explore

JBB: An Artblog!
Sade Olutola

No title available

Discoholic 🪩
cherry valley forever

Andulka
todays bird
No title available
Three Goblin Art
trying on a metaphor

祝日 / Permanent Vacation
he wasn't even looking at me and he found me
tumblr dot com
🪼
Monterey Bay Aquarium
YOU ARE THE REASON

@theartofmadeline
ojovivo
Sweet Seals For You, Always
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from United States
seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from Netherlands

seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@noor-lamya
explore
Hydrangea
Ciwidey, 10 Juni 2026
Bu Dokter Kece
Perempuan berkacamata, perawakan yang tinggi dengan bucket hat memasuki ruang rawat inap. Ia memperkenalkan diri sebagai dokter. Cantik, mewah, dan elegan adalah kesan pertama ketika saya bertemu dengannya. Oh ya, kalau bertemu dengan beliau, akan cukup membuat terpesona. Itulah kesan pertama saya ketika bertemu dengan dokter yang satu ini.
Perempuan itu mendengarkan dengan saksama apa yang saya sampaikan tanpa menghakimi. Satu yang kuingat jelas adalah beliau mau menjelaskan secara sederhana tentang "mengapa saya harus meminum obat ini secara rutin?". Tanpa ragu, ia menjelaskan mengenai anatomi tubuh dan anatomi otak. Kemudian ia menjelaskan apa yang membuat bagian otak ini istimewa sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama.
Sebuah penjelasan yang cukup dimengerti oleh orang awam seperti saya tentang mekanisme yang terjadi secara neurobiologis. Dan bagaimana obat itu bekerja. Lantas aku bercerita tentang segala macam keluhanku sambil mencocokkan kriteria diagnosis. Ternyata dokter yang saya temui di rumah sakit sebelumnya adalah muridnya.
Selepas kunjungan itu, aku merasa hidup kembali. Dokter ini mau menjawab berbagai pertanyaanku. Seolah ia memahami apa yang sedang kurasakan, ketakutan yang kuhadapi, kesedihan yang mendalam, dan kekusutan wajahku saat bertemu di ruang rawat inap itu. Sejak saat itulah, aku menyebutnya dokter kece.
Keesokan harinya aku menunggu beliau datang kembali. Biasanya pagi sekitar pukul 10-an. Apa yang kutunggu tak kunjung datang. Menurut cerita perawat, beliau datang ketika aku sedang tidur. Namun sengaja memilih membiarkanku beristirahat. Jika aku ingat itu, selalu ada perasaan kecewa mengapa aku tak dibangunkan saja? sekaligus tersentuh sebab ia memilih tak mengganggu tidurku. Sejujurnya, aku baru bisa tidur pada pagi itu setelah malam-malam sebelumnya tidurku bermasalah.
Sebuah kesan yang tak terlupakan dalam pertemuan pertama. Ia semacam pelipur lara dalam kedukaan ini. Aku menanti jadwal kontrol setelah rawat inap sekaligus ingin bertemu dengan Bu dokter kece. Kupikir, ia akan membawaku ke dalam sebuah perjalanan baru.
Ia yang Menerobos Masuk dalam Hidupku
Aku memutuskan untuk melanjutkan pengobatanku bersama dengan beliau. Jika beliau adalah gurunya, mengapa pula aku tidak memanfaatkan guru dari para dokter spesialis ini? Selain pengalaman malang melintang, jam terbang tinggi, ia juga tak segan bercerita tentang hal-hal teknis kedokteran dimana para dokter biasanya enggan menjelaskan secara panjang lebar.
Tidak seperti yang kubayangkan, ada perbedaan signifikan ketika sesi kunjungan dan sesi rawat jalan. Dalam sesi rawat jalan, ia berubah 180 derajat dan berubah ke mode aslinya. Tentu saja, masih dengan pakaian nyetil, cantik, sepaket dengan buket hat yang sering bergonta-ganti. Saya jamin, tak ada yang lebih nyetil daripada beliau di rumahsakit itu. Tapi saya masih merasa bangga.
Segala macam tindakan beliau, selalu dijelaskan oleh perawatnya dengan terperinci. Kebiasaan, kesukaan, hal yang tidak disukai, apa yang membuat marah, semuanya dijelaskan. Aku tak tahu mengapa ia melakukan itu, tapi itu cukup membantu untukku memahami jalan cerita dokterku ini. Tapi percayalah! Beliau adalah dokter yang sayang pasien.
Beberapa kali aku mendapati instruksi beliau agar pasien beliau (yang semuanya jalur umum) tidak boleh lama mengantri obat. Beliau juga tidak membuat pasien lama menunggu. Ia akan membuka praktik tepat pada pkl 09.00 WIB. Jadi, perawatnya harus memastikan kami sudah ada di tempat sekitar satu jam sebelumnya. Guna menjalani pemeriksaan rutin dan isian-isian rutin mengontrol progres kami. Pada saat itu, aku merasa beruntung mendapatkan dokter dan tempat yang demikian.
Setiap kontrol, aku biasanya menghabiskan sekitar 30-45 menit di ruang konsultasi. Di saat pasien yang lain hanya menghabiskan 1-5 menit bahkan paling lama 10 menit. Selain membuatku nyaman bercerita, beliau juga banyak memberikan tips and trick, cerita pengalaman hidupnya. Jika aku beralasan telat minum obat, beliau memberi saran memasang alarm. Jika aku tak mau makan, ia akan memaksaku agar makan meskipun tak berselera. Bagiku, ia dokter yang cukup memaksa.
Aku juga mendapatkan hikmah dari usia beliau yang hampir memasuki masa pensiun dan pengalamannya menjadi kepala rumah sakit. Ketika aku bercerita tentang permasalahanku, ia akan memberikan berbagai macam "to do list" yang bisa aku kerjakan agar masalahnya tak semakin menjalar kemana-mana. Alih-alih meromantisasi perasaan, ia lebih banyak membenturkanku ke tengah realitas. Alih-alih memperlihatkan membelaku mati-matian, beliau memberikanku banyak perspektif dan teori, bahkan pengalaman hidup dirinya dan temannya.
Kelulusanku juga adalah hadiah tak ternilai dari bimbingan-bimbingannya. Jika saja aku menuruti rasa tak berdayaku, aku tak tahu di mana sekarang. Namun, ia dan perawat memaksaku menyelesaikan studiku. Aku lupa lagi caranya bagaimana beliau memaksa itu. Tapi, aku ingat aku dipaksa mengerjakan dan menyelesaikannya. Hingga akhirnya benar-benar selesai dan kami pun tersenyum bahagia bersama.
Kemiripan Idealisme dan Cara Memaknai Hidup
Di setiap sesi pertemuan, aku selalu berkata kepada perawat "aku senang kalau tiba waktunya konsultasi". Banyak hal yang ingin kubicarakan dan kemudian mendapatkan satu insight yang mencerahkan. Tapi perawatku memandangku dengan ekspresi keheranan. Katanya, sedikit pasien yang cocok sama beliau. Banyak juga pasien yang akhirnya berpindah dokter. Giliran aku yang heran, mengapa juga mereka menyia-nyiakan dokter sekeren itu?
Salahsatu hal yang saya kagumi dari beliau adalah tentang cara mendekati masalah. Beberapa permasalahanku dipandang oleh beliau dengan kacamata yang berbeda. Bukan hanya "how to deal with it?" tapi juga memandang aspek keamanan lain dalam sisi sosial agar tidak merugikan satu sama lain. Jika memang diperlukan aspek legal formal, ya tempuh juga. Maka, dalam sisi-sisi tertentu beliau mengembalikan aku ke dalam posisi berdaya.
Suatu hari, kami memasuki perbincangan mengenai agama dan Tuhan. Beliau berbagi pengalamannya tentang kebertuhanan. Beliau Katolik taat, sehingga apapun yang dilalui selalu mengingat Tuhan dan selalu pasrah sesuai dengan ajaran yang ia miliki. Lalu kita berbincang tentang wajah Tuhan yang sering dipandang dalam satu sisi. Analisis beliau adalah kebanyakan kita selalu berpikir tentang hukuman dan dosa. Sehingga menjadikan Tuhan kita berwajah menakutkan. Tapi, sedikit sekali dibahas tentang kasih sayang dan rahmat-Nya.
Dari sana, saya belajar tentang kebebasan merasakan Rahman dan Rahiim-Nya. Di saat itu, yang ada diingatan saya lingkungan terdekat yang penuh paksaan. Maka, bu dokter membuka pintu tentang menjalani agama dengan rasa aman. Aku belajar kembali memperdalam sumber-sumber keagamaanku dan merekonstruksi perasaan.
