UAT Ngomongin UAT; baca : ujian akhir tahfizh; itu membahas sesuatu yang unik, karena UAT itu menjadi sebuah tradisi khas dibeberapa pesantren. Namanya juga unik, maka respon terhadapnya pun juga unik-unik. Yang spesial, ada santri yang mampu membaca 30 juz dari pagi sampe sore bahkan malam, dengan jeda ishoma saja. Ada juga yang luar biasanya, beberapa oknum santri berusaha negosiasi dan nglobi-nglobi UAT, kayak lagi ditagih utang yang udah jatoh tempo...hehe Ayat-ayat yang dihafalkan itu menuntut pertanggung-jawaban. Mereka tak sudi diperlakukan seperti mantan, yang hanya kau perjuangkan pada satu masa, lalu kau jadikan terbuang sia-sia. Sangat disayangkan, bahwa ayat-ayat Al-Quran yang harusnya menenangkan, justru menjadi sumber kegelisahan bagi beberapa orang, bahkan bagi penghafal Al-Quran. Menyakitkan, bukan....!? Sebabnya simpel : sejak awal Al-Quran dihafalkan buat ajang "perlombaan siapa yang cepat selesai", bukan hadir dari satu sanubari yang tulus pengen jadi pejuang penjaga Al-Quran. Indikator juga simple : semangat ngafalnya, tapi malas murojaahnya...!!! Maka keikhlasan dan ketulusan para penghafal Al-Qur'an itu tampak dari seberapa mana ia semangat menjaga hafalannya. Hakikat menghafal Quran itu bukan pengakuan prestise dari manusia. Inti dari menghafal adalah bagaimana kita selalu terikat, rindu, dan konsisten membacanya dimanapun dan kapanpun kita berada. Adapun Mutqin, itu adalah rezeki, mutqin itu hadiah. Tugas kita mah itu ya tilawah dan murojaah istiqomah aja. Maka rumusnya, 3M. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang. Note : gambar hanya pemanis, bukan lagi endorse kaos. (di Museum Rumah Atsiri (Essence Oil Museum)) https://www.instagram.com/p/CQHu2q8M2n1/?utm_medium=tumblr







