Ketika rasa takut jadi halangan untuk bergerak, maka banyak kesempatan akan terdepak.
Tenang, ndak salah.
Memang tetap perlu memberikan ruang pada rasa takut utk muncul. Bukan sebagai halangan, namun sebagai tantangan.
Karena yakinlah ada kuasa yang jauh lebih besar dari rasa takut yang kita punya.
Semangat!
Ndak mudah merawat dan mengakui rasa takut.
Karena kadang kita terlalu takut utk dilihat 'lemah' hanya kerena memiliki rasa :)
Begini.. Depresi, keinganan utk melakukan hal yg aneh2 dsb itu triggernya banyak banget. Menurut kata psikolog yg pernah sy denger (lupa nama beliau nya siapa*) semoa orang punya potensi yg sama utk jadi depresi. Semua orang punya kesempatan yg sama utk mental health issue. Apalagi diera keterbukaan informasi kayak sekarang, makin besar peluang seseorang utk terganggu kesehatan mentalnya.
Dekat dengan Tuhan, rajin beribadah, beriman dan tau agama bukan menjadi jaminan buat seseorg mentalnya baik-baik saja. Segala yg berhubungan dengan ke-Tuhan-an dan agama jelas akan membuat seseorang lebih tenang dan lebih bijak. Tapi, we are human too right? We need others to live.
"This is the concept of Hablum minallah and Hablum minan-nas"
Diera keterbukaan informasi kyk skrg salah satu trigger lain yg bikin mental seseorang terganggu adalah komen netijen kyak saya bahas di awal tadi.
Sekarang siapa aja bebas bersuara, siapa aja bebas ngasih comment/dm apa saja, saking bebasnya lupa etika bersosial media. Body shaming merajalela, kalimat2 kasar enteng bnget diketik, nuntut orang lain ini itu, akhirnya jadi bikin seseorang jadi hidup dalam ekspektasi orang lain.
Saya pernah bilang, klo kalimat yang kita ketik di socmed itu bisa berpengaruh besar di kehidupan org lain. Kalimat negatif bisa jadi bikin orglain pengen buktiin kalo itu semua salah atau malah bikin orang jadi ngedown krena kalimat tsb.
"Ah itu emang dianya aja baperan" semenjak ada kata 'baperan' rasanya rusak ya kata 'berperasaan'. Bukannya tingkat reseptor tiap orang emang berbeda yah?
Kita emang ndak bisa ngontrol bgmana respon orglain terhadap apa yg kita ucapkan/ketik. Tapi setidaknya kita bisa kok mengontrol kalimat apa yg kita keluarkan utk oranglain.
Terima kasih yaallah
Datang sudah hari ini,
Hari dimana dulu aku dilahirkan
Hari dimana orang tertawa sekaligus haru menjelang perkenalanku dengan dunia ini
Hari ini aku mengenang kembali
Kerikil-kerikil tajam yang memperkaya arti hidupku, manisnya madu cerita hidup yang membuat senyumku lepas…
Tapi apa yang telah aku berikan
Untuk orang - orang yang tertawa sekaligus haru menjelang kelahiranku
hari ini genap sudah usiaku ke sekian
Apa yang telah kuberikan untuk ...
Agamaku untuk tuhanku untuk kedua orang tuaku
Untuk orang tedekat yang rela berkorban untukku
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru Untuk sisa jatah usiaku yang baru…
Apa yang yang harus ku persiapkan untuk masa depanku, untuk akhirat ku, untuk kedua orang yang mencintaiku dan untuk tuhanku
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku …
Karena ibadahku masih pas-pasan.
"Gokil...! Katanya di coaching tapi nyatanya saya di omelin".
Kata salah seorang karyawan.
Coaching bukan Arahan
Coaching bukan Teguran
Coaching bukan Penjelasan
Coaching bukan Interogasi ...
Istilah coaching bisa jadi disalah artikan dgn pertemuan biasa untuk mengarahkan bawahan, padahal coaching adalah "hubungan interpersonal saling percaya dan menghargai sesama baik dlm pemikiran maupun dalam tindakan"
Artinya seorang coach harus lebih :
· Mendengarkan
· Memperkuat
· Mengklarifikasi
· Empaty
· Menyimpulkan
· Mensepakati
Atasan tidak bisa menjadi coach yang baik sebelum Ia belajar menghargai diri dan oranglain.
