Dalam sesal yang melahap hari
Pernahkah kau berpikir untuk dirimu sendiri?
Menemui luka yang bahkan tak bisa dirawat
Untuk duduk meniupnya pun bahkan tak sempat
Waktu ?
Tentu saja ia tertawa terbahak
Aku tersungkur menatapnya dengan mata membelalak

seen from Greece
seen from Latvia

seen from United States
seen from Germany

seen from Russia
seen from Ukraine
seen from Poland
seen from Yemen
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States
seen from Germany
seen from Chile
seen from United States

seen from Yemen
seen from France
seen from United States

seen from Latvia
Dalam sesal yang melahap hari
Pernahkah kau berpikir untuk dirimu sendiri?
Menemui luka yang bahkan tak bisa dirawat
Untuk duduk meniupnya pun bahkan tak sempat
Waktu ?
Tentu saja ia tertawa terbahak
Aku tersungkur menatapnya dengan mata membelalak
Laut tidak menjanjikan keheningan, melainkan teman bagi gemuruh di kepalamu yang tak kunjung mereda.
Kau bisa mengamati luasnya cakrawala dan berharap hatimu selapang itu.
Atau belajar dari kegigihan ombak yang selalu bersedia menghantam batu karang meski tahu bahwa ia takkan tumbang.
Sementara pasir senantiasa tabah mengukir kenangan lalu menghapusnya, silih berganti seperti hidup yang sedang kau jalani.
Mereka telah memaafkan angin. Mereka telah memaafkan diri sendiri. Sehingga kau tak perlu bertanya, “mengapa laut sedalam dan setangguh itu?”
Surabaya, 18 Desember 2024
Memaafkan itu hangat, seperti air mata jatuh di pipi, coba pikirkan hal itu dan diriku, saat kau berdiri di tengah hujan.
mtsny
5 : Jarak Aman
Bagi saya, hal paling menyiksa dari jatuh hati adalah mengagumi tanpa bisa memiliki. Berharap diam-diam orang tersebut memiliki perasaan yang sama. Melihatnya tersenyum lalu ikut tersenyum, padahal senyumnya saja bukan untuk saya. Mendoakannya lebih sering dari mendoakan diri sendiri.
Situasi yang menyebalkan ! Tapi hati memang keras kepala. Hati memilih jalannya sendiri. Mengabaikan semua kemungkinan terburuk, mengabaikan realita ketidakmungkinan untuk bersama. Mempercantik perasaannya sendiri, membuat diri ini bahagia meski tau pada akhirnya akan jatuh hati lalu kembali belajar mengikhlaskan.
Entah kenapa hati bisa begitu tega ? Mengulang-ulang cerita yang sama. Kagum->Senang->Jatuh Hati->Mengikhlaskan. Tidak bosan, tidak belajar. Seperti candu-kagum dengan orang yang hanya bisa dilihat dari jauh.
Tapi tau tidak? Ternyata hati melakukannya bukan karena tidak belajar dari pengalaman, melainkan ia menjaga jarak aman. Mengagumi dari jauh adalah jarak aman untuk menjaga kita dari patah hati paling besar yang mungkin terjadi. Ia menjaga dengan kerasnya, membiarkan kita hanya menyukain kebaikan yang terlihat saja. Hati jauh lebih tahu, bahwa jika semakin dekat kita akan mengetahui hal-hal baru yang mungkin akan mengecewakan.
Lihat betapa hebatnya tubuh dan jiwa ini-menjaga tanpa syarat. Ia sudah tau apa yang harus dilakukan untuk menghindaran kita dari rasa sakit yang lebih besar. Jadi, jangan lupa berterima kasih. Kita sudah hebat sampai di sini, meski cerita kita masih sebatas mengangumi dari jauh.
Meskipun jatuh hati dalam diam menyiksa tapi patah hati jauh lebih menyiksa. Mmari nikmati saja momen ini, karena percayalah, suatau saat kita akan bertemu waktu dan orang yang tepat untuk menyambut cinta-tanpa ada patah hati di dalamnya. (semoga, aamiin)
Surat yang Tak Pernah Kusegel
Untuk Kamu, Yang Pernah Kupanggil Rumah
Aku pernah salah.
Pernah berdusta, tak hanya padamu—tapi juga pada diriku sendiri.
Kubiarkan senyum memaksa hidup di wajahku,
padahal di dalam, semuanya nyaris mati.
Aku jatuh.
Bukan sekali. Bukan dua kali.
Tapi berkali-kali, dalam diam yang tak sempat kau lihat.
Aku mencari, menelusuri setiap tanya dalam doa-doa yang letih:
“Mengapa hidupku begini?”
Dan akhirnya kutemukan…
bukan karena siapa-siapa.
Tapi karena hatiku sendiri,