Implikasi dari keteguhan dan keterkaitan dengan Tuhan ini, membuat Bu dokter kece bisa melalui berbagai macam cobaan dalam hidup. Meskipun dalam pengalamannya sebagai kepala rumahsakit, dunia menentangnya. Baginya tak menjadi masalah. Selama dijalankan dengan benar, maka ia akan mempertahankannya. Cerita-cerita seperti itu yang membuatku bisa bertahan dan kembali menuju Allah. Meskipun tak sekeras beliau.
Sayangnya, sesi bersama beliau berakhir pada Oktober 2024. Bertepatan dengan masa pensiunnya. Ia pernah becerita banyak kasus yang belum dituliskan semasa beliau praktek. Dulu, beliau berencana untuk menuliskan kasus-kasus itu di masa pensiunnya.
Aku juga teringat kepada pasien-pasien lain yang memilih berobat kepada beliau tentu karena track record dan master dari para dokter. Ada juga pasien yang berobat kepada beliau sekalian mendapat siraman rohani. Mungkin bisa jadi karena gereja letaknya cukup jauh (?) atau sekalian berobat dengan landasan yang seiman.
Di akhir, ku meminta izin untuk berfoto dan menuliskan cerita-cerita di ruang konsultasi. Aku ingin memiliki catatan mengenai terapisku seperti yang Jonah Hill lakukan. Ia membuat film dokumenter bernama "Stutz". Isinya mengenai perjalanan psikiater yang menjadi terapisnya. Saya pun merasakan hal yang sama seperti Jonah Hill, mendokumentasikan catatan mengenai ruang-ruang kami di dalamnya. Semoga saja niyat ini segera menemukan wujudnya.
Apa yang Menyenangkan?
Sekitar sebulan ini aku dan temanku bersyukur tentang hubungan-hubungan kami selama ini. Entah teman lama yang sudah satu dekade lebih ataupun teman dari perjumpaan random sekitar dua bulan lalu. Salahsatu indikator kesamaan kami adalah kami bisa ngobrol nyambung beberapa jam tentang topik apapun.
Dalam beberapa pekan, kami memenuhi panggilan rindu di tengah-tengah bencana pekerjaan. Entah satu jam secara rutin atau 2-3 jam untuk tidak bertukar kabar dalam jangka waktu yang cukup lama.
Mengapa hubungan-hubungan ini menjadi berarti bagi kami? Pertama, kami memang senang berbincang dengan hal-hal yang biasa kami bincangkan dengan rasa aman. Kami bebas membaca buku apapun, menginterpretasikan apapun, dan lalu akan membahas tentang bagaimana keseharian kami, fenomena di lapangan, dan sebagainya.
Dalam sebuah obrolan, Pak ketua saya bertanya (yang redaksinya malah saya lupa lagi) tentang beban dalam obrolan. Malah jadi kepikiran karena menurutku memang ada obrolan yang memiliki beban tertentu, ada juga obrolan menyenangkan tanpa beban. Setelah itu, aku berpikir tentang perasaan-perasaan terbebani dalam obrolan. Mari kita urai bagaimana obrolan menyenangkan selama 3 jam lebih ini menjadi tanpa beban.
Saya baru menyadari obrolan-obrolan saya lepas dengan sukacita dan mana obrolan yang banyak pertimbangan adalah indikator beban. Beban adalah ketika energi mentalku habis dalam hal-hal yang (menurut saya) pertimbangkan padahal sebetulnya tidak perlu. Seperti menyediakan dan menampakan diri saya sebagaimana aslinya. Obrolan tentang kesepakatan rapat yang selalu berulang dan gak pernah beranjak. Dan obrolan yang lebih banyak bahas iuran daripada bahas substansinya. Itu adalah sebagian forum-forum yang menurutku beban, kebanyakan adalah dalam format pekerjaan-seremonial.
Sedangkan, obrolan menyenangkan adalah obrolan sesuka hati. Menurut kebanyakan masyarakat dimana kami bersinggungan, biasanya kami dicap sebagai tipikal orang aneh. Entah temanku, entah aku. Bahkan, Mama waktu itu mengucapkan banyak terimakasih kepada temanku yang mengajakku main dan berkata "Makasih ya udah mau main sama Ila." Aku merasa kok si saya merana sekali gak punya teman. Berarti bisa dipastikan, Mama pun merasa anaknya agak aneh. Meskipun sebebanrnya aku bukan spesies yang aneh-aneh amat. Maksudku ada banyak loh manusia yang lebih aneh dariku.
Ada perasaan tidak dimengerti, tapi memang pola pikir saya dan teman-teman (yang saya amati) biasanya emang beda dari kebiasaan. Jadi, alih-alih ngobrol dengan baik dan enak, kalau perkara sensitif tak bisa kita bicara. Bagaimana hal itu tidak menjadi pusing dan menjadi beban bagi kami? Kami harus jauh-jauh dari diri kami agar bisa berbaur secara baik. Itulah skill yang baru saya pelajari beberapa tahun ini dan juga berhasil berdamai dengan diri sendiri yang lebih sering pusing dan naik darah. sekarang udah mulai melandai.
Ketika aku bertemu dengan teman-temanku ini, aku merasa bebas dan lepas. Aku akan membahas teori-teori dan hasil searchingku beberapa waktu terakhir ini, kami sedang melakukan proyek apa dan nanti temanku akan berkomentar, kami bisa saling belajar satu sama lain, dan kami bisa curhat tanpa merasa "ngapain sih yang gitu dicurhatin?", atau pertanyaan seperti "Lu ngomong apa sih?"
Aku dan temanku akan menemukan banyak insight dari obrolan kami yang lama tak jumpa. Entah kami menemukan hikmah dengan berbagai cobaan hidup, bertukar kajian menarik yang bisa kita kembangkan bersama seperti kajian gender, ketimpangan, dekolonialisasi, keluarga, STEM, ilmu sosial, semiotika, atau apalah itu. Kemudian kami akan menyebutkan banyak buku, acara, guru, tokoh, apapun itu yang menjadi titik keresahan kami.
Hal yang membuat lebih menyenangkan lagi adalah kami akan melihat dari masing-masing perspektif dan membuat sebuah jalinan-jalinan keterhubungan antar informasi. Pada akhirnya, kami merekonstruksi makna baru. Jadi, obrolan kami semacam update ilmu pengetahuan dan apdet diri sudah sejauh mana dan apa yang perlu kita kembangkan.
Karena obrolan kami yang begini, saya pun belajar banyak hal dari lintas disiplin. Kami akan membahas dumelan kami urusan pekerjaan, apa titik lemah dan kerentanannya, apa yang menjadi keunggulannya, melakukan perbandingan, dan melakukan banyak hal bersama. Bahkan kita juga akan membahas kepusingan menghadapi birokrasi dan pejabat-pejabat nyeleneh dan menyebalkan.
Rata-rata kami hidup dalam mentalitas rekan pekerjaan yang secara umum adalah kerja dan cari aman. Sedangkan, jika waktunya tepat, kami akan menjadi galak karena hal-hal itu. Hingga suatu titik kami harus berdamai segera dan mendapatkan solusinya agar tidak menjadi bumerang untuk kesehatan jiwa dan raga.
Di usia sekarang, memiliki teman untuk berdiskusi adalah sebuah kemewahan tersendiri. Hal yang perlu saya sadari dan banyak bersyukur atas nikmat ini. Di mana teman-teman saya yang sudah menikah, memiliki anak, lantas terjerat dalam rutinitas yang melelahkan hingga membuatku bergidik. Meskipun banyak juga yang sudah menikah, memiliki anak lanjut juga pengembangan dirinya. Ini juga yang membuatku bisa bermimpi memiliki pasangan begitu.
Kupikir, hal-hal seperti ini lebih menyenangkan. Memberi makan diriku dengan kebebasan-kebebasan belajar tanpa paksaan. Lalu mencari kebenaran, dan bisa memaksimalkan potensi yang sudah diberikan oleh Tuhan. Seperti kata Sensei Hakim : "Kamu harus menekuni apa yang dimudahkan bagimu."
Kalau menurut orang lain sulit dan menurut saya mudah dan menyenangkan, ya kenapa juga harus dipermasalahkan? Seringkali yang mempermasalahkan tuh yang berpikir tentang citra dan omongan orang. Ya kan?
Ngaji dan Menerima Takdir
Disclaimer : Cerita ini hanya pengalaman pribadi. Bisa jadi perasaanku yang salah. Dan saya masih sangat mencintai dan menghormati kedua orangtuaku.
Aku merasa bersyukur ketika Bapak akhirnya mau mengikuti salahsatu pengajian rutin. Ketika bertemu dengan seorang (yang dipanggil) ustadz. Saya pun lupa lagi kronologisnya bagaimana. Secara dzahir, memang beliau menjadi lebih semangat untuk belajar, membeli berbagai kitab, dan melakukan pendanaan-pendanaan tertentu.
Aku pun menjadi bangga, kagum, sekaligus menjadi tentram ketika Bapak mulai rutin shalat di masjid, shalat subuh berjamaah, setiap hari mengaji di subuh hari, Itikaf, dan entahlah segudang kegiatan yang berhubungan dengan masjid. Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga semua kejadian itu terjadi.