Pernah punya tim yang ndak bisa memenuhi standar kerja anda?
Jangan buru-buru menilai tim anda buruk.
Cek kembali.
Jangan-jangan anda yang memasang standar ketinggian.
Ibarat mau bergerak dengan kecepatan mobil tapi yang tersedia adalah motor.
Jadi?
Standar diturunkan?
Tergantung.
Perusahaan ingin bergerak maju dgn kecepatan mobil atau motor?
Kalo perusahaan mau bergerak lebih cepat dengan kecepatan mobil maka standar baru ditetapkan dan tim mau ndak mau diharuskan ikut.
Seleksi alam akan terjadi untuk melihat mana yang bisa ikut atau tidak.
Sebaliknya jika perusahaan belum bisa beralih dari standar kecepatan motor maka pastikan motor itu bisa beroperasi dgn baik dan tidak mogok.
Tentu sembari menyiapkan mobil sebagai kendaraan perusahaan untuk bergerak lebih cepat.
Idealisme setiap pimpinan tentu menginginkan pencapaian standar tertinggi.
Tetapi terkadang idealisme harus "berkompromi" dengan kesiapan tim dan perusahaan secara umum.
Minimal, selama tidak merugikan perusahaan dan pertumbuhan bisnis bisa tercapai maka tidak ada salahnya melakukan kompromi.
Adakah kini manusia benar-benar baik, sebab dunia kian terjerembab pada kemunafikan.
Syukurlah, Malaikat ditakdirkan sabar dan kuat. Mencatat, manusia-manusia khianat.
Dan syukurlah pula, sebab ampunan dan kesabaran Tuhan, adalah sebuah keniscayaan.
Manusia... manusia akan selalu menggunakan segala dalih untuk mengukuhkan egonya. Menambah pertanyaan baru atas pertanyaannya yg telah terjawab.
Pepsi vs Coca Cola
Khilafah vs Anti-Khilafah
LGBT vs Anti-LGBT
Bubur ayam diaduk vs Bubur ayam ndak diaduk
Pro-Pemerintah vs Kontra-Pemerintah
Star Wars vs Star Trek
McDonald's vs BurgerKing
Kpop vs Anti-Kpop
Bumi Datar vs Bumi Bola
Koruptor dipenjara vs Koruptor dieksekusi mati
DC vs Marvel
Teisme vs Ateisme
Messi vs Ronaldo
Pangsit Rebus vs Pangsit Goreng
Persetan dgan sains, HAM, agama, pendapat ahli, norma masyarakat, dasar negara, sejarah, dan lain-lain. Ketika ada inginnya yang ditentang oleh argumen apapun itu, ia akan mencari berbagai celah untuk mendapat pernyataan lain yang membenarkan maunya. Ambil bagian ini. Tinggalkan bagian itu.
Pada akhirnya, kepentingan atas diri akan berada di atas segala-galanya. Kepentingan atas golongannya akan duduk di podium teratas. Semua adalah tentang perspektif. Tutup telinga, masa bodoh dengan menyimak ungkapan orang. Lebih baik berteriak sekencang-kencangnya, agar kata-katanya semakin tak terdengar.
Oh saya lupa, saya juga pun demikian.
Diriku ini? Hasratku untuk melerai perang kata-kata itu selalu ada. Namun, omong kosong dengan lelah melihat permusuhan. Bualan belaka jika hanya katanya sekadar panen meme. Setiap kita pasti menikmati aroma kebencian di tengah derasnya perdebatan. Perdamaian adalah utopia.
Wahai jiwa-jiwa yang lemah, sebegitu cintakah diri kita pada percikan api pertikaian?
Ha-ha-ha... Peduliku apa. Hidup ini kan fana.
Egoku. Egomu.
Ada masa, dimana akhirnya kita memutuskan untk "Bodo Amat". Ketika sesuatu itu sangat menyesak didada, kemudian yg bisa dilakukan 'ah sudahlah', mencoba mengabaikan, lalu menemukan sesuatu "ini bukan sesuatu yg menjadi kuasaku. bukankah ini sudah menjadi ranah Tangan dari Atas? Setidaknya sudah diperjuangkan. Lalu? ya sudahlah."
