Ngaji dan Menerima Takdir
Disclaimer : Cerita ini hanya pengalaman pribadi. Bisa jadi perasaanku yang salah. Dan saya masih sangat mencintai dan menghormati kedua orangtuaku.
Aku merasa bersyukur ketika Bapak akhirnya mau mengikuti salahsatu pengajian rutin. Ketika bertemu dengan seorang (yang dipanggil) ustadz. Saya pun lupa lagi kronologisnya bagaimana. Secara dzahir, memang beliau menjadi lebih semangat untuk belajar, membeli berbagai kitab, dan melakukan pendanaan-pendanaan tertentu.
Aku pun menjadi bangga, kagum, sekaligus menjadi tentram ketika Bapak mulai rutin shalat di masjid, shalat subuh berjamaah, setiap hari mengaji di subuh hari, Itikaf, dan entahlah segudang kegiatan yang berhubungan dengan masjid. Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga semua kejadian itu terjadi.
Ketika nenek masih hidup, Mama selalu ditanya oleh nenek
"Aa mu itu gak akan poligami kan? setelannya necis mulu."
Mama cuma menjawab sekedarnya saja, yaa emang biasanya begitu. Ya, apa juga yang mau dicurigai. Mama sudah lelah dengan kerjaan sehari-hari dan kemudian harus menelisik kemana suaminya pergi? terlalu melelahkan. Tapi, itu hanya topeng di depan anaknya saja. Beberapa tahun kemudian, Mama juga merasakan hal itu dan diceritakannya kepada Bude yang satu pengajian.
Makin lama saya mendengarkan melalui speaker masjid, dan menyimak cerita Mama sehabis cerita pengajian Tarbiyatun-Nisa. Apalagi mengenai mengizinkan suami poligami. Secara ekonomi, Bapak-bapak mana yang --maaf-- layak untuk melakukan poligami? Pelan-pelan, ini juga yang menumbuhkan rasa insecure di kalangan Ibu-ibu.
Saya selalu tanya sama Mama "terus tanggapan mama bagaimana? tanggapan Ibu-ibu di sana bagaimana?" Kemudian saya mendapatkan cerita-cerita yang melegakan. Bahwa Ibu-ibu itu berpikir kritis dan realistis dan tidak menerima mentah-mentah apa yang ustadz ini katakan.
Di tahun ke berapa, saya mulai merasa kehilangan sosok. Apalagi ketika Mama sedang sakit. Dalam skala prioritasnya, ngaji tetap nomor satu. Kupikir biasa saja. Tapi, pikiranku berubah ketika mama mulai bercerita di rumah sakit. Aku menemani beliau ketika harus melakukan transfusi sebab tes hemoglobin rutinan menunjukkan angka yang rendah.
Konsekuensi dari prosedur tersebut adalah setelah hemodialisis yang digabung dengan transfusi darah, Mama harus menjalani rawat inap sehari semalam guna memastikan semuanya aman. Maka, kami selalu menyisihkan waktu untuk menginap di rumah sakit. Yang mengisihkan waktu Bapak. Karena Bapak yang akan berjaga semalaman. Sedang kami perlu siap di siang hari.
Kupikir hal yang wajar, Bapak mau mengaji dulu dan menuntaskan segala macam kegiatannya sebelum menemani Mama di RS malam hari. Tapi, malam itu mama mulai melamun dan berkeluh kesah kepadaku "Bapakmu ngapain sih? Lama sekali, pengajian gak bisa ditinggal ya?"
Beberapa kali perbincangan itu terjadi di ruang inap, di ruang hemodialisis. Aku mencoba menenangkan Mama bahwa ada kami, yang menemani. Tapi Mama cuma berkomentar "Ditemani suami itu beda, Teh". Aku hanya terdiam karena memang aku cuma anak Mama. Naasnya, aku juga gak bisa memaksa Bapak ke Rumah Sakit kan?
Mamaku melihat pasien lain yang dijemput dan ditemani suaminya dari awal sampai akhir. Aku memang tak sempat memahami perasaan mama. Aktivitas seperti memperhatikan obat-obatan Mama (agar tidak overdosis), membuat daftar menu, memilih makanan yang sehat, berkonsultasi ke dokter, menyusun jadwal kontrol, ke dokter spesialis lainnya, fisioterapi, semua jadwalku cukup padat. Bersamaan dengan kuliahku, sit in di kelas untuk penelitian, mengajar sore, dan berbagai macam tugas operator sekolah. Memikirkannya hari ini, membuatku geleng-geleng kepala.
Saat itu, momen-momen di masjid RS selalu membuatku bertemu dengan penunggu pasien lainnya dan dari kisahnya tentu lebih berat daripadaku. Spertinya momen itu yang membuat apa yang kulakukan ini tak seberapa dibanding penunggu pasien lainnya itu.
Kembali lagi ke Mama. Entah Mama menyampaikannya atau tidak, akupun tak tahu. Setelah kuingat-ingat setelahnya, waktu itu sepertinya Mama merasa kesepian. Menurut perawat, ureum yang semakin tinggi di dalam darah pada pasien HD lebih mudah mengalami delirium. Di tengah itu pula saya hampir frustasi dengan menu makanan setiap hari. Aku ingin makanan sehat, tapi mama mau makan.
Yang pasti, perasaan sakit dan tidak aman masih membekas dalam perasaan dan ingatan apalagi mengingati tentang mama dan pengajian. Awalnya kupikir hanya aku seorang. Bude, sepupu sekaligus rekan mengaji Mama pun merasakan hal yang demikian. Mengapa setelah mengaji malah merasa tidak tentram?
