"Jangan menikah karena ekspektasi, melainkan jadilah terobsesi."
(Wajib baca hingga selesai)
Ada yang yang meminta untuk disegerakan. Namun ketika ditanyai tentang peran apa yang bakal diemban, mau dibawa kemana keluarga kelak. Jawaban klasik sering kali terlontar beralasan "ya gimana nantilah, yang penting bahagia bersama."
Ada yang menetapkan kriteria terbaik dari jodohnya. Hidung mancung, muka licin bak artis korea, suara mengaji bagus, ibadah dahsyat bak qari muda. Namun sering luput sadar diri, tentang kepantasan dirinya. Shalat masih sering ngeluh, bicara sering menyakiti, kerjaan rumah masih orang tua yang melakukan.
Banyak diantara kita yang berekpektasi hari ini. Bahwa ia akan bahagia ketika setelah menikah. Padahal kenyataanya, tidaklah demikian.
"Enak yah kalau udah menikah, kemana-mana ada yang nemenin."
Padahal kenyataanya, jika tak diiringi dengan kedewasaan dan pehaman. Hal kecil bisa jadi badai besar yang menghancurkan.
Hidup ini bukan tentang ekspektasi. Namun sayangnya kita seringkali terjebak akan hal itu. Kita melihat kehidupan orang lain begitu menarik, dan orang lain menganggap kehidupan kita begitu bahagia. Selalu seperti itu.
Maka janganlah berlama dengan ekspektasi. Namun jadilah seseorang yang terobsesi. Bukan terobsesi menikah, namun menjadi lebih baik dari apa yang dicita-citakan.
Ekspektasi itu jika kamu berniat menikah agar bisa bahagia. Padahal entah sendiri ataupun menikah, bahagia bisa diraih asal tahu caranya. Maka berangkatlah dari obsesi, obsesi untuk membahagiakan. Obsesi untuk memudahkan jalan meraih surga kelak.
Ekspektasi itu jika, berniat menikah agar selalu bisa berdua, tidak kesepian dan sebagainya. Padahal, ķala sendiri saja masih sering luput memperbaiki diri, mau ditambahi amanah lain. Maka berangkatlah dari obsesi, obsesi untuk menemani. Menemani seseorang yang telah Allah pilihkan untuk bersama meniti jalan ketaatan.
Jangan berangkat dari ekspektasi karena seringkali berbuah kecewa, namun berangkatlah dari obsesi (keinginan) agar selalu bersemangat dalam menebar kebaikan.