If everyone thought like this, it would change the world.

No title available
Not today Justin
Monterey Bay Aquarium

❣ Chile in a Photography ❣

Kiana Khansmith

shark vs the universe

#extradirty
The Bowery Presents
No title available
RMH
No title available
The Bright Sessions
Cookie Run:Kingdom Official!
sheepfilms
The Stonewall Inn
almost home
Color Me Curious
taylor price

izzy's playlists!
KIROKAZE

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States

seen from Vietnam
seen from Australia
seen from Venezuela
seen from Germany

seen from Philippines
seen from Bangladesh
seen from Malaysia
seen from Ecuador
seen from Bangladesh

seen from Colombia
seen from United States
seen from Morocco
seen from Colombia
seen from Brazil
@nasikeju-blog
If everyone thought like this, it would change the world.
Lagi-lagi, H-1 UTS.
Saya selalu punya keinginan untuk cari distraksi di saat belajar, dengan si laptop tentunya. Kangen nonton dan kangen apalagi ya haha skip skip, jadilah nonton Rush. Cukup telat memang untuk ngerasain kebagusan film ini dan ingat curhatan sedih teman soal mobil yang dia buat ga bisa dikeluarin saat arakan wisuda april besok. Selesai nonton, tiba-tiba ngerasain keluhan aduh-pingin-cepat-libur-terus-baca-lanjutan-partikel-sama-akar.
Saya kemudian lanjut ngeliat-liat blog orang, dan sampailah saya dengan blog temen yang lain. Isinya banyak, bagus-bagus, dan style dia nulis indah banget. Salah satu yang paling menarik, dia sempat rutin melakukan project 100 kata per hari. Dan tiba-tiba terbersit.....
Hm. Kangen nulis juga ya.
Meskipun tulisan saya ga bagus, tapi entah kenapa tiba-tiba punya tekad harus produktif nulis pas liburan 3 bulan ini.
Siapa tau kalau dikirim ke majalah dapet setengah jeti ya? Haha
Semoga tekadnya tetap menyala terang. Tolong. Jangan pertemukan tekad saya yang satu ini dengan kata w*c*n*
Oke. Mau belajar lagi setelah seharian kemana mana.
Arsip Dokumentasi Sosial LFM ITB //reconstructing history
070314
Duh random banget. Mau uts. Tapi jam segini malah nyoba browsing tentang grafologi. Belajar buat baca tulisan tangan orang yang katanya bisa juga sekalian baca karakter penulisnya (secara tidak sadar, karakter tulisan tangan orang itu dibentuk dari apa ya, mentalnya?)
Yah gitu. Serandom ini.
REVIEW : IF ONLY (2004)
Taxi Driver: What if she never came back?
Ian Wyndham: What sort of a question is that?
Taxi Driver: Well, go on, picture it. You wave goodbye at the airport, she gets on the airplane, you never see her again... could you live with that?
Ian Wyndham: No... No, I couldn't.
Taxi Driver: Well, then you know what to do. Appreciate her and what you have. Just love her
Jika kamu diberi kesempatan kedua, apa yang akan kamu lakukan?
Ian Wyndham (Paul Nicholls) adalah seorang pebisnis. Sibuk. Seorang eksmud sejati. Ketika semuanya hampir terlihat sempurna, ia masih memiliki satu masalah dan tidak tahu cara mengatasinya. Ia tidak tahu bagaimana cara mencintai kekasihnya, Samantha Andrews (Jennifer Love Flewitt). Tidak bisa membuatnya bahagia, lebih tepatnya. Setelah bertengkar hebat, hari itu ia bertemu dengan seorang supir taksi (Tom Wilkinson), yang entah kenapa, tahu segalanya soal kehidupan Ian. Setelah mengalami hari yang buruk, SPOILER ALERT! Ian justru kehilangan Samantha. Di saat ia belum sempat mencintai Samantha, memprioritaskan Samantha sebagai segalanya, ia dengan mata kepalanya sendiri melihat Samantha meregang nyawa.
Namun, apa jadinya kalau hari buruk tersebut terulang kembali keesokan harinya? Mampukah Ian membalikkan hari buruk tersebut, menjadi setidaknya, hari yang lebih baik? Mampukah Ian menghentikan kematian Samantha?
Well, dari segi ide cerita, memang lumayan mudah tertebak. Hampir setiap orang pernah menyesali sesuatu, berandai-andai pada diri mereka sendiri bagaimana jadinya kalau sebelumnya saya melakukan ini, bukannya melakukan hal itu? Atau, pikiran seperti kalau saja waktu itu saya melakukan hal sebaliknya. Mengandalkan modal ide cerita yang, notabene semua orang pasti pernah memikirkan pertanyaan ini, film ini mampu dengan mudah menyampaikan pesan ceritanya pada penonton: selagi memiliki waktu dan kesempatan, apapun keadaannya, berusahalah sebaik mungkin. Uniknya lagi, karena kebetulan hari yang sama diputar dua kali, pesan-pesan yang disampaikan tokohnya secara verbal juga otomatis sampai ke penonton dua kali. Membuat banyak scene jadi amat memorable.
