
pixel skylines
Lint Roller? I Barely Know Her
Three Goblin Art
DEAR READER

ellievsbear
d e v o n

Kaledo Art
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Peter Solarz
$LAYYYTER
YOU ARE THE REASON
Game of Thrones Daily

❣ Chile in a Photography ❣
will byers stan first human second
we're not kids anymore.

blake kathryn
Sade Olutola
styofa doing anything
Show & Tell
Jules of Nature
seen from United States
seen from Oman

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Netherlands

seen from Bangladesh

seen from Maldives
seen from Brazil

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@nomoreclue
love is a flower
aku menggambarkan cinta sebagai bunga cantik berwarna merah muda yang tumbuh mekar. bisa jadi berupakan bunga di sebuah lapang yang dirawat oleh alam. bagaimana ia bisa bertahan dari cuaca dan menjadi liar.
atau bunga di sebuah rumah kaca yang bisa kamu rawat dengan cintamu atau cinta ibumu sendiri. seperti diberi pupuk, air atau sinar matahari yang harus ia dapatkan setiap harinya dengan cukup.
namun cukup beresiko kalau tak bisa dirawat dengan baik serta benar. bisa saja ia layu tanpa kamu tahu penyebabnya. mungkin karena kamu bosan merawatnya sebagai kegiatan sehari-hari, atau bahkan lupa karena kesibukanmu sendiri.
tapi bagi saya, cinta yang murni bisa datang bersamaan dengan waktu. selama kamu merawat dan menikmatinya, ia tak perlu layu kan?
selesai menangis, aku pun tertidur. dan itu adalah tidur yang begitu nyenyak sekaligus menyesakkan.
perjalanan hidup biasa.
i'm done.
Foto: Instagram milik Mas Budi.
RIP Gunawan Maryanto.
Kehilangan seorang seniman peran, penulis dan sutradara teater luar biasa dari Indonesia😞
Jatuh cinta sama akting Mas Gunawan Maryanto a.k.a Mas Cindhil dari film "Istirahatlah Kata-Kata. Nggak cuma para pemerannya, tapi visual yang disajikannya juga bagus! Bahkan, udah aku tonton 3x. Pertama di rumah, kedua di teater tertutup Dago Tea House, ketiga di rumah lagi. Sempat berencana nonton film "Istirahatlah Kata-Kata" di bioskop waktu pertama tayang bareng temenku, tapi nggak jadi.
Film indie yang menarik buatku. Sama halnya dengan film Marlina si "Pembunuh dalam Empat Babak". Film yang minim dialog, saya suka. Memang film seperti ini kurang disukai sama beberapa orang. Tapi justru menurutku, film-film ginilah yang ngingetin kita sama hal-hal fundamental yang banyak terlupakan sama film-film saat ini.
Selamat jalan Mas Cindhil. Karyamu abadi❤️
senangnya melihat kisah orang lain. padahal milik sendiri aja tragis
Selamat Pagi!
Kemarin ketika masuk kamar, sedikitnya saya melamun walaupun tidak ada hal-hal yang patut untuk menjadi pemikiran saya.
Saat itu saya tengah memikirkan masa-masa; masa lalu dan masa sekarang, masa lalu terhadap masa depan saya.
Saya rasa perlu untuk menarik diri keluar dari lamunan yang sedikit, namun mendalam itu (tentunya). Semua akan lebih mudah jika setiap orang berani dan mampu memaksakan dirinya untuk menentukan pilihan, bukan?
Terkadang, kita semua berhak untuk letih.
Maka pagi ini saya bangun lebih awal, melihat ke luar jendela kamar (ada sisa-sisa hujan semalam, dan langit yang cerah), membersihkan diri dan seteguk air putih.
Saya lalu bergegas ke lantai bawah; mematikan lampu, membuka pintu, menyiram tanaman, memberi makan Tamtam (kucing piaraan keluarga di rumah), lalu membuatkan sarapan untuk Papa.
Menu sarapan pagi ini:
-Air minum
-Roti bakar isi telur, kornet, mayo dan saus sambal ABC, selada dan irisan tomat,