Ya bgitulah, selalu ingat saja, ada sebuah takdir yang ndak bisa seenaknya di ubah hnya krn kita sudah brusaha. apakah kita yakin usaha kita sudah cukup untuk membayar takdir?
ayolah, hidup terlalu berharga hanya untuk trus jatuh di lubang yang sama dan hnya berkutat dgn kesedihan, kekecewaan dan kekalutan :")
Hai engkau di masa depan, tetap lah jadi sesuatu yg trus berjalan dan kemudian mengantarkanku pada "rumah", tempatku mem pertanggungjawab kan tetapi tempatku pula untuk pulang. sampai saat itu, bantulah aku untk kuat. :)
Kamu mau yg stir bundar berbalut kulit dan berpendingin freon dgan sedikit kebahagian. Apalah aku yang cuma beroda dua, berpendingin udara. Dengan sejuta kilometer penuh kebahagian. Lantas wahai hawa nikmat beroda dua mana lagi yang engkau dustakan ???
ke Jogja dengan custom itinerary aka itinerary sendiri, berbekal pengetahuan dari mbah gugel wkwkwkk. biar kek backpacker gituu
“Gelak tawa, perjuangan, keluh keasah, dan rasa haru telah terukir di sana. Sebuah kota yg dikenal dengan gelar istimewa.
Kota istimewa dengan kesederhanaan yang betul adanya tidak buatan, yg senantiasa menyapa ramah para pelancongnya. Dgn segala kekurangan dan kelebihan yg ada, kota ini tetap jadi tempat yg akan selalu kuingat sepanjang masa, Yogyakarta.”
Harus kuakui bahwa saya sudah jatuh cinta sesaat kaki kupijakkan di tanah kota ini. Keramahan dan ketulusan yg terasa hampir di setiap sudut kota, membuatku merasa di terima. Pakde tua nyag dengan ikhlas mengulurkan tangan, mengumbar senyuman, dan memberikan bantuan di StasiunTugu adalah menjadi ‘hidangan pembuka’ yg menyentuh hati.
Siapapun yg pernah datang berkunjung ke Jogja tentu tau mengapa kota ini begitu layak dicinta. Senyum yg ndak pernah lepas diurai penduduknya, makanan murah nan nikmat yg siap mengisi perut keroncongan, hingga berbagai atraksi jalanan yg menghibur para pejalan menjadi sedikit dari skian banyak alasan mengapa kota ini sulit lepas dari ingatan.
Tidak hanya itu saja. Berbagai kejutan lainnya siap menyambutmu bahkan sampai ke gang-gang kecilnya. Mata-mata penuh binar dan tundukan penuh kerendah hatian adlh sajian standar jika ada dua org yg saling berpapasan. Rasanya tanpa perlu saling bertegur sapa, pendar dari wajah mereka sudah membuat banyak org merasa diterima.
Kesantunan warga Jogja jg membuat sa merasa begitu jatuh hati sejak pertama kali datang ke sini. Ya, kota ini memang menawarkan kesederhanaan yg menghangatkan. Pesonanya ndak datang dari gemerlap kehidupan malam atau riuh rendah suara tempat hiburan. Namun dgn kesederhanaannya Jogja selalu berhasil mengambil hati setiap orang yg datang kepadanya.
Rasa kagumku lsg terkembang saat melihat kendaraan sederhana spt becak dan delman memasuki ruas-ruas jalan utama. Toleransi para pengguna kendaraan bermotor yg menunggu dgn sabar di belakangnya adlh contoh nyata bahwa kota ini memang akrab dgn sikap saling menghargai. Terlihat sederhana memang, tapi toh sulit rasanya menjumpai situasi serupa di tempat lainnya
Kota ini melalui kebiasaannya seolah mengajarkan kita tentang banyak hal. Bahwa siapapun kamu boleh datang dan diterima di sini. Kota yg dgn terbuka jg menerima berbagai suku, agama, dan ras utk datang berkunjung. Baik sbg pelancong, pelajar pekerja, atau mungkin orang yg ingin datang utk benar-benar tinggal. Semuanya diterima dgn tangan terbuka di sini, tanpa terkecuali.
Kotamu selalu punya sejuta alasan utk membuat senyum org terkembang. Bagi pelancong sepertiku, kota ini bukan hanya menjadi tempat belajar yg ideal. Kota ini menyediakan kehangatan yg sama besarnya seperti kota kelahiran. Pertemuan terbaik adlh episode hidup dari Tuhan yg indahnya ndak mungkin bisa kulupakan. Harus kuakui, walaupun singkat tapi terlalu banyak kenangan manis yg terukir di sini.