Dari segi penggarapan, If Only termasuk ke dalam film yang cantik, enak dilihat mata. Banyak menyajikan view cantik di pelosok dataran tinggi Inggris, gedung-gedung berarsitektur indah, atau pemandangan malam dari atas London Eye (kalau saya tidak salah?). Sinematografi favorit saya adalah ketika kamera mengambil sudut pandang mata kucing, fokusnya hanya terletak pada Ian yang sedang menuruni tangga dan sebuah katedral di belakangnya. Sisanya langit malam yang gelap. Khas sekali.
Dibalik kelebihan-kelebihan yang ditawarkan sebuah film, selalu ada kata ‘tapi’ terselip. Yep, menurut saya kekurangan If Only yang paling mencolok terletak pada scoringnya yang….. super super super monoton. Kekurangan yang sama terdapat dalam film Adjustment Bureau dan entah kenapa kebetulan genrenya sedikit mirip. Soal dikejar atau mengejar sesuatu, soal keterbatasan waktu, soal bagaimana mengembalikan kepercayaan pasangannya. Scoringnya menurut saya lebih cocok dipakai buat sebuah film pendek motivasi atau bumper sebuah acara pembacaan berita, scoring yang sangat menggambarkan kesibukan. Dan sayangnya terlalu merusak jika dipakai untuk sebuah film panjang (apalagi jika dipakai hampir di sebagian besar durasi film). Terlalu menghancurkan flow, dan akhirnya terbawa monoton.
Secara keseluruhan cerita sendiri, sebetulnya saya sendiri suka. Pengecualian untuk scene makan malam di restoran kecil, kelewat menye. Kenapa saya kurang suka? Toh unsur seperti ini juga ada karena harus memenuhi tuntutan genre drama dan romance, juga demi memenuhi ekspektasi penonton kan? Hahaha. Film-film seperti ini sih, tipe film vetsin-ngebegoin logika penontonnya (khususnya perempuan yang banyak mendambakan love life yang serba sempurna) dengan cerita yang klise, terlalu jauh dari kehidupan nyata. Mengingatkan saya dengan A Walk To Remember (1999), di mana tokoh laki-lakinya belajar banyak dari si tokoh perempuan, kemudian memujanya dan melontarkan kalimat-kalimat super “uuuuu….”. Lalu 5 menit kemudian salah satu dari mereka harus mati atas nama takdir. If Only adalah A Walk To Remember dalam kemasan yang lebih baik. Setidaknya menurut saya sih. Selera orang kan beda-beda ya?
Yah tapi tetap saja hal lain yang wajib diapresiasi dari film ini adalah akting kedua tokoh utamanya, terutama akting Jennifer Love Flewitt yang awalnya berpembawaan super lugu, tidak tahu apa-apa, baik, perhatian, manis, penyayang, pengertian, dan agak bego… eh begitu dia muncul di scene saat dia nyanyi solo (Nah, kan A Walk To Remember lagi!)-pembawaannya langsung berubah. Jadi sosok yang kuat, tegar, dan sebetulnya independen. Dan suaranya benar-benar powerful.
Jadi? Film besutan Gil Junger ini, memang pasnya ditonton oleh cewek. Sangat banyak mengandalkan segi perasaan. Jalan ceritanya seru buat ditebak, bakal banyak bikin kamu bertanya kelanjutan demi kelanjutan kejadiannya akan seperti apa.
[Teaser] PEMIRA KM-ITB 2014
Pemilihan Presiden KM ITB yang baru udah mau mulai nih. lagi marak banget suasana politik. Ehem. Jadi biar saya perjelas di sini (padahal sebetulnya mau nampang hahaha!). Konsep dari teaser ini, ada beberapa orang yang lalu lalang melewati sejumlah mading di seputaran kampus ITB. Nah, ada pemandangan yang menurut mereka ganjil, yaitu potongan-potongan gambar berupa puzzle. Ternyata potongan-potongan tersebut kalau disatukan, akan membentuk logo Pemira KM ITB 2014.
Marina Esmeraldo is a designer and illustrator based in Barcelona, Spain. Her work is informed by her studies in architecture and graphic design, her passion for patterns, bold shapes and color, and her tropical upbringing in the northeast of Brazil.
Behance / Instagram / Tumblr / Twitter
Tomorrow (Saturday) is the birthday of Dmitri Ivanovich Mendeleev - the man whose ground-breaking work led to the creation of the modern periodic table of elements.
Here’s a fun look at his contributions from Lou Serico and TED-Ed:
I Mende-love that guy. Thanks for the table, D!
Ga suka kimia. Tapi... yaudah sih lucu
Kineklub LFM ITB 2013!
Saya kangen nonton sampe bego bareng kalian, heboh bareng kalian, ngegosipin si s**wn* bareng kalian. Nginep di Potluck sama McD semaleman. Ngemil sampe gendut banget kerasanya padahal mah engga tetep aja badan ini kurus huhu. Nonton film sekacrut Joe Dirt. Nonton film sefenomenal Shawshank. Duduk di perpus ngerjain TA sampe pantat panas. Saling nuduh satu sama lain kalau satu sama lain juga adalah intel. Huhuhu kangen pokoknya kangen.
