Anindya 2.B:
Oase
Kau pernah mendengar sebuah gagasan atau pandangan bahwa setelah kematian kita tidak akan menemui apapun lagi. Tidak ada kehidupan kedua yang dinafaskan dengan konsep reikarnasi di beberapa agama, tidak pula konsep surga neraka atau sekadar peradilan Tuhan. Hening dan tidak ada apa-apa lagi. Kau pernah memikirkan sebuah cerita di mana seorang pemuda yang tumbuh di lingkungan yang keras dan merenggut masa kecil, kebebasan, dan kemanusiaan. Ia akan pulang ke tempat yang sama dengan seorang pemuda lain, yang hidup di bawah naungan singgahsana, harta, dan kebahagiaan duniawi lainnya. Yah, mereka akan pulang ke tempat yang sama, ke tempat yang hening itu.
Orang-orang mengenalnya dengan materialisme filosofis. Dan aku pernah berharap bahwa hidup itu adalah seperti itu, tenang. Aku tidak perlu mendengarkan kitab suci bercerita mengenai neraka dengan siksa di dalamnya sembari mengkhawatirkan masa depan, ataupun mendengarkan cerita tentang surga dan nikmat di dalamnya sembari menghitung-hitung kebaikan diri sendiri.
Terlepas dari itu semua, si perempuan yang memakai kalung salib itu malam ini begitu menggemaskan. Ketika aku mengeluarkan isi kepalaku yang kadangkala terlalu jujur jika didengar dengan seksama atau dibaca oleh orang bijak, ia kembali tertawa melihat imanku mengikis hanya sebab mencari ketenangan yang sejati. Ruang paling tepat untuk berdiskusi adalah ruang yang dipenuhi buku. Dengan hydro-coco dan roti tawar yang lupa diolesi selai atau susu ia menyogokku untuk bercerita, baginya aku adalah satu di antara ratusan sampel psikologi yang siap dipelajari dan diteliti.
Malam menuju purnama ini tampak indah, ini adalah malam di hari tasyrik yang di mana umat islam dianjurkan makan dan memperbanyak mengingat Tuhan. Ia yang tertawa pun mulai mereda dengan sikit mengambil jeda menuju sebuah tanggapan yang panjang dan sok dewasa dari seorang psikolog.
Menurutnya, seseorang mungkin memandang kehadiran/keromantisan adalah dengan bersama selamanya, selama hidup maupun setelah hidup. Tak jarang orang-orang memilih dikubur di tempat yang sama dengan orang-orang terdekatnya. Apalagi pasangan suami-istri, kita tidak bisa memungkiri bahwa cinta bisa mengalahkan waktu yang diberikan Tuhan di dunia untuk hidup.
“Nah, kau pernah mendengar kisah sepasang suami-istri yang berbeda agama? Ketika mereka menjalani hidup selama bertahun-tahun dalam perbedaan, membina rumah tangga, mendidik anak, membiarkan kebebasan berlandaskan keadilan menjadi satu-satunya pelita agar hubungan mereka dapat bertahan melampaui doktrin agama. Anak mereka tumbuh dengan perspektif dalam memandang agama yang agak berbeda, tidak seperti anak-anak yang tumbuh dalam keluarga seiman. Di hari tua, setelah anak-anak mereka sudah berkeluarga, mereka mulai jenuh. Sajadah yang dipakai oleh salah satu dari mereka mulai lebih sering bercengkerama dengan pemiliknya, yang satunya sudah lebih sering meniup doa di jalinan simpul jari.” Runutnya dengan gayanya yang biasa, suaranya teduh seperti saat ia membacakan ayat kitab yang ia percaya kepadaku di september 2025 lalu.
“Di masa tua itulah mereka mulai membuka ruang diskusi yang terkunci selama bertahun-tahun. Dua carik kertas, dua tangkai pulpen yang harganya dua ribu di toko kelontong, dengannya mereka mulai menulis harapan, puisi, dan menumpahkan seisi kepala yang liar. Tulisan si perempuan indah dengan style italic yang indah seolah satu huruf dengan huruf yang lainnya menyandarkan kepala mereka berderetan. Tulisan si pria lebih teduh dengan syle yang hampir-hampir mirip font Lucida Calligraphy yang menggemaskan.