Appreciation Post utk Mba Nunu, tour guide selama di Jogja, tanpa pamrih nurutin teman jalan kemanapun.
Terima kasih Mba Nunu sudah berkenan untuk kita keliling dgn kerandom-an dadakan saya,
Maaf jika kota yang dulunya syarat dengan ketenangan kini mulai diganggu dengan keserakahan para pengembang yang haus keuntungan. Semoga kota Yogyakarta selalu istimewa dengan semua perubahan yang menyertainya.
Saya hanyalah pelancong yg hanya sesaat di kota ini. Sebentar lagi, saya akan kembali melanjutkan kehidupan di kota asal. Tentu akan sangat merindukan smua kenangan yg tersisa di dalamnya. Mulai dari makan di burjo andalan, tawaf kosong mengelilingi kota, atau menyusuri jalanan malam dgn teman utk mencoba melihat keriuhan sudut kota.
Lima atau sepuluh tahun dari skrg rasanya kota ini pasti akan semakin berubah. Mungkin nantinya ktika saya punya kesempatan utk mendatangi kota ini lagi, akan ada banyak sisi kota yg kukenali. Tapi satu yg pasti smua cerita tentang berapa istimewanya kota ini akan selalu terkenang. Cerita-cerita manis yg terukir singkat di sini kelak akan kuceritakan pd anak cucuku nanti.
Dari pelancong,
yang begitu mengagumi setiap sudut kotamu.
tau apaa yg lebih menyesakan dari menghirup banyak asap ?
di bohongi dengan dalil kebebasan tapi di penjara dengan aturan-aturan yg mengikat.
tau apa yg lebih gelap dari dasar laut ?
lingkungan yg membatasi jarak pandang kita dengan birokrasi.
tau apa yangg lebih membakar dari api ?
mendengar omong kosong tentang janji-janji manis.
tau apa yang lebih dingin dari kutub utara ?
ketika keinginan untuk melawan mulai membara, tapi kamu hanya sendiri di sana.
kenapa mau di bungkam. ketika Tuhan memberikan mu mulut.
kenapa mau di rantai ketika Tuhan memberikan tangan dan kaki.
kenapa berpura-pura tuli dan buta. padahal Tuhan memberikan mata dan telinga.
Beginilah kondisi kita.
Mengkritik di anggap tidak beretika. Melawan di anggap kriminal.
Ingat.
Tuhan saja membebaskan Hambanya untuk memilih surga atau nereka.
lantas kenapa masih saja memaksakan “surga” mu kepada orang lain.
susungguhnya singgasana hanya ilusi dari kekuasaan.
Manusia makhluk yangg lemah fisik dan hati. Mengapa merasa hebat dan benar, padahal Tuhan ndak memberikan gelar Rasul kepadamu.
hati-hati ki. dengan gemerlapnya mahkota. karena mungkin itu adalah tiket utama menuju "neraka".
Jikaaa manusia selalu mengganggap dirinya benar tanpa mendengar.
mengapa Tuhan memberikan telinga ??? Jika hanya bicara yg menjadi utama.
“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm: 32).
“Janganlah menyatakan diri kalian suci. Sesungguhnya Allah yang lebih tahu manakah yang baik di antara kalian.” (HR. Muslim no. 2142).
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592, shahih secara mauquf).
“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (HR. Abdur Rozaq 11: 304.
Rasulullah saw. bersabda: “Akan keluar dari umatku beberapa kaum yang keras lagi kasar, lisan-lisan mereka fasih membaca Alquran, namun tidak sampai ke tenggorokan mereka.” (HR. Ahmad dan lainnya)
Sebagai manusia, saya hanya bisa mengingatkan. Bukan memutuskan benar atau salah.
Sok benar Lo wan!!!!
Aamiin. Semoga Allah menjadikan saya termasuk kedalam golongan orang orang yg berbuat benar dan mengingatkan akan kebaikan.
Di sesama kita sering ada pikiran seperti ini, melihat pekerjaan orang lain terasa lebih nikmat lebih senang ingin seperti dia, dan pada orang yg diinginkan tersebut terpikir juga enak nya seperti si A tadi, lebih santai ndak banyak pikiran atau punya banyak waktu dsb.
Often obsessed by other’s life then forget to enjoy ours.
Tanpa kita tau, perjuangan nya orang itu seperti apa, pahit nya orang itu seperti apa, masalah yg dihadapi di keseharian nya seperti apa, mungkinn kalau kita tau kita akan berpikir ulang.