Ini dokumentasi syukuran wisuda Oktober 2013, katanya salah satu syukwis terbaik beberapa tahun terakhir. Di sini sempet jadi sherina gitu pas performnya. Hahaha.
Em. Terus pas lagi mau ganti kostum jauh-jauh ke wc bawah labtek ketemu siapa sha? Di itb insight ya? Terus diliatinnya kok gitu banget ya? Rambut lo berantakan banget kali ya ketiup angin wus wus! Hahaha skip skip.
LFM!
Hai selamat malam! Akhirnya ngisi si keju juga, dan dalam kondisi serba baru.Selain udah menginjak semester 2, ini udah tiga minggu sejak dilantik jadi kruba lfm 2013. Dan khusus post kali ini akan gue dedikasikan buat lfm, hahah meskipun isinya Cuma seputaran perasaan gue yang melompat-lompat dan pengalaman-pengalaman ringan lainnya.
Jadi, mari dikenalin dulu si Liga Film Mahasiswa ini. Ya udah sih. Kepoin aja twitternya di @LFM_ITB. Atau, coba cek film-film pendeknya di WEBSITE VIDEOGRAFI LFM ITB. Mm skip skip. Sudah ngapain aja di lfm? Sedikit banyak, yang jelas cukup menyita porsi waktu liburan (atau saya nya aja yang susah banget buat ngatur waktu? Hahaha). Yang jelas banyak bertentangan sama yang di rumah. Orang tua sih pinginnya saya masuk macem unit baik baik gitu, gamais misalnya. Iya gamais. Katanya sih supaya saya ikut jadi baik dan sejenisnya. Tapi, ya, dengan kenyataan bahwa saya cenderung gasuka sama orang orang macem ukhti, ya…… skip aja. Misalnya ya, dosen fisika saya yang baru, yang notabene menganggap semua baju tanpa kerah adalah sesuatu yang ga sopan, tapi dia memperbolehkan mahasiswanya memakai sandal asal memakai kaos kaki-_- Menurut lo? Hahaha rasis dah.
Jadi, pertanyaan tadi belom kejawab. Di LFM udah ngapain ya? Selain jumpalitan ngejar target tanda tangan dan wawancara, saya sedikit berkarir. Karir saya dimulai dengan magang marketing wisuda oktober, daaaan… itu teh jaman uts 1 fisika tapi untung ga merod merod amat hasilnya. Karir kedua, ga terlalu tepat buat disebut sebagai karir sih, tapi kontribusi di sini lumayan lah. Wekaka, gue memerankan sherina di perform cakru syukwis oktober, lawan mainnya si dika (ekspresi dia selalu meledak ledak dan lebay). Lucu tolol gitu sih latihan bareng si dika, dan si cina mano selalu setia nemenin si dika saat latihan. Latihan kabaretnya di kantin bengkok gitu, dan menurut gue, sukses membuat failed osjur suatu himpunan (waktu itu mereka lagi agitasi dan kita nyetel lagu sherina gede gede sambil nari depan mereka). Setelah latihan, biasanya langsung hupir nyusul anak fttm ke lapbas buat supporteran. Loncat loncat sambil teriak teriak nyanyiin yel-yel sampe malem banget (buat anak bandung). Betis kram. Nginep di kosan si endut shisi. Dan besoknya udah kuliah lagi.
Di pendidikan LFM, semua cakru dibagi jadi 4 divisi, yaitu videografi, fotografi, pertunjukan, dan kineklub. Waktu awal, saya bingung mampus mau milih bidang mana. Soalnya, saya punya background teater, dan berpikir mungkin bisa memperluas lagi bekal tersebut di bidang pertunjukan yang ternyata jeng jeng jeng! Pertunjukan di LFM condong buat ngadain event event, maksudnya mempertunjukan karya-karya anak LFM ke masyarakat umum, bukannya pertunjukan macem teater. Pikiran bodoh emang. Saya denger-denger kalau bidang yang satu ini lumayan ribet. Jadi pertunjukan saya coret dan pilihan saya waktu itu tinggal 3. Videografi langsung saya coret karna saya sama sekali ga punya talenta di bidang itu. Fotografi juga sama, dan katanya pengeluaran buat foto itu mahal. Coret lagi. Yang kesisa adalah kineklub, bidang yang sama sekali asing dan baru kali pertama denger hal-hal kaya gini dan….. dengan pikiran mungkin bidang ini ga ribet, kerjaannya Cuma nonton film dan nulis review, masuklah saya di situ.
Awalnya cakru kineklub ada 15, dikit banget emang kalau dibanding foto video yang nyampe 60 70an. Tapi setelah ngelewatin TA wawancara dan cacamarica sampe dilantik jumlah kita jadi yang paling dikit. Hahaha. Enam orang. Asik sih. Banyak banget waktu berkualitas yang dilewatin bareng mereka. Ups, belum dikenalin. Lima orang kine lain selain gue (maafin anomaly banget sebutan buat diri sendirinya) adalah Silmi, AZZ, Aji, Dinda dan Cami.
