My Story : Seleksi Substansi Tahap Akhir (Interview) -LPDP Part 5 End-
Disclaimer : Artikel ini berisi tentang pengalaman pribadi penulis saat mengikuti seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP program Magister tujuan Luar Negeri tahun 2017. Konten dari tulisan ini murni pengalaman pribadi penulis yang bersifat subyektif sehingga pengalaman tiap awardee bisa bervariasi satu sama lain.
Setelah menjalani seluruh tahapan seleksi, kini tibalah seleksi yang paling menegangkan : seleksi interview. Tahap ini memiliki nilai paling tinggi diantara tahapan seleksi lainnya dimana peserta hanya bisa dinyatakan lolos seluruh seleksi LPDP bila mendapatkan rekomendasi dari interviewer.
Teknis Seleksi Wawancara
Peserta akan diwawancara oleh 3 interviewer yang terdiri dari tim psikolog & akademisi. Biasanya, wawancara diadakan di sebuah ruangan besar dimana beberapa peserta akan diwawancara dalam waktu yang bersamaan. Jadi, bisa dibayangkan semisal ada 10 peserta duduk di bangku sesuai nomor kelompoknya dimana tiap bangku terdapat 3 interviewer yang melangsungkan proses wawancara secara serentak. Peserta yang nervous atau kurang fokus rawan mengalami mental breakdown karena suasana yang ramai.
Durasi wawancara berkisar antara 20 - 60 menit tergantung interviewer. Interviewer bisa melontarkan pertanyaan dengan bahasa Inggris, Indonesia atau bahkan campuran keduanya, tapi peserta dengan universitas tujuan luar negeri diharapkan menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris kecuali bila interviewer meminta bahasa lain, bahkan bahasa Perancis sekalipun dalam kasus saya.
Peserta wajib membawa kartu peserta seleksi dan boleh membawa dokumen pendukung ke dalam ruangan seperti CV, portofolio, sertifikat prestasi, dll.
Persiapan Fisik & Mental
Persiapan yang matang perlu dilakukan sebelum menghadapi proses wawancara. Segala kemungkinan bisa terjadi saat wawancara, untuk itu penting bagi peserta untuk menyiapkan amunisi sebelum maju ke medan perang!
Sebelum hari-h, buatlah daftar kemungkinan pertanyaan dan siapkan jawabannya. Latihan wawancara di depan cermin atau bersama teman juga akan membantu untuk berbicara di depan orang asing. Hindari jawaban negatif seperti “tidak tahu” atau “mungkin” dengan mempersiapkan segala informasi penting yang berhubungan dengan rencana studi & kuliah.
Saat hari-h, jagalah kesehatan dan kondisi tubuh agar bisa fokus saat wawancara. Menggunakan pakaian yang nyaman namun tetap formal juga bisa meningkatkan kepercayaan diri. Sebelum wawancara, pastikan tidak ada hal-hal yang dapat memcecah konsentrasi: bau badan, keringat, haus, lapar, kekenyangan, dll.
Tema Pertanyaan
Interviewer LPDP merupakan badan independen & profesional. Mereka memiliki buku panduan dan code of ethics dalam melakukan wawancara. LPDP & Kemenkeu sendiri selalu berusaha untuk memperbaiki sistem dan prosedur dalam pelaksanaan seleksi, termasuk yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat wawancara.
Interviewer bisa meminta persetujuan untuk mengambil rekaman suara saat proses wawancara. Apabila ada hal atau pertanyaan yang tidak disetujui atau membuat peserta kurang berkenan saat wawancara, peserta bisa menyampaikannya langsung kepada interviewer.
Meskipun pertanyaan yang diajukan bervariasi untuk tiap peserta, ada beberapa tema pertanyaan secara umum, yaitu:
Personal
Akademis
Psikologis
Profesional
Kenegaraan
Keorganisasian
Pengalaman Wawancara Penulis
Saat seleksi substansi LPDP 2017 di Gedung Keuangan Surabaya, Jawa Timur, penulis mendapatkan jadwal LGD, EOTS dan verifikasi dokumen di hari pertama lalu jadwal wawancara di hari kedua. Karena cuaca Surabaya yang panas, area menunggu outdoor dan jadwal wawancara sekitar pukul 1 siang, penulis sudah mempersiapkan parfum dan tissue supaya tidak terlihat lusuh saat wawancara.