Tapi ya mereka-mereka itu terlihat bahagia karena pandai juga menyembunyikan kesedihan nya. Karena yangg mereka ingin tampakkan dan bagikan hanyalah suka cita, banyak dari mereka yg membiarkan diri nya sendiri saja yg mengalami kesusahan nya.
Cukup dia dan Allah-Lah yang tau.
Dalam pikiran nya hanya ingin membahagiakan kesenangan dan berharap kebaikan pada orang-orang terdekat dan banyak orang.
Karena nya satu ynag sering terlupakan oleh kita, Syukur ...
"Wrong is wrong even everybody do it.
Right is right even nobody does it."
(Salah tetaplah salah meski semua orang melakukannya.
Benar tetaplah benar meski tidak ada yang melakukannya)
Kata kata ini adalah salah satu kata kata favorit dari guru bahasa Inggris saya waktu SMK dulu. Dari keputusan paling sepele sampai keputusan penting, kata kata ini saya pegang. Ini bicara tentang integritas.
Banyak orang mengambil sebuah keputusan karena keputusan itu populer dan diikuti banyak orang. Contoh real misalnya dalam hidup di sosmed. Buat sebagian orang, nongkrong di tempat mahal itu biasa saja akhirnya mereka memfoto tempat nongkrong mereka dan di post ke Instagram nya. Tetapi buat sebagian besar yang lain, ia melihat temannya post foto gaul di Instagram dia ikut ikutan ke tempat mahal dan akhirnya memfoto untuk memamerkan kalau dia mampu (padahal ia masih kere atau masih minta uang ke orang tuanya).
"Lah itu kan sosmed saya. suka suka saya dong mau foto dimana. kok Lu kepo". oh iya betul itu suka suka dia mau post foto apa, koruptor juga bisa berargumen "suka suka saya dong korupsi. itu jabatan saya kok". Tetapi panjat sosial dengan basic berpura pura tampil kaya agar diterima pergaulan, It's totally wrong.
Kita menjadi kita yang bukan kita agar orang lain berteman dengan kita yang bukan kita (pusing kan?) Singkatnya : hidupnya palsu
Itu baru contoh kecil di kehidupan sehari hari. Belum contoh besar seperti hal lainnya. Kalau kita buka berita jaman now, headline nya kadang bikin geregetan mulai dari "Ibu bunuh anak pake racunin baygon", "petugas tukang parkir dipukul karena menagih uang parkir pada pejabat", "seorang guru tega mencabuli siswanya yang masih TK" dan sebagainya. Our generation lacks of Moral Values : kompas yang menunjukkan prinsip apa yang benar dan salah.
Ini terjadi karena mengembangkan karakter seringkali bukan termasuk hal yg populer. Berbuat baik seringkali dapat tanggapan "Sok Alim", "percuma ndak ada guna", "kolot. ndak jaman" dan sebagainya. Akhirnya Si kids jaman now ini beralih ke hal hal trendy yang kekinian mulai dari "ngevape", "nongkies ke tempat hits", "main ke hotel SiAlex", "datang ke konser WDP (dengan ngemis ke papa mama)". Itu memang hak dan kebebasan tidak ada yang melarang kok.
Tetapi balik lagi ke quote yg pertama kali di paling atas "wrong is wrong even everybody do it". Seringkali karena banyak orang melakukan A, kita menyimpulkan A itu benar padahal belum tentu. Meski mereka punya kebebasan untuk milih mau melakukan apa, tapi kebebasan juga punya konsekuensi. Misalnya kalau kita bergaul di tempat tempat hits, it's a good thing if we got a lot of friends. Pertanyaannya teman teman ini merupakan teman sejatimu bukan? Apa mereka cuma ada di sebelah kamu pas uang mu lagi banyak atau mereka siap untuk ada di sisi mu ketika lagi susah juga? "Mereka ada kok pas saya lagi susah" - Wah itu hal yang bagus. Syukuri klo memang begitu. Meski kenyataannya hal tersebut jarang bukan?
"Right is right, even nobody does it". Mengembangkan diri seperti belajar, mengikuti ajaran agama yang diyakini, baca buku yg konstruktif, ngobrol dan konsultasi sama mereka yang sudah berhasil dan punya manfaat, seringkali dianggap "sok tua", "sok dewasa", dan "ndak kekinian". Ironisnya, orang orang yg sama ngeluh "why my life is so hard?" dengan post di story Instagram pakai latar belakang hitam.