Silmi Kaffah (Teknik Industri 2012)
Silmi adalah beruangnya kine. Dia enak banget kayak bantal, bisa dijadiin alas bobok. Kalau kita nginep di cami, dia yang paling banyak tidur hahaha. Saking seringnya dia tidur koleksi foto candid lagi tidurnya juga dia yang paling banyak wakakaka! Tapi, meskipun sering bobok, dia cakru kine yang paling fenomenal. Apalagi saat dia mengutarakan pendapat soal suatu film, keren mampus. Detail, mendalam. Kalau suatu topic diibaratkan kuburan, silmi jago banget menggali topic tersebut sampai ke dasar-dasarnya. Waktu kami masih cakru, kami pernah dicekokin nonton Merde di 9009 dan sementara cakru lain cuma ngasih komentar, ‘Iya kak. Bingung deh nonton ini hehehe…’ Si silmi ini lain, bisa dibilang hanya si beruang ini yang ngasih pendapat ‘berisi’. Misalnya, "Wah menurut gue sih si Merde ini ada di Jepang karna.... *menyebutkan sesuatu soal mother of earth* terus kelakuan saat di jepang itu juga sebetulnya ada tujuan tertentu... dan blablablabla." Ga heran sih. Dia ini hipster, pikirannya terbuka, segala hal dilahap jadinya wawasan dia ga ngerti lagi deh luas banget.
Sarah Azzahwa (Fisika 2012)
AZZ (baca: A-Zet-Zet) juga favorit saya. Soalnya berisik banget bangke. Dia logatnya asli sunda anak bandung banget, dengan segala ’aing maneh’nya. Tapi pas ditanya asal darimana, ternyata dari Bangka. Saya juga suka banget sama ketawanya yang terbahak-bahak atau sampe kehabisan napas, nyuruh saya pingin ikutan ketawa juga. Terus dia kadang suka ngilang, jangan Tanya kenapa. Alesannya pasti cucus. Huhuhu. Pacarnya emang baeeeek banget. Demen banget sama si azz ini. Setia banget nemenin AZZ buat ngedatengin BIOSKOP KAMPUS (dan saya kru lfm sendiri belum pernah sama sekali nonton bioskop kampus, karena pasti baliknya malem). Nonton film bareng azz ini asik banget, soalnya dikit-dikit selalu ada sumpah serapah keluar dari mulutnya. Yang berakibat, flow si cerita dari film ini makin naik apalagi kalau udah klimaks. Intinya azz adalah orang yang bikin film jadi hidup. Azz adalah sound effect dalam bentuk manusia.
Misalnya…
TV: *menayangkan adegan dalam film saat tokoh A menggiring tokoh B ke dalam gudang*
AZZ: AN*IIIRRRRR! AN*IIIIIIRRR! DIBUNUH DONG PARAH PARAH PARAH BANGET SIH GA SUKA BANGET DAH DASAR PSIKOPAT!
Yang lain: *ikutan tegang*
Rahmanaji Soeparmono (Teknik Perminyakan ITB 2012)
Super pinter, ipk saat TPB 3.7. Kesan pertamanya ganteng loh tapi kaya arab arab gitu dan setelah mengenal baik aji, ternyata dia ga seganteng itu. Hidih. Ngeselin, suka ngejek yang bikin gue berkomentar heeem-____- Suka ngeinflunce gue supaya masuk minyak. Misalnya
Aji: Mau masuk mana sha?
Er: Hemph. Apa ya. Bingung. Tambang aja deh
Aji: Jangan sampe lo udah keburu masuk sana tapi lo malah nyesel loh sha. Misalnya sama pergaulannya yang keras, atau kenapa sih lo ga berusaha buat mencapai cita-cita setinggi mungkin? Kalau lo gamau masuk minyak karna syarat ipk nya tinggi atau lingkungannya yang kompetitif, ya kenapa enggak sih? Toh kita masuk itb buat belajar kan? Udaaaaaahhhh… Masuk minyak aja sha! Masuk minyak ajaaaa!
Tapi dia gampang banget dibikin salting, apaagi kalau udah dicengin sama si X. Terus akhirnya pundung. Tapi baiiiiik banget. Dia suka tiba-tiba beliin makanan. Saya pernah tiba-tiba dibawain magnum gitu wkwkwk baek banget. Dia juga tipe orang yang suka memberhalakan minuman. Sementara kita udunan beli-beli makanan, aji adalah tipe yang bisa menghabiskan 100 ribu rupiah untuk beli minuman berbotol-botol. Pokoknya berhala banget dia sama minuman. Ngerti ga sih, misalnya nih ya.
*lagi di mobil*
X : Wah ji mau beli apa di c-k?
Aji : Minum… *keluar mobil*
Aji : *balik balik bawa sekresek penuh botol-botol minuman*
X : Emang apa enaknya futami?
Aji : YA AMPUN LO BELUM PERNAH NYOBA FUTAMI?! INI MINUMAN KEHIDUPAN TAU!
X : Hahaha belum sih….
Aji : Lo belum merasakan namanya hidup kalau belum pernah minum futami. Apalagi yang peach! Nih coba!
X : Mmm…. *neguk dua kali* ENAK YA!
