Kalau Memang Penting, Perjuangkanlah
Salah satu bagian penting dari remaja menuju dewasa adalah bertemu dengan berbagai life events. Yang dari situ kemudian kita berpikir apa yang penting dan tidak. Kemudian kita belajar, mana yang perlu diperjuangkan dan tidak.
Tapi sebelumnya mari kita ulas sedikit, mengapa kita perlu berjuang?
Mengapa Kita Perlu Berjuang?
Menurutku, sejak kita dilahirkan, kita sudah harus berjuang. Bayi yang baru lahir berjuang untuk bernapas pertama kalinya. Lalu ketika lapar, mengantuk, atau merasa perut tidak nyaman, bayi akan menangis. Tangisan itu adalah bentuk perjuangan.
Beranjak besar, bayi berjuang sedemikian rupa untuk merangkak. Mengoceh kata per kata, sampai mahir betul berbicara. Lalu berdiri, berjalan langkah demi langkah, sampai akhirnya bisa berlari ke sana-kemari.
Semuanya adalah perjuangan. Jadi bisa dibilang hidup kita adalah susunan dari berbagai peristiwa hasil dari apa yang kita perjuangkan. Bagiku, kalau hidup itu berarti punya nyawa, maka perjuangan bisa dibilang nyawa dari kehidupan.
Tapi kadang kita bingung, apa yang harus diperjuangkan dan apa yang tidak? Karena memang kompleks jawabannya. Terlebih lagi saat ini dengan distraksi yang ada di mana-mana, membuat kita makin bingung mana yang harus dipilih, termasuk memilih mana yang perlu diperjuangkan.
Meskipun demikian aku coba sederhanakan lewat kalimat berikut: Perjuangan perlu dilakukan untuk sesuatu/seseorang yang kita anggap penting.
Kalau kita merasa penting untuk makan enak setiap hari, perjuangkan. Entah memilih bahan, memasak, atau memilih tempat makan, sampai menyediakan uang yang cukup untuk makan enak setiap hari.
Kalau kita merasa pendidikan itu penting, perjuangkan. Susun rencana, cari beasiswa, atau kalau sulit mencari beasiswa, kumpulkan uang. Upayakan sebanyak mungkin cara untuk bisa kuliah tinggi-tinggi.
Kalau kita merasa punya niat mulia dan penting untuk mewujudkan hal itu, perjuangkan. Gabung organisasi yang tepat, kenali pola organisasinya, naiki anak tangga kepemimpinannya. Perjuangkan niat baik itu lewat organisasi kita.
Kalau kita merasa punya teman-teman yang baik, penting bagi kita, dan kita nggak mau kehilangan, perjuangkan. Tanyakan kabarnya sesekali, ketemu jika sempat, jangan menyerah dengan perbedaan jarak dan waktu. Menabung untuk mereka, susun rencana perjalanan, datangilah di manapun mereka berada.
Kalau kita merasa punya keluarga yang kita sayangi, perjuangkan. Tanyakan kabar mereka sesekali. Dengarkan cerita mereka. Pastikan juga kita punya bekal yang cukup untuk bisa hadir di momen-momen penting mereka, kapanpun itu terjadi.
Kalau kita merasa punya pasangan yang baik dengan hubungan yang penting untuk dipertahankan, perjuangkanlah. Kenali diri kita dengan baik, kenali pasangan kita, buka ruang untuk belajar seluas-luasnya, kejar dan upayakan pada saat-saat dibutuhkan. Sesekali lakukanlah sesuatu yang spesial walaupun itu membutuhkan waktu, tenaga, dan perhatian ekstra.
Kalau kita merasa punya mimpi yang penting bagi diri kita, perjuangkan. Cari tahu apakah benar mimpi itu pas untuk diri kita, atau perlu sedikit penyesuaian? Lalu cari tahu apa yang harus dilakukan, buatlah rencana, dekati orang-orang yang membuat kita makin dekat dengan mimpi kita.
Permisalan ini berlaku dalam banyak hal. Dan sekali lagi, mulai dari pertanyaan: apakah sesuatu/sesorang itu penting bagi kita?
Perjuangan dan Pembuktian
Sebagian orang sekadar menyatakan keinginannya, atau bilang sesuatu itu penting. Tapi nggak berjuang untuk itu.
Padahal banyak urusan di dunia ini abstrak, nggak jelas bentuknya, termasuk soal hal yang penting bagi kita. Sehingga yang menentukan sesuatu itu penting atau enggak, ya apakah kita mau berjuang untuk itu atau enggak.
Beberapa waktu lalu aku menonton film Sore. Si tokoh bernama Sore luar biasa gigih melawan waktu karena dia nggak mau ditinggal mati Jonathan. Ribuan kali, segala cara, dia coba meski gagal lagi-gagal lagi.
Di semesta lain dalam film Avengers: Endgame, dr. Strange mencoba EMPAT BELAS JUTA kali kemungkinan untuk mengalahkan Thanos.
Lewat perjuangan mereka, Sore dan dr.Strange menunjukkan bahwa sesuatu itu benar-benar penting. Perjuangan yang mereka berikan adalah bukti bahwa sesuatu/seseorang benar-benar penting bagi mereka.
Perjuangan Nggak Harus Bombastis
Selain itu, ketika kita mendengar kata perjuangan seakan ini sesuatu yang berat. Padahal enggak juga. Lihat lagi cerita bayi di awal. Perjuangan adalah cara menjalani hidup yang berangkat dari peristiwa sehari-hari.
Bangun pagi juga berjuang. Memaksa diri untuk olahraga juga berjuang. Melakukan yang penting, walaupun kita nggak suka, juga berjuang. Berusaha berbuat yang terbaik bagi orang-orang yang kita sayangi juga berjuang.
Jadi, perjuangan itu bukan tentang heroik atau enggak. Bukan juga tentang apakah orang lain mengakui perjuangan kita atau enggak. Tapi lebih kepada keyakinan bahwa sesuatu itu penting, karenanya kita berjuang.
Tulisan reflektif ini aku tutup dengan cerita terkenal soal burung pipit dan Nabi Ibrahim.
Suatu hari, Nabi Ibrahim ditangkap oleh rezim Raja Namrud. Sebabnya adalah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala. Setelahnya, Ibrahim dihukum dibakar hidup-hidup.
Saat api mulai berkobar, tidak ada yang mampu menolong Ibrahim. Tidak ada warga, tidak juga keluarga yang berani melawan putusan Namrud untuk menghukum Ibrahim. Tapi ada satu burung pipit yang dengan paruh kecilnya menyiramkan tetesan air ke kobaran api yang melalap Ibrahim. Ia bolak-balik dari sungai ke altar hukuman untuk melakukan hal ini, lagi dan lagi.
Semua hewan bertanya, bahkan meremehkan apa yang dilakukan si burung pipit. Karena tidak mungkin tetesan air dari paruh pipit dapat memadamkan api, mengurangi sedikit pun tidak. Sebanyak apapun pipit berusaha, tidak akan api berkurang kobarannya.
Tapi si burung pipit menjawab dengan penuh keyakinan,
"Apa yang aku lakukan mungkin tidak bermanfaat, mungkin tidak ada pengaruhnya. Tapi di akhirat nanti, ketika ditanya oleh Tuhan apa yang aku lakukan ketika kekasihNya dibakar hidup-hidup, setidaknya aku telah berjuang sebaik mungkin sesuai dengan kemampuanku."
22.56, Pontianak Tenggara