Ruang diskusi itu dipenuhi keheningan, tak seperti ruang diskusiku denganmu yang dipekakkan dengan kata dan tawa. Ruang diskusi mereka dipekikkan dengan keheningan yang sesekali ditemani suara gores-goresan pulpen atau bunyi kertas. Secarik telah rampung, dari si perempuan. Begini bunyinya, saya bacakan:
“Kau pasti tahu tentang surga, dahulu aku berpikir surga telah ada di sisiku, ia tinggal di rumahku, bergandengan tangan denganku, ia ada di genggam tanganku. Tapi surga melebihi cerita agama, jujur. Jika kau membersamaiku pergi ke rumah ibadahku, ada keadilan di sana. Dan sejatinya mimpi manusia yang tak kunjung terwujud adalah keadilan di dunia. Aku pun berdoa pada Tuhan, bertanya tentang itu.
Bisakah ia menyembangi dunia sebentar saja. Berdiri tegak sehingga tak ada satu nyawa pun di dunia yang harus menjadi korban dari neraka bernama ketidak-adilan yang berumur panjang hinggga detik ini. Dan kau tahu, ketika aku menekuri makna surga sekali lagi, rupanya surga bukan seperti yang ku kira, surga itu adalah tentang keadilan.
Kau pasti juga tahu tentang neraka, dahulu aku berpikir neraka telah tiada ketika aku menikahimu. Neraka telah mati ketika aku mengalunkan ikrarku, neraka telah bunuh diri sebab ia telah gagal menggagalkan langkahku. Tapi neraka lebih dari apa yang kupahami selama ini, jujur. Jika kau membersamaiku saat membaca kita suciku, ada tuntunan menuju keadilan di sana, perintah dan larangan. Lagi-lagi keadilan, maka aku berdoa lagi pada Tuhan selepas membaca firman-Nya itu.
Bisakah manusia berakhir bahagia? Apakah Tuhan tidak bahagia ketika seluruh ciptaan-Nya bahagia selamanya? Aku kembali tepekur untuk topik yang sama, keresahan yang sama, hingga datanglah kesimpulan akhir yang antah-berantah terpaksa datangnya,di sana ada sebuah kepelikan yang tertahan, rupanya neraka bukan seperti yang ku kira juga, neraka itu adalah tentang keadilan.
Surga dan neraka adalah bentuk keadilan Tuhan, surga bukanlah ketika perbedaan berhasil kita lengkahi, neraka bukan pula ketika perbedaan tidak berhasil membatasi. Surga dan neraka melangkahi pemaknaan personal, sebab sejatinya konsep itu hadir bukan untuk memanjakkan manusia, ia hadir untuk memperingati manusia bahwa satu noktah pun akan dihitung dikemudian hari.”
Nona, 04 september 2017”
Ia menatapku dengan semringah, membuang pandang dan membiarkan angin mengibas rambut serta menyeka air di wajahnya. Seolah kemenangan telah berhasil ia peluk ketika ia membaca sebingkis tulisan sporadis tadi. Terlepas dari itu, tulisan tadi sangat benar, apakah keadilan tegak di dalam keheningan?
“Si perempuan melipat kertas itu hingga cukup untuk ditidurkan di saku baju safari. Lalu ia kemudian melihat si pria yang memandang jenuh carik yang belum setengah pun terisi. Soal menulis si perempuan memang lebih cepat merangkai kalimat dan merunutkan sebuah pembahasan dengan lebih mudah dicerna. Ketika aku kembali membaca bagian ini kemarin, aku jadi menyadari sekeras apapun manusia memperjuangkan keadilan di dunia, manusia tidak akan pernah berhasil menegakkannya. Kita memerlukan sebuah tempat, sebuah proses di luar nalar, yang tidak ada di dunia saat ini.
Si pria meminta: ‘beri aku waktu 2/3 menit lagi, setelah itu aku akan melipatnya seperti cara lipatmu.’ Ungkapnya dengan sedikit senyum getir, seolah lawannya adalah orang yang baru ia temui di perhelatan itu. Maka, tulisan tangan yang hampir mirip dengan style font Lucida Calligraphy itu diperkosa olehnya sedemikian rupa hingga hilanglah teduhnya.