Pertama
Ketika nenek masih hidup, Mama selalu ditanya oleh nenek "Aa mu itu gak akan poligami kan? setelannya necis mulu."
Mama cuma menjawab sekedarnya saja, yaa emang biasanya begitu. Ya, apa juga yang mau dicurigai. Mama sudah lelah dengan kerjaan sehari-hari dan kemudian harus menelisik kemana suaminya pergi? terlalu melelahkan. Tapi, itu hanya topeng di depan anaknya saja. Beberapa tahun kemudian, Mama juga merasakan hal itu dan diceritakannya kepada Bude yang satu pengajian.
Makin lama saya mendengarkan melalui speaker masjid, dan menyimak cerita Mama sehabis cerita pengajian Tarbiyatun-Nisa. Apalagi mengenai mengizinkan suami poligami. Secara ekonomi, Bapak-bapak mana yang --maaf-- layak untuk melakukan poligami? Pelan-pelan, ini juga yang menumbuhkan rasa insecure di kalangan Ibu-ibu.
Saya selalu tanya sama Mama "terus tanggapan mama bagaimana? tanggapan Ibu-ibu di sana bagaimana?" Kemudian saya mendapatkan cerita-cerita yang melegakan. Bahwa Ibu-ibu itu berpikir kritis dan realistis dan tidak menerima mentah-mentah apa yang ustadz ini katakan.
Kedua
Di tahun ke berapa, saya mulai merasa kehilangan sosok. Apalagi ketika Mama sedang sakit. Dalam skala prioritasnya, ngaji tetap nomor satu. Kupikir biasa saja. Tapi, pikiranku berubah ketika mama mulai bercerita di rumah sakit. Aku menemani beliau ketika harus melakukan transfusi sebab tes hemoglobin rutinan menunjukkan angka yang rendah.
Konsekuensi dari prosedur tersebut adalah setelah hemodialisis yang digabung dengan transfusi darah, Mama harus menjalani rawat inap sehari semalam guna memastikan semuanya aman. Maka, kami selalu menyisihkan waktu untuk menginap di rumah sakit. Yang mengisihkan waktu Bapak. Karena Bapak yang akan berjaga semalaman. Sedang kami perlu siap di siang hari.
Kupikir hal yang wajar, Bapak mau mengaji dulu dan menuntaskan segala macam kegiatannya sebelum menemani Mama di RS malam hari. Tapi, malam itu mama mulai melamun dan berkeluh kesah kepadaku "Bapakmu ngapain sih? Lama sekali, pengajian gak bisa ditinggal ya?"
Beberapa kali perbincangan itu terjadi di ruang inap, di ruang hemodialisis. Aku mencoba menenangkan Mama bahwa ada kami, yang menemani. Tapi Mama cuma berkomentar "Ditemani suami itu beda, Teh". Aku hanya terdiam karena memang aku cuma anak Mama. Naasnya, aku juga gak bisa memaksa Bapak ke Rumah Sakit kan?
Mamaku melihat pasien lain yang dijemput dan ditemani suaminya dari awal sampai akhir. Aku memang tak sempat memahami perasaan mama. Aktivitas seperti memperhatikan obat-obatan Mama (agar tidak overdosis), membuat daftar menu, memilih makanan yang sehat, berkonsultasi ke dokter, menyusun jadwal kontrol, ke dokter spesialis lainnya, fisioterapi, semua jadwalku cukup padat. Bersamaan dengan kuliahku, sit in di kelas untuk penelitian, mengajar sore, dan berbagai macam tugas operator sekolah. Memikirkannya hari ini, membuatku geleng-geleng kepala.
Saat itu, momen-momen di masjid RS selalu membuatku bertemu dengan penunggu pasien lainnya dan dari kisahnya tentu lebih berat daripadaku. Spertinya momen itu yang membuat apa yang kulakukan ini tak seberapa dibanding penunggu pasien lainnya itu.
Kembali lagi ke Mama. Entah Mama menyampaikannya atau tidak, akupun tak tahu. Setelah kuingat-ingat setelahnya, waktu itu sepertinya Mama merasa kesepian. Menurut perawat, ureum yang semakin tinggi di dalam darah pada pasien HD lebih mudah mengalami delirium. Di tengah itu pula saya hampir frustasi dengan menu makanan setiap hari. Aku ingin makanan sehat, tapi mama mau makan.
Yang pasti, perasaan sakit dan tidak aman masih membekas dalam perasaan dan ingatan apalagi mengingati tentang mama dan pengajian. Awalnya kupikir hanya aku seorang. Bude, sepupu sekaligus rekan mengaji Mama pun merasakan hal yang demikian. Mengapa setelah mengaji malah merasa tidak tentram?
Ketiga
Tentang menerima Takdir. Setelah Mama berpulang, tak ada lagi penengah diantara kami. Semua yang biasa kubincangkan dengan Mama malah berubah menjadi ceramah panjang. Yang intinya adalah menerima takdir dengan jalan "tidak memilih-milih calon yang datang ke pihak perempuan". Gara-gara kriteria aku dan Bapak yang berbeda, kami sering bertengkar soalan ini. Daaan, Bapak yang sudah mengaji selalu bilang "perlu menerima takdir".
Tentu saja aku tidak setuju. Orang beli baju aja milih, kok ini gak milih?. Aku juga kecewa karena Bapak yang tidak sematerialistis dulu. Maksudnya tidak pada tempatnya. Bukannya melindungi anak perempuannya kelak kalau terjadi apa-apa, malah kayak mau masukin ke mulut buaya. Bagaimana tidak menyeramkan coba? Tentu saja ada andil siapa? Ustadz kan. Dibalik alasannya "Kan cek Ustadz ge ... "
Sepupuku datang dan akhirnya saya lebih banyak memilih berdamai. Saya rasa perbincangan itu bukan untuk membantah. Tapi untuk mengutarakan, keinginan akutuh begini loh.. Selama dengan Mama, semuanya oke-oke aja tuh. Kupikir proses berdialog ini menjadi cara komunikasi kami. Ternyata tidak dengan Bapak. Salah besar berarti asumsiku.
Di puncak kekesalan itu, bukan hanya soalan pernikahan tetapi juga pekerjaan. Kadang halus, kadang langsung menanya berapa penghasilan? Sebenernya tak pernah dijadikan masalah. Kami juga sempat "bertengkar" karena kumenangkap penyesalan Bapak menyekolahkan jenjang magister. Dan tidak juga menghasilkan rate penghasilan yang lebih tinggi. Ingat, sekarang gak ada Mama.
Bapak selalu memanggap aku ke sekolah itu bukan bekerja. Sepertinya hanya main-main belaka. Tapi beliau tidak tau apa yang kami lakukan di sekolah? apa prerequisite yang diperlukan untuk mengurusi bocil-bocil balita yang sedang gemas-gemasnya.
Jadi, kalau ada lowongan apapun, dosen, dan sebagainya apalagi PNS dengan gaji yang lumayan tinggi selalu didorong. Dan entah kenapa, selalu gagal. Termasuk pertimbangan untuk melamar di kementrian bagian procurement. Gajinya sekitar 8-9juta / bulan. Tapi kebayang kan apa yang akan dilakukan disana? meskipun bagian pelatihan. Aku menerka Itu lahan basah dimana bakal banyak kejadian yang mengganggu jiwa. Aku gak bisa. No! No! No!
Nah, aspek ini yang seringkali kami berbeda pandangan. Untuk Bapakku, itu bagian dari resiko kerja. Bagiku, itu seperti bencana yang bikin hidup tidak tenang. Lagian, masalah utamanya adalah harus bangun pagi, memakai seragam, jam tidak pasti, upacara bahkan di hari libur, dan tak bisa protes. Kapan waktu untuk main, membaca, dan berkelana ke universe yang lain? Aku lebih takut kehilangan kebebasanku untuk belajar.
Maka dari itu, setelah semua usaha yang kulalui dan kulewati ini, aku ingin dipahami : cari kerjaan jaman sekarang itu susah, Bah. Mencapai penghasilan yang diharapkan juga tak semudah itu. Bukan karena aku tak melamar, tapi ya begitulah kenyataannya. Aku berusaha selalu membangun dan mengembangkan diri saja, itu sudah hidup. Dengan hidup begini, banyak juga mempertemukan dengan rejeki yang tak disangk-sangka.
Aku menyangka, pertemuanku dengan guru-guru yang ikhlas, dengan teman yang baik, circle yang sejalan, lingkungan pekerjaan yang bertumbuh, adalah sebuah rezeki tersendiri. Oia satu lagi, waktu untuk berpikir tentang diriku sendiri, itu adalah kemewahan. Betapa banyak teman-temanku yang tak memiliki kemewahan itu. Ia lelah dengan pekerjaannya tanpa sempat memaknainya.
