Kedai kopi itu ibarat manusia. Tampak luar mungkin biasa saja, tapi jauh lebih menarik ketika kita bisa mengenalnya jauh lebih dalam. Pesona kota Banda Aceh yang begitu bersahabat sangat terasa hingga hari akan berganti. Kota yang begitu rukun dengan segala ragam suku dan agama di dalamnya, Banda Aceh adalah kota yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Hal yang menarik adalah kebanyakan dari orang di kota ini gemar menghabiskan waktu di kedai kopi untuk melakukan banyak hal, seperti pekerjaan atau untuk sekedar berkumpul dengan kerabat terdekat. Kedai kopi merupakan bagian dari keseharian masyarakat kota Banda Aceh, baik untuk mengerjakan tugas, pertemuan dengan rekan bisnis, atau bahkan hanya ingin menghabiskan waktu. Jadi jika kamu belum mampir ke kedai kopi hari ini, sempatkanlah, karena kedai kopi akan siap menyambutmu meski hari sudah mulai gelap. Salah satu kedai kopi yang menarik untuk dikunjungi yaitu Maroon Coffee. Kedai yang berlokasi di jalan Panglima Nyak Makam ini menyajikan ragam kopi Aceh Gayo yang khas dengan metode penyeduhan manual yang beragam. Maroon Coffee merupakan kedai kopi arabika pertama yang menyajikan kopi dengan metode penyeduhan manual di sepanjang jalan Panglima Nyak Makam. Dibandingkan dengan kedai kopi yang lain, Maroon Coffee tetap konsisten untuk menggunakan metode tersebut hingga saat ini. “Kedai ini lebih sering menyajikan V60, karena rasanya yang kuat dan juga bebas dari ampas” ujar Pak Yasir, pemilik dari Maroon Coffee ketika di temui di kedainya. Pak Yasir mengungkapan bahwa usaha kedai kopinya berawal dari iseng belaka. Berniat hanya sekedar ikut-ikutan buka kedai seperti rekannya yang lain, tak terasa usaha yang sudah digeluti hampir genap dua tahun ini ternyata bisa terbilang sukses. “Awalnya keluarga saya memiliki kebun kopi, lalu saya coba kembangkan. Kemudian ketika panen, saya menjual biji kopi hasil dari kebun tersebut. Permintaannya cukup tinggi, baik untuk keperluan ekspor maupun untuk permintaan perorangan. Karena banyaknya pelanggan tetap yang mengungkapkan bahwa biji kopi olahan saya memiliki rasa yang kuat dan nikmat, setelah dua tahun saya jualan biji kopi, saya akhirnya coba memberanikan diri untuk membuka kedai kopi. Enggak disangka, ternyata laris!” ungkapnya bangga. Maroon Coffee menyajikan kopi Aceh Gayo dengan tingkatan speciallity atau premium. Pemiliknya mengungkapkan bahwa biji kopi premium jumlahnya sangat terbatas dan hanya bisa didapatkan di kedai kopi tersebut. “Biji kopi terbaik dari kebun kopi milik keluarga saya hanya tersedia di kedai kopi ini. Bahkan, untuk keperluan ekspor pun saya hanya memberikan biji kopi dengan kualitas commodity atau berada satu tingkat di bawah biji kopi premium” ujar Pak Yasir. Perihal menyajikan kopi, barista di kedai ini selalu menyeduh kopi langsung di depan pelanggannya. Cara seperti ini dikedepankan demi pelanggan yang teredukasi akan menikmati kopi yang dipesannya. Selain itu, barista akan membagi kopi seduhannya menjadi tiga tingkat kepekatan yang berbeda ke dalam tiga cangkir yang berbeda seperti pekat, normal, dan ringan. Hal ini dimaksudkan agar pelanggan paham akan rasa dan juga selera yang sesuai dengan lidahnya. Sebagai pelengkap dan juga bagian dari tradisi menikmati kopi ala suku Gayo, terdapat sepiring kecil gula merah yang harus disantap tepat sebelum kopi itu diminum. Memakan gula merah sebelum meminum kopi, memiliki artian khusus dalam tradisi suku Gayo. Menurut Pak Yasir hal tersebut bisa diartikan seperti halnya setiap manusia bisa menelan pahit getirnya kehidupan dengan sebuah senyuman. Menarik!. Interior dari kedai Maroon Coffee terbilang cukup sederhana. Kedai ini tidak memiliki sekat antar dinding dan ruang yang privat, sehingga memungkinkan bagi siapa saja untuk berinteraksi antara pelanggan yang satu dengan yang lainnya. Terdapat beberapa tanaman kopi di dalam pot yang berada di pintu masuk dan beberapa sudut yang mengisi kedai kopi tersebut. Kedai kopi ini semakin menarik dengan adanya beberapa sarang burung yang terdapat pada sisi ujung bawah atap bangunan tersebut. Menurut pemiliknya, sarang burung memiliki nilai filosofis yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. “Jadi manusia itu jangan sombong, burung saja bisa membuat sarang seindah ini tanpa pernah kita tahu bagimana membuatnya” paparnya singkat. Kalimat tersebut menjadi renungan tersendiri untuk kemudian dipahami sembari menikmati secangkir kopi sebelum menutup hari.














