2 jika ada refrensi online 🙏🏼✨
Damar : buku Suma oriental, Tesis Husein Djajadiningrat ( sejarah Banten ) , HJ De Graff ( Cina Muslim di Jawa ) dan Pararaton..