-Perasan lemon yang diramu sedemikian rupa oleh Papa (Semenjak keadaan sekarang, sudah menjadi rutinitas Papa untuk membuat ramuan lemonnya untuk anak-anaknya), dan
-Kopi GoodDay Cappuccino yang siap diteguk, namun tidak jadi karena sudah dibuatkan air lemon oleh Papa.
Tidak ada yang spesial untuk pagi ini. Hari-hari terus berjalan seperti biasanya
15.36
kalau tidak tremor pada tangan dan kaki, jantung berdebar begitu cepat dan terasa—perasaan berlebihan. beruntungnya itulah perasaan bahagia di hari-hari biasa Shafira.
hari ini membuat terrarium sederhana pada toples berukuran besar dan kecil; terpengaruh seorang kawan yang membuatnya lebih dulu.
lalu menyelesaikan membaca buku kumpulan puisi karya lima orang penulis dengan gayanya masing-masing yang saya beli mungkin dua tahun kemarin.
Calling 911.
Sekarang saya menyesal karena tidak bisa mempertahankan teman-teman saya. Teman kecil, atau teman-teman di masa sekolah untuk bisa saya sebut sebagai sahabat.
Calling 911.
rindu, tapi tidak untuk kembali.
sesekali menurutku tidak apa kalau merindukan yang sudah lalu. toh rindu datang bukan keinginanku. suatu malam, sering terjadi aku tidak bisa memejamkan mata dan tidak punya keinginan untuk mengerjakan sesuatu.
di kamar aku terbaring di atas kasur berselimut motif buah stroberi, sendirian dan sepi.
saat itu kupikir hanya angin lalu; masa lalu datang tanpa permisi. jahat. masa lalu dari pengharapan yang tak berjalan sesuai dengan rencanaku.
tidak apa, sudah berlalu.
kupikir ada tempat pulang yang terbuka lebar untukku: begitu harapanku dari dulu sampai sekarang.
sedih sih. setidaknya sekarang aku masih punya harapan di rumahku yang baru.
11.51
Rindu, tapi tidak untuk pulang.
Lemon Tea
Pagi itu murung—mendung. Suasana semua penghuni rumah begitu tenang dan kacau. Aku dan adikku sedang memasuki waktu datang bulan.
Bangun pukul 8 pagi, beranjak dari kasur, menjemur bantal, menuju toilet untuk bersih-bersih, lalu turun ke bawah mengurus tanaman. Di meja ada sarapan sederhana; risol dan ketan goreng.
Terhitung sudah beberapa hari belakangan Papa pulang membawa lemon segar dan meraciknya di pagi hari—di meja makan menjadi lemon tea hangat untuk kami; para penghuni rumah nomor 44.
Huft, Covid-19 is sucks.
SUP KRIM MAKARONI
(+telur, wortel, dan bayam brazil hasil panen di kebun sendiri)
ingin menulis tapi tidak tahu harus menulis apa. menulis apa yang terlintas saja belum tentu dapat menggairahkan diri sendiri untuk menuliskannya.
rasanya seperti menahan rindu kepada seseorang, yang tentu saja rasanya berbeda dengan menahan lapar.
jadi, lebih baik menahan lapar, kan?
tapi tadi pagi saya memasak lagi menu mudah dari mama yang saya kreasikan sendiri.
suguhan nyata arti bahagia sederhana versi aku dan ijul.
kata ijul, kemarin di perjalanan pulang setelah membeli capcay untuk makan malamnya, ijul liat di balik gerobak pemulung ada sepasang suami-istri yang sedang makan dan saling menyuapi satu sama lain.
lalu, hari ini di rumah sakit saat sedang menunggu antrean laboratorium mengambil sampel darahku, aku liat ada seorang nenek. setelah selesai mengambil darah, nenek itu berdiri dan terlihat kebingungan mencari seseorang. aku pikir ia bersama anak atau cucunya yang ada di sebelahku. tak lama kemudian seorang kakek menghampiri nenek itu dan memegang tangannya, membantunya berjalan. keduanya tersenyum padaku. sambil berjalan bersama suaminya, nenek itu lalu berkata padaku "my husband". senyum mereka manis sekali.
