Tulisan ini lahir karena keheranan (dan ketidakheranan) saya tentang seseorang yang kembali pada masa lalu.
Dulu. Duluuuu banget, ketika IG belum ada (atau udah ada ya). Dulu banget ketika saya masih aktif twitter dan facebook, pernah saya jadi anak alay dan labil. Dimana tiap ribut sama pacar, auto unfollow/unfriend. Trus pas balikan, jadi temenan lagi. Kenapa coba? Karena kelabilan itu tadi, yang apa-apa di post di sosmed. Sebenarnya tentang kelabilan ini juga masih sih, cuma intensitasnya ga sesering dulu. Yahh, bisa dibilang udah ga selabil dulu 😆 Saya juga masih sering 'curhat' di sosmed, tapiiiiii mencoba mengurangi dan menghilangkan kalau itu menyangkut kehidupan suami-istri. Karena siapalah saya ini, seleb bukan, siapa pula yang mau mengikuti drama rumah tangga saya yah, daripada malu sendiri, mending simpan dan selesaikan sendiri. Eh berdua sih sama suami 😁.
Tapi tidak bisa saya pungkiri, masalah 'curhat' tadi itu, masih kok saya lakukan. Kadang. Ini salah satunya. Kalau orang ybs udah ga bisa dikasih tau, daripada cape sendiri, yaudah saya tulis aja, mungkin bisa jadi pembelajaran untuk orang lain.
Nah bicara tentang curhat-curhatan, tahun 2019, di IG saya sukses unfollow (sekitar) 3 orang yang menurut saya cukup toxic. 1 orang karena sifatnya yang ternyata tidak bisa diubah. 2 orang lainnya yang awalnya saya ragu karena pada dasarnya saya masih harus menghormati beberapa orang, tapi pengalaman saya unfollow orang pertama, akhirnya membulatkan tekad saya untuk unfollow 2 orang ini.
Kenapa saya unfollow mereka? Karena postingan (dan hidup) mereka ga penting buat saya. Terlalu banyak toxic dalam drama mereka. Jadi awalnya saya unfollow orang ke-1, lebih karena hidupnya drama. Banget. Dan banyak orang sudah mengamini apa yang saya rasakan. Dan 2 orang sisanya, yah ini sih lebih pribadi, lebih ke masalah (sakit) hati. Dan karena saya kemudian sadar, setelah saya unfollow orang ke-1, hidup saya aman, tentram dan damai,, maka walaupun sejujurnya saya menabuh gendrang perang (dingin) dengan unfollow 2 orang ini, saya tetap melakukannya. Karena ini masalah ketenangan hidup saya.
Unfollow mereka ini ga cuma di IG aja kok, saya hapus mereka dari daftar orang yang saya kenal. Cukup say Hi aja kalau ketemu, ga usah terlibat terlalu jauh. Cape. Rasanya, kalau boleh, yang pasti ga mungkin, saya ingin hapus mereka dari hidup saya. Ga usah kenal, ga usah ketemu lagi.
Sesungguhnya, setelah saya unfollow mereka, dari sosmed dan hidup saya, rasanya lega amat sangat. Saya ga harus tau kehidupan mereka yang bisa bikin saya nyinyir. Ini salah satu yang saya sebut toxic. Saya mungkin melupakan apa yang sudah terjadi, tapi saya ga memaafkan apa yang sudah terjadi. Ini masalah hati. Karena ketidaksukaan itulah, apapun yang mereka lakukan, pasti akan menimbulkan kenyinyiran saya. Cape.
Tapi mungkin, untuk beberapa orang, ada kesempatan kedua. Yang pasti, bagi saya, kesempatan kedua saya bukan untuk 3 orang ini, atau mungkin belum, entahlah, tapi tidak saat ini.
Untuk sekarang, biarkan saya unfollow mereka, biarkan saya menjalani hidup saya tanpa drama mereka, biarkan saya bernafas lega tanpa mereka.
Cukup orang-orang yang berguna ada di hidup saya
Melupakan, tapi tidak memaafkan.