Anindya (1.A):
“Sesuatu Telah Terjadi”
Sporadis memang jika kau melihatku menata nada bicaraku ketika menggunakan bahasa Melayu-Makassar. Tetapi ada yang lebih mendongkolkan daripada itu. Ketika Anda bertemu orang yang bukan dari kota ini, dan ia berbicara menggunakan logat yang antah-berantah di rungumu, mereka mungkin akan kesulitan menyesuaikan ekspresi yang tepat ketika mengungkapkan sebuah kalimat. Bertamu di kota ini rasanya tidak masuk dalam daftar mimpi masa kecilku, jangan menetap, untuk kunjungan pun tidak. Namun waktu mengajakku kesini, menjajakan realita kehidupan yang hadir dengan berbagai rimanya.
Malam itu, nampaknya gurat senyumku akan merekah dalam waktu yang lama. Setangkai bunga krisan jatuh, kelopaknya dipenuhi air yang haus akan kebebasan diluar sana. Jika waktu bergumul denganku dalam usia yang panjang, aku ingin menatapnya memetik lebah hingga 1 laksa tahun ke depan.
Mataku pun mengeja bintang-bintang yang ia tabur sedemikian rupa, seumpama manik-manik yang berlomba turun ke bumi di bulan agustus.
Anindya.
Aku lupa caranya menghentikan waktu dalam kurun waktu 2 tahun belakangan, kemampuan itu tak bisa didapatkan begitu saja. Kau butuh bertemu puan yang bisa menyublimkan kepalamu ke udara.
Semenjak september 2025, aku menyadari satu hal, juli dan agustus rupanya waktu yang tepat untuk mengubah senyuman simpul itu menjadi semringah. Sebab jika simpul memulangkan kamu pada adat dan budaya, semringah akan memulangkanmu ke masa kecilmu. Rambutnya terurai, dan ia seorang yang taat, bertemu dengannya seperti bertemu dengan alarm ketidakberdayaan manusia.
Di september itu pula aku sering bertengger di salah satu cafe di perintis, mendengarkan wake me up when september ends sambil menunggu waktu memujaku kembali, dan aku bersua di sana. Seringnya saya lupa menulisnya, karena saya menganggap berkutat dengan webku lagi penting daripada menuruti keinginan kepala.
Tetapi, “bangunkan aku di akhir september,” sebuah kalimat permintaan yang lebih manis daripada percakapan yang puitis, ingin sekali mengucapkan itu di hadapannya, ketika aku memejamkan mataku dan mempercayakan semuanya kepadanya, apa yang lebih indah daripada rasa saling percaya?
Rasa saling percaya memunculkan rasa yang orang katakan bisa mengalahkan semuanya, “tahi kucing rasa coklat.” Maka kebiasaanku tak pergi, ia mendekat dan memaksaku untuk meninggalkan sebuah prasasti untuknya. Selama pulas belum menghampiri, ku gurat ribuan diksi di kepalaku. Secarik pun tercipta, rupanya begitu kelam. Dan ini adalah hadiah untuk merayakan datangnya bulan kelahirannya:
“kau dan dua bola matamu di yang lalu tak kian pergi, ketika tatapmu memaksaku memejam hingga bulan ini tiba dengan agak tergopoh-gopoh. Di dalam kepala yang sama, asrar itu dipekik olehmu, katanya seperti yang kita lakukan saat musim panas tiba selepas timur menjemputmu untuk berkelana selama mei-agustus. Bunyikan pelik itu lagi, aku akan merengkuhnya seperti yang kau lakukan ketika jatuh bersua denganku ketika hari menuju petang dan keheningan menyekapku dalam jerujinya. Merapal mantra dan bait-bait berang agar ia meredah sebelum melahap kita hidup-hidup. Dua bola matamu, bulan kelahiranmu, dan terima kasih”
Apa yang terjadi?
Jika kamu pernah menonton sebuah film, dan di film tersebut ada yang melantunkan “apa yang harus ku lakukan, sesuatu telah terjadi” kau lebih tahu apa yang terjadi.