hal kecil; saling menyuapi, berpegangan tangan dan tersenyum. tapi nyata bahagianya. membuat aku dan ijul ngahuleung tarik oleh suguhan nyata arti bahagia sederhana versi kami masing-masing.
kata ijul dalam pesan singkatnya padaku di whatsapp: "dari dulu gitu. kalo liat yang seneng, pasti ikut seneng. soalnya liat doang sekitar udah seneng."
dibuat gelisahhh
Saya ingin sekali menulis, tapi tidak tahu harus menulis apa. Ingin sekali menulis sesuatu yang dapat menggetarkan kawan-kawan pena saya, kalian. Rasanya seperti menahan bersin, juga menahan rindu. Ahh.
Ada beberapa hal yang membuat saya gelisah beberapa hari belakangan. Sempat saya dibuat menangis dua malam, sampai merasa cukup lega karena sudah mengajak tiga orang teman untuk berdiskusi tentang hal ini.
Memasuki usia 20 tahun, semuanya terasa nyata, ya? Bagaimana pengaruh pendidikan dan himpunan terhadap pola pikir dan kebiasaan yang begitu besar. Bagaimana memilih kawan yang memiliki pola pikir tak jauh berbeda, tapi menyehatkan. Memasuki usia 21 tahun, lebih jauh lagi saya sudah memikirkan seperti apa ya, rasanya memiliki pasangan yang juga saling mendukung dan menyehatkan? Seperti apa rasanya mencoba menjadi setia, hanya kepada satu saja? Seperti apa rasanya menginjakkan kaki di lingkunganmu dengan cara dan pemikiran yang dewasa?
Ahh, saya rasa saya masih kekanak-kanakan dalam beberapa hal.
Memasuki usia 22 tahun dan tinggal hitungan hari menuju usia 23 tahun, dimana saya baru saja menyelesaikan pendidikan dan sempat patah hati.. ditambah mendengarkan beberapa kisah tragis beberapa kenalan, saya dibuat gelisah belakangan ini.
Sulitnya mencari pekerjaan, lamanya menerima panggilan interview, semakin berkurangnya waktu bersama para sahabat, keadaan saling kejar-mengejar dalam urusan pernikahan, membuat saya gelisah. Ditambah dorongan dari keluarga mengenai pekerjaan.
Katanya, perempuan haruslah bekerja dan jangan mengandalkan orangtua atau suaminya nanti. Tentu yang menjadi urutan pertama menurut orangtua saya adalah pendidikan bagi seorang perempuan. Kelak perempuan akan menjadi seorang Ibu yang menurunkan sifat dan akal, serta memberi didikan yang baik kepada anaknya sejak di dalam kandungan.
Saya ingin menjadi seorang Ibu.
Lalu, dorongan dari keluarga lainnya adalah urusan pasangan. Katanya, memasuki usia 25 tahun, matangnya perempuan harus sudah memiliki pasangan hidup. Menikah.
Ahh, memang saya sempat berpikir ingin menikah di usia 23 tahun. Nyatanya sampai sekarang, meskipun tidak dipaksa dan belum mendapatkan niat tulus seseorang, saya belum siap secara mental, fisik dan finansial. Beruntung saya tidak iri melihat beberapa kawan yang sudah memamerkan hari bahagianya (pernikahan, perkawinan, melahirkan) secara pribadi kepada saya atau di sosial media.
Bicara pernikahan, nyatanya jelas dihadapan saya, saya telah menyaksikan dan mendengarkan beberapa kisah seorang teman maupun keluarga yang gagal dalam menjalaninya. Saya tidak percaya betul pada ikatan pernikahan. Sempat berpikir untuk menjadi perempuan seorang diri saja.
Ahh, saya tidak tahu.
Sampai saat ini saja saya belum menemukan titik nyaman dalam menjalani kehidupan.
p.s berapa karakter dan ekspresi Squidward berhasil mewakili saya dalam menanggapi hal-hal di atas.
aku orang yg mudah terpengaruh. terbukti dari lagu yg sedang didengarkan. adikku, si kila, lagi seneng-senengnya sama lagu baru bruno mars. dia dengerin hampir tiap waktu. aku jadi terbawa suka lalu memutarnya berkali-kali di kamar saat sedang hujan di luar.