yang belum ikhlas menerima jalan hidup yang Allah bentangkan—
tentang dia, tentang mereka, tentang kamu…
dan tentang aku yang tak utuh.
Kamu bagian dari lukaku.
Mungkin kamu tak sadar pernah menoreh,
mungkin aku juga terlalu sering menggoresmu.
Dan luka-luka itu kini tinggal serpihan yang tak bisa kusembunyikan lagi.
Kupungut satu-satu, tapi tak pernah bisa kugenggam semuanya.
Aku pernah merasa sendiri,
menjalani luka yang menolak sembuh.
Sakitnya seperti menelan sepi dalam ruangan gelap tanpa jendela.
Dan sungguh, aku tahu aku tak pantas meminta pelukmu,
ketika tubuhku masih diselimuti belati.
Pelukanmu bisa robek karena aku belum belajar melepas.
Mungkin, butuh ribuan batu menghantam jiwaku,
untuk akhirnya aku menyerah bukan pada keadaan—
tapi pada Allah.
Bukan karena lemah. Tapi karena terlalu lelah melawan-Nya.
Aku pernah berharap aku menghilang saja.
Lenyap tanpa bekas.
Tapi lalu…
suara kecil itu terngiang,
dengan rengekan dan kadang manja,
“Ibuk Jangan pergi.”
Dan di situlah aku menunda pergi.
Aku genggam tangan mungilnya,
kutuntun ia mengenal hidup lewat ayat demi ayat.
Kubuang niat untuk menepi…
diganti dengan harapan baru—
untuk menjadikannya kuat,
bahkan saat ibunya sedang runtuh.
Aku ingin, suatu hari,
saat ayahnya datang membawa bunga,
ia tak hanya melihat ayahnya,
tapi juga memeluk takdirnya—dengan hati yang penuh ridha.
Dan aku…
masih belajar.
Masih terus jatuh-bangun.
Tapi kali ini, bukan untuk membuktikan apa-apa,
hanya ingin pulang…
ke Allah, dengan luka yang telah kupeluk.
— Aku
Surat Dari Dua Rasa Cangkir
Rasaku terlalu pekat
Kata orang yang tak mampu mengikat
Diksi dari secangkir kopi mini
Yang selalu jadi pelarian
Dari orang yang berantakan
Dan rasaku lebih memikat
Untuk orang kalut
Dan diksi ku asam
Kata orang yang gemar berlarian
Ini suara dari dua cangkir
Yang berbeda rasa
Namun setia menemani raga
Yang kehilangan arah
Sesurat dari mereka
Dan tak tersirat
Karena mereka tau
Bahwa manusia hemat akan akalnya
Mereka bersurat
Jika tangisanmu terdengar pilu
Tawamu terdengar saru
Nikmatilah rasa ini
Mengalir merdu dalam rongga dada
Dan menarilah dengan tawa dan tangisan
Agar kau paham
Bahwa kebebasan terletak pada dirimu
Bukan orang yang berkaitan
Apalagi alam.
Amygdala.21.april.2025
Cafe arah langkah
Persetan Dengan Nyata
saat ini aku menulis membayangkan dirimu
dirimu di dimensi lain dimana kau adalah milikku
di satu aliran waktu yang mana kita saling rindu
menjadi sepasang kekasih penuh dengan lika-liku
bertengkar karena hal kecil
berbaikan ketika kangen memanggil
saling meyakinkan ketika labil
tetap saling hingga sama-sama berhasil
memenuhi BM-mu ketika malam
mengusir sepi yang kelam
memupuk perasaan sayang dalam-dalam
tetap bertahan ketika masalah mengancam
saat kau insecure tetap kupuji
saat aku jatuh tetap kau temani
bersama-sama kita saling jatuh hati
berpelukan sambil mengitari jakarta malam hari
tidak ada lagi waktu yang salah
tidak ada lagi sesal yang mewabah
hilang sudah semua resah
hanya ada canda tawa yang terus pecah
tidak ada kau yang tersakiti
karena dikhianati berkali-kali
tidak ada aku yang tetap menanti
sambil ada orang lain disela-sela sepi
sirna sudah semua sesal dalam hati
tersempaikan dariku rasa sayang ini
kepadamu tanpa ada takut yang menghalangi
dan kita pun berbahagia saling mencintai
kini tulisanku hampir mencapai batasnya
dan aku kembali ke dalam rangkaian realita
dimana aku pengecut dan kau buta
dimana kita bukan siapa-siapa tanpa apa-apa.
aku kembali pada kenyataan yang dimana kita hanya sebatas teman dengan rasa dalam dada.
Cahaya
"Tidak perlu memadamkan cahaya orang lain untuk membuat dirimu terlihat bercahaya, begitupun tidak perlu memburukan orang lain untuk membuat dirimu terlihat baik. Bersabarlah dengan cahayamu sendiri dan teruslah berbuat baik karena pribadi yang baik akan terus bercahaya dimanapun ia berada, barokallah fiikum"