Maka, ketika Bapak sering menagih tentang penghasilanku yang mandiri. Dengan lembut aku minta beliau untuk bersabar menerima takdir. Masalahnya, bukan aku gak usaha. Harusnya, sebagai orang yang ngaji, akan mudah menerima takdir yang demikian. Takdir anaknya belum kunjung berjodoh dan pekerjaan pun gak bisa dibanggakan. Karena aku pun tak bisa menjelaskan lagi. Semoga saja beliau mengerti.
Aku tahu, Bapak menanyakan penghasilan itu adalah bentuk kekhawatiran beliau karena sebentar lagi pensiun. Kondisi pabrik di pekerjaannya memang sedang gonjang-ganjing. Ia ingin setidaknya anaknya bisa hidup mandiri. Mengingat "investasi" nya sudah kebanyakan sama Si sulung ini. Ya, aku juga berusaha dengan apa yang kujalani ini.
Aku percaya, Allah ngasih rejeki sama burung-burung yang mencari mangsa kok. Apalagi manusia. Urusan rejeki itu Allah sudah aturkan semuanya. Tak perlu risau bukan? Hanya perlu dicari. Dan mungkin cara mencariku belum canggih aja. wkwkwk
Balik lagi ke pengajian. Masalahnya, ada beberapa hal yang tak pas dari pengajian ini dalam mendudukkan perkara. Seperti definisi sabar yang diam. Tentang pusat kehidupan ada di suami, tapi bagaimana pemuka agama ini mendidik jamaah laki-laki ini?. Saya pikir sangat disukai oleh penguasa. Pantas saja, religion is opium. kata siapa tuh? Sekuler sejak dari masjid ini mah.
Anak Perempuan Pertama
"Kami hidup secara mandiri." Kurang lebih itu pernyataanku kepada konselor mengenai bagaimana aku menjalani kehidupanku di rumah. Setelah dipikir lebih jauh, aku lupa bangunan ceritaku bagaimana, yang jelas kami memiliki jadwal masing-masing. Cukup individualis memang.
"Itu bukan mandiri namanya." Ujar konselorku. Itu adalah hidup sendiri-sendiri dalam satu atap rumah. Tapi aku mengakui, memang begitulah kami. Tak ada acara keluarga, tak ada waktu khusus berkumpul bersama. Kecuali hari raya. Semuanya dingin. Bapakku yang sibuk dengan pekerjaannya dan Ibuku yang sibuk dengan urusan domestiknya.
Pola dingin, mengedepankan logika berpikir, dan amat mengandalkan diri sendiri adalah simpulan dari konselorku tentang masalah yang sedang kuhadapi dan perlu perubahan cara memandang kehidupan. Ah entahlah, rumit sekali. Aku berpikiran bahwa selama kehidupan pribadiku tak diganggu (orang terdekat mendukung, tidak mengintimidasi, menanyai baik-baik keputusanku, dan sederet indikator lain), aku selalu siap menghadapi dunia.
Waktu itu aku mengingati kembali apa ekspektasi yang ditaruh ke kedalaman dada : anak yang harus melanjutkan ambisi orangtua yang dulu tak bisa dilakukannya. Ditambah pemandangan sehari-hari dimana Bapak yang tak mau membolos kerja meskipun kiamat terjadi. Dan Mama yang selalu siap sedia di rumah dengan pekerjaannya. Semuanya harus berjalan dengan sempurna.
Aku tak tahu menjadi anak perempuan pertama menjadi seberat ini, kecuali setelah ditinggal Mama. Aku tak bisa mengendalikan secara penuh apa yang ingin aku lakukan. Selama ada mama, asal Mama tidak marah dan tidak berkomentar, itu adalah penanda baik. Kadang, mama juga kasih masukan yang membangun atau memberi banyak pertimbangan. Mama adalah orang yang selalu mendukungku apapun yang terjadi. Kecuali kalau sudah agak ekstrim menurutnya.
Status menjadi anak (apalagi perempuan) yang tak beribu,ternyata memberikan satu ketidakbebasan ruang. Aku tidak menyukainya. Awalnya Kupikir kita dalam satu frekuensi dalam hubungan orangtua dan anak. Nyatanya, egonya sebagai laki-laki tetap saja tak mengijinkanku menjadi satu entitas yang setara. Walau bagaimanapun, aku tahu kami tak akan pernah setara.
Kali ini semua beban berasa ada padaku. Namun dengan langkah yang terbatas. Kehidupanku yang kujalani, seperti menyelesaikan tantangan candycrush di level 600 ke atas, dalam model permainan sulit dengan kesempatan langkah yang terbatas tanpa modal emas apalagi bantuan-bantuan ajaib. Hanya bergantung kepada pertolongan Allah SWT sebagai pemilik permainan dan sistem yang mengizinkan menyelesaikan semuanya dalam sekali langkah.
Atas izin-Nya, aku masih bisa melaluinya. Entahlah, aku merasa tak bisa membagi semua urusan yang ada di kepalaku. Semuanya berbatas. Perasaan tidak dimengerti sering muncul dalam pikiran. Masalahnya, dalam konteks keluarga, semua mengira aku yang bisa menyelesaikannya. Tapi lama-kelamaan juga membuatku jengah dan meninggalkannya. Ya, mengapa juga aku harus mengurusi ini sendirian? Cape kan berjuang sendiri?
Kadang aku bertanya, mengapa anak laki-laki seolah-olah selalu dilewati untuk tanggungjawabnya? bukannya ia yang lebih berhak? Mengapa anak bungsu selalu benar dan mereka selalu lemah lembut padanya dan selalu memberikan banyak pemakluman? Mengapa anak pertama yang menjadi tumbal?
Ah yaa, sudahlah. Untuk apa pula memusingkan itu. Lagipula, aku bisa tumbuh begini karena masalah-masalah yang ada. Sekarang, seperti Soundtrack Moana 2 :
Get lost, cut loose, and lose your way There ain't no fun in holdin' back, babe You gotta enjoy the thrill of livin' dangerously You've got a long, long way to go Keep playin' safe, you'll never know The rules are ours to break
Sering Kayak Gini?
Salah satu penanda bahwa tubuhku sudah lelah adalah kangen bed RS. Entah hanya rebahan di bed IGD atau opname barang beberapa hari. Perasaan itu memang sudah muncul sejak akhir tahun lalu. Tapi, saya coba bertahan dengan banyak konsumsi vitamin, makanan bergizi, dan berbagai macam cara agar tidak sampai kolaps. Sepertinya metode itu berhasil, jadi saya lanjutkan.
Seperti kejadian yang sudah-sudah, aku cuma butuh vitamin dan makan yang baik. Kemudian regulasi kegiatan dan pekerjaan. Tapi, Beberapa pekan ini perutku memang tak enak, makanya kukonsumsi saja obat lambungku seperti biasa. Toh nanti juga baik-baik saja. Beberapa kejaran kegiatan juga seperti tak bisa berhenti. Seperti kata temanku, menjadi dewasa adalah harus melanjutkan aktivitas meskipun tak mau atau memang perlu berhenti.
Bulan Mei ini memang banyak kegiatan yang tiba-tiba. Entahlah, semua waktu yang sudah kualokasikan menjadi buyar karena tiba-tiba klien di sana minta meeting dan mulai project, diskusi khusus untuk build up organisasi, kemudian kelas yang kudaftar secara impulsif itu harus berjalan selama 5 hari. Sebelumnya, akupun mendaftar kelas inklusi dari Kementrian. Menulis cerita fabel, menulis esai yang sudah kususun kerangkanya, hingga kelas online terbuka. Aku cukup optimis bisa melaluinya.
Kegiatan yang tiba-tiba itu belum bertemu ambisiku di awal tahun ajaran ini yang ingin mengembangkan ini dan itu, ingin meningkatkan kualitas pembelajaran, beberapa garapan, dan merapikan data keuangan serta memmbangun sistem informasi akuntansinya. Rekan kerjaku sudah menggeleng-gelengkan kepala betapa banyaknya kegiatanku tapi aku masih merasa tidak produktif.
Hingga akhirnya tiba di hari Senin. Aku hanya beragenda memenuhi undangan dan meeting seperti biasa. Aku sudah memastikan badanku baik-baik saja. Cukup makan yang enak, hati tenang dan senang, kita masih bisa lets go. Aku pun sudah mengagendakan untuk berbelanja usai pertemuan menggarap tulisan yang akan ku serahkan hari itu, dan sederet kegiatan yang sudah menanti.
Nyatanya, di tengah meeting tubuhku mencoba shut down. Mungkin ia protes dengan sejenak menghentikan aktivitas ku secara paksa. Aku tak memahami tubuhku. Masih menjadi PR besar dan mengapa aku tak kunjung mengerti. Sehingga, IGD adalah tempat teraman. Kejadian itu malah mengabulkan perasaanku yang ingin sedikit merebah di bed RS.
