“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Dominican Republic
seen from Germany
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from United States
seen from South Korea
seen from China
seen from Malaysia

seen from France

seen from United States
seen from China
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from China
“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
Riuh dikepalamu, orang lain juga memilikinya. Hanya saja ketika berjalan berpapasan tampak biasa saja, tapi sebenarnya mereka sama demikiannya denganmu. Mahir nya manusia tidak kelihatan bahwa sebenarnya mereka saling berantakan.
@menyapamakna1
Dan semoga, setelah segala gelisah yang kita pikul diam-diam, hati kita menemukan tempat untuk beristirahat. Semoga jiwa kita yang lelah dijemput ketenangan, seperti air yang akhirnya menemukan muaranya. Dan semoga Allah, dengan cara yang paling lembut dan waktu yang paling dekat, menyentuh luka-luka kita—lalu menyembuhkannya perlahan, sebagaimana Ia menenangkan malam setelah hujan.
Sebab manusia selalu berjalan dengan beban yang tidak selalu tampak, rindu yang tidak kita akui, takut yang kita sembunyikan, dan luka yang kita bungkus dengan senyum agar dunia tidak repot menebaknya. Kita terus melangkah, meski kadang rasanya seperti menyeret kaki di jalan yang tak kunjung kering dari air mata. Namun begitulah hidup bekerja—memaksa kita melewati malam agar tahu harga cahaya, memaksa kita kehilangan agar tahu nilai sebuah temu.
Ada hari-hari ketika kita merasa runtuh, tapi tetap harus bangun. Ada hari ketika dada terasa sesak, namun kita tetap harus tersenyum pada orang yang tidak pernah tahu betapa lirihnya hati kita pagi itu. Dan mungkin di titik-titik seperti itulah Allah paling dekat—bukan dengan gemuruh, tapi dengan cara-Nya yang membuat kita kembali percaya bahwa tidak ada patah yang sia-sia di genggaman-Nya.
Maka, jika malam ini terasa berat, tenanglah sebentar. Letakkan semua yang tak sanggup kita tanggung di pangkuan-Nya. Allah tidak pernah kehabisan cara untuk memulihkan sesuatu yang sudah lama kita kira tidak bisa diperbaiki. Kadang Ia menenangkan lewat doa yang tiba-tiba terasa ringan; kadang lewat seseorang yang datang tanpa rencana; kadang lewat hati kita sendiri yang, entah bagaimana, mulai berani berharap lagi.
Semoga esok yang kamu temui bukan lagi esok yang gelap, tetapi esok yang membuatmu mengangguk pelan dan berkata,
“Ternyata Allah tidak pernah meninggalkanku.”
Puncak kemewahan itu ketika kamu merasa bahwa membagikannya di sosial media adalah suatu kesia-siaan.
—Taufik Aulia
Tau gak, kenapa ujian kamu masih itu-itu aja?
Karena kamu belum lulus di ujian itu.
Kamu pengen cepet-cepet selesai, terus keluar dari ruang ujian. Padahal jawaban kamu masih banyak yang salah. Atau bahkan belum dijawab sama sekali.
Makanya Allah kasih lembar soal yang sama, meskipun di ruangan yang berbeda.
Tenangin dirimu dulu.
Bukan tentang siapa yang paling cepat selesai dan keluar ruangan terlebih dahulu, bukan tentang siapa yang paling tinggi nilainya.
Tapi siapa yang paling memahami materi hidupnya selama ini, siapa yang paling banyak mengambil pelajaran dalam hidupnya.
Gak apa-apa kalau kamu cuma bisa jawab delapan atau enam dari sepuluh soal. Untuk lulus ujian hidup, Allah tidak pernah menuntut kesempurnaan.
Yang Allah lihat dari peserta ujian hanya kesabaran dan ketenangan.
Mungkin nilaimu tidak sebagus yang lain, mungkin kamu jadi peserta yang keluar paling akhir, tapi... Kamu sudah berhasil melewatinya.
Dan, Allah menyukai hamba-Nya yang tidak mudah menyerah🌹
Meskipun setelah ini akan ada ujian yang pasti lebih sulit lagi, kamu sudah lebih siap.
Kamu sudah tau, bahwa yang perlu kamu siapkan adalah kesabaran, ketenangan, dan jiwa yang tidak mudah menyerah.
Jadilah perempuan sekuat Sayyidah Hajar. Yang tidak pernah takut ditinggalkan oleh siapa pun. Sebab keyakinannya yang utuh, bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertawakkal secara penuh.
Kalimat menyejarah yang terucap dari lisan Sayyidah Hajar ketika ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalaam, tidak hanya meneladankan kuatnya ketauhidan, tapi juga meneladankan kuatnya karakter perempuan yang selalu berprasangka baik pada Allah.
Ketika berulang tanya yang diawali dengan kata "mengapa?" tak jua terjawab, Sayyidah Hajar memperluas sudut pandangnya dan mengganti pertanyaannya.
"Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan semua ini?".
Pertanyaan cerdas yang tidak membutuhkan penjelasan, hanya jawaban singkat saja, namun jawaban dari pertanyaan itu, sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
"Ya!" Jawab Nabiyullah Ibrahim 'alaihissalaam dengan perasaan yang akhirnya lega.
"Jika benar ini perintah Allah, maka pergilah!. Sungguh, Allah tidak akan pernah sekali pun menyiakan-nyiakan kami". Sebuah pernyataan yang diucapkan dengan penuh ketenangan, sekaligus tegas dan tanpa ragu. Tidak ada ketakutan dan kekhawatiran di situ.
Sebab Sayyidah Hajar percaya, selama ia bersama Allah, semua akan baik-baik saja.
@rizqan-kareema
Nasihat terbaik sekalipun, jika dijatuhkan di tempat dan waktu yang salah, bisa berubah menjadi beban yang menghimpit, bukan cahaya yang menerangi.
Menuangkan kata-kata bijak ke dalam hati yang sedang kalut atau belum siap, rasanya seperti menyiramkan air ke atas batu yang licin, ia hanya akan mengalir lewat tanpa pernah meresap. Ada kalanya, tempat terbaik untuk sebuah nasihat adalah disimpan rapat-rapat terlebih dahulu di dalam laci kesabaran, menunggu sampai badai di hati seseorang mereda.
Sama seperti dahan yang tahu kapan harus menopang kuncup dan kapan harus membiarkannya mekar, kita pun perlu tahu kapan harus bersuara dan kapan harus melukis kepedulian lewat keheningan. Sebab, ada momen di mana manusia tidak sedang membutuhkan kompas untuk menunjukkan arah, melainkan hanya membutuhkan pelukan atau sekadar teman untuk duduk bersama di dalam sepi.
Nasihat yang tepat di tempat yang tepat akan menghidupkan. Namun, tahu kapan harus menahan nasihat tersebut adalah puncak dari sebuah kebijaksanaan.
Layaknya Benih, Nasihat Butuh Tanah yang Siap. Tempatkan Nasihat di Waktu yang Tepat.
@clichemistry
Ketika nasihat seperti tidak pernah didengar, maka seiring waktu berjalan, akan tiba lelah. Nasihat berubah menjadi teriakan, lalu omelan. Dan omelan hanya menghasilkan jarak yang semakin renggang.