Part 2
Ternyata semesta masih memberi ijin untuk kita bertemu. Berterima kasihlah kepada senja, yang jingganya seolah membersamai pertemuan kita. Entah ini dinamakan sengaja atau tidak. Aku tahu ada raut bahagia dari kita. Senyummu, suaramu masih tak ada beda. Sedangkan aku. Masih saja terlihat salah tingkah saat bertatap muka denganmu.
Kita sempat berdekatan, walau hanya membentuk sudut siku. Dengan bahasa tubuh yang sama sama kaku. Ada percakapan yang terpaksa harus di utarakan. Hanya saja segala gemuruh dalam dada tak mampu aku sembunyikan. Kau tahu bukan, saat kita berjabat. Ada rasa yang semakin ingin erat.
Kapan kita bisa bertatap muka (lagi) ?














