
titsay
No title available
Monterey Bay Aquarium
untitled
Cosmic Funnies
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
almost home

Kiana Khansmith

PR's Tumblrdome
taylor price
â
Noah Kahan

if i look back, i am lost
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
I'd rather be in outer space đ¸
$LAYYYTER

@theartofmadeline
The Stonewall Inn

Game Changer & Make Some Noise
macklin celebrini has autism

seen from Russia
seen from Panama

seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from Ecuador

seen from United States

seen from Japan

seen from United States
seen from TĂźrkiye
seen from TĂźrkiye
seen from United States

seen from Canada

seen from Japan
seen from United States
seen from Colombia

seen from Malaysia
@nikinikari-blog
Sakit - Obat - Sembuh
Sekitar dua minggu lalu saya mengalami kecelakaan motor. Ceritanya waktu itu saya mau ke tempat temen saya. Malem. Habis hujan. Hmm... ngga ngebut kan ya kalo 60 km perjam? Alhamdulillah kecelakannya ngga menimbulkan banyak kerusakan di motor temen saya hehehe. Tapi... seorang pengendara di belakang saya ikutan jatuh dan luka-luka sedikit seperti saya. Maafkan saya mas...heuheu Ada satu luka di punggung kaki saya setelah jatuh itu. Awalnya saya kira luka tersebut ngga dalam jadi saya perlakukan luka itu kaya luka biasa yang pernah saya punya sebelum-sebelumnya. Luka tersebut lama kelamaan mengering atasnya, tapi setelah dua minggu kaki saya masih bengkak dan nyeri heuheu. Karena mulai merasa kesehatan saya terancam (lebay wkwkwk), saya pun berinisiatif memeriksakan luka tersebut ke dokter. Dan ternyataa...jengjeng... luka saya cukup dalam dan yang mengering diatas luka tersebut bukanlah jaringan kulit yang baru melainkan kotoran-kotoran (padahal saya udah kasih perawatan luka yang proper loh hmm). Yah emang sih saya akui saya suka ngga aware sama kesehatan sendiri hehehe. Jadilah luka tersebut harus dibersihkan lagi. DARI AWAL. Which means, itu kotoran-kotoran harus dibuang padahal mereka udah menyatu sama jaringan di bawahnya. Dan itu sakit. Banget. BANGET sumpah. Pulang dari klinik saya langsung merasa kaya ngga pernah ngerasain sakit sesakit itu sebelumnya heuheu. Sakit banget tapi setelah itu entah kenapa saya ngga ngerasain sakit lagi di kaki saya. Kaki saya mungkin udah kecapekan bertahan melawan sakit pas lukanya dibersihin itu kali ya jadi neuron-neuron yg peka sama sakitnya istirahat dulu wkwkwk. Perlu kita ketahui bahwa threshold rasa sakit setiap orang itu beda-beda lho ya. Perlu kita ingat juga bahwa di dalam hidup kita pasti ada yang namanya jatuh. Jatuh seringkali bikin kita luka. Dan itu adalah konsekuensinya. Jatuh dari sepeda, jatuh dari motor, jatuh dari rencana sendiri, jatuh dari kesuksesan yang sudah diupayakan, jatuh ke hati orang lain (ups wkwkwk). Semuanya berpotensi terluka. Dan luka itu sakit. Jadi... yang namanya jatuh pasti sakit. Cuma, ya itu tadi, threshold sakit setiap orang itu beda-beda. Ada yang cuma jatuh dari sepeda aja udah nangis. Tapi ada juga yang udah jatuh dari motor, terseret sedikit beberapa meter, ketiban body motor yang cukup gede, dan kakinya berdarah, masih bisa berdiri dan nolongin orang yang ikutan jatuh dibelakangnya (ini ngomongin siapa sih? Hahaha). Maksud saya, jangan pernah deh kita melabel seseorang itu 'lemah', 'cengeng', atau 'ngga tahan uji' karena mungkin threshold sakit orang tersebut ngga setinggi punya kita. Kalau memang kecengengan tersebut dirasa terlalu berlebihan, kita bantu dia buat bisa menghadapi rasa takut tersebut, bukan men-judge yang justru membuat dia semakin percaya dengan