Life in nutshell
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com
One Nice Bug Per Day
Show & Tell
Cosmic Funnies

@theartofmadeline
Fai_Ryy
official daine visual archive
occasionally subtle
todays bird
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
$LAYYYTER
Doug Jones
KIROKAZE

shark vs the universe
Mike Driver

Origami Around

Game Changer & Make Some Noise
Color Me Curious
seen from Jordan
seen from Congo - Brazzaville

seen from South Korea

seen from Chile
seen from United States

seen from Colombia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Ecuador

seen from Russia
seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from United States

seen from Indonesia
@nikarakasiwi
Life in nutshell
Dear Nika,
why u still alive?
i already said to you, that im tired.
i wanna sleep for a long time.
please, stop being selfish and still thinking that this world is suits with you.
this world never suits on you.
stop pretending like u r precious.
stop acting like u r someone that will make people happy.
stop making me always walk on your miserable life.
give ur life to someone that deserve.
give ur life to someone that worth to live.
u r not worth to life.
pls, stop pretending like nothing.
stop hoping.
lets we go.
to somewhere.
but not on this earth.
please.
World and hell, inside of you.
Hai...
How are you?
How was your day?
How about your mood?
Is it okay?
Everything seems too heavy, huh?
Berat, ya? Capek? Mau nyerah?
Game is not over, yet.
Please, stand up.
Give the world your sweetest smile.
Let them know, you are still here.
If you feel everything doesnt work, ignore it.
Put you headset up, and listening your favorite music.
It’s not your job to make everyone happy.
Their life, isnt your part.
Be alive.
No matter how hard it is.
If everyone doubt you, im not gonna do that.
I trust you.
If you wanna cry, do it.
Im not gonna complain about what you’ve done.
I just want you to be happy.
Whatever you did.
Wherever you are.
Just be happy.
Dear, me
Manusia kadang sombong.
Sampe dia lupa, dia masih menginjak di Bumi.
Beralaskan tanah, beratapkan langit.
Dan, hanya sebesar bakteri di tengah alam Semesta ini.
Mungkin, di saat seperti inilah orang-orang beralasan untuk hidup berdampingan.
Saat diri bahkan sedang tidak baik-baik saja.
Berharap ada seseorang yang dapat dipeluk.
Sambil mendengarkan ocehan lelah kita.
Lalu, ia tertawa.
Menghapus airmata dan membuat jokes untuk tertawa.
Melalui segala situasi berdua itu memang terasa ringan, ya.
Sejujurnya, aku tidak pandai membaca tanda-tanda semesta. Aku memang cukup peka untuk membaca reaksi orang lain. Tapi, aku buta jika harus menebak apa mau semesta. Jika aku boleh meminta, aku hanya ingin semesta berjalan bersamaku. Dengan do'a yang selalu ku ulang. Hanya itu.
Jika aku bisa membaca tanda-tanda semesta. Mungkin, aku sudah bisa mencegah hal buruk terjadi padaku. Sayangnya, aku hanya manusia biasa. Yang terus berharap, semesta berkata,"Iya."
Untuk Semesta
Belakangan ini, Semesta seolah turut menemani kesedihanku.
Seakan sedang berkata,"Kamu tidak sendiri."
Sang hujan pun tak mampu mengisi sebagian diriku yang sedang sunyi.
Aku terlalu malas menatap dunia esok hari.
Andai, aku bisa tetap seperti ini.
Aku tak ingin beranjak pergi.
Menatap hampa wajah-wajah yang tak ingin kutemui.
