Hari Pertama - Percakapan di Rumah Sakit
Seelok-eloknya bangunan sebuah rumah sakit, tidak ada satu pun pengunjungnya yang mau repot-repot bersolek. Mungkin karena kata “rumah” yang tersematkan sehingga pengunjungnya merasa nyaman mengenakan kaos oblong – sekalipun yang sudah bolong-bolong –, celana pendek di atas lutut, dan sandal jepit saat sedang bertandang ke rumah sakit. Sudah lah pakaian seadanya, wajah mereka pun kusut semua. Seolah hukum dunia yang berbunyi “Penampilan adalah yang utama dan segalanya” menjadi terlupakan dan terabaikan. Konsep yang menarik. Ruang publik lainnya harus meniru bagaimana rumah sakit mampu membasmi kelas-kelas sosial sehingga tak ada lagi yang saling membandingkan.
Tempat ini ramai. Penuh dengan orang berlalu-lalang yang menenteng bungkusan plastik besar berisi selimut dan minum. Belum seramai pasar di pagi hari memang, tapi cukup lah jika mendengar suara sandal yang terus menerus menepuk lantai tiada henti. Sayang sekali, tidak ada musik yang dimainkan. Jika ada, sudah pasti jadi pesta meriah di sini. Oh, tentu harus ada kudapan yang terhidang agar obrolan menjadi semakin renyah, tapi kantinnya sudah tutup semenjak tadi sore. Tidak asik. Pantas saja orang-orangnya saling berdiam, padahal ini kesempatan bagus untuk menaikkan daya tarik rumah sakit sehingga akan banyak rujukan yang masuk. Strategi marketing. Papa suka mengajak ngobrol teman kerjanya lewat ponsel tentang memasarkan suatu cetusan sehingga semakin luas masyarakat dapat merasakan manfaat yang ditawarkan. Ya, rumah sakit ini harus belajar dari Papa kalau mau memiliki strategi marketing yang bagus.
“Kamu mikir apa?” tanya Kakak lirih.
Lamunanku yang sudah jauh kemana-mana jadi hilang seketika. Huft, sudahlah. Nanti bisa dilanjut lagi di mobil, jika tidak segera terlelap karena kedua mata ini sudah terlalu berat untuk kuasa kujaga tetap kubuka.
“Enggak ada, Kak. Sampai berapa lama lagi kita di sini, Kak? Ngantuk…”
“Sabar ya, Dek. Tunggu Tante Yuli datang. Sebentar lagi kok.” Kakak pun mengelus tempurung kepalaku lembut, Huh, yang ada aku semakin mengantuk.
Sementara Mama di ruang rawat inap menemani Eyang yang sedang sakit, kami menunggu kedatangan Tante Yuli yang bertugas menggantikan Mama berjaga. Semalaman sudah Mama berada di rumah sakit. Akhir pekan keluarga yang biasanya dihabiskan dengan jalan-jalan dan bermain sepeda terpaksa batal karenanya. Papa sudah menunggu di luar sambil mengisap rokok. Aku dan Kakak memilih menunggu di dalam daripada kena terpa udara malam yang menggigit. Apalagi kalau harus menunggu selama ini. Tante Yuli kan selalu datang terlambat. Jatah makan sisa-sisa pas lebaran saja kadang tidak kebagian saking lamanya sampai ke rumah Eyang. Apalagi kalau diminta berjaga sekarang. Namun apa boleh buat. Mama bilang sudah ada jadwal yang harus ditepati. Selama pengganti belum datang, yang berjaga belum boleh pulang. Bilangnya sih karena takut Eyang kenapa-kenapa.
“Eyang sakit apa sih, Kak? Pilek?” rungutku yang sudah tak betah menaruh pantat di bantalan kursi yang keras.
“Tua? Itu nama penyakit?”
Setahuku sih bukan. Tua itu tingkatan usia tertinggi. Urutannya itu kecil, remaja, dewasa, lalu yang terakhir, tua. Lagipula jika memang itu benar nama penyakit, Eyang sudah lama tua. Dari awal aku berjumpa waktu masih kecil pun Eyang juga sudah tua, tapi anehnya baru sekarang di rawat inap begini.
Kakak menggeleng, “Eyang… Sudah gak sekuat dulu lagi… Jalan aja susah.”
“Kira-kira sembuhnya kapan?”
Melihat kondisi Eyang yang tak berdaya selain menoleh kanan dan kiri, aku ingat bulan lalu waktu terkena demam dan flu ringan. Aku pun juga tak bisa berjalan seperti biasa. Demamku baru bisa turun setelah dibantu obat dan banyak istirahat. Tak lama kemudian, Mama bilang aku sudah sembuh dan bisa ke sekolah lagi. Kalau sudah sembuh, nanti Eyang juga bisa jalan lagi. Habis itu, masak opor ayam dan rendang lagi deh buat natalan. Hmmm… jadi tidak sabar.
“Ini bukan sakit kayak kamu yang cepat sembuh, Dek. Beda.”
Heh?! Bagaimana Kakak bisa membaca pikiranku?!
“Ya lebih lama, Dek. Gak ada yang tahu.”