label tersebut. Terus... kalau lukanya mau sembuh, ya harus mau diobati. Proses pengobatan ini pasti menyakitkan. Luka di kulit kaya saya itu harus dibersihkan dulu dengan air atau NaCl untuk menyapu kotoran-kotoran yang ada di atasnya. Itu untuk kotoran yang bisa disapu air. Kalau kotorannya nempel dan mungkin masuk ke jaringan, ya harus diambil juga pake pinset bahkan kadang butuh bantuan gunting. Itu sakit. Terus harus dikasih betadin untuk mensterilkan lukanya. Itu perih. Tapi, kalau kita ngga mau melewati proses sakit dan perih itu, luka kita ngga akan sembuh dengan baik. Sama juga dengan luka-luka lainnya dalam kehidupan kita. Kalau mau sembuh, ya harus diobati. Dan proses pengobatannya cukup menyakitkan. Cuma, sakit yang kita rasa cuma akan terasa selama proses pengobatan. Setelah proses pengobatan selesai, lukanya udah ngga ada dan rasa sakit juga ngga nyaman yang selama ini kita rasakan juga ngga ada. Karena pernah jatuh dan terluka inilah kita jadi tau kalau luka itu sakit. Tapi sakit bukan ngga bisa disembuhkan. Jadi, kalau nanti kita jatuh dan terluka lagi, kita udah bisa mengupayakan pengobatan terbaik buat luka kita. Kita mungkin bisa menghindari luka-luka fisik dengan selalu menjaga kesehatan dan berkendara dengan aman di jalan raya (lol), tapi kita ngga bisa menghindari luka-luka perasaan, karena psychologically down seringkali terjadi diluar kehendak kita. Tinggal kitanya yang mau mengupayakan pengobatannya atau ngga. Kalau mau diobati, insyaaAllah sembuh. Sakit cuma konsekuensinya dan kita sebenarnya cukup bertahan aja menahan sakit itu. Pas luka saya dibersihin kemarin, saya ngerasa ngga pernah ngerasain sakit sesakit itu. Saya percaya sakit hati bahkan ngga lebih sakit dan perih dari proses pembersihan luka kemarin itu wkwkwk (eh iya ngga ya? Hmm...)
Humble, assertive, komunikatif :)
Iman Letaknya di Hati
Iman itu letaknya di hati. Maka Bilal, sekalipun kulitnya hangus terbakar matahari, sekalipun dadanya sesak tertindih batu besar, sekalipun raganya lelah menahan dera siksaan, hatinya tidak tergores sedikit pun, tidak sedikit pun, lisannya selalu ahad, ahad ahad... Maka keluarga Yassir, sekalipun perih kulitnya terkena cambuk, meski sakit tubuhnya tertusuk tombak hingga kepala, meski tiada mesti menjadi akhir perjuangannya, hatinya tidak terluka sedikit pun, tidak sedikit pun, karena iman telah menjadi jaminan surga baginya Maka Muhammad, sekalipun orang-orang mengatainya gila, meski pamannya sendiri mengolok-olok dirinya, meski berdarah tubuhnya ditimpuki batu, hatinya tidak merasa sakit, imannya tidak tersakiti, tidak sedikit pun Sementara aku... Ya Allah, sementara aku...
Mie Instan
Alkisah, di dalam satu rumah mungil di tanah Jawa tinggallah sepasang suammi istri yang belum lama menikah. Istri sedang hamil muda. Berasal dari keluarga yang dulunya berkecukupan. Suami saat itu belum bisa memberikan kenyamanan secara materi kepada istri sebagaimana ketika ia belum menikah.
Siang itu keduanya merasa lapar. Suami kemudian pergi ke dapur. Ia menemukan sebungkus mie instan. Tidak ada beras. Tidak ada makanan lainnya. Hanya sebungkus mie instan. Ia melihat sekeliling. Meja makannya yang sederhana sepi dan bersih. Dapur rumah mungilnya tidak mungkin menyembunyikan sesuatu.
Ia tahu di laci-laci lemari pun tidak akan ia temukan uang. Di kolong kasur juga paling logam-logam tidak seberapa, itu pun kalau ada. Saku baju dan celananya seperti sudah tidak akrab lagi dengan uang saking jarangnya ada uang di sana. Ia bukan tidak berusaha. Allah hanya sedang menguji kesabarannya.
Ia lapar. Istrinya lapar. Bayinya juga.