Aji : Lo udah nyoba pulpy orange belom? Widiiiiiiiiiiiiiiiih itu mantep banget parah enak…
Aji : Lo udah nyoba *menyebutkan suatu merk minuman aloe vera* itu juga seger banget hhhh
Aji : Apalagi minuman X! Minuman Y juga! Atau atau minuman Z juga HAHAHA
Permata Adinda P. (FTI 2013)
Dinda, sebelumnya udah sempat kesentil di post sebelumnya. Dari namanya aja, udah adem banget dengernya. Dan, ga hanya namanya, orangnya juga adem banget. Kalem. Kebalikan banget sama saya. Benda-benda yang cocok banget menggambarkan dinda adalah sungai yang tenang. Atau laut yang dilatarbelakangi sama matahari tenggelam dan ada burung camar lagi terbang. Dan, saking baiknya, kalau dosa semua anak kine ditimbang, dosa dinda paling ringan mungkin. Hahaha, lebay emang tapi bener juga. Dinda yang ga pernah ngejudge, selalu ketawa, selalu positif, ga pernah suudzon, selalu pengertian, dewasa banget, solutif, jarang ngeluh, selalu ngebantu. Dan saking baiknya dinda, kita pernah tuh kayak lalai gitu buat nyiapin pameran TA, dia yang notabene adalah PJ buat acara, cuma nangis di pojokan. Minta secuil pukpuk dan semangat dari albert (pacarnya). Bayangin, di saat dia bisa aja ngerocos ke kita “Guys, tolong dong yang bener kali ini kerjanya, gue pusing nih jadi PJ!” dia lebih memilih buat nangis di pojokan…. Duh maafin ya din. Apalagi gue. Kurang ajar. Sering ngilang balik ke rumah kayak ninja.
Camillia Hilmy (SF 2013)
Alumni SMA sebelah dan pingin kerja di rumah sakit katanya. Cami adalah cewek dengan penampilan paling geek tapi cantik dan lucu. Dan, asli sunda pisan. Seneng banget liatnya. Pake kacamata, dibehel, rambut dipotong rata, kurus,dan suka baca buku. Rumah cami saking seringnya dipake buat nginep sampe dicap jadi basecamp kita. Ngerjain apa-apa selalu di sana. Dari 30 jam nonton bareng, ngerjain mading, kurasi, semuanya di rumah cami. Dan keluarganya nerima kita dengan baik. Mamanya baik, suka masak-masak rumahan, dan kentang baladonya enak banget. Adiknya juga lucu-lucu, suka main tepuk tangan gitu hihihi. Yang paling kecil namanya Nada, suka main piano. Terus kalau mau minta referensi film juga ke cami, koleksinya banyak dan bermutu.
Dari kiri ke kanan, Dinda, saya, Aji, Cami, dan Silmi. (Azz masih kuliah jadinya ga ada di foto)
Oh iya untuk menutup post kali ini hahaha saya mau ngucapin makasih buat mano dan dika yang jadi temen saya kalau saya ngerasa ga enak sendiri di LFM. Kalau saya ketinggalan info, pasti saya nanya-nanya mereka. Kalau saya kebingungan, saya juga ngedumel-dumel ke mereka hehehe. Ly man dik!
An escape plan
Sometimes, we need an escape plan - Critical 11, Ika Natassa
Jadi.
Pagi ini saya, setelah nyiram tanaman, beres-beres lagi, melanjutkan packing yang gagal entah berapa minggu yang lalu. Ngebuang-buangin barang adik saya yang banyaaaaaaaaaaak banget. Sampe nemu surat cinta monyet dari mantannya yang katanya sakit jantung (hahaduh). Saya tiba-tiba diem.
Saya baru inget, oh iya udah seminggu ga buka line.
Saya buka laptop, lalu ngecek aja.
Terus mau mati. Ga deng ga juga. Amit-amit.
Banyak. Banyak banget ternyata yang dalam seminggu ini ngehubungin saya via line. Di antaranya, PH GA W dan anak anak lfm. PH Gawe. Yah itu pokoknya. PH yang isinya orang orang cakep dan kreatif bet, macem jarek, albert, si bangka, dinda, cami, santo, tyo, billah, dan lain-lain hah dan entah kenapa saya direkrut sama mereka. Ajaib banget. Baik banget mereka.
Saya beneran ga napas lima detik.
Apalagi sampe dipm sama dinda, pacarnya si albert yang baik hati. Nyampe disuruh buat 'er, komen dong grup PH :*'
Dan masih pake emot muah. Gila. Baik banget dia.
Segala kata makian keluar. Dasar sha. Bego banget kenapa bisa seansos ini. Ini namanya lari dari tanggung jawab sha. HAAAAAH.
Duh kayaknya bukan kayaknya sih, saya harus mulai ga mager buat ngisi paket wkwkwk tabnya pecah sih! Jadi aja males... Jadi aja ketinggalan segala info.
Kadang, kita memang harus punya waktu sendiri. Nah. Tapi. Waktu 'lari' saya ini kayaknya kelamaan deh.
Pasti selalu ada yang mau mengajarkan, asalkan kamu mau belajar.