Setiba di IGD dan mendapatkan kesadaranku kembali, Pak Ketua yang membersamaiku bertanya "sering kejadian begini?" Sepertinya aku harus mngingat ingat kejadian dan riwayatnya yang panjang itu. Pertanyaan itu semacam pemantik tentang apa yang aku perhatikan dan aku ingat tentang tubuhku.
Aku jadi mengingati kejadian satu persatu. Kali ini, berdasarkan konteks "kapan aku kolaps?". Biasanya aku kolaps ketika mengalami disosiasi dengan dunia tempatku tinggal. Bentuknya bermacam-macam, entah kebanyakan tugas, kebanyakan kegiatan mempelajari banyak hal, overwhelmed perasaan (ketika menunggu mama di RS), dan ketika mama berpulang. Kejadian terakhir ini mungkin jadi kolaps berkali-kali karena aku tak kunjung mendapatkan diriku.
Setelah 5 hari
Tubuhku mulai enakan, mulai bisa diajak jalan bersama hingga berpikir bersama. Meskipun ada sedikit hal-hal yang kubatasi dan memang terbatas. Aku merasa kembali kepada tubuhku. Aku merasakan kembali dekapan selimut, nyamannya kasur kesayanganku, dan nyamannya badanku.
Dadaku terasa lega ketika bernafas, punggungku menjadi segar ketika melalui peregangan, pikiranku lebih jernih dan tak banyak memakan banyak jatah memoriku untuk penasaran ke sana dan kemari. Aku mendengar kembali indahnya suara jangkrik dan suara penanda musim kering.
Hanya satu yang kurasa tak nyaman (Selain perutku, tentu saja). Sesuatu di dalam dada yang bergemuruh. Ia menjelma menjadi sebuah rasa sakit yang ingin didengar. Aku kira ia ingin menumpahkan air mata, nyatanya tak bisa. Ia hanya terjebak dalam dada dan memerlukan bantuanku untuk dikeluarkan.
Setelah Empat Tahun
Akhir Mei 2022. Adalah ketika manusia yang menjadi sumber kehidupanku berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa. Hari yang sudah kusiapkan enam bulan sebelumnya. Sebuah bonus kehidupan ia bersamaku lebih lama. Nyaris lupa kejadiannya secara terperinci sebab perlahan ditutup waktu, air mata, dan apapun itu yang menyertai kedukaannya.
Kupikir sudah banyak hal-hal yang kucoba selami untuk melanjutkan hidup. Salahsatunya ketika aku menonton film "The Architecture of Love" di bioskop bersama Aya, temanku. Air mataku meleleh diam-diam ketika River mengekspresikan kesedihan sekaligus kemarahannya kemudian berubah menjadi pribadi yang cukup tertutup dan menyalahkan dirinya tentang kejadian yang menimpa istrinya. Ada semacam rasa keterhubungan rasa dengan Bapak sungai. Tapi, di film itu, Ibunya berkata "kamu bisa mengingat hal-hal yang indah ketika bersamanya. Banyak hal yang menyenangkan dan membahagiakan untuk diingat daripada satu kejadian itu saja." Lalu aku mengusap basah wajahku sambil menengok temanku. Untungnya gelap, jadi dia tak tahu kalau aku sudah berurai air mata.
Pelan-pelan, aku jadi mendalami dan memahami berbagai macam perasaan di film-film atau serial drama korea. Seperti serial drama satu dosis sinar matahari yang menceritakan tentang perawat yang mengalami gangguan kejiwaan. Kemudian, film Berbalas Kejam. Ketika Adam menjadi korban perampokan dan mencoba menyembuhkan sakitnya. Film ini adalah yang sering kuputar. Rasanya ketika ia bercerita kepada psikolognya mewakili perasaanku.
Semenjak itu pula, seingatku, aku menjadi lebih gandrung tentang bahasan jiwa manusia. Tentang bagaimana menjadi manusia, tentang apa yang ada dalam manusia, tentang potensi yang dititipkan Allah kepada manusia. Aku mulai menseriusi bahasan-bahasan ini. Terlebih ketika aku merasa dunia menolakku.
Pada Mulanya
Selain bahasan kajian kami adalah tentang manusia dan hubungannya dengan Tuhan, ada satu waktu di mana ia berkembang menjadi berbagai macam perjalanan spiritual yang unik dan menakjubkan. Ketika orang-orang di sekitarku memaksaku dengan berkata "sabar", "Terima", "ikhlaskan", dan segudang kata-kata ajaib lainnya aku merasa itu hanya sebatas hiasan bibir belaka.
Menurut pandangan mereka, seolah-olah aku belum mengikhlaskan merelakan dan menerima takdir kepergian Ibuku. Di saat itu juga aku merasa kebingungan. Aku sudah menerima dengan sadar semua takdir Allah yang sudah diguratkan kepada Ibuku, kepadaku, dan semuanya. Aku selalu berpikir apa yang salah padaku? Apakah ada cara yang salah dengan caraku beragama dan mengimani takdir? Apakah bersedih itu tidak boleh? Apakah perilakuku memang tidak wajar?
Terlepas dari semuanya. Seperti yang diajarkan oleh Ibuku, hidup harus tetap dijalani. Jadi, aku menjalaninya sedemikian rupa. Dengan berbagai kegiatan yang ada dan perlu diselesaikan. Tentu saja, karena orang lain tak perlu mengerti apa yang sedang bergejolak dalam diriku. Kecuali beberapa teman dekat yang tahu tentang apa yang sedang terjadi.
Berangkat dari masalahku itu, aku banyak mengikuti kelas-kelas lain, membaca buku tentang manusia, psikologi, bahkan sufi. Aku berkunjung kepada spiritualitas lain. Aku berpikir, saatnya menjelajahi tentang diri sendiri. Saatnya menjalani berbagai eksperimen. Beberapa hal banyak yang kuragukan lalu secara ajaib, aku mendapatkan kembali jawabannya.
Seperti kata guruku, manusia terdiri dari aql, ruh, dan qalb. Dan aku perlu menyadari ini. Menginsafi menjadi manusia di jaman modern seperti ini seperti tak ada waktu. Dikejar dengan berbagai pekerjaan tiada henti, pikiran yang tak pernah beristirahat, dan hidup yang mekanis serta perlu terjadi begitu saja tanpa pernah memikirkannya.
Hikmah Mengenali Diri
Di pertengahan tahun lalu, aku dan Rufa pernah terlibat perbincangan tentang "mengapa ganjaran untuk beberapa ibadah itu besar?". Bahasannya menghabiskan waktu dengan berjalan kaku dari BIP ke Viaduct. Apalagi tentang hal-hal yang tak terlihat seperti pekerjaan hati. Ia hanya bisa diperbaiki apabila yang punya memang tahu dan memiliki pengetahuan dan ingin berubah mengobatinya.
Kami memang menjaga jarak dengan penceramah yang hobi menakut-nakuti jama'ahnya dengan dosa. Memang kami banyak dosa dan kurang iman (maka dari itu, kami perlu cara untuk menguatkannya). Apalagi kami perempuan yang sering disebut-sebut sebagai biangnya dosa. Kami sudah lelah maka menepi dan mencari sebuah pencerahan lain. Aku akhirnya memang selektif untuk menjaga agar si diri tak jatuh makin dalam (kalau ini adalah sedang jatuh).
man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu. Pernyataan ini menjadi makin menarik sebab Prof. Attas dalam bukunya menyatakan manusia adalah makrokosmos dalam mikrokosmos. Aku penasaran bagaimana manusia bisa menemukan Tuhan dalam dirinya? bagaimana akhirnya dia bisa menyadari bahwa ada satu Dzat di luar dirinya dan lebih berkuasa? aku ingin menemukan-Nya.
Aku ingin menyelaraskan pengetahuan yang sudah kudapat dengan apa yang ada pada diriku. Selama ini mungkin aku lebih banyak berpikir tentang cara, tentang logika-logika berargumen, bukan tentang apa yang ada di dalam diri. Semakin hari, aku menyadari ada bagian yang belum tergarap secara penuh dalam proses pendidikan diri. Padahal, jika kita berkaca kepada kehidupan Ummat sebelumnya, sudah banyak hal yang mereka lalui dan kita memiliki khazanah yang begitu banyak.
Seperti kata Rufa, tak semua orang mau mengenal dirinya karena ia adalah bagian yang paling menyakitkan. Di era serba cepat ini, menemukan diri seperti tak ada harganya dan agak tidak berguna dibanding menemukan rupiah. Satu lagi, salahsatu penyebabnya adalah pengetahuan yang tidak atau belum sampai. Ah kenapa dia membuatnya makin kompleks saja?