Meski hal itu kolot, tetapi pengembangan diri itu penting. Ini bukan berarti kita mesti jadi tokoh agama atau orang suci. Tapi dengan belajar, kita bisa punya sense of conscience (suara hati) yang tajam dan melakukan yang benar, menegur yang salah.
Solusinya adalah dengan berani melakukan. Kalau kita sungguh sungguh mau hidup jadi lebih baik, maka kita mau ndak mau harus berani melakukan meskipun tindakan ndak populer dan ndak dilakukan banyak orang.
Percayalah, kamu akan dapat juga teman teman yang mau juga mengembangkan diri.
"Seeks respect, not popularity. Respect lasts longer" - Don Shula
Ternyata memang, ego yang terluka, kalo diturutin itu sensasinya luar biasa.
Namun akhirnya saya sadar, dgn mengikuti kedengkian, saya menolak perubahan.
Tak ada yg ku perbaiki dari diri sendiri, karena saya akan selalu menganggap org lain tak lebih baik.
Ini adalah penyakit hati.
Saat itu aku tersadar, mereka tak punya alasan utk dibenci.
Kesuksesan yg mereka raih adalah rezeki yg udah diatur, karena mereka mampu berikhtiar secara teratur.
Saya malu, karena dulu ku hanya menuntut kpd Tuhan untuk dapat rezeki, tapi satu2nya usaha yang ku lakukan hanyalah menuruti dengki.
Rezeki itu tak pernah salah sasaran.
Tuhan akan mencukupkan rezeki mereka yg mampu menunjukkan mereka layak untuk menerima rezekinya.
Ya.. dengan usaha.
Lalu gimana dengan yg usahanya menipu? Mencuri? Merampok?
Semua itu tak akan terjadi tanpa izin-NYA.
Mungkin hasil kejahatan itu bisa dianggap sebagai rezeki mereka, karena Tuhan mengasihi siapapun hamba-NYA.
Namun, ku percaya rezeki halal & haram juga akan punya efek dalam kehidupan yang menikmatinya.
Rezeki halal akan mengantarkan kepada keberkahan, dan sebaliknya.
Yang saya kadang ndak habis pikir, orang2 di sekelilingku yg mudah stress & putus asa karena ndak punya uang.
Mereka anggap, rezeki itu cuma berbentuk uang.
Padahal, kesehatan, teman-teman yg baik, lingkungan yg damai, adalah rezeki yang wajib disyukuri.
Kehilangan teman2 penipu, dan disisakan teman-teman yg baik adalah bentuk lain dari rezeki.
Kehilangan uang yang berlebih untuk mensyukuri sisa uang yang ada, adalah rezeki.
Diberi kesempatan untuk melihat teman-teman yangg sukses krn pernah kita bantu dorong, adalah nikmat rezeki juga.
Semua yang terjadi dalam hidup, ndak ada yang lolos dari pengamatan dan keputusan Tuhan.
Saya hidup di dunia ini cuma untuk menjalani dan belajar sebaik-baiknya.
Karena dengan begitu, saya tak akan terlalu mengikuti nafsu.
Sehingga saya akan lebih mudah mengikhlaskan sesuatu.
Karena ternyata memang benar, sumber penyakit hati itu tak lain & tak bukan adalah rasa PALING MEMILIKI.
Merasa PALING BERHAK untuk segala rezeki.
Sehingga saat semua tak sesuai harapan, rasa kecewa akan menguasai hati.
SAya masih belajar mensyukuri segala rezeki dalam bentuk apapun.
Aku masih belajar.
Aku masih mau menerima kegagalan.
Aku masih mau menerima kekalahan.
Tapi yg jelas, aku masih mau melakukan perubahan.
Karenaa hidup ndak hanya tentang menikmati rezeki, melainkan juga melakukan perbaikan diri.
Tak ada rezeki yg lebih baik, tanpa ikhtiar yang jg baik.
Setiap saya mau ngeluh setelah dapat musibah, saya ingat kata sahabatku,
“Apa kamu kelaparan akrena musibah itu?”
Lalu saya berpikir kembali, dan jawabannya adalah “tidak”.
Itu menyadarkanku, di luar sana, masih banyak oranng yg kelaparan bahkan saat hidupnya tak sedang bermusibah.