Sebungkus mie instan. Ia hanya tidak habis pikir. Bagaimana bisa hanya sebungkus mie instan yang akan bersaksi untuknya atas nafkah yang bisa ia berikan hari itu? Sesuatu dalam dadanya bergemuruh. Tangannya meraih mie instan tersebut dengan gemetar. Ia pandangi satu-satunya mie instan yang ia miliki. Ia bukan tidak berusaha. Allah hanya sedang menguji. Ia yakin itu. Tapi sungguh perkara ini memberatkan hatinya.
Sebungkus mie instan pun diputuskan menjadi menu makan siang. Untuk istrinya dan bayinya. Ia tahu sejak awal bahwa mie instan itu adalah hak istrinya.
Hatinya merasa sedih. Bukan karena rasa lapar yang begitu mendesak. Tapi perasaan gagal sebagai seorang lelaki. Hanya sebungkus mie instan. Hanya tinggal satu untuk hari ini, siang ini. Sajian termewah yang bisa ia berikan bagi istrinya saat itu hanya semangkuk mie instan.
Akhirnya, dimasaklah mie instan satu-satunya tersebut dengan perasaan yang begitu berat. Dibuka bungkus plastiknya. Direbus air di panci. Ditumpah bumbu di mangkuk. Direbus mie hingga matang. Ia tahan kepedihan yang merayapi hatinya. Apapun yang ia punya harus ia syukuri. Allah hanya sedang ingin melihat kesabarannya.
Mie instan satu-satunya milik mereka saat itu matang sudah. Wanginya tercium sudah. Tapi sayang mie tersebut hanya sampai kenyang di hidung. Karena sesuatu, mie satu-satunya tersebut jatuh ke lantai.
Betapa terkejutnya suami melihat sajian mewah itu kini berserakan di lantai. Satu dan satu-satunya nafkah yang bisa ia berikan hari itu. Dengan derai air mata, suami pun membersihkan mie instan satu-satunya yang kini tidak bisa dihidangkan kepada istrinya.
Sisakan hatiku untuk mengingatMu.. Allah..
Berlayar
Perahu itu bahannya kayu. Kayu apa aku juga tidak tahu. Isinya kemudi, layar, dan dayung. Di atasnya ada aku dan kamu. Kamu memegang kemudi. Aku mengembangkan layar.
Tapi kamunya masih berlayar entah di laut mana. Akunya masih menunggu di dermaga.
Aku bosan menunggu terus di dermaga. Jadi aku pergi jalan-jalan dulu menyusuri pantai. Aku cari buah dan makanan. Siapa tahu kamu lapar. Aku naik ke gunung dulu mencari air yang segar. Jadi kamu bisa minum waktu menepi.
Kalau kamu sudah di dermaga, panggil aku saja. Kalau aku tidak datang, susul aku saja.
Setelah itu ayo kita berlayar bersama-sama. Kamu memegang kemudi. Aku mengembangkan layar. Kalau ombak datang, kita saling berpegangan tangan. Kalau bajak laut menyerang, sama-sama kita mengangkat pedang.
. . . . . . . .
Wah. Lautnya luas sekali. Kamunya masih belum kelihatan dari sebelah sini.
Like Parents Like Children
Perkara mengurus KTM yang hilang membawa saya menyelami sebentuk kasih sayang yang kadang terlupa di tengah kesibukan : orang tua. Siang tadi saya terburu-buru sekali menuju kantor urusan akademik UGM untuk mengurus KTM berhubung jam sudah menunjukkan pukul 12 kurang sekian menit. Sebentar lagi petugas-petugas di DAA akan istirahat. Alhamdulillah ketika saya ke sana kantor belum tutup istirahat. Segera saya menuju meja petugas terdekat lalu memberikan syarat-syarat pembuatan KTM baru. Persis di sebelah saya, sepasang bapak-ibu, mungkin usianya sekitar 45-50 tahunan sedang tanya-tanya ke salah satu petugas DAA mengenai proses seleksi masuk UGM. Bapak petugas DAA-nya, berdasarkan feeling saya kalau dilihat dari cara bicaranya, sepertinya agak kurang sabar memberikan penjelasan kepada si ibu-bapak yang terkadang mengulang pertanyaan. Mungkin maksudnya mengonfirmasi pernyataan si bapak petugas DAAnya kali ya. Saya terenyuh sekali mendengar dan melihat perbincangan itu. Jadi teringat bagaimana dulu mengurus banyak sekali