Perantauan JKT (2): Public Transport
Sedari kecil, aku sering sekali mendengar komentar buruk tentang Jakarta. Kota yang sumpek, udaranya jelek, sehari-hari selalu macet dan setiap tahun selalu banjir. Kontras sekali dengan masa kecil yang aku habiskan di desa. Aku tinggal di belakang hutan yang tiap sorenya selalu terdengar sahut-menyahut monyet siamang. Siang-siang sepulang sekolah senang main dan berenang di sungai yang jernih di ujung gang. Ketika semalam hujan deras dan besoknya selokan dipenuhi air, itu airnya jernih banget dan tampak udang-udang kecil, lalu sepulang sekolah suka sibuk hunting udang pakai bekas aqua gelas. Bagiku, Jakarta bukan tempat yang nyaman untuk ditinggali. Tapi begitu, desaku juga bukan tempat yang baik untuk mecari rezeki sehingga aku harus meninggalkannya dulu (untuk sekarang), setidaknya sampai aku mencapai Financial Freedom. Sementara itu, aku selalu ingin tinggal di Bandung atau Jogja atau Bali, atau minimal Kota Padang. Jakarta tidak ada dalam list kota yang aku ingin tinggali.
Tapi, Allah kadang memberi ujian tepat di situ. Tepat diberi-Nya hal yang tidak kita suka, atau yang selalu kita hindari.
Aku dan suami setelah menikah sempat tinggal di Bandung, dan aku tahu suami juga suka Bandung. Hatiku tenang. Dia bekerja di konsultan yang secara waktu cukup fleksibel, jarang lembur, gaji juga lumayan sehingga kita bisa menabung. Tapi kehendak kita kan kadang berbeda dengan orang tua. Mertua ingin anaknya tingga dekat. Alhasil suami pindah kerja ke Jakarta. Awalnya kita tinggal di Bekasi, di rumah mertua. Tapi karena suami selalu pulang malam dan aku tidak betah menunggu di rumah, akhirnya aku melamar kerja yang WFO (padahal selama ini selalu projekan yang full WFH). Hanya supaya bisa berangkat dan pulang bareng, itu rencanaku.
Lalu mulailah aku yang selama ini selalu kemana-mana minimal jalan kaki atau naik gojek, mencicipi yang namanya angkutan umum macam KRL, LRT, MRT, angkot Jaklingko, hingga Bus Transjakarta.
Seminggu awal naik KRL, jiwa manjaku memuncak. Berdiri 15 menit saja enggak sanggup. Tapi sekarang sih sudah biasa saja, kalau pun harus berdiri. Tapi KRL pas jam pulang memang bar-bar sih. Litterally, dah kayak kaleng sarden. Selagi bisa, aku tidak ingin naik KRL di rush hour.
Lalu aku terkadang naik LRT Kelapa Gading, yang mana mewah sekali dan aku suka wewangian pengharum ruangan di haltenya, khas sekali. Terkadang juga naik MRT kalau singgah ke kantor suami, yang mana pengalamannya juga sangat indah. Aku berharap semua kota ada MRT, yang mencakup semua daerah.
Lalu tibalah waktu pindah rumah ke Jaksel, dan terpaksalah aku harus pulang-pergi menggunakan bus. Bus adalah hal yang paling aku tidak suka, awalnya. Aku pemabuk darat yang cukup parah. Dulu dari rumah ke pasar pakai angkot saja aku mabuk, padahal jaraknya hanya 10-15 menit lah. Selama ini selalu diantar jemput mobil pribadi ke bandara yang jaraknya 3 jam perjalanan, karena aku tidak sanggup naik minibus. Di perjalanan pasti full tidur, aku menguasai kursi tengah sebagai kasurku. Tapi kali ini, setidaknya 1,5 jam waktu akan kuhabiskan di bus, setiap hari! Kali dua, pulang-pergi, artinya 3 jam setiap hari. Tapi mau bagaimana lagi, kamu harus berdamai dengan keadaan.
Tantangan pertama adalah mencari rute tercepat dan ternyaman. Aku mencoba beberapa rute, beberapa alternatif transit, dan kombinasi bus, sampai coba kombinasi pakai angkot dan MRT juga, hingga akhirnya aku menemukan rute ternyaman: Rumah - 13 - 1 - 4C - LRT. Surprisingly, setelah sebulan langsung terasa perubahan drastis. Asalkan tidak jalur yang non-jalur-khusus-busway lalu terjebak macet, insya Allah aku tidak akan mabuk. Lalu aku mulai terbiasa membaca dan membalas chat (yang mana dulu sangat tidak mungkin aku lakukan, pasti mabuk). Lama kelamaan bisa menonton di bus, dan sampai terakhir bisa baca webtoon, hingga baca Quran. Kalau baca buku yang tulisannya rapat dan kecil kayaknya belum bisa (belum dicoba aja sih, masih takut). Tapi ini adalah kemajuan yang luar biasa. Aku bangga dan merasa bersyukur sekali.
Beberapa hari yang lalu ketika Kak Zia ngajak jalan-jalan berdua, Kak Zia tanya, “apa nggak pusing pulang-pergi ke kantornya?”. Karena kata Kak Zia, dia dulu menyerah kerja dan tinggal di Jakarta karena pusing dengan perjalanan ke kantornya. Aku selama ini belum merasa perjalanan adalah faktor yang bikin stres (kecuali ketika di Bekasi karena perjalanan pulang dengan KRL di rush hour sangat tidak menyenangkan). Alhamdulillah aku bisa menemukan jalur pulang dan pergi menggunakan bus yang nyaman. Bahkan dulu ketika pertama kali naik KRL, aku selalu menanamkan mindset “lagi jalan-jalan” setiap naik kendaraan. Aku kembali jadi anak-anak untuk sejenak, yang naik kereta/bus = wisata. Awalnya aku juga merengek, “apa nggak ada yang sekali naik bus aja? Kenapa harus 3 kali nyambung gini?”, hingga akhirnya aku menikmati saja perjalanan. Melihat pemandangan, mengagumi apa yang bisa aku kagumi, minimal mengagumi halte CSW yang begitu rumit tapi ketika sudah terbiasa jadi seru jalan-jalan di dalamnya. Naik eskalator berkali-kali dari lantai dasar ke lantai 5 CSW, lalu berasa sedang jalan-jalan di mall setiap hari karena dalam otakku asosiasi eskalator = mall, haha.
Sekarang, setelah mengalami betapa mudah mobilisasi dengan tranport umum, di Kota Jakarta, aku benar-benar berharap transportasi di kota manapun juga sekelas Jakarta. Alasan utamanya adalah karena aku tidak bisa mengendarai motor apalagi mobil, sehingga aku adalah manusia yang akan sangat bergantung pada transportasi umum. Aku mulai mencintai busway, padahal dulunya aku tidak pernah suka bus. Tapi mungkin yang aku suka adalah bus yang lewat di jalur khusus busway. Kalau bus di jalur macet, aku juga ogah!