Anindya (1.B):
“Filantropi”
Pada masa dahulu, duabilah pedang menghunus memotong tali-tali takdir yang menjerat. Di sisi kiri bahuku, seorang infanta melantukan litani dan puji-pujian, di depan sana agak ke belakang, orang-orang bersuara parau mengeja waktu dengan hikmah, mereka saling tarik-menarik, berdebat tentang kemana langkah kakiku ‘kan pergi. Dunia terlihat begitu penuh omong kosong untuk anak seusiaku. Jika kau pernah mendengar lagu Bohemian Rhapsody, posisiku hampir dua kali lima dengan bocah miskin dalam opera itu.
Jerat-jerat takdir menangapku dalam waktu yang lama. Hingga hari ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang. Ketika aku menceritakannya padanya, dia hanya akan tertawa dan menyarankanku membaca novel William Van Kemmen, lalu menyuruhku menjadi seperti tokoh Ditje Wijnberg dalam novel tersebut, atau paling tidak menjadikan william sebagai inspirasi.
Ketika malam tiba, 14 Juli 2025. Kota ini tak berbeda dari kota yang sering ku kunjungi ketika desember tiba, ketika aku akan merayakan natal. Ia datang untuk menyampaikan pujanya padaku lagi. Kali ini, dalam keadaan yang paling kulai. Kalau melihatnya dalam kelunglaian ini, aku merasa ingin sekali mendebatnya. Membacakan kisah-kisah hebat kepadanya, lalu memintanya merenungi setiap diksi dari sesuatu yang ada di tanganku.
Perkara berdebat adalah kelaziman bagi kami. Ia seseorang yang lahir dari dunia pencinta alam. Jangan ditanya perkara Tuhan, bahkan percaya adalah kewajiban. Berbeda denganku, yang tumbuh dalam balutan rosario, ia tumbuh di lingkungan orang-orang yang tidak begitu plura, kota kelahirannya bahkan memiliki tatanan yang agak berbeda dari kota-kota lain di luar wilayah provinsinya. Itulah kenapa atmosfer perbedaan bisa dirasakan dengan mudah baginya. Maka ketika aku memantiknya, ia melepas pejam dan menyuruhku untuk menuliskannnya di atas sebuah kertas, sebab sewaktu-waktu ia pasti akan menjawabnya dengan caranya sendiri.
Ku sambut saja penolakan halus itu dengan senyum simpulku.
Sayangnya, esok sore aku akan pulang untuk waktu yang lama. Meninggalkan jawab yang takkan sampai secara langsung kepadaku. Kau pernah membaca part paling indah di laskar pelangi? Ketika Ikal begitu merindui A ling. ku kira aku akan merindukan dia seperti itu juga. Tetapi tidak ternyata, ia menjajakan juli ini seperti kembang api saat tahun baru tiba, melukis semringah di wajahku dengan gayanya dalam menyampaikan janjinya. menyuruhku memejam lalu menulis sesuatu di kepala.
Tentang oktober, bulan kelahiranku, pagi-pagi benar, ia mengirimkan sebuah puisi untukku, menyuruhku menilainya sebelum ia mengunggahnya ke cerita instagramnya. Seperti biasa, ia menulis puisi tanpa judul, lalu gaya ia membawanya seperti seseorang yang bernarasi mengenai sesuatu yang terlihat penting untuk dibaca. Selepas memberi resensi aku agak bingung, sebab di Oktober ini pula seharusnya aku memberinya hadiah juga, paling tidak satu keping indah yang dapat memantiknya untuk berdiri dan membaca. Tetapi lebih baik, ku tunggui saja sua itu tiba.
Oke, apa korelasinya dengan judul di atas?
Jika kamu pernah menonton film flight 555 kau akan tahu apa arti filantropi yang ditunjukkan oleh 2 pembajak pertama.
xиjиp!x




