Kembali ke awal, niatku memang berfokus kepada diri saja. Untuk mendudukkan diri yang lebih tenang dan lebih nyaman. Beribadah dengan lebih berkesadaran, ridla, ikhlas, dan khusyu. Nyatanya, seperti perbincangan dengan Pak Agus, Bapak koran, menjaga diri saja sulit. Maka, ketika mulai ke keluarga dan pergaulan sekitar, lakukan sebisanya dan tutuplah dengan doa.
Setelah empat tahun ditinggal Ibu. Sepertinya aku menemukan jalan ke dalam diri sendiri. Entah bagaimana caranya, tapi aku dibimbing menemukannya. Banyak cerita yang ingin kuperbarui dengan Ibuku seperti cerita tentang eksperimen rasa-rasa masakan, cerita tentang menemukan diri, cerita tentang guru-guruku, cerita tentang bagaimana aku melakukan perlawanan iseng kecil-kecilan lalu membuat ibuku risau, lagu-lagu nostalgia, film-film beserta kritik sosialnya, dan masih banyak lagi.
Aku hanya bisa mendoakan dan melanjutkan cita-cita Ibuku (sebenarnya aku tak tahu apa cita-cita ibuku setelah berkeluarga). Aku berdoa agar Ibuku mendapatkan tempat terbaik, ternyaman, disayangi Sang Pencipta, dan beristirahat setelah di masa hidupnya banyak memelihara kehidupan bahkan hampir tak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.
Menjelang langit menggelap sore ini, air mataku mengalir begitu saja tanpa berhenti. Tak lupa ia mengawalinya dengan rasa sakit yang hadir di dalam dada. Perasaan aneh yang sering tiba-tiba muncul dan tak pernah kurencanakan. Tentu saja mengganggu, karena air matanya menghalangi pemandanganku untuk mengerjakan tugas-tugas yang sudah menanti.
Di Sudut Kamarku, 23 Mei 2026
Mia : Sebuah Pertemuan Acak
Ketika mengambil data penelitian, secara sadar aku tak pernah menggunakan teknik random sampling. Selalu purpossive ataupun snowball. Jikapun pernah, sesuatu yang diberi label pada mulanya acak, tetap saja ada semacam kriteria di benak tentang siapa yang akan saya temui. Sampai sore itu datang.
Begitupun ketika duduk mendengarkan kuliah tentang kejadian alam dan matematika. Doktor matematika waktu itu menjelaskan, diduga banyak peristiwa alam yang kebetulan, nyatanya bukan kebetulan. Ia merupakan satu peristiwa yang bisa dihitung secara matematis dan mekanis. Makanya ada sebuah konsep dimana alam semesta sebagai jam. Tapi tentu aku bukan hendak menjelaskan teori-teori itu. Aku ingin bercerita tentang sebuah kejadian yang amat sulit dijelaskan. Tentang mengapa ini terjadi?
Ada sebuah kejadian di hidupku dimana aku tak pernah berniat, tapi secara matematis itu menjadi dimungkinkan. Takdir yang aneh. Teman-teman komunitas sering menyebutnya demikian. Ketua Kelas kami, yang juga sarjana psikologi, pernah membedah tentang Butterfly Effect. Dimana ia mulai mengkonstruksi kemungkinan-kemungkinan pertemuan manusia.
Kupikir, peristiwa berkumpulnya kami di 2016 itu adalah takdir paling aneh. Ada pola dimana, kami miliki kesamaan : mahasiswa yang sedang bergelut di semester akhir, suka baca buku, suka ngaji, suka makan. Semuanya beresonansi begitu saja. Di 2026, saya mengalami yang lebih tak dapat dijelaskan daripada pertemuan bersama teman-temanku itu. Hari Senin. 30 Maret 2026. menjadi hari yang panjang.
Masih lulungu, sore itu aku turun dari angkutan umum. Secara tiba-tiba, kakiku berbelok memutuskan untuk menunggu di kafe depan klinik sambil menuntaskan pekerjaan. Ya, seperti biasa, aku melepas sepatu, masuk dan memesan kopi Bonbon atas rekomendasi Mas Barista.
"Aku panggil Mia aja ya?" Kata lelaki itu.
Aku berasa berkerut dahi dan tak mempermasalahkannya. Jarang-jarang juga ada yang manggil Mia. Pun aku tak pernah berpikir Lamya akan memiliki nama panggilan. Pesananku atas nama Lamya -- sebuah nama pemberian temanku.
Aku duduk di tempat seperti biasa. Nampaknya tembok sudah menggantikan pemandangan kebun di sebelahnya. Bahkan, waktu pertama kali aku mampir, ada seekor burung. Jadi, sambil duduk aku cukup memandangi burung dan kebun itu. Daripada aku menghadap tembok, lebih baik, aku ganti saja. Malah diajak mengobrol oleh Mas Barista sambil meramu kopi.
Entah di percakapan yang mana, tiba-tiba saja bertaut dalam satu titik : kampus Jalan Nias. Setelah Cicalengka, Kereta Api, dan beberapa perbincangan. Tentu saja aku senang sekali. Jarang-jarang bertemu kombinasi seperti ini tapi malah jadi obrolan seru. Kemudian dia banyak menghela nafas, karena banyak yang kusebutkan bukan sesuatu yang asing. Hingga kopinya jadi.
Lelaki itu membawa barang-barangnya, kemudian memperkenalkan dirinya dan menunjukkan beberapa karya fotonya. Untungnya aku pernah kuliah Pak Bambang tentang seni. Katanya, tak semua orang bisa menikmatinya. Dan sepertinya, aku termasuk yang tak bisa menemukan letak keindahannya di mana. So, mending jujur sejak awal kan? daripada aku harus berpikir menerka-nerka. hahaha
Kemudian ia juga mengeluarkan Obscura buatannya. Inilah yang menjadi tautan terbesar dalam rangkaian perbincangan ini. Kupikir, tak banyak orang yang mengenal kamera yang satu ini. Meskipun kamera ditemukan oleh Ibn Haytham, seorang pemikir Muslim jarang juga bisa membahasnya. Pikirku, Obscura akan diketahui oleh orang-orang yang menaruh perhatian dalam sejarah kamera, fisika atau di pemikiran.
Aku mengetahui obscura dari guruku. Beliau pernah membawa replikanya di kelas. Tentu saja, aku tak begitu faham dengan teknis obscura. Tapi benda ini menjadi teringat dan lazim, sebab guruku seorang peneliti Ibn Haytham. Jadi beliau akan sering membicarakannya, membincangkannya lagi, dan beliau amat mengaguminya.
Obrolan senja itu entah sudah tertarik ke dalam sudut mana saja. Tapi aku merasa "he is the real photographer". Kuliah-kuliah tentang fotografi yang sudah menguap berasa kembali. Dulu, fotografi hanya 2 sks di jurusan kami. Aku masih ingat rasanya kuliah fotografi, tapi - waktu itu - tak ada yang bisa kuajak bicara tentang lensa kamera dan mata. Dan aku tak ingat pernah membicarakannya.
Setelah kupikirkan ulang berkali-kali, pertemuan semacam ini bagiku memerlukan banyak prerequisite knowledge, banyak persinggungan, dan banyak penginsafan. Mungkin, jika ada yang tak terjadi dalam syarat-syaratnya, kemarin tak akan menjadi pertemuan acak yang seseru ini. Kata Mbah Hawking, jalan pendeknya adalah takdir. Kami sedikit perpanjang istilahnya menjadi takdir aneh yang sulit dijelaskan.
Seperti pertanyaan Mas Fotografer yang sedang menyamar menjadi barista "Kamu percaya kalau yang terjadi di dunia ini bukan sebuah kebetulan?" Aku mengangguk setuju. Rupanya ada teknik yang hanya bisa dirancang oleh Tuhan.
Jalan Pertamina, 30 Maret 2026
Penelusuran Genealogi Ila dan Asal Usulnya
Sekitar tahun 2014, saya mengikuti kuliah online tentang menelusur genealogi keluarga. Materinya menarik dimulai dari bagaimana menyusun genealogi hingga mengumpulkan data di lapangan. Termasuk soalan-soalan seperti hobi, kebiasaan, dan merengreng segala hal macam biodata dari anggota keluarga.
Pada tahun-tahun itu, saya masih bersemangat. Sehingga, ketika kesempatan pulang dari perantauan, saya akan menyiapkan sederet pertanyaan kepada para sesepuh agar bisa menggalinya dengan benar. Termasuk kepada kakek saya. Saya masih penasaran tentang pengalamannya menjadi tentara yang dikirimkan ke Papua. Kakekku jarang bercerita, tapi beliau memang mengajariku tentang pentingnya arsip sejarah dan cerita.
Bude pun sedang mencari silsilah yang sama. Tentang keluarga di kampung yang saya tinggali saat ini. Siapa dan bagaimana tumbuh berkembang? hingga bagaimana satu-persatu harta peninggalan habis dan berpindahtangan. Sayangnya, semuanya menemui jalan buntu : kami semua tak kenal dan tidak tahu lagi mengakses kemana kecuali saksi hidup.