hal untuk daftar kuliah. Saya ini tidak suka urusan-urusan yang berbau birokratis dan banyak printilannya. Kalau dulu Ummi ngga ngomel-ngomelin buat diurus, mungkin saya ngurusnya pas hari terakhir semua deadline pendaftaran, huf... Dari perbincangan bapak-ibu dengan petugas DAA tadi, saya bisa merasakan betapa antusiasnya kedua orang tua mencari informasi mengenai semua hal yang dibutuhkan untuk daftar kuliah ke UGM. Bapak-ibu tadi juga tanya-tanya tentang jalur-jalur yang bisa dipakai untuk masuk UGM, dimana saja tempatnya, apa kalau di Jogja kesempatannya lebih besar, dsb. Saya sangat bisa melihat betapa mereka tidak ingin ketinggalan informasi sekecil apapun. Di saat yang sama, anaknya di rumah mungkin sedang belajar dengan santai mempersiapkan ujian kelulusan dan sbmptn, atau main get rich, atau chattingan sama temennya sampai lupa waktu, atau nonton drama atau anime sampai ngga tidur. Si anak mungkin tidak merasakan kekhawatiran seperti yang orang tua rasakan. Tidak merasa perlu untuk bertindak sejauh yang dilakukan orang tua. Padahal orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Di saat orang tua rela-rela saja mendapat cibiran atau perlakuan tidak menyenangkan demi mendapat informasi mengenai ptn tempat anaknya akan mendaftar, si anak mungkin sedang merasa sangat puas dengan nilai-nilai try out bagus yang ia dapatkan dari belajar kerasnya tanpa ingat ada doa orang tua di setiap usahanya. Demi kebaikan untuk anaknya, semua pasti akan orang tua lakukan. Itu baru soal mendaftar ptn. Belum hal-hal lain yang lebih besar dari itu. Mana kita tahu ternyata ibu bapak kita menjual sebagian harta kesayangannya untuk membiayai sekolah kita. Mana kita tahu ternyata ibu bapak kita mengurangi jatah belanjanya untuk mengirim uang kepada kita setiap bulan, memastikan perut kita kenyang dan kita tidur dengan nyenyak. Mana kita tahu ternyata ibu-bapak kita rela berhutang sana-sini untuk membuat pesta resepsi pernikahan yang terbaik untuk kita. Mana kita tahu ternyata orang tua kita mengalami banyak sekali rasa sakit dari perkataan orang lain akibat perbuatan kita. Mana kita tahu ternyata orang tua kita banyak melakukan hal yang kita anggap tidak masuk akal, demi kita, anak-anak yang sering tidak tahu diri. Seperti angin, usaha orang tua jarang sekali tampak di depan mata tapi terasa sekali hasil yang ia bawa. Seharusnya kita banyak bersyukur atas omelan-omelan ibu kita, atas teguran-teguran bapak kita. Sebagian orang tua mungkin bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan perkataan dan perbuatan yang baik. Tapi ada juga yang tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa sayang tersebut sehingga yang keluar justru omelan dan kontak fisik. Tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya. Oleh karena itu, sebanyak apapun kesalahan orang tua terhadap kita, seburuk apapun perlakuan orang tua terhadap kita, maafkanlah. Karena maaf kita belum tentu lebih besar dari kasih sayang orang tua terhadap kita. Dan pada masanya nanti, giliran kita yang akan melakukan hal-hal tersebut untuk anak-anak kita. Tentunya kita selalu berdoa agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang lebih baik daripada kita sebagai anak saat ini.
Dear seluruh umat mahasiswa yang sedang berjuang mengerjakan skripsi, Semangat, ya! Kamu pasti bisa! MENANGKAN!
Mahasiswa yang sama-sama mengerjakan skripsi dengan penuh perjuangan
Dear mahasiswa yang selalu bersemangat mengerjakan skripsi, Pertahankan! Sekian.
Mahasiswa yang tidak sepertimu