Mafia Danus
Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013)
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu - Arai
Jika melihat beberapa tahun ke belakang, masyarakat Indonesia tidak akan lupa dengan kesuksesan dari Riri Riza untuk mengangkat novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi ke ranah layar lebar. Kali ini, langkah yang sama dilakukan oleh Benni Setiawan dengan adaptasi novel karya Andrea Hirata yang ketiga, yaitu Edensor. Namun, apakah prestasi yang Benni cetak kali ini bisa semanis seperti yang ditorehkan Riri Riza dahulu?
Mendapat beasiswa di Paris menerbangkan Ikal (Lukman Sardi) dan Arai (Abimana Aryasatya) untuk menuntut ilmu di Universitas Sorbonne. Sayangnya, keterlambatan mereka membuat mereka terdepak dari asrama semalaman dan harus terluntang-lantung dalam cuaca bersalju. Di sinilah cerita Ikal dan Arai mengukir mimpi di benua Eropa dimulai. Konflik demi konflik berdatangan di tengah kondisi keduanya yang serba pas-pasan. Mulai dari orang Kampong Belitong yang kehilangan mata pencaharian mereka, sampai Ikal yang tidak fokus dengan studinya di bidang Ekonomi. Masalah bertubi-tubi datang dan akhirnya merembet pada persahabatan mereka berdua. Akankah mereka tetap bersama?
Bisa dibilang saya adalah penggemar tetralogi Laskar Pelangi, dan Edensor adalah salah satu yang menjadi favorit saya. Isinya tereksplor luas dan padat serta dituturkan dengan cara yang indah. Deskripsinya benar-benar jelas. Nah itu dalam bentuk novel. Bagaiman dalam versi filmnya? Tidak berlebihan kalau saya bilang, Edensor adalah versi film paling mengecewakan jika dibandingkan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Kemampuan mendeskripsikan dari Edensor yang masih miskin membuat saya merasakan kemonotonan, penonton yang belum membaca novel Edensor bisa jadi tidak mengerti di beberapa bagian film.
Hal yang menurut saya tidak buruk dari Edensor adalah sisi sinematografinya, itu pun hanya ketika penceritaan beralih ke setting Pulau Belitung. Setidaknya Fachmi J. Saad mampu memanfaatkan pemandangan Belitung yang serba indah dan eksotis. Di luar poin tersebut, secara keseluruhan unsur-unsur yang menyusun film ini sebagai satu kesatuan yang utuh kurang bisa memenuhi ekspektasi penonton, khususnya bagi yang dahulu pernah membaca novel Edensor sendiri. Dari segi art sendiri, masih jauh dari kata baik. Saya sendiri hanya terkekeh ketika adegan berlayar yang terasa mati. Alih-alih memaksimalkan efek visual, Benni justru memanfaatkan lampu-lampu kecil untuk merepresentasikan lautan bintang di langit-dan gagal. Fakta bahwa sinematografi dan art yang buruk ini kemudian disandingkan dengan alunan voice over yang isinya kepalang indah, menjadikan film ini mengalami ketimpangan yang cukup mencolok. Atau, voice overnya sedang menceritakan keindahan tempat bernama Edensor sendiri (di sini seharusnya pula diceritakan mengapa nama novel dan/atau film ini berjudul Edensor), namun visual dalam film justru memperlihatkan keseharian Ikal dan Arai yang sedang bekerja paruh waktu. Kurang nyambung.
Kesalahan terbesar Benni sebagai penulis naskah sendiri sebetulnya tidak luput dari cara penceritaan. Plotnya terasa lambat, bukannya berpusat pada esensi penting dari novel yaitu mimpi, sebagian besar cerita justru banyak terkecoh pada sisi kehidupan cinta Ikal dengan Katya (Astrid Roos). Kalaupun sudah membahas tentang inti dari Edensor sendiri, kesan terlalu mendramatisasinya masih terasa disana-sini.
Beruntung, Edensor menggaet sejumlah cast yang fungsinya mungkin semacam ‘pengalihan’. Meskipun menurut saya Lukman Sardi terlalu berumur buat mendapatkan peran ikal, namun aktingnya memuaskan. Sama seperti akting Abimana Aryasatya yang menonjol dengan karakter sinis dan blak-blakannya, namun tetap sebagai sosok yang inspiratif dengan segala idealismenya. Astrid Roos juga tampil menjanjikan untuk menggambarkan seorang Katya-perempuan cerdas yang cantik dan modern.
Overall, Edensor versi film tidak menggambarkan dengan tepat versi novelnya secara sempurna. Banyak sekali bagian dari novel yang dipangkas di sana sini. Efeknya, hal-hal menggugah yang dibicarakan dalam novel tidak dapat ditemukan dalam film karena hanya digambarkan dengan cara yang biasa-biasa saja.
TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK (2013)
"Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya!"
Klasik. Kisah cinta ala Siti Nurbaya simplenya. Namun dengan melewati serangkaian racikan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang secara ketat bersaing dengan Soekarno (2013) dalam layar bioskop tanah air, merupakan sebuah penutup akhir tahun yang memukau dan megah di antara film-film Indonesia akhir tahun lainnya.