Nampaknya, meskipun tidak terlalu fokus dan jadi proyek yang hanya dikerjakan dan dilakukan setahun sekali setiap lebaran, lumayan lah ya bisa menampung informasi yang cukup banyak dan menarik. Tapi tetap tidak menemukan jalan. Bagiku, apa sih ini? Tak banyak orang yang perhatian tentang asal-usulnya. Lalu, banyak sesepuh yang kemudian kembali ke hadirat Yang Maha Kuasa.
Pemicunya memang berbeda-beda. Mulai dari rasa iri dengan tradisi orang jawa dimana Syawalan akan berhimpun keluarga berbagai generasi, lanjut rasa penasaran, merasa berbeda dalam keluarga, dan juga ada beberapa deteksi penyakit yang membutuhkan genetik keluarga. Faktor resiko dan sebagainya. Sebenarnya, kusimpan sebagai catatan saja.
Dalam perjalanannya saya bertemu dengan Kang Dadan, yang getol juga dalam menghimpun silsilah. Disanalah saya kembali teringat tentang bagaimana cara mengarsipkan dan mempererat tali keluarga. Hingga pelajaran dari keluarga Palembang tentang teknis-teknis yang ada. Sejujurnya, tak ada tradisi dalam keluarga kami untuk berkumpul. Sepertinya keluarga kami memang gambaran manusia sunda dalam peribahasa : atah anjang yang kemudian menjadi pareumeun obor.
Lanjut bertemu dengan Kang Atep yang juga sering menelusur sejarah Cicalengka. Dan diantara pelajarannya, ada beberapa nama yang bisa dicari di arsip dan koran. Apalagi akses jaman dahulu terbatas. Sheingga nama orang yang tercatat pasti akan menimbulkan keunikan tersendiri. Dengan kata lain, akan mudah dicari.
Menahan Emosi
Perjalanan menelusur itu menjadi tidak mudah ketika Kakek meninggal pada tahun 2016. Ia hanya meninggalkan surat dan beberapa arsip. Surat dimana tanah yang seharusnya menjadi milik kakek, malah harus dibeli lagi jika ingin diselamatkan dan dimiliki kembali. Disanalah pelan-pelan, cerita-cerita itu mulai terungkap.
Luka itu bernama pengkhianatan (aku masih mencari kata yang pas, tapi sementara ini dulu saja ya). Peninggalan orangtua kakek yang harusnya dijaga, malah dijual semaunya. Aku mendapatkan ceritanya demikian hingga orang-orang dan saksi yang bisa kutanya.
Waktu aku masih muda, aku masih berpikir "biarlah itu urusan masa lalu". Tapi, makin hari makin bertambah tahu dari berbagai sisi kok malah tak bisa. Perasaan emosi yang meledak ini yang tak bisa kami bendung. Perasaan marah itu datang begitu saja dan tentunya itu menyengsarakan keluarga kakek dan nenek.
Senelum nenek meninggal, aku pernah bertanya sesuatu yang menurutku biasa saja : orang yang datang. Tapi nenekku jutek sekali. Cuma jawab "Oh, tumben". Kayaknya ini udah jadi sakit hari berpanjangan. Di sinilah saya tahu, bahwa madih ada luka yang entah datang dari mana dan, sialnya, aku malah kepo dan akhirnya tahu duduk persoalannya yang rumit.
Tak hanya di keluarga Kakek, keluarga nenek pun demikian. Selepas nenek dan mama meninggal, kami kesulitan menghimpun informasi. Setelah itu, saya mencari informasi bahwa makin parah apa yang terjadi di masa lalu. Ditambah dengan konflik-konflik keluarga yang menyertainya. Apalagi kalau bukan urusan harta dan warisan.
Kakek Koko, malah sempat berpesan : Sebenarnya kita bisa mendapatkan beberapa harta itu. Namun, karena asalmulanya tak tahu, ya sudah biarkan mereka yang mengurus entah mau berkelahi tak mengapa. Kita nikmati rejeki yang halal yang memang sudah kita dapatkan semampu kita. Tak usah mengharap bagian itu.
Jenuh
Sudah sekian lama tak berkembang dan dipastikan akan sulit untuk melacak garis silsilah ini, akhirnya aku lelah dan mengalami kebuntuan. Lama-lama, aku merasa sendirian untuk mengumpulkan hal-hal yang menurut orang lain tak perlu. Mungkin belum bertemu saja dengan saudara yang sefrekuensi.
Meskipun mulai terbuka beberapa jalan ke beberapa tempat dan analiss dari nama-nama yang ada, nampaknya saya sudah lelah dan jenuh. Alih-alih mendapat informasi tentang kehidupan, kesibukan, bagaimana beliau hidup. Yang ada seringkali masalah pertanahan dan perebutan harta warisan atau tentang luka ditinggalkan . Aku yang mendengarkan seringkali tak bisa mengontrol emosi.
Suatu hari, aku bertanya kepada Nenek Talun tentang nama Buyut : Siapa saudara si Uyutku? Namun nenek itu cuma menjawab tidak tahu. Satu-satunya pertemuan adalah ketika ada sodaranya dari suatu tempat datang untuk menyerahkan keluarga uyut. Kebetulan uyut kami sudah meninggal waktu itu. Waktu itu nenek tak tahu namanya, dan tak inisiatif menanyakan namanya. Tak ada yang bisa digali lagi. Karena mereka tak pernah datang lagi.
Perasaan ini, nampaknya menjadi perasaan yang sangat jenuh dan mengesalkan. satu nama pun tak bisa diakses. Dan aku sangat menyayangkan tentang sifat saudara Bapaknya si uyut : "Udah tahu uyut anaknya banyak. Kok ditinggal begitu saja? tanpa dicari lagi?" Saya merasa marah jika ingat bagian itu. Bisa-bisanya mereka..
Kejenuhan dan emosi yang sulit dikendalikan ini memang sudah beranak pinak. Semakin kamu mengetahuinya, semakin banyak spekulasi. Banyak pikiran dan cape memikirkannya. Setelah ini, mau kuselesaikan, dicetak, dan didokumentasikan. Demikian cerita pencarian asal usul.
Pencarianku selama kurang lebih 12 tahun, hanya sampai kepada 3 atau 4 generasi saja. Tak ada lagi yang bisa kuharapkan. Karena kakek yang bisa kutanyai, sudah berbeda alam. Ya sudah, kita akhiri saja yang ada.
Bebaskan pikiranmu!
Cicalengka, 22 Maret 2026
Sisa Satu Dekade
Jim, satu dekade sudah aku menutup rapat-rapat tentang segala pertemuan kita. Pertemuan pertama, mengenalmu di meja makan, pertemuan-pertemuan makan kita, obrolan kita, sisa makanan yang jatuh di kerudungku dan kamu berinisiasi menyodorkan tissue berusaha membersihkannya, hingga perhatianmu yang rela keluar subuh-subuh untuk menjemputku.
Waktu itu, kita berada dalam satu lingkaran satu permainan yang sama, namun orang tak menyadari jika kita saling mengenal -- kecuali jika aku bercerita pada temanku -- apalagi saling berdekatan. Entah kamu pun bercerita juga, aku tak tahu.
Konon, perempuan dapat menyimpan dan menyembunyikan rasa cintanya selama 40 tahun. Sepertinya tidak berlaku bagiku. Baru sepuluh tahunpun rasanya seperti sebuah siksaan. Ada bagian dari diri yang ingin kuceritakan pada khalayak bahwa aku pernah merasakan satu hubungan yang bahagia denganmu. Sebagai teman, tidak apa-apa. Namun, kita pernah menjalin sebuah relasi yang cukup spesial bukan?
Tadinya, aku masih bersabar tentang apa yang kusembunyikan tentangmu. Bertahun-tahun ini, orang-orang bercerita padaku tentangmu. Meskipun dalam pertanyaan "kamu tahu Jim kan?". Karena kita tak punya irisan yang solid, bisa dipastikan aku tak terlalu mengenalmu. Aku hanya menjawab sekedarnya "ooh, tahu.. iya, anak universitas sebelah kan?"
Entah apa maksud dari takdir, selepas kamu tak berkabar, semua kabar tentangmu selalu sampai padaku. Hingga aku mengetahui perasaan-perasaan terdalam dari temanku tentangmu. Memang, pesonamu memabukkan. Tapi yang mereka ceritakan tak seperti yang kuketahui tentangmu. Aku menikmati cerita-cerita mereka, tanpa mereka mengetahui bahwa aku cukup mengenal lelaki yang mereka ceritakan itu. Sekarang, tentu saja istrimu yang lebih mengenalmu.