Dear dedek-edek emesh yang sudah pusing dan ngomong-ngomong soal skripsi di sekitar kakak-kakak tuir yang sedang skripsian, Please donât. Just donât do that. Itâs really annoying. Kalau mau berpusing-pusing dan banyak mengeluh soal skripsi, please do it somewhere else atau di depan kakak-kakak yang udah selesai skripsi. Kasihanilah jiwa-jiwa angkatan tua yang tidak tenang karena skripsi, dek.
Kakak tua yang pernah merasakan fenomena di atas
Dear mahasiswa yang males-malesan mengerjakan skripsi, Boleh sih males-malesan ngerjain skripsi, ngga masalah. Yang penting kalian tetep ngerjain, menyelesaikan, dan bertanggung jawab atas apa yang kalian tulis dan sikap males-malesan itu. Di marahin dosen karena jarang nongol batang hidungnya, ya jangan protes karena kalian kan emang salah. Dosen jadi males bales sms atau chat karena kalian sering telat, ya jangan protes juga. Skripsi ngga akan selesai kalau ngga dikerjain.
Mahasiswa yang (juga) males-malesan ngerjain skripsi
Yang Namanya Skripsi (season 2)
Alhamdulillahirabbil 'alamin.. Alhamdulillah 'ala kulli hal.. Terima kasih super banyak banget Ya Allah sudah melancarkan segala urusan skripsi-menyekripsi ini. Masih ada beberapa PR dan urusan-urusan birokrasi yang mesti diurus sih. Tapiii... MAASYAA ALLAH LEGA BANGET UDAH PENDADARAN. Makasi super banyak banget Ya Allah karena ternyata rasanya seru banget pendadaran udah selesai. Ngga perlu panik waktu ngerjain hal lain karena kepikiran skripsi. Ngga perlu galau pas main gara-gara skripsi. Ngga perlu baper-baper waktu ngeliat temen lain udah pendadaran gara-gara kita masih bab 3 skripsi dan belom konsultasi. Ngga perlu males-malesan dengan rasa bersalah karena membengkalaikan skripsi (skripsi ngga skripsi males-malesan mah mestinya emang ngga boleh yak --a). OKE. Saya mau ngasih selamat ke diri saya sendiri dulu. Lupa ngucapin kemaren soalnya. SELAMAT KEPADA SAUDARI NISA KARIMA YANG SUDAH BERHASIL MENYELESAIKAN SKRIPSI MESKI DENGAN MALES-MALESAN DAN JARANG KONSULTASI. Wkwkwk. Jangan ditiru! Saya akui saya bukanlah mahasiswa kebanggaan dosen soal beginian. Dunia tulis menulis ilmiah entah kenapa sangat bukan dunia saya. Tapi itu adalah salah satu tangga yang harus saya lewati untuk melangkah ke depan. Dan bener deh, berhasil menyelesaikan skripsi entah kenapa bisa membuat saya melihat masa depan dengan lebih baik. I am a primary health care doctor soon to be. And also a part of society soon to be. And also someone's wife soon to be. And also a mother soon to be. Dan masih banyak lagi soon to be soon to be lainnya. Dan yang paling jelas sih saya bisa melihat rencana-rencana jangka pendek yang harus dikerjain dengan lebih tenang (yeay!). Tentu semua ini ngga bisa saya dapatkan tanpa pertolongan Allah. Saya inget banget pekan sebelum pendadaran adalah pekan yang padet banget. Hari seninnya pergi kemana ngurusin apa. Hari selasa sama rabunya full ngurusin dauroh. Hari kamisnya pengajian dan lain-lain. Jumatnya ngurusin draft akhir buat dikumpul. Sabtunya seminar sampe sore. Ahadnya seharian nemein Ummi yang sengaja dateng ke jogja buat nonton sidang skripsi. PPT presentasi bahkan baru saya garap jam 10 malem hari Ahad! Meskipun begitu, saya sangat merasa Allah memudahkan semuanya. Sangat. Allah buat saya bisa berpikir lebih jernih. Allah buat saya bisa fokus waktu mesti ngerjain skripsi. Allah buat saya lebih memahami apa yang saya tulis. Dan akhirnya hal ini membuat saya merasa saya-mah-apa-tanpa-kasih-sayang-Allah. Kemaren Pipeh minta petuah buat dia terkait skripsi gitu. Saya mah apa atuh, hanya mahasiswa yang angin-anginan ngerjain skripsinya :v. Jadi saya cuma bilang, "Kerjain," wkwkwkwk. Well, tapi, setelah dipikir-pikir, saya jadi tertarik buat nulis versi panjangnya. Ehem ehem ehem.
