Novel Kang Abik dan Mensyukuri Muzammil
Dulu, setiap kali membaca novel karya Kang Abik, saya selalu merasa bahwa tokoh yang dilukiskan kang Abik dalam novel beliau terlalu malaikat. Fahri, Azzam, Fahmi, Afif, Anna, Aisha, Husna, hingga Aina. Semuanya adalah orang-orang keren yang luwes dan memahami Islam dengan sangat baik.
Saya dulu membayangkan bahwa mereka semua adalah tokoh dongeng yang tidak akan terwujud di dunia nyata. Tapi semakin jauh saya melangkah, saya menemukan banyak profil yang shalih, cedas dan matang. Alhamdulillah Allah mentakdirkan sebagiannya hadir tidak jauh dari jangkauan saya.
Tiga dari lima murobbiyah saya zaman kuliah, saat ini sedang menempuh PhD di Eropa (satu di Bristoll, satu di Frankfurt, dan satu lagi di Aberdeen). Murobbiyah saya yang di Aberdeen bahkan sudah menghafal 30 juz. Terakhir saya mendengar kabar bahwa beliau sudah menunaikan cita-cita beliau untuk muroja’ah di Selat Bosphorus, Turki.
Sementara dua murobbiyah saya yang lain memilih menempuh jalan menjadi ibu rumah tangga yang bagi saya tidak kalah hebatnya. Ibu yang pertama punya 6 orang anak shalih shalihah. Beliau menjadi ibu rumah tangga yang juga sibuk berkhidmad di ruang publik dan aktif memberi penyuluhan tentang ketahanan rumah tangga. Ibu yang kedua punya satu anak (sekarang sedang hamil anak kedua) juga dekat dengan masyarakat dan banyak memberikan pelatihan tentang kerajinan tangan.
Melalui beliau semua, saya seolah menemukan profil wanita shalihah dan bermanfaat. Sejak itu, saya berfikir bahwa tokoh dalam novel-novel kang Abik bukanlah tokoh fiktif. Mereka bahkan bisa kita ikhtiarkan untuk ‘dicetak’ secara massal bila kita bergerak dan bersinergi dalam dakwah.
Keramaian hari patah hati nasional setelah Muzammil Hasballah menikah membuat saya geli sekaligus bersyukur. Geli melihat respon para akhwat yang minta dicubit…..bisa-bisanya udah ngaji lama tapi kok masih posting galau lihat Muzammil nikah.
Bersyukur karena kita mulai bisa mengangkat profil idola baru yang berbeda dengan idola yang lain. Sebelumnya, hari patah hati nasional ada karena Song Joong Ki dan Hamish Daud ketemu jodoh, Alhamdulillah ternyata imam muda dari ITB ini juga bisa bersanding dengan dua figure sebelumnya dimana kalau dua figure sebelumnya diidolakan karena wajah, Muzammil diidolakan sebagai sosok shalih yang kekinian.
Saya, meskipun tidak suka dengan figuritas, tetap tidak bisa menafikan bahwa figur idola di suatu zaman pastilah menjadi standard dimana kalau orang lain ingin di sebut keren, dia harus bisa merubah dirinya menjadi mirip dengan figure yang diidolakan.
Lebaran tahun lalu, anak di kampung saya mengidolakan Boy dan motornya. Saya nggak tau Boy itu siapa, soalnya saya jarang banget nonton TV ~XD Kok pas ditanya si Boy siapa, ndilalah ternyata sosok Boy itu cuma cowok kaya yang hobi motoran ngalor ngidul bersama ceweknya. Kisah si Boy ini diramu seheroik mungkin hingga tokoh yang menurut saya biasa aja malah jadi idola para remaja tanggung.
Dunia kita ini selalu penuh perang pemikiran. Maka menghadirkan sosok idola yang baik juga termasuk dakwah bagi generasi muda. Saya kadang cemburu melihat sosok-sosok yang ada di hafidz Indonesia RCTI, iri ngelihat Wirda Mansyur yang masih muda tapi hafal Al Qur’an dan berwawasan luas sementara saya masih gini-gini aja.
Tapi setiap kali melihat mereka, saya semakin sadar bahwa pekerjaan rumah kita adalah mengkondisikan lingkungan agar bisa menghasilkan generasi-generasi yang cerdas dan mampu memikul amanah dakwah di usia muda. Seperti Usamah bin Zaid yang menjadi panglima di usia 17. Seperti Imam Syafi’I yang hafal Al Muwatha’ usia 9 tahun.
Kalau target kita adalah menghasilkan generasi-generasi unggul seperti Usamah dan Imam syafi’I (saya bilang generasi, bukan hanya anak kita aja), berapa jauh lagi perjalanan kita? Masih jauh banget.
Di tumblr aja umur 20 tahun masih sibuk nanya “Gimana kalau kangen sama lawan jenis ~XD” padahal udah tau kalo Islam udah ngasih tuntunan. Kalo kangen mestinya ya diberaniin ngelamar ato kalo nggak berani ya puasa terus dzikir ~XD. Saya ga ada maksud mengolok-olok recehnya pertanyaan ini. Toh bagaimanapun pertanyaan yang demikian juga ada karena lingkungan kita belum mampu untuk jadi support system buat numbuhin generasi yang matang di usia balighnya.
Jadi keinget pas ngobrol sama Bapak saya perkara usia siap nikah. Bapak saya ngejawab “Yaa mestinya orang yang udah baligh dan mukallaf (bisa membedakan yang benar dan yang salah) udah bisa dikasih tanggung jawab buat nikah”
“Tapi kan umur segitu belom kerja Pak? Malah ngerepotin orang tua yang ada”
“Itukan logika kamu yang hidup di zaman kayak gini. Logika di zaman nabi beda karena di usia baligh, orang udah matang pikirannya. Abdullah bin Umar aja ikut perang umur berapa?”
Dakwah pada dasarnya harus punya visi untuk membentuk kestabilan diri juga membentuk kestabilan lingkungan hingga menghasilkan generasi yang shalih dan menshalihkan.
Meskipun perjalanan masih sangat jauh, saya bersyukur karena generasi muslim yang shalih seperti Muzammil Hasballah, Alvin Faiz dan Wirda Mansyur banyak bertumbuhan. Mestinya kita tidak hanya memandang fenomena pernikahan Muzammil dan Sonia ini dari euphoria hari patah hati nasional saja. Tapi bagaimana kita mengamati lingkungan tempat beliau tumbuh agar kelak kita bisa punya gambaran untuk menghasilkan generasi yang minimal shalih dan cerdasnya sama. Atau bahkan lebih shalih lagi.
Jadi buat sayaa, It’s ok kalo ada ngerasa sedih pas lihat Muzammil menikah. Paling tidak, gambaran kalian tentang suami idaman udah lurus. Yang penting dijaga izzah dan iffahnya. Jangan khawatir, jodoh udah ada yang ngatur.
Dan bagi para Ikhwan, nggak perlu terlalu bahagia karena Muzammil sudah menikah terus kalian ngerasa saingan berkurang. Jodoh itu bukan piala yang harus diperebutkan. Juga bukan seperti sandal masjid yang bisa ditukar-tukar.
Yang penting bagi kita semua adalah bagaimana berusaha untuk terus memperbaiki diri, bukan hanya demi bersiap menyambut jodoh yang baik, tapi juga bersiap menunaikan amanah peradaban setelah menikah kelak.