Aku Sudah Tidak Menunggumu Lagi
Aku menatap diriku di kaca yang retak ujungnya. Mungkin seperti itu bentuk hatiku jika bisa kubuka isinya. Mencari celah dari atas hingga bawah yang kata teman-temanku tidak ada. Mencari kurangku yang membuatmu tidak memilihku tetapi malah dia.
Aku tidak pernah bercanda soal cinta. Walaupun akal sehatku kadang kalah, tetapi mencintaimu aku tidak pernah setengah-setengah. Menyayangimu kulakukan dengan kesadaran penuh. Sabar yang tidak pernah orang lihat dariku, kutumpahkan semuanya agar hatimu luluh.
Nyatanya, aku harus kembali melalui fase melanjutkan hidup setelah pati hati. Di usia yang sudah tidak pantas untuk diajak bercanda, malah aku kau jadikan bahan candaan. Hingga aku menertawakan diriku sendiri dan caraku mencintai. Bodoh. Jatuh lagi aku kelubang yang sama untuk kedua kali.
Pernah dicintai oleh orang yang baik dengan cara yang baik membuatku sadar bagaimana aku ingin dicintai. Menetapkan standar yang kata orang tinggi padahal kata mereka sendiri hubungan harus saling melengkapi. Maka kucari yang bisa kulengkapi, bukan kubentuk dari awal lagi. Lalu aku pikir itu kamu. Nyatanya kamu hanya berakhir jadi pelajaran yang tidak ingin kuulangi lagi.
Aku memilih untuk melepaskanmu dibandingkan kau jadikan pilihan ketika hubungan kalian gugur. Mencintaimu memang seperti taruhan bagiku. Namun aku memilih mundur daripada hanya kau cari saat ia tinggal tidur.
Mungkin denganku kau tidak menemukan makna cukup, karena benar apa kata orang. Pria tidak perlu diajari bagaimana cara mencintai karena jika ia mau, ia akan melakukan segalanya untukmu. Jika ia mau, kamu tidak akan pernah dibiarkan menunggu. Jika ia mau kamu tidak akan merasa dijadikan pilihan tetapi tujuan nomor satu.
Ini dari aku, bukan yang kamu mau.
8 Februari 2025 @nasikecap3015