Uwaaaa
kangen banget sama tumblr dan semua makhluk di dalamnyaaaaaa... postingan ini udah gitu ajah
Kerja hanyalah selingan untuk menunggu waktu sholat. Jangan kebalik ya! Bisa gawat! . Jika pekerjaanmu membuatmu semakin sibuk, dan waktumu terasa semakin sempit, cobalah renungkan, sudahkan tepat waktu sholatmu? Sudahkah kau luangkan waktu untuk Rabb-mu? Jangan sampai kesibukan dikantor membuatmu lupa pada kewajiban sebagai seorang hamba. . Tag sahabatmu ya! . . Kontribusi oleh @nurulhayatku
#duniajilbab #reminder #nurulhayat #nurulhayatku #islam #love #peace #muslim #muslimah #tausiyah
Tangguh
Keramaian, kesepian, kelapangan ataupun kesempitan hanyalah background. Layaknya scene dalam game-game petualangan yang terus berganti dari waktu ke waktu.
Yang membentuk ketangguhan bukan sekedar peristiwa yang kita alami. Melainkan kemauan kita untuk terus memperbaiki diri. Tetap memberi dalam kesempitan. Tetap mengingat Allah di kala lapang. Tetap kuat di kala sepi. Dan tetap mampu mendengar suara hati di kala ramai.
:)
Kamu nggak bisa memilih amanah apa yang kamu hadapi di hari esok, kamu hanya bisa memilih untuk menjadi tangguh atau lemah dan tergantikan.
(via littleschwan)
LGBT dan Macam-macam Penyikapannya
Berawal dari komentar saya tentang Surat Terbuka Untuk LGBT dari Muslimah bercadar, saya menerima beberapa inbox yang mempertanyakan sikap saya kepada LGBT. Karena tidak mungkin saya balas satu-satu, well saya berusaha menjelaskan dengan jernih apa yang saya pikirkan. Semoga ini bisa menghidupkan tradisi saling menasihati di antara kita.
Ketika kita berbicara soal LGBT, terdapat tiga medan garap yang harus kita pikirkan. Pertama penyebar propaganda âkenormalan LGBTâ. Kedua, para penderita LGBT. Ketiga masyarakat umum yang masih pekiwuh ketika bertemu dengan LGBT.
Tiga medan ini memiliki permasalahan masing-masing yang tentunya membutuhkan penyikapan yang berbeda. Di sinilah kita musti menentukan, kepada siapa kita harus bersikap keras dan tegas. Dan kepada siapa kita harus bersikap lembut.
Kita bahas medan yang pertama yaitu para yang oknum menyebarkan propaganda kenormalan LGBT. Saya tidak menyebut nama, silahkan dicari sendiri. Dalam memerangi propaganda mereka, pendekatan yang perlu dilakukan adalah pendekatan lewat argumentasi ilmiah. Insya Allah perang di medan ini sudah digawangi para ulama INSIST. Kita bisa meniru langkah beliau atau menyebarkan artikel-artikel yang disusun para ulama ini. Kepada siapa kita menyebarkannya? Kepada masyarakat umum yang mungkin termakan propaganda âkenormalan LGBTâ tapi bukan ke LGBT itu sendiri.
Demikian medan yang pertama. Selanjutnya kita menuju medan yang kedua. Di sini kita akan bertemu dengan LGBT. Di mata saya, mereka adalah korban propaganda âkenormalan LGBTâ tadi sehingga kita harus berempati kepada mereka. Dengan sikap yang lembut, kita harus menyadarkan mereka kalau mereka ini sakit dan butuh diobati. Semacam dokter yang bilang ke penggemar kopi seperti saya:
âMbak Dea, lambungnya mbak luka parah. Kalau masih minum kopi dengan caffein tinggi nanti badan mbak bisa demam dan mual karena asam lambung naikâ
Kalo diformulasikan bahasanya mungkin gini:
âTeman, hasrat mencintai sesama jenis itu ujian dari Allah. Kalau kamu ikuti, artinya kamu melanggar apa yang dilarang oleh Allah. Kalau kamu menahannya dan berikhtiar untuk sembuh, Allah akan ridho dengan kamu. Pilih mana?â
Tentunya ini lebih indah dibandingkan bilang:
âKamu LGBT. Perusak generasi. Penyebar virus HIV bla bla blaâ
Bukan begitu?