“Kenapa bisa lebih lama?”
“Karena sudah tua!” Kakak memang kadang suka agak berteriak membalas ucapanku atau Mama dan Papa, seperti sekarang ini. Habis itu, Kakak pasti mengurut-urut pelipis dan bilang: “Maaf…” dengan sepasang mata sedikit berkaca-kaca. Eh? Sejak kapan Kakak yang sok jago itu jadi bisa menitikkan air mata begitu?
“Kalau sudah tua, tubuhmu akan melemah. Pada usia tertentu, kamu akan berhenti bertumbuh tinggi dan berhenti bertambah gigi. Terakhir, semuanya yang – “
“ – Usia tertentu? Papa dan Mama gimana? Kakak? Aku?”
“Kamu dan aku masih muda. Papa dan Mama juga masih kuat. Di usia Eyang ini, segala di dalam diri Eyang pasti sudah menjadi rapuh dan ringkih.”
Aneh. Bukankah seiring usia yang bertambah, semakin banyak juga doa yang didapatkan? Sementara di dalam doa-doa yang biasa diucapkan itu selalu tersemat doa mohon diberikan kesehatan. Eyang pasti banyak mendapatkan ucapan doa serupa, tapi kemudian Kakak bilang kalau usia lah yang menyebabkan Eyang sakit begini. Tidak masuk akal. Ucapan doa yang sudah terkumpulkan itu jadi sia-sia dan tak berguna.
Kakak mengangkat tanganku dan meletakkannya di atas telapak tangannya. Dengan jemari tangan yang bebas, Kakak menggambar sebuah lingkaran di tas punggung tanganku sembari berkata, “Kita ini hidup dalam sebuah lingkaran. Awalnya kamu akan naik, seperti kamu sekarang. Kamu akan bertambah besar dan pintar sampai kamu mencapai titik puncak seiring dengan bertambahnya usiamu, tapi untuk membentuk sebuah lingkaran, kamu harus turun. Meski usia bertambah, kamu justru akan melemah. Itu lah makanya Eyang harus dituntun kan kalau jalan.”
Aku memperhatikan lingkaran imaji di atas punggung tanganku dengan seksama. Masih ada yang menjanggal. “Apa yang terjadi saat usia bertambah dan berada di titik terbawah lingkaran?”
Kakak selalu cepat menjawab. Benar atau tidaknya selalu dipikir belakangan. Kali ini, Kakak terdiam cukup lama. Ketika terlihat kedua belah bibirnya bergerak, terdengar teriakan yang mengalihkan perhatian keheningan rumah sakit yang mulai menusuk. Pria itu mengenakan jubah serba hijau. Lengkap dengan masker dan sarung tangan yang penuh noda merah-merah. Dengan tatapan mata yang berseri, pria itu mengumumkan sesuatu yang tak kumengerti, tapi disambut gembira oleh orang-orang dekatnya. Mereka saling berpelukan dan bersuka cita. Berbeda dengan kebanyakan pengunjung rumah sakit lainnya yang murung dan bermuka kusut, orang-orang ini terlihat bahagia. Seolah-olah pesta sesungguhnya sedang berlangsung penuh gegap gempita. Tanpa musik yang mengiringi atau kudapan yang dihidangkan, sekumpulan orang ini masih dapat bergembira dengan begitu meriah. Pria berjubah itu pun membuka layar ponsel dan memperlihatkan sesuatu untuk disaksikan. Orang-orang yang tadi bersorak langsung diam memperhatikan. Aku turut penasaran dan ikut memasang telinga. Suara tangis bayi lirih terdengar memenuhi ruangan yang sepi. Kemudian terdengar tepukan tangan ramai dari sekian banyak orang yang hadir memenuhi rumah sakit, termasuk Kakak.
Hanya aku seorang yang belum paham. “Kenapa Kak?”
“Anaknya baru lahir ke dunia.”
“Berarti lingkarannya baru dimulai ya?”
Kakak mengangguk, “Huum… Dia akan memulai dari titik terbawah lingkaran.”
“Kalau Eyang gimana? Apa Eyang juga akan mulai dari titik terbawah lagi?”
“Hmmm…” Kakak melipat kedua tangannya. “Iya, sepertinya begitu, tapi bukan di lingkaran yang sama. Eyang akan kembali ke titik terbawah di lingkaran yang baru di dunia yang baru juga.”
“Dunia… Dunia yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Pokoknya, lebih baik lah. Coba bayangkan, dunia ini saja sudah mengasyikkan, apalagi dunia baru itu kan?”
Aku baru dengar adanya dunia baru itu. Jadi, apakah kita akan terlahir kembali seperti bayi yang baru lahiran tersebut? Aku baru mau bertanya saat Kakak bangkit menyambut Tante Yuli yang baru datang. Antusiasmeku untuk pulang jauh lebih menggebu dan mengubur rasa penasaranku. Nanti di rumah aku akan menceritakan yang Kakak katakan barusan pada Papa dan Mama. Mereka juga harus tahu bahwa ada dunia baru yang akan menanti Eyang untuk memulai lingkaran barunya.