Tentang menerima Takdir. Setelah Mama berpulang, tak ada lagi penengah diantara kami. Semua yang biasa kubincangkan dengan Mama malah berubah menjadi ceramah panjang. Yang intinya adalah menerima takdir dengan jalan "tidak memilih-milih calon yang datang ke pihak perempuan". Gara-gara kriteria aku dan Bapak yang berbeda, kami sering bertengkar soalan ini. Daaan, Bapak yang sudah mengaji selalu bilang "perlu menerima takdir".
Tentu saja aku tidak setuju. Orang beli baju aja milih, kok ini gak milih?. Aku juga kecewa karena Bapak yang tidak sematerialistis dulu. Maksudnya tidak pada tempatnya. Bukannya melindungi anak perempuannya kelak kalau terjadi apa-apa, malah kayak mau masukin ke mulut buaya. Bagaimana tidak menyeramkan coba? Tentu saja ada andil siapa? Ustadz kan. Dibalik alasannya "Kan cek Ustadz ge ... "
Sepupuku datang dan akhirnya saya lebih banyak memilih berdamai. Saya rasa perbincangan itu bukan untuk membantah. Tapi untuk mengutarakan, keinginan akutuh begini loh.. Selama dengan Mama, semuanya oke-oke aja tuh. Kupikir proses berdialog ini menjadi cara komunikasi kami. Ternyata tidak dengan Bapak. Salah besar berarti asumsiku.
Di puncak kekesalan itu, bukan hanya soalan pernikahan tetapi juga pekerjaan. Kadang halus, kadang langsung menanya berapa penghasilan? Sebenernya tak pernah dijadikan masalah. Kami juga sempat "bertengkar" karena kumenangkap penyesalan Bapak menyekolahkan jenjang magister. Dan tidak juga menghasilkan rate penghasilan yang lebih tinggi. Ingat, sekarang gak ada Mama.
Bapak selalu memanggap aku ke sekolah itu bukan bekerja. Sepertinya hanya main-main belaka. Tapi beliau tidak tau apa yang kami lakukan di sekolah? apa prerequisite yang diperlukan untuk mengurusi bocil-bocil balita yang sedang gemas-gemasnya.
Jadi, kalau ada lowongan apapun, dosen, dan sebagainya apalagi PNS dengan gaji yang lumayan tinggi selalu didorong. Dan entah kenapa, selalu gagal. Termasuk pertimbangan untuk melamar di kementrian bagian procurement. Gajinya sekitar 8-9juta / bulan. Tapi kebayang kan apa yang akan dilakukan disana? meskipun bagian pelatihan. Aku menerka Itu lahan basah dimana bakal banyak kejadian yang mengganggu jiwa. Aku gak bisa. No! No! No!
Nah, aspek ini yang seringkali kami berbeda pandangan. Untuk Bapakku, itu bagian dari resiko kerja. Bagiku, itu seperti bencana yang bikin hidup tidak tenang. Lagian, masalah utamanya adalah harus bangun pagi, memakai seragam, jam tidak pasti, upacara bahkan di hari libur, dan tak bisa protes. Kapan waktu untuk main, membaca, dan berkelana ke universe yang lain? Aku lebih takut kehilangan kebebasanku untuk belajar.
Maka dari itu, setelah semua usaha yang kulalui dan kulewati ini, aku ingin dipahami : cari kerjaan jaman sekarang itu susah, Bah. Mencapai penghasilan yang diharapkan juga tak semudah itu. Bukan karena aku tak melamar, tapi ya begitulah kenyataannya. Aku berusaha selalu membangun dan mengembangkan diri saja, itu sudah hidup. Dengan hidup begini, banyak juga mempertemukan dengan rejeki yang tak disangk-sangka.
Aku menyangka, pertemuanku dengan guru-guru yang ikhlas, dengan teman yang baik, circle yang sejalan, lingkungan pekerjaan yang bertumbuh, adalah sebuah rezeki tersendiri. Oia satu lagi, waktu untuk berpikir tentang diriku sendiri, itu adalah kemewahan. Betapa banyak teman-temanku yang tak memiliki kemewahan itu. Ia lelah dengan pekerjaannya tanpa sempat memaknainya.
Maka, ketika Bapak sering menagih tentang penghasilanku yang mandiri. Dengan lembut aku minta beliau untuk bersabar menerima takdir. Masalahnya, bukan aku gak usaha. Harusnya, sebagai orang yang ngaji, akan mudah menerima takdir yang demikian. Takdir anaknya belum kunjung berjodoh dan pekerjaan pun gak bisa dibanggakan. Karena aku pun tak bisa menjelaskan lagi. Semoga saja beliau mengerti.
Aku tahu, Bapak menanyakan penghasilan itu adalah bentuk kekhawatiran beliau karena sebentar lagi pensiun. Kondisi pabrik di pekerjaannya memang sedang gonjang-ganjing. Ia ingin setidaknya anaknya bisa hidup mandiri. Mengingat "investasi" nya sudah kebanyakan sama Si sulung ini. Ya, aku juga berusaha dengan apa yang kujalani ini.
Aku percaya, Allah ngasih rejeki sama burung-burung yang mencari mangsa kok. Apalagi manusia. Urusan rejeki itu Allah sudah aturkan semuanya. Tak perlu risau bukan? Hanya perlu dicari. Dan mungkin cara mencariku belum canggih aja. wkwkwk
Balik lagi ke pengajian. Masalahnya, ada beberapa hal yang tak pas dari pengajian ini dalam mendudukkan perkara. Seperti definisi sabar yang diam. Tentang pusat kehidupan ada di suami, tapi bagaimana pemuka agama ini mendidik jamaah laki-laki ini?. Saya pikir sangat disukai oleh penguasa. Pantas saja, religion is opium. kata siapa tuh? Sekuler sejak dari masjid ini mah.