Setelah nama penulis dipanggil melalui speaker dan tertera di monitor, penulis duduk di area menunggu giliran wawancara indoor selama beberapa menit hingga akhirnya dipersilahkan memasuki ruangan wawancara. Untungnya, penulis membawa jas karena ternyata ruangan tersebut sangat amat dingin. Seorang petugas mengecek kartu peserta, mempersilahkan penulis ke meja sesuai dengan nomor kelompok kemudian berjalanlah penulis menuju meja tersebut.
Penulis: Assalamualaikum, selamat siang.
Interviewer 2: Waalaikumsalam, silahkan duduk.
Interviewer 3: Mbak Nadya Noor Azalia ya? Ini kok agak error sistemnya
Penulis: Iya betul, bu.
*Beberapa menit kemudian ketiga interviewer berusaha membuka profil penulis di depan laptop masing-masing, penulis diam sambil menunggu*
Interviewer 2: Baik bisa kita mulai. Untuk proses wawancara ini akan suaranya akan kami rekam ya, mbak. Wawancara juga akan menggunakan bahasa Inggris. Apa ada pertanyaan dulu sebelumnya?
Penulis: Tidak ada pak.
Interviewer 2: Okay then, we can start now. Please tell us about yourself...
Kemudian dimulailah proses wawancara yang berlangsung selama kurang lebih 20 menit. Sebagian besar pertanyaan diajukan dengan bahasa Inggris kecuali untuk beberapa terms yang tidak diketahui oleh interviewer. Penulis menjawab seluruh pertanyaan dalam bahasa Inggris dan sempat dalam bahasa Perancis saat diminta. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain di bawah ini:
Tell us about yourself
So you studied in France and Turkey before, why did you go there? Was it a scholarship program?
If you studied in France normally you can speak French, right? Can you please speak anything in French? (Kemudian setelah penulis memperkenalkan diri dalam bahasa Prancis interviewer berkata “Yaa...jadi bisa ya. Sebenarnya kami juga nggak ngerti hehe.”)
So you want to learn about Human Rights law for your Master’s, why?
Are you sure that one year is enough to finish your Master’s study?
What program will you take in the University of Edinburgh?
How many credits do you have to take per semester?
What are the courses offered in the program?
How long is the program?
I’m impressed with your English skills and your experience abroad. Do you have any organizational activities or projects contributed to the development of Indonesia when you studied abroad?
Can you tell me about the topic that you’re passionate about?
Have you taken any leadership role before?
What was your dream when you’re little? Do you still have the same dream up until now? Why did you change your dream now?
So you joined English debate club when you’re in high school? Why not considering being a member of Indonesian Parliament? They are always up for debating in any kind of situation. (Disini penulis cuma ketawa dan bercanda sedikit....ya kali pak jadi anggota DPR cuma karena suka debat)
Human rights is a heavy and highly debatable topic. Even sometimes the government of Indonesia has to cope with the critics and opposition from international NGOs. In the case of conflict between Indonesia and international NGOs, what will you do? What position will you take?
I don’t think that your argument will be beneficial for Indonesia, your answer shows that you are too internationalized. International NGOs always have their reasons against Indonesian laws and policies. I’m not sure if your statement will help Indonesia to win against them. (Karena interviewer menolak pendapat penulis, penulis tetap berusaha untuk tenang dan tersenyum sambil memberikan argumen pendukung lain. Di akhir argumen penulis berkata “....that is my argument and I believe that it will provide a better solution for the government, NGOs and even foreign countries in case of any conflict of interests among them. I do highly respect your opinion and view on the issue, but I will stand with my opinion.”)
Sekian informasi mengenai seleksi tahap akhir LPDP tahun 2017. Terima kasih sudah membaca rangkaian pengalaman/informasi seleksi LPDP 2017 dari part 1 hingga akhir :) Penulis berharap agar pembaca dapat mengambil sedikit pelajaran dari rangkaian artikel sebagai persiapan untuk seleksi LPDP yang akan datang. Good luck!
Tentang penulis : Lulusan S1 hukum publik Université Toulouse 1 Capitole & Galatasaray Üniversitesi, Nadya Noor Azalia merupakan awardee LPDP tahun 2017 untuk program S2 LLM Human Rights di University of Edinburgh. Selain aktif dalam berbagai komunitas sosial dan organisasi HAM, terutama hak pengungsi, anak dan wanita, penulis bekerja sebagai independent education consultant di ASYA Education & Consultancy, Turki serta sebagai mentor di Klikcoaching, Indonesia.


