Diadaptasi dari novel berjudul sama gubahan Buya Hamka, berlatar waktu Indonesia pada tahun 1930an, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mengisahkan tentang Zainuddin (Herjunot Ali), seorang yatim piatu Sulawesi yang ayahnya berasal dari tanah Minang dan ibunya berdarah Bugis. Zainuddin yang berniat menuntut ilmu dan mengetahui asal-usul ayahnya kemudian berlayar ke Batipuh, Tanah Datar, Sumatera Barat. Namun di luar dugaannya, kedatangannya tidak disambut dengan baik masyarakat setempat. Masalah tidak berhenti sampai di situ. Setelah terkucilkan karena darah yang dianggap ‘tercemar’, kisah cinta Zainuddin dan Hayati (Pevita Pearce) kembang desa dari Batipuh diharamkan oleh para tetua desa Batipuh. Kisah cinta keduanya semakin pelik ketika pemuda kaya raya keturunan murni Minang, Aziz (Reza Rahadian), melamar Hayati.
Pada eranya, berawal dari cerita bersambung pada majalah Pedoman Masjarakat pada tahun 1938, Tenggelamnnya Kapal Van Der Wijck kemudian menjadi bacaan wajib bagi pelajar Indonesia dan Malaysia. Hamka sendiri, seperti dalam novel-novelnya yang lain tidak hanya menjadikan Tenggelamnya Van Der Wijck sebagai novel roman semata, namun menyampaikan kritik terhadap budaya-budaya Minangkabau yang tidak sesuai dengan ajaran Islam (padahal Minang terkenal dengan budayanya yang kental dengan unsur Islam) dan sistemnya yang di luar masuk akal. Kritik dari Hamka juga banyak ditujukan kepada kaum kolonial dan pribumi yang memiliki kekuasaan saat itu.
Nah, bagaimana dengan versi filmnya? Bukan main dari awal pembuatan filmnya sendiri, naskahnya ditangani oleh jajaran orang yang istilahnya ‘tahu sastra’, yaitu Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro (film adaptasi novel Donny sendiri, 5 cm, sempat bersinar di penghujung 2012 yang lalu), Riheam Junianti, dan tentu saja sutradaranya sendiri-Sunil Soraya. Menurut saya bukan sesuatu yang mudah buat mengkonversi suatu karya sastra kuno menjadi film yang bisa dinikmati oleh masyarakat modern. Hasilnya, meskipun cenderung puitis dan mendayu-dayu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tetap sukses mendapat apresiasi baik dari kaum penikmat film.
Modal kesuksesan film berdurasi 163 menit ini juga tidak lepas dari departemen aktingnya sendiri. Well done, Herjunot Ali. Aksinya sanggup membuat penonton terhenyak beberapa kali. Logat Minangnya yang kental, gestur kaku, dan gaya rambutnya yang serba rapih dan jadul mengingatkan saya dengan Tom Hanks dalam Forrest Gump (meskipun akting Tom Hanks dalam Forrest Gump masih jauh di atas Herjunot Ali sebetulnnya). Herjunot mampu menyampaikan sesakit apa pergejolakan yang dialami jiwa Zainuddin dengan…. sempurna. Meskipun pembawaannya yang selalu mendayu-dayu sering mengundang tawa-beberapa kali dalam adegan sedih (level kepuitisan naskah selalu naik beberapa persen dalam adegan sedih).
Sebagai penyeimbang, pembawaan Randy Nidji yang selalu kocak membuat ia menjadi tokoh tak terlupakan dalam film ini. Penampilan Pevita Pearce sendiri tidak mengecewakan, untuk memerankan Hayati si perempuan baik-baik, super cantik, namun nasibnya selalu menyedihkan dan tidak berdaya. Terakhir, Reza Rahadian mampu dengan fasih mengantarkan karakternya yang karismatik, keren, namun ternyata brengsek.
Saya sendiri puas dengan totalitas dari tim art film ini untuk mewujudkan suasana Indonesia pada tahun 1930an dan kesan elegan yang mewarnai film. Meskipun sempat kecewa dengan set kapal yang kurang megah. Sinematografi garapan Yudi Datau juga sukses memanjakan mata dengan penyajian bumi Minangkabau yang indah. Tata suaranya juga jauh di atas buruk, banyak berperan untuk menjalin koneksi emosi dengan penontonnya.
Namun dibalik kemegahan film ini, saya menemukan beberapa kelemahan film yang bisa dibilang cukup mengganggu. Banyak sekali scene dalam film ini yang bisa dibilang sangat Titanic atau sangat The Great Gatsby (bahkan ada beberapa adegan yang identik). Efek visual yang menggambarkan crowded dan kapal Van Der Wijck yang sedang berlayar terasa masih kasar dan aneh.
Jadinya? Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan film yang padat, terfokus, namun tidak terpecah-pecah. Kemampuan bercerita yang rapih. Meskipun plotnya sangat panjang, namun penonton masih bisa tenggelam dalam tiap fase cerita tanpa harus terganggu dengan proses transisinya. Prestasi terbaik dari Sunil Soraya.