Aku mengurungkan niatku untuk menyapa Semesta. Memilih untuk berdiam diri di dalam. Bersembunyi dari ketakutan yang selalu mengecam. Sinar matahari yang biasa menghangatkan, bahkan terasa amat membakar saat ini. Air hujan yang biasa menyembuhkan, bahkan terasa amat menyakitkan saat ini. Aku enggan berbicara tentang diriku. Bahkan, pada Semesta sekali pun. Bukan salah Semesta jika ia terlalu kuat. Mungkin, aku yang terlalu jadi pecundang dunia. Terlalu takut menghadapi kerasnya kenyataan yang ada. Aku memang rapuh. Aku terus mengais sisa-sisa asa yang pernah ku coba. Dan, lagi. Aku gagal meraihnya. Saat ini, aku hanya ingin berdiam diri. Menghindari cacian dan hinaan yang terlontar dari mereka. Aku butuh menyendiri. Meredam amarah. Menenangkan ego. Dan, menyembunyikan rasa. Katanya, pelukkan dapat menyembuhkan. Jika tak ada satu pun yang dapat memberikan pelukkan, lantas apa yang harus aku lakukan? Lagi, aku terus mencoba untuk memeluk diri sendiri. Menyelamatkan diri dari kegelapan yang mampu menelanku hidup-hidup. Mungkin, sudah keinginan Semesta. Bahwa, aku harus terus berjuang bersamanya. Selalu. Dan, akan selalu.
Memeluk Diri Sendiri
Bungkam. Aku bungkam. Dunia bungkam.
Hening. Semesta seolah menjadi sunyi.
Telingaku seakan sepi.
Duniaku berhenti bernyanyi.
Kata bagaikan sebuah rangkaian do'a.
Yang didengarkan oleh dunia.
Di-aamiin-kan oleh Semesta.
Dan, dikabulkan sang Pencipta.
Berjuanglah, lewat do'a yang diulang-ulang.
Sampaikanlah, lewat do'a yang diucapkan.
Semesta akan mendengarkan. Dan, ikut meng-aamiin-kan.
Kalo ujian sekolah aja ada bocorannya.
Masa iya ujian idup gak ada kebetannya.
:(
Dear, Semesta.
Kalo do'aku tak ingin kau dengar.
Maka, dengarlah do'a mereka.
Jadilah seperti hujan.
Yang selalu menyejukkan.
Dan, tidak pernah mengeluh meski ia tahu, terjatuh-menguap-dan dilupakan. Tapi, ia selalu kembali.
Terkadang, ia membawa pelangi. Terkadang, tidak.
Dengan segala cantiknya hujan turun, ia pun membawa hawa dingin yang datang bersamaan dengannya.
Tak apa, hawa dingin itu perlu. Agar kita tahu, artinya hangat.
Perempuan gak boleh lemah, katanya. Padahal gue udah nyaris menyerah. Lelah. Kalo Semesta bahkan gak mau lagi menerima, lantas untuk apa aku tetap ada? Jutaan tawaran untuk menghilang dari Bumi sudah ku ajukan. Tapi, lagi, aku mengalami penolakan. Seakan Semesta belum puas untuk menyiksa. Bahkan, hidup semakin berat untuk terus diperjuangkan. Hingga kaki ingin berhenti melangkah. Napas terengah-engah. Dan, sekali lagi. Semesta menawarkan bantuan. Yang saat ku genggam, itu hanya sebuah tipuan. Untuk kembali menjatuhkan. Tuhan. Bolehkah aku kembali, kepangkuan-Mu tanpa perlu perih lagi. Bolehkah aku kembali, meninggalkan ego dan segala yang ku alami. Jauh di dasar Bumi. Aku ingin kembali. Jemput aku. Atau, aku yang kembali pulang.
Aku enggan berbicara tentang cinta.
Aku enggan berbicara tentang harapan.
Aku enggan berbagi duka dengan dunia.
Dan, aku mulai enggan bernegosiasi dengan Semesta.
Nyatanya, yang aku lalui sejauh ini, adalah usaha semesta untuk menjatuhkanku.
Katanya, tidak ada harap yang tidak didengar.
Nyatanya, harapku hanya dianggap angin.
Katanya, tidak ada pertanyaan yang tidak dijawab.
Nyatanya, pertanyaanku hanya dianggap angin.
Katanya, tidak ada do’a yang tidak didengar.
Nyatanya...
Ah, sudahlah.
Berhenti membual tentang harapan.
Aku sudah cukup dibuai lalu dijatuhkan.
Ada yang bertanya, apa harapanku saat ini?
Semesta, aku ingin didengarkan.