Hari ini dimulai dengan agak bete, pertama karena tadi malem bobonya mimpi, bangun bangun boro-boro seger, yang ada keringetan, pas cek hp, ternyata gaada notification masuk apa-apa. Okay, he didn't say word that he shouullddd, how could he. Paginya ternyata hari ini menstruasi, sambil periksa pasien dikit-dikit mikir, oh no wonder I'm feeling bad this morning, this is the hormones playing.
Agak siang sedikit i have several interrupted video calls, this is not make me happy cause i started these calls with a frown, that was not the best phonecall ever. So i decided to watched a series in widwifes room, next to the baby delivery room.
Seriesnya sih oke, nyetirain tentang pemburu monster, penyihir-penyihir, abang-abang rambut silver yang ganteng di jaman medieval yang super willlldd. Sambil nonton ngemil astor, samar-samar terdengar suara seorang ibu yang lagi berusaha mengeran ngeluarin bayinya. Samar-samar keliatan semua keluarganya kumpul, suaminya masuk kedalem nyemangatin gak kalah kerasnya dengan suara bidan-bidan. Gak lama, ada suara bayi, teriak teriak nangis karena baru aja menghirup nafas pertamanya. Yaaaay a baby has booorn!!!
Saat nengok keluar, semua orang masang senyum terbaiknya, si bayi merah ditimbang dan dibersihkan sama bidan. Keluarga besar yang hangat ini berjejal di pintu ingin lihat dan excited setiap bayi ini bikin gerakan gerakan sederhana. Mamanya (mamah baruu) narik nafas dalem banget with tears of joy. Terus aku menjauh
Ternyata udah hampir jam satu, pasien sudah berkurang, terus aku memutuskan buat regangin kaki dikit ke indomaret, setelah bilang selewat ke pegawai klinik, aku jalan keluar. belum sampe luar, baru di pintu klinik seorang bapak berlari dengan muka panik.
Bapak ini paruh baya, mungkin usianya sekitar 40an, datang dengan wajah super tegang bilang "Tolong, disini ada dokter?" Tentu aja aku langsung mengaku dokter. "Tolong dok, tolong lihat di rumah saya." Gesturnya meminta biar cepet-cepet, langsung aja aku ambil stetoskop gatau punya siapaa di meja tensi terus lari bareng ke rumahnya.
Aku langsung masuk ke kamar yang diarahin, di pembaringan seorang ada bapak dengan tangan terlipat di dadanya, tidak sadar. Segera aku cek nadi katorisnya, kosong. Otak yang dah lama ga muter ni mikir step selanjutnya: kompresi. Pas mau mulai kompresi dada, aku mau singkirkan dulu tangannya karena menghalangi sternum. Tapi tangan bapaknya menolak.
Aku pasang stetoskop pelan-pelan, ditempel di dada kirinya, gak ada apa apa disana---kosong. Gak ada S1, S2 yang harusnya selalu hadir, gak ada vesicular breath sound juga yang biasanya jadi backsound disitu. Cuma kosong.
Aku minta hp yang dinyalain senternya, pas nengok, dibelakangku penuh orang, keluarga ini berjejal sampe ke pintu. Semuanya tegang, gaada yang tersenyum. Aku terima hp terus arahin ke mana kanannya. Nope. Pupilnya gak bereaksi dengan cahaya, gitu juga dengan pupil kiri. Setelah cek lagi nadi, aku bilang, "bapak sudah gaada."
Gak sampe sedetik, tangis histeris menuhin ruangan kecil itu. Aku tutup matanya terus naikan selimutnya sampai ujung kepala. Pelan-pelan aku mundur, beri tempat keluarga hangat ini buat peluk terakhir.
Jujur aja kaget, Allah memperlihatkan aku, dengan mudahnya Dia memberi kehidupan dan mengambil hidup dalam waktu yang tipis, gak sampe 10 menit selangnya. Betapa gampangnya Allah ngasih kebahagiaan dan kesedihan ke orang-orang yang Dia kehendaki. Kebahagiaanya beneran, kesedihannya juga real banget. Dan itu buat Allah gampang aja membolak-balikan hati dan keadaan seseorang.
Meanwhile me, hari ini dimulai dengan sedikit skeptis karena berspekulasi abang is changing, karena dia gaklagi bilang sayang like he used to, juga nyalah nyalahin dismenore.
Ketika Allah kasih liat hari ini, rasanya kaya ditegur langsung. Bahwa ga penting banget yang menggangu aku hal-hal kaya ginian. Karena semua hal didunia ini Allah yang pegang. Gaada satupun yang aku kendalikan, aku cuma berusaha doang akhirnya tetap Allah yang mutuskan bakalan kaya gimana. Gaada. Satu. Pun.
Emang paling bener diserahkan semuanya ke Allah tentang semula hal. Allah yang Maha Memberi, Maha membolak-balik hati, juga Maha Tau apa yang palinggggggg baik buat hambaNya. Maka apapun yang terjadi kedepan, percaya bahwa itu yang terbaik, gak kurang, gak lebih.