Di Sanalah Zakariya Berdoa Kepada Tuhannya
saya hanya menyalin tulisan ini, penulisnya menuliskannya di sini :”). semoga Allaah memberikan keberkahan pada penulisnya :”). Jazaakalllaahu khairan sudah menulis ini.
Hunalika da’a zakariya rabbah.
Saya sangat menyukai surah Maryam. Membacanya selalu menumbuhkan bunga bahagia di dada. Rima ayat yang selalu manshub (berakhiran fathah) membuatnya begitu syahdu dilantunkan. Tetapi kali ini bukan tentang Surah Maryam. Adalah surah Ali Imran yang sedang memenuhi pikiran saya. Sebagai penyuka surah Maryam, tentunya surah Ali Imran menjadi sidekick bagi pengembaraan kisah salah satu keluarga yang diutamakan oleh Allah. Karena Imran adalah ayah dari Maryam. Dan bersama dengan keluarga Ibrahim, keluarga Imran adalah diantara keluarga yang Allah tinggikan melebihi segala umat.
Terkisah di surah Ali Imran, setiap kali Zakariya, paman Maryam yang mengasuhnya sejak kecil, mengunjungi Maryam di mihrabnya di sisi Baitul Maqdis, Ia selalu mendapati makanan terhidang di sisi Maryam. “Dari manakah engkau mendapat makanan ini?” Tanya Zakariya kepada Maryam. “Makanan ini datangnya dari sisi Allah,” Jawab Maryam. Mari kita perhatikan apa yang selanjutnya terjadi.
Hunalika da’a zakariya rabbah. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya.
Zakariya menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang luar biasa. Dan Mihrab Maryam adalah tempat yang istimewa. Maka seketika Zakariya mengangkat tangannya dan berdoa. Ia tumpahkan segala pintanya atas sesuatu yang ia telah bersabar begitu lama.
Rabbi habli min ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka sami’uddu’a. Wahai Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.
Zakariya mendambakan anak begitu lama. Maka tersebab doa di tempat yang istimewa ini, Allah mengabulkan pintanya. Melalui Jibril, tersampailah kabar kepada Zakariya ketika ia sedang beribadah di mihrabnya. “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan kalimat yang datang dari Allah, yang dihormati, yang pandai menahan diri, dan seorang nabi yang termasuk dikalangan orang-orang shalih.”
Hunalika da’a zakariya rabbah. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya.
Di sini saya menyadari seringnya kelalaian itu datang. Bahwa ada hal-hal yang dapat begitu cepat menghubungkan kita dengan Allah. Baik berupa tempat maupun saat-saat tertentu. Tetapi kita sering meremehkan dan lalai darinya. Kita mengetahui kemustajaban doa diantara Adzan dan Iqamah. Begitu juga ketika turun hujan, ketika sujud dalam shalat, ketika meminum air Zamzam, dan banyak lagi waktu-waktu mustajab lainnya. Atau tempat-tempat mustajab seperti Multazam, Raudhah, dan padang Arafah. Tapi seberapa sering kita mewaspadai datangnya waktu-waktu itu dengan antusias untuk kemudian melantunkan doa-doa kita?
Jika boleh meminjam salah satu teori dalam Astrofisika, Wormhole, lubang jalur yang menghubungkan dua titik tertentu di ruang angkasa, yang memungkinkan perpindahan secara drastis yang tidak dibatasi hukum-hukum ruang dan waktu normal. Maka jika boleh mengumpamakan, mungkin inilah Wormhole yang mengantar doa-doa kita melesat menuju Allah.
Atau dalam bahasa yang lebih syahdu yang sering digunakan dalam pembicaraan suluk, mungkin inilah manzilah-manzilah. Stasiun-stasiun persinggahan yang mengantar ke tujuan yang satu. Sebagaimana bulan, matahari dan benda-benda langit lainnya yang telah Allah tetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) dalam perjalanannya. Maka ada manzilah-manzilah yang telah Allah tetapkan bagi hambaNya untuk menujuNya.
Hunalika da’a zakariya rabbah. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya.
Maka sadarkah kita akan sebuah manzilah besar, manzilah induk, yang merangkum sekian banyak arus jalur perjalanan? Adalah Ramadhan, manzilah induk itu. Ia merangkum sekian banyak manzilah dalam satu manzilah besar bernama Ramadhan. manzilah diantara adzan dan iqamah, manzilah sujud dalam shalat, manzilah sahur dan berbuka, manzilah hari Jumat, manzilah lailatul qadar, dan manzilah-manzilah lainnya. Semuanya dapat kita singgahi di dalam manzilah induk yang juga penuh keberkahan; Manzilah Ramadhan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setiap muslim pada tiap siang dan malam harinya di Bulan Ramadhan, memiliki doa yang mustajab.” (diriwayatkan Al Bazzar, Shahih menurut Albani)
Bulan Ramadhan adalah “Hunalika da’a zakariya rabbah” kita. Hadiah istimewa dari Allah. Jangan tahan lisan kita dari mengadu dan berdoa kepada Tuhannya. Berdoalah, Tuhan kita Maha Mendengar doa.