Anggap saja satu dekade lalu, satu tahun kita pernah bertemu, dekat, dan menghilang. Inilah yang sering menjadi buah pikiran yang tak pernah habis dipertanyakan. "Apakah salahku yang tak berkabar denganmu ketika aku meninggalkan kota itu?" "Mengapa kau tak pernah lagi menghubungiku?", "Apakah aku tak sebaik yang kamu bayangkan?", "Bagaimana jika waktu itu aku mencoba berbicara padamu?", "Andai waktu itu aku bisa menangkap apa perasaanmu dan memikirkannya baik-baik". Semuanya hampir membuatku kewalahan.
Sebab ketidakjelasan status kita (selain teman), aku tak mau mengambil pusing dan kuputuskan menyimpannya rapat-rapat. Sayangnya, perasaan ini tak pernah diselesaikan dengan baik.
Setelah kupikir lagi, memang kita tak pernah mengakhiri dengan baik. Namun, kita masih tetap berteman bukan? sehingga tak ada kata-kata yang perlu mengakhirinya. Seperti ketika kepindahanku, aku sengaja tak mengucapkan perpisahan sebab kamu sedang di luar pulau dan aku merasa kita tak akan benar-benar berpisah.
Setelah satu dekade, aku merasa perjumpaan kita dan kedekatan kita waktu itu amat baik dan amat manis dalam ingatanku. Aku menyadari, waktu itu aku terlampau tidak peka baik pada diriku maupun pada dirimu. Berkat dirimu, Jim, aku bisa menemukan satu hubungan yang membahagiakan aku juga menemukan diriku.
Memang bukan takdirnya. Takdirku menemukan diriku sendiri. Dan itu membahagiakan. Aku tidak membencimu. Hanya, kamu begitu menyebalkan sebagai lelaki yang tiba-tiba hadir dan tiba-tiba menghilang.
Aku ingin kamu tahu, setiap akhir Ramadan aku selalu mengamalkan doa-doa yang kau ajarkan dan kau rekam melalui voice note itu. Aku senang untuk memohon ampunan kepada Tuhan.
Setelah satu dekade, pasti ada residu kenangan-kenangan yang jadi bagian dari hidupku (dan juga hidupmu?). Hari ini, aku melepaskan apa yang sebelumnya kututup rapat-rapat yang akupun tak tahu apa alasannya.
Adalah hadiah di akhir Ramadan ini, sebuah perasaan tenang, tentram, dan mengingati masalalu denganmu dengan cara yang berbeda. Sebuah nuansa perasaan yang aneh dan tak biasa sebab biasanya aku menyimpan rapat dan meratapi sendirian di pojokan. Kukira itu tak adil bagi diriku. Kamu sudah bahagia, masa aku nangis dipojokan? dan sialnya tak diketahui olehmu.
Jim, aku berharap kamu membaca tulisan ini. Namun, apa juga yang kuharapkan jika kamu membaca tulisan ini? Sudahlah. Yang penting aku sudah melonggarkan perasaanku.
Bandung, 18 Maret 2026/ 28 Ramadan 1447H
Ibn al-Jawzī said:
"If you find a darkness in your heart after you have sinned, then know that in your heart there is light, because of that light you felt darkness."
● [روضة المحبين١٢٢/٢]
Saya masih ingat hafalan semasa kecil dalam mengartikan taqwa. Taqwa ialah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ingatan saya terhenti di sana. Hingga di waktu menjadi mahasiswa, ada dorongan mencari tahu kembali makna taqwa. Sebab, setelah definisi itu, lalu muncul pertanyaan : Lalu apa? setelah menjalankan perintah dan menjauhi larangan?
Cerita lain, universitas tempat saya menjadi mahasiswa memiliki slogan : Takwa, mandiri, cendekia. Suatu hari, saya terlibat dalam persiapan akreditasi program studi. Saya juga yang menjadi mahasiswa dalam FGD waktu itu. Asesor yang hadir pun bertanya : apa itu takwa? bagaimana ia diterjemahkan dalam pembelajaran? Memangnya ketika kelas dibuka dan ditutup dengan doa akan menjadikan mahasiswa bertaqwa?
Semuanya mulai begitu complicated sebab hampir semua ayat yang menunjukkan kemudahan memiliki syarat Taqwa. Lantas, taqwa itu apa? Saya juga ingat, bahwa sikap taqwa itu seperti berjalan di jalan penuh duri. Apa yang akan dilakukan? berhati-hati. Akupun segera meet up dengan seniorku jurusan tafsir di UIN. Dan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaanku.
Aku pun lupa apa jawabannya. Tapi, waktu itu cukup memuaskanku pada waktu itu. Ternyata, ia pun tak cukup.
Taqwa muncul kembali dalam kriteria laki-laki calon pasangan. Bagaimana saya tahu ia laki-laki bertaqwa? Mengapa laki-laki harus bertaqwa?
Entah mengalami banyak perjalanan apa lagi, beberapa Ramadan kulalui. Dan tentu saja, bertemu lagi dengan ayat yang sama : Agar kamu bertaqwa. So, what is taqwa?
O Allah, mengapa aku tak kunjung mengerti dan memahami soalan taqwa ini (?). Tapi, aku pun bersyukur, dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik itu, akupun selalu kembali dan menemukan makna-makna baru. Atau mungkin, makna yang waktu dulu terlewat, kemudian baru tertangkap di masa kini.
Malam ini, aku baru mendengarkan Cambridge Muslim College. Rasanya suaranya yang teduh menyegarkan kembali pengetahuan dan pendalaman tentang taqwa. Ketika mendengarkan kembali tentang ayat-ayat Taqwa, aku merasa diterima sebagai manusia yang merupakan tempat salah.
Semoga kita menjadi orang-orang yang Bertaqwa. amiin
Rabu, 25 Februari 2026
Pekerjaan Rumah
Semenjak rayap meruntuhkan nyali di belakang lemari, perasaan berat menggelayuti diriku untuk merapikan pakaian-pakaian kembali ke tempatnya. Tugasku menjadi lebih banyak. Pertama, membersihkan sisa kerajaan di belakang lemari. Kedua, aku harus memastikan keamanan dan memastikan si rayap tidak melanjutkan kerajaannya kembali. Ketiga, aku harus mencuci serta menyetrika pakaian-pakaianku itu. Tahapan yang panjang bukan?
Sementara waktu, kutitipkan dulu pakaian-pakaianku di ruang setrika. pakaian kotorku kuinapkan di ruang cuci. Lalu, kuhemat pakaianku baik-baik agar cucian tak menumpuk. Sampai datang ilham dan tenaga untuk menyikatnya atau sebuah paksaan untuk membereskannya. Lalu kupikir, sudah berapa lama itu berlangsung? mengapa tak kugunakan jasa laundry saja.
Kegiatan mencuci dan menyetrika adalah sebuah penghiburan tersendiri di antara penatnya pekerjaanku. Meskipun jika dipikir kembali, apa tugas pekerjaanku? menyiangi kutu dari tubuh kucing mungilku. Memang itu adalah sebuah misi penyelamatan dunia. Dia biasanya senang dan tidur lebih lelap setelah kupijat dan kubersihkan badannya.
Di fase ini, pikiranku merasa meluap. Acara yang tak berhenti dan berbagai revisi dari pejabat pemerintah yang menyebalkan. Aku ingin menanggapinya dengan pikiran tenang. Tapi tetap saja malah membuat tubuhku lebih gila dari biasanya. Aku ingin berkata : aku lelah, ada yang bisa menggantikanku? bolehkah seseorang tidak bertanya "bagaimana pekerjaanmu di sana? sudah mulai kontraknya? berapa honornya?" semuanya hanya membuatku semakin menggila. Aku ingin berkata, tidakkah engkau melihat diriku?.
Kondisi seperti ini tak asing dan pernah kualami. Dimana aku tak tahu harus melakukan apa. Semua barang dengan cepat melewati tanggal kadaluarsanya seolah itu baru kubeli kemarin. Waktu terasa berjalan lembat sekaligus cepat. Ada yang berhenti. Kali ini, harus kucegah. Untungnya tubuhku sepertinya lebih peka.
Aku jadi teringat pesan Bu Dokter Kece agar mengecek lemariku, membereskan pakaian, mencuci, dan menyetrika. Kesibukanku pasti melupakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak bisa dihayati dengan benar. Beliau berpesan begitu, karena beliau lebih berpengalaman. Satu lagi, beliau memiliki kesibukan di masa mudanya daripada perempuan manapun.
Mungkin itu sebabnya mengapa baju-bajuku muncul di mimpiku. Ia hadir berkali-kali untuk mengingatkanku : Aku belum dibereskan olehmu!. Sisi lain berkata : "Ah, bukannya pekerjaanku yang menghasilkan uang (yang selalu ditanyakan seseorang) jadi lebih penting daripada membereskan baju?"
Tetap saja, pekerjaan rumahku, aku masih mencintainya. Jika pekerjaan rumahku tak beres dalam standar pengerjaanku, aku mungkin sedang tak baik-baik saja.
Ruwet, 24 Februari 2026