STOKER (2013)
Just as a flower does not choose its color, we are not responsible for what we have come to be. Only once you realize this do you become free. – India
Gambaran film thriller bagi orang-orang awam (termasuk saya sih), pasti yang kebayang cenderung film yang isinya penuh adegan sadis dengan darah muncrat kemana-mana. Well, Stoker menawarkan sesuatu yang berbeda mungkin. Setelah membuat film yang skalanya sudah menginjak ke dunia internasional, macam Oldboy (2003), Sympathy for Lady Vengeance (2005) dan Thirst (2009)- kali ini Park Chan-wook si sutradara asal Korea Selatan ini kembali dengan pengarahan yang menurut saya, serius dan mendalam.
Mengangkat tema seks dan psikologis, cerita dari Stoker sendiri seperti kumpulan puzzle. Puzzle cerita dimulai dengan India (Mia Wasikowska) yang kehilangan ayahnya-Richard Stoker (Dermot Mulroney)-yang tewas mengenaskan dalam kecelakaan mobil tepat di hari ulang tahunnya yang ke 18. Keguncangan tidak berhenti di situ. India kemudian harus hidup bersama ibunya, Evelyn Stoker (Nicole Kidman) dan seorang pemuda yang tiba-tiba datang serta mengaku sebagai paman dari India sendiri, yaitu Charlie Stoker (Matthew Goode). Puzzle terakhir terpasang dan terungkaplah misteri-misteri dibalik kehadiran pamannya.
Cantik, setidaknya itu komentar saya sebagai pengamat awam tentang Stoker. Sinematografi garapan Chung Chung-hoon sendiri bisa dinilai cukup memuaskan, berpadu dengan art yang banyak memainkan tone cerah dan hangat membuat film berdurasi 99 menit ini menciptakan semacam warna yang menyenangkan dan enak buat dilihat. Oh, dan satu lagi. Scoring serta sound dari Clint Mansell yang banyak memainkan lagu-lagu klasik juga patut diacungi jempol, sukses menambah kesan kelam dan elegan dari film.
Jika dilihat dari jajaran artis sendiri, memang para cast dari Stoker tidak bisa dipandang sebelah mata. Akting Mia Wasikowska yang effortless cukup bisa membawakan sebuah karakter perempuan pintar yang belum memiliki jati diri dan asik dengan dunianya sendiri. Kepribadiannya yang datar dan dingin menyingkap fakta bahwa ternyata dia punya bakat sebagai seorang psycho. Performa Matthew Goode pun tak jauh berbeda, ia mampu berperan sebagai seorang karakter yang tampan dan memikat namun ternyata aslinya berbahaya. Membuat penonton tertarik sekaligus bertanya-tanya ‘siapa sih orang ini?’ Sementara Nicole Kidman yang cenderung berkarakter unstable dan memiliki masalah ketidakharmonisan hubungan dengan anaknya juga tampil prima, dan menurut saya dia memang ditaruh sebagai ‘pemancing’ karena daya tariknya. Overall, ketiganya sanggup mengambil porsi masing-masing sebagai karakter dominan dalam cerita.
Tapi Stoker bukannya hadir sebagai film tanpa cacat. Terutama di bagian plot dan twist yang masih kurang (atau bahkan tidak ada sama sekali). Dari pengenalan karakter, timbulnya konflik sampai ending dari film itu sendiri terbilang biasa. Cerita sendiri lebih berpusat pada si India, dan bersamaan dengan berjalannya cerita karakter dari India semakin dieksplor lebih dalam, membuat film ini semakin menarik.
Banyak dari orang yang menyukai Stoker pada segi style filmnya, dan saya termasuk di antara orang-orang tersebut. Suguhan thriller yang ngeri dan menakutkan, namun secara bersamaan membungkus cita rasa elegan dan tentu saja menghibur tanpa harus kelewat memusingkan. Hasilnya? Stoker adalah film dengan nilai seni yang cukup tinggi, dan terlalu sayang untuk dilewatkan bagi para pecinta film.
WUFLA
Wuflah kelar juga 1 review. Seperti libur-libur sebelumnya, gue kalau dapet jatah leha-leha jangka panjang pasti ngelist to do list banyak banget (yang tetep aja kebanyakan malah jadi wacana doang). Dan salah satunya ini: nonton 50 film + nulis review. Meskipun buat nulis kayaknya gue sanksi kalau nyampe angka 50. Haghaghag secara mainnya mood moodan.
Kenapa coba harus ada kegiatan ini? Jadi dengan latar belakang gue sebagai cakru kine LFM 2013 yang wawasan tentang filmnya paling miskin, dan komentar 2 review film gue terbilang paling kacrut di antara yang lain pas TA kemarin, maka gue harus nonton banyak dan latihan nulis lagi demi apapun. Mengasah kemampuan ceritanya. Hahaha jadi begitu pendidikan awal januari lagi isi otaknya mulai 'ada' dikit lah ya. Ga bakalan kaya biasanya kalau misalnya ditanyain 'pernah nonton film ini gak itu kan blablablamulaibacotkurasi...' cuma bisa manggut-manggut atau pura-pura udah pernah nonton atau senyum-senyum ga ngerti doang.
Dan lumayanlah bisa menuh-menuhin tumblr ini, jadi isinya ga curhat bego mulu. Ya kalian semua para silent reader, makan nih bacotan hahaha ga deng becanda.