Kalau kita tidak bisa memberi penjelasan dengan baik, hubungkan dengan kawan-kawan di Peduli Sahabat. Insya Allah beliau-beliau yang ada di sana siap menampung dengan senang hati.
Seperti itulah. Sebab ketika kita kasar, mereka akan merasa tidak diterima lalu mereka berkonsultasi ke orang-orang yang saya ceritakan di medan pertama sehingga yang awalnya LGBT cuma setengah-setengah jadi totally LGBT.
Tadi saya akui kalau saya khilaf menyebut surat yang ditulis Ukhti Sheren kasar. Mungkin saya yang terlalu emosi. Saya hanya tidak setuju dengan klausa ini:
Kami yang semestinya tidak pantas diperlakukan diskriminatif hanya karena lembaran kain gelap yang kami kenakan tidak mengemis belas kasihan masyarakat luas, apalagi Komnas HAM, agar bersikap wajar terhadap kami. Adapun kalian kaum LGBT, perlakuan diskriminatif masyarakat terhadap kalian memang sudah sewajarnya demi kebaikan kalian sendiri agar kembali menjadi manusia yang berorientasi seksual yang normal sehingga tidak lagi menjadi ancaman bagi masyarakat.
Selama kalian menyalahi fitrah kalian sebagai pria atau wanita yang diciptakan oleh Allah secara heteroseksual, jangan pernah berharap masyarakat akan sepenuhnya menerima kondisi kalian yang secara nyata telah menjadi ancaman dan bertentangan dengan berbagai tinjauan apapun.
Kita mestinya bersyukur sebab Allah telah memberi kita hidayah sehingga kita bisa mantap berjilbab. Diskriminasi yang kita terima anggap saja sebagai ladang amal yang memberatkan timbangan amal baik kita di akhirat kelak. Saya tidak setuju dengan kalimat âAdapun kalian kaum LGBT, perlakuan diskriminatif masyarakat terhadap kalian memang sudah sewajarnya demi kebaikanâ. Â Bagi saya, siapapun tidak boleh didiskriminasi. Kita justru wajib menunaikan hak para LGBT untuk ditunjukkan jalan yang lebih diridhoi Allah.
Para LGBT ini berhak menerima nasihat:
âMaka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.â
(QS As Syams 8-10)
Meski kita tidak setuju dengan LGBT, tentunya kita tidak boleh tertawa andaikata melihat bencong diteriaki dan dilempari batu. Bukan begitu?
Oke semoga pembahasan tentang medan kedua ini jelas. Sekarang kita beranjak pada medan ketiga. Banyak masyarakat awam yang pekiwuh ketika memiliki teman atau keluarga yang LGBT. Maka pertama, kita harus mengedukasi masyarakat ini bahwa LGBT adalah penyakit. Kedua, kita harus mengedukasi masyarakat agar tidak malu memiliki anggota keluarga yang terindikasi LGBT serta menunjukkan kepada mereka bagaimana sikap yang tepat.
Saya teringat kawan saya yang demikian halus berbicara kepada seorang ibu yang anaknya mengidap LGBT:
âIbu, ibu tidak perlu malu memiliki putra yang LGBT. Ini memang aib bu. Tapi masih bisa diperbaiki. Ibu harus mendekati putra ibu dan memastikan beliau mendapatkan kasih sayang penuh dari ibu. Ayo pelan-pelan kita bujuk putra ibu ke psikiater. Jangan pernah membenci dia Bu, kalau ibu benci kepada dia, dia akan lari ke tempat yang salah dan ibu akan kehilangan dia selamanya. Ibu pilih mana? Sedikit menahan malu atau kehilangan putra? Mari kita usahakan kesembuhan beliau Bu. Saya bantuâ
Kita memang harus seperti itu. Perihal LGBT ini rumit. Butuh dakwah dari banyak segi. Di luar tiga hal yang saya jelaskan tadi, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan yaitu mempelajari dan mensosialisasikan parenting yang sesuai dengan Al Qurâan dan Sunnah sebagai tindakan preventif untuk melindungi generasi penerus kita dari penyakit LGBT.
Ingat, yang harus kita perangi adalah virus dan penebar virus. Bukan penderitanya.
Sekian terima kasih. Feel free to discuss.
:)
so wise. love it! :)