Bukan Hanya Konsistensi: Kemampuan Cepatnya Adaptasi Manusia Menjadi Hal yang Perlu Disadari
Memilih memulainya saja menjadi pilihan yang sulit kala itu. Konsistensi menjadi hal pemberat. Apa ia aku mampu secara berturut-turut tiga puluh hari lamanya menantang diri. Dari mana idenya. Dari mana waktunya.
Menjadi diri sendiri yang naik kelas seringkali tantangannya berasal dalam diri. Seolah rutinitas menjadi hal yang patut dimaklumi.
***
Sudah berpasangan dan memiliki buah hati—terlebih keduanya masih di usia toddler—sering kali dianggap alasan yang cukup untuk menunda upgrade diri. Tak apa, pikirku. Anggap saja sebagai jeda, peran sebagai ibu kan harus dimaksimalkan.
Rutinitas sebagai abdi negara pun menjadi pembenaran lain. Maksimal di pekerjaan, memberi dampak bagi masyarakat, terasa sudah cukup bermakna kala itu. Sepertinya cukup memberi ruang manfaat disini, selebihnya ruang untuk keluarga pun tetap perlu diisi.
Bersembunyi dibalik keseimbangan peran menjadi hal yang dirasa cukup. Mungkin belum sekarang, mungkin nanti saja—ketika sudah mulai ada ruang seiring tumbuh besarnya buah hati.
Padahal ancaman naik kelas ada dalam diri. Terlebih jika kelak ada kemungkinan menambah buah hati atau pekerjaan yang naik levelnya dari saat ini, apakah kemudian masih saja menunda memenuhi hak diri?
***
Lewat keyakinan hati dan pikir, kalimat “coba saja dulu” akhirnya menjadi pembuka jalan. Diawali dengan keresahan pertama yang dialami dalam diri, sebuah tulisan pertama hadir.
Kemudian entah kenapa dalam waktu tiga puluh hari ini, ide begitu mengalir. Seakan lebih empati merasakan kerumitan sekitar. Bahkan di tiga hari terakhir, ide tulisan telah tertulis menjadi tiga kali lipatnya. Apapun yang dirasa, segera masuk ke daftar bank ide—kapanpun, dimanapun.
Seperti halnya diri kala dulu, ingat sekali catatan ponsel dipenuhi ide tulisan—yang menjadi cikal bakal tulisan di tumblr—saat masih menyelesaikan studi kala itu.
***
Berdiskusi dengan pasangan tentang diri yang lebih dalam menjadi hal baru. Ia yang sejak kuliah menyukai gaya tulisanku menjadi penyemangat dalam diri. Ia pun tampak lebih hidup melihat pasangannya kembali hidup.
Masukan dan harap baru kuterima sebagai bekal memoles tulisanku kedepan. Merasa dicintai dengan apa yang kita sukai menjadi dua kolaborasi yang harumnya melebihi harum apapun ternyata.
Pejalaran terbaik yang kudapat: tak perlu meunggu lebih luang untuk menjadi diri sendiri. Cukup sediakan ruang yang mungkin tak begitu besar diawal, selebihnya cukup dijalani saja.
***
Peran sebelumnya tetap dijalani dengan utuh sebaik mungkin. Nyatanya diri mampu beradaptasi dengan cepat. Waktu tidur yang berkurang bukanlah pemberat berarti, karena menjadi hebat dengan tidak ingin mengorbankan peran seringkali menuntut pengorbanan disana.
Manusia ternyata mampu beradaptasi ketika apa yang dimulai dibersamai tekad kuat untuk diselesaikan. Perihal celah yang hadir, adalah hal yang wajar. Ia hanya perlu dievaluasi dan ditata kembali.
Dengan bimbingan Mentor Rezky Firmansyah Adm dan Kak Ratna Dhahita. Beserta Superteam Kak Zulfa Azzakiyah dan Kak Stephanie Prisca Dewi semuanya dapat dimulai dan diselesaikan.
***
Syukur dalam diri diberikan jalan untuk menjadi diri sendiri kembali di usia dan peran saat ini. Dimulai dari hari ini, aku kan bertekad naik kelas setiap harinya. Yang terpenting ada kemajuan. Soal seberapa jauh, hadirkan apresiasi dulu saja pada diri.
-@nmhanifahf
#30DWCJilid49 #finalchallengejilid49
@tyoocean @pejuang30dwc