Secarik darinya sebenarnya singkat, biar aku bacakan segera:
“Kurapal namamu dalam doa, seperti merapal nama Tuhan yang esa. Mengejanya dan membiarkan batin terus memburaikannya. Kurapal namamu dalam doa, seperti saat pertamakali kita bersitatap, lalu aku memilih untuk mengambilmu melompati tembok perbedaan ini tanpa mengancurkannya. Tapi, kau tahu manusia tak abadi. Dan aku bertanya sendiri, apakah kau ingin menemaniku melompati tembok lagi? Kali ini bukan tembok perbedaan. Tembok kematian. Tetapi aku kembali mengingat bahwa manusia tak abadi.
Maka lupakanlah kehidupan abadi, lupakanlah surga-neraka. Sebab seberapa cakapnya kita melukis alibi, menurut agamamu aku penghuni neraka, menurut agamaku kau penghuni neraka, seberapa pintar dan bijaknya kita, kita tidak punya hak mengubah sebuah agama demi cinta yang personal.
Maka sekali lagi, lupakanlah. Kau akan tinggal di bumi dalam waktu yang panjang, menetaplah di sampingku selamanya, baik di atas maupun dibawah tanahnya. Sampai tulang-belulang kita menjadi debu lalu menyatu bersama bumi.”
Stand by me, 04 september 2017
Yang satu menyadari bahwa surga dan neraka adalah bentuk paling nyata dalam penegakkan keadilan, yang satunya memikirkan surga dan neraka sembari memegang iman dan tenggelam dalam keputusaasaan, sebab sedekat apapun mereka, sebesar apapun cinta mereka, mereka tidak akan bersama selamanya.
Apa benang merah dari semua ini? Jadi apakah si perempuan dengan menggandeng frasa keadilan sebagai definisi yang berlandaskan subjektifitasnya lalu melabelkan bahwa surga adalah ssebuah pencapaian, bukan tempat penuh nikmat seperti yang tertulis di dalam kitab-kitab agama. Lalu si pria memandang surga-neraka, kehidupan abadi sebagai hal yang menakutkan, ia mengimani keberadaanya, namun mekanisme kopingnya berbicara dan meminta ia untuk melupakan saja, dan membiarkan topik itu terkunci jauh dari jangkauannya. Ia menulis resolusi lain, makam yang bersebelahan sebagai bentuk ending yang ia inginkan dari perjalanan mempertahankan perbedaan itu. Maka marilah kita lihat bagaimana cinta boleh kalah ketika kepala manusia benar-benar dipergunakan untuk mencerna, lalu mengambil keputusan. “ Ungkapnya panjang, dan aku hanya mengangguk dengan wajah yang agak mengantuk.
Ia pun kembali menyimpan bahan bacaanya kembali ke tempatnya, membenarkan rok, kerak baju, merapikan rambut, lalu meminum segelas mint-tea yang mulai dingin. Aku jarang mendengar ia seformal itu dalam berdiskusi seperti ini, seringnya beberapa kali ia akan memanggil namaku, atau membiarkan dirinya tampak seperti gembel yang suka berdiskusi.
“jadi, intinya mau ki yakinkan saya kalau kehidupan setelah kematian itu ada? “ tanyaku singkat memanfaatkan jeda.
“Ini bukan tentang ada atau tidaknya Nah, ini tentang esensi keberadaannya antara kita sama atau tidak? Kau ingat tulisan si pria tadi? Dia bilang seberapa pintar dan bijaknya kita, kita tidak akan pernah bisa mengubah agama, untuk mengikuti isi kepala dan sesuatu yang kita sebut cinta itu. Seberapa luar biasanya alibi kita, menurut agamaku kau penghuni neraka, menurut agamamu aku penghuni neraka, hhah..” ujarnya ditutup dengan tawa kecil yang amat tertahan.
“Nah, lihat! Kita berada di posisi yang sama, benar-benar sama dengan suami-istri itu, yang berbeda adalah kita masih diberikan kesempatan untuk menimbang, mengingat lalu memutuskan bagaimana baiknya. Dan kau tahu agamamu memberikan sebuah keringanan, agamamu menyebut kami sebagai ahli kitab. Walaupun di dalam beberapa pendapat ada yang mengatakan itu tidak berlaku lagi untuk kami, sebab bagimu juga kami tidak mewarisi kitab yang diturunkan sebelum kitab agamamu. Tapi terlepas dari perbedaan pendapat itu, lihatlah lebih dekat nah, kalau dengan melihat kelonggaran di mana seorang pria muslim boleh menikahi wanita ahli kitab, bagaimana dengan pandangan wanita itu sendiri? Bagaimana dengan hukum yang ada pada agamanya, jangan melihat dari satu sisi, lihatlah dari semua sisi, apakah si wanita itu akan rela melanggar aturan agamanya? Lihatlah, apakah kita adalah bagian dari yang menegakkan surga? Atau kita yang malah merobohkannya, surga tak pernah tegak berdiri di dunia, tetapi setidaknya kau dan aku, bukan bagian yang menidurkannya.
Nah, hydro-coco dan roti, hal yang paling kau sukai saat berada di kota ini, tapi aku tidak begitu menyukai perpaduan itu, tapi lihatlah sekali lagi ia berada di atas meja yang sama dengan mint-tea, kau tidak datang kepadaku dan bilang kau bisa meminum itu sepuasnya, kesehatanmu takkan terganggu. Kau bilang, minumlah yang aku suka. Itu adalah bentuk sederhana dari keadilan dalam hubungan. Berpikirlah, ingat dan renungi apa yang ku sampaikan padamu di malam hari tasyrik ini, putuskanlah langkahmu, sebab jika kau menantiku melepas kalung ini, lebih baik kita segera pergi meninggalkan gedung. Aku melihat keadilan saat gedung kita tinggalkan, dan tidak ada yang harus melanggar agamanya. Ini tanganku, kau lebih tahu berapa banyak puisi yang tercipta hanya sebab aku pergi ke rumah ibadahku sedang ia berbeda. Kau lebih tahu berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk terus mencari alibi untuk bertahan, dan mempertahankan. Ini kepalaku, aku lebih tahu berapa banyak ucap yang tak sempat ku ucapkan, aku lebih tahu berapa banyak doa tentangmu yang ku tiupkan ke jalinan jariku. Maka marilah meninggalkan gedung, merawat komitmen yang sudah kau bangun sedemikian rupa sejak kau lahir ke dunia, hei kupu-kupu monarch.."
Hujan itu membuatku terperangah, aku terdiam, tak punya satu pun jawaban untuk menjawabnya, aku tak punya celah untuk mendebatnya kali ini, ia memenangkan perhelatan. Ia johan di malam ini. “Apa dengan meninggalkan gedung, kita kan menemukan sebuah oase?”
“Aku bukan Tuhan yang bisa menjawabnya..” jawabnya lirih, kali ini dengan wajah yang gelisah. Ia mulai menyadari bahwa yang ia sampaikan mungkin tak bisa kubantah. Maka, bisa kau lihat wajahnya memendar, seolah ia menyesal telah mengeluarkan isi kepalanya yang tadi kepadaku. “Nah, aku tarik kata-kataku lagi, bisakah kita meminjam waktu sekali lagi. Mengunci topik ini, sebab aku masih ingin menetap. Nah, seperti yang pernah ku katakan yakni seberapa pun septembermu, kau adalah kupu-kupu monarch yang memiliki cakram imajinal, dan seberapa pun filantropiku, ada perbedaan pada konklusi kita berdua. Baiknya, kau lupakan yang ku ungkapkan, kita kembali melanjutkan diskusi mengenai materialisme filosofis tadi.”
Inilah oase bagiku, mungkin terlalu berlebihan sebab gurunnya tidak luas dan tak terlalu panas, tetapi mendengar ajakan meninggalkan gedung, itu adalah gurun yang jujur. Ia tidak membunuh sebab kebencian, ia membunuh sebab hanya cul-de-sac lah yang menyambutnya.
Di 20 kata terakhir, diskusi ini belum berakhir, ia masih meninggalkan tawa dan canda, sebab sejatinya satu itu adalah kami.
©